31 January 2013

Mengapa Angka 19 ?

Sebagai pembuka, Al-Quran didesain berdasarkan bilangan 19:

Adalah seorang ahli biokimia berkebangsaan Amerika keturunan Mesir dan seorang ilmuan muslim, Dr. Rashad Khalifa yang pertama kali menemukan sistem matematika pada desain Al-Quran. Dia memulai meneliti komposisi matematik dari Al-Quran pada 1968. Setelah beberapa tahun melakukan riset, Dr. Khalifa mempublikasikan temuan-temuan pertamanya dalam sebuah buku berjudul “MIRACLE OF THE QURAN”.

Surah 74 adalah Surah Al-Muddatstsir yang berarti orang yang berselimut (Al-Quran dan Terjemahnya, Depag) dan juga dapat berarti ‘rahasia yang tesembunyi’, yang memang mengandung rahasia Allah mengenai keajaiban Al-Quran. Dalam Surah 74 ayat 30-36 dinyatakan:

(74:30) Di atasnya ADALAH 19.
(74:31) Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka melainkan dari malaikat; dan tidaklah KAMI JADIKAN BILANGAN MEREKA ITU (19) melainkan untuk: jadi cobaan/ ujian/ tes bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "APAKAH YANG DIKEHENDAKI ALLAH DENGAN BILANGAN INI sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan ini tiada lain hanyalah sebuah peringatan bagi manusia.
(74:32) Tidak!* Demi bulan. [*bantahan terhadap orang musyrik yang mengingkari hal itu]
(74:33) Dan demi malam ketika berlalu.
(74:34) Dan demi pagi (shubuh) ketika mulai terang.
(74:35) Sesungguhnya ini (bilangan ini) adalah salah satu dari KEAJAIBAN YANG BESAR.
(74:36) Sebagai peringatan bagi umat manusia.

Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat. Menurut Dr. Rashad Khalifa, menafsirkan bilangan 19 sebagai jumlah malaikat adalah tidak tepat karena BAGAIMANA MUNGKIN jumlah malaikat dapat dijadikan untuk ujian/tes bagi orang-orang kafir, untuk meyakinkan orang-orang nasrani dan yahudi, untuk meningkatkan keimanan orang yang telah beriman dan juga untuk menghilangkan keragu-raguan. Jadi, tepatnya bilangan 19 ini merupakan keajaiban yang besar dari Al-Quran sesuai ayat 35 di atas, menurut terjemahan Dr. Rashad Khalifa (dan juga terjemahan beberapa penterjemah lain). Jadi pada ayat 35 kata“innahaa” merujuk pada kata “’iddatun” pada ayat 31.


Tapi Mengapa 19?

Setelah mengetahui nilai dari setiap huruf Arab, kita dapat menjawab mengapa 19 dipakai sebagai KODE RAHASIA Allah dalam Al-Quran, dan sekaligus dapat digunakan untuk mengungkap banyak sekali keajaiban Al-Quran.

Berikut ‘beberapa hal’ yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa 19:

► 19 merupakan nilai numerik dari kata “Waahid” dalam bahasa Arab yang artinya ‘Esa/satu’. Berikut penjelasannya:



Wau= 6
Alif= 1
Ha’= 8
Dal= 4
Jumlah= 19!

► 19 merupakan bilangan positif pertama dan terakhir (1 dan 9), yang dapat diartikan sebagai ‘Yang Pertama dan Yang Terakhir’ seperti yang dikatakan Allah, misalnya, pada Q.S. Al-Hadiid ayat 3 sebagai berikut:

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin*, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS 57:3).

*Yang dimaksud dengan: Yang Awal ialah Yang telah ada sebelum segala sesuatu ada, Yang Akhir ialah Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah, Yang Zhahir ialah Yang nyata adanya karena banyak bukti- buktinya dan Yang Bathin ialah Yang tak dapat digambarkan hikmat zat-Nya oleh akal.

► Kata “Waahid” tersebut, dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 25 kali, dimana 6 diantaranya tidak merujuk pada Allah (seperti salah satu jenis makanan, pintu, dsb).
Sisanya 19 kali merujuk pada Allah. Total jumlah dari (nomor surat + jumlah ayat pada masing-masing surat) dimana 19 kata “waahid” yang merujuk pada Allah adalah 361 = 19 x 19.Jadi 19 melambangkan keesaan Allah (Tuhan Yang Esa).

► Pilar agama Islam yang pertama juga dikodekan dengan 19

“Laa – Ilaha – illa – Allah”

Nilai-nilai numerik dari setiap huruf Arab pada kalimah syahadat di atas adalah dapat ditulis sebagai berikut:

“30 1 – 1 30 5 – 1 30 1 – 1 30 30 5”

Jika susunan angka tersebut ditulis menjadi sebuah bilangan, diperoleh = 30113051301130305 = 19 x … atau merupakan bilangan yang mempunyai kelipatan 19.
Jadi jelaslah bahwa 19 merujuk kepada keesaan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang wajib disembah!

29 January 2013

Doa Ditinjau Dari Sudut Pandang Sains Modern

Seorang peneliti Jepang terkenal, Dr. Masaru Emoto berhasil membuktikan bahwa air sanggup membawa pesan atau informasi dari apa yang diberikan kepadanya. Subhaanallaah, air yang diberi respon positif, termasuk doa, akan menghasilkan bentuk kristal heksagonal yang indah. Dr. Masaru Emoto melakukan penelitian selama 2 (dua) bulan bersama sahabatnya Kazuya Ishibashi (seorang ahli sains yang mahir menggunakan mikroskop). Dr. Masaru yang menyelesaikan pendidikannya di Yokohama Municipal University Departemen Kemanusiaan dan Sains jurusan Hubungan Internasional berhasil mendapatkan foto kristal airdengan “membekukan air” pada suhu -25 derajat Celsius dan menggunakan alat foto berkecepatan tinggi. Lalu ditelitilah air dengan menggunakan respon kata-kata, gambar, serta suara.

Air yang Diberi Kata-Kata

Air mengenali kata tidak hanya sebagai sebuah desain sederhana, tetapi air dapat memahami makna kata tersebut. Saat air sadar bahwa kata yang diperlihatkan membawa informasi yang baik maka air akan membentuk kristal. Jika kata positif yang diberikan, maka kristal yang terbentuk akan merekah luar biasa laksana bunga yang sedang mekar penuh, seakan ingin menggambarkan gerakan tangan air yang sedang mengekspresikan kenikmatannya. Sebaliknya, jika kata-kata negatif yang diberikan, maka akan menghasilkan pecahan kristal dengan ukuran yang tidak seimbang. Mungkin juga air dapat merasakan perasaan orang yang menulis kata tersebut.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika air diberi kumpulan kata yang merupakan doa? Subhaanallaah, kekuatan air yang sudah menerima kata-kata itu, terutama untuk penyembuhan tentu sangat besar. Apalagi kumpulan kata yang merupakan doa tersebut bukan kata-kata biasa, tapi berasal dari Allah SWT dan diucapkan oleh orang sholeh pilihan Allah SWT. Dr. Masaru sendiri menggunakan kekuatan air untuk pengobatan dengan menemukan efek gelombang energi yang dia sebut sebagai HADO (energi atau kumpulan getaran yang ada pada sebuah benda). Lalu dengan HADO inilah Dr. Masaru bisa memformat efek energi air untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Pengobatan dengan HADO ini merupakan salah satu cara pengobatan alternatif. Menurut Dr. Masaru, banyak peneliti saat ini mulai mempelajari berbagai pengobatan alternatif karena merasakan beberapa kekurangan dalam obat konvensional barat, yang hanya mampu mencapai level sel yang menyebabkan gejala penyakit. Sedang air HADO mampu mengobati penyakit hingga ke dalam partikel sub atom terkecil. Sudah ada beberapa pasien Dr.Masaru yang sembuh setelah meminum air HADO.

Manusia sebagai Penerima Informasi

Berdasarkan penelitian Dr.Masaru, semakin jelas terlihat bahwa kualitas air dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk, bergantung pada informasi yang diterimanya. Hal ini membuat kita yakin bahwa kita, manusia, juga dipengaruhi oleh informasi yang kita terima karena 70% TUBUH MANUSIA dewasa adalah AIR. Konsekuensi logisnya adalah manusia, sebagai makhluk yang sebagian besarnya terbentuk dari air, sudah seharusnya diberikan informasi yang baik. Jika kita melakukan hal ini, pikiran dan tubuh kita akan menjadi sehat. Di pihak lain, jika kita menerima informasi yang buruk, kita akan merasakan sakit.

Ambil contoh begini: sebagian orang mengatakan bahwa mereka merasa lebih baik hanya dengan berbicara kepada dokter. "EFEK PLACEBO" ikut berperan saat dokter yang mereka percayai berkata, "ini cuma flu biasa, Anda hanya perlu banyak istirahat. Jangan khawatir, Anda akan segera sembuh." Dengan mendengarkan kata-kata dokter tersebut, rasa cemas dan takut dalam diri mereka benar-benar hilang. Kata-kata tersebut membangunkan kekuatan untuk menyembuhkan diri sendiri, yang memang sudah ada dalam tubuh manusia. Pada zaman dahulu seorang dokter adalah orang yang juga ahli dalam bidang agama, seperti tabib sehingga dia tidak hanya memberikan solusi secara konvensional, namun sekaligus memberikan "efek placebo" lewat kata-kata positif berupa doa atau motivasi yang sarat nilai spiritual. Hal ini juga berlaku bagi konselor yang harus mempunyai kemampuan untuk mengirim gelombang yang baik agar bentuk gelombang abnormal pada pasien dapat diperbaiki.

Efek kata-kata juga bisa menimbulkan perilaku negatif. Orang acapkali melakukan bunuh diri setelah membaca informasi tentang materi bunuh diri. Sekitar dua puluh tahun lalu seorang idola remaja di Jepang melakukan bunuh diri. Dengan cepat berita tersebut menyebar, banyak remaja-remaja lain mengikuti jejaknya. Kejadian tentang hantu pembunuh di Jepang juga mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Mari kita ingat kembali bahwa air yang diberikan kata-kata positif akan menyusun kristal-kristal yang indah. Air mempersembahkan kepada kita makna yang mengagumkan bahwa kita seharusnya menjalani hidup dengan cara yang baik, serta tetap menjaga kesehatan pikiran dan tubuh kita serta berikan kata-kata yang positif (informasi) yang baik kepada manusia, yang 70% tubuhnya adalah air. Sungguh kita tidak akan mampu menghitung nikmat Allah SWT yang diwujudkan-Nya berupa air.

"Allah-lah yang telah Menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia Mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah Menundukkan (pula) bagimu supaya behtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah Menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai." (QS. Ibrahim: 32).

27 January 2013

Selektiflah Memilih Kawan

Ada sebuah pohon yang sedang berbuah lebat, buahnya terlihat sangat menggiurkan.

Seekor burung jalak terbang dan hinggap, dengan suara keras berteriak memuji pohon tersebut: “Pohon yang subur, engkau terlihat indah dengan buahmu yang ranum.” Setelah mendengar pujian, pohon itu berkata kepada burung jalak, “Teman, tinggallah ditempat saya!”

Kemudian, seekor burung kenari pun datang mendekat, sambil bernyanyi ia berkata, “Pohon yang indah, buahnyapun sangat wangi nan bagus.” Pohon berkata kepada burung kenari ini, “Jika engkau ingin memakan buahku, silahkan ambil saja!”

Kemudian datanglah seekor burung pelatuk, dia mematuk-matuk diseluruh badan pohon buah, membuat pohon buah sangat kesakitan dan menjerit. Burung pelatuk berkata, “Saya melihat di dalam tubuh Anda ada seekor ulat, saya ingin mematuknya keluar, jika tidak, maka Anda akan sakit dimakan ulat.”

Si pohon dengan marah berkata, “Omong kosong, engkau mematuk saya, sengaja ingin membunuh saya, cepat pergi dari sini!” Burung pelatuk akhirnya terbang pergi.

Tidak berapa lama kemudian, pohon menderita sakit, daunnya berubah kuning kemudian gugur. Akhirnya dahannya juga layu, tidak bisa berbuah lagi.

Burung jalak terbang meninggalkannya, burung kenari juga tidak datang bernyanyi lagi.
Pada saat itu burung pelatuk datang lagi, walau bagaimanapun pohon menjerit kesakitan, dia tidak peduli, mematuk terus sampai seluruh ulat di tubuh pohon terpatuk habis.

Beberapa waktu kemudian, pohon ini tumbuh kembali, daun-daun hijau mulai terlihat, kemudian berbuah lagi.

Pada saat ini, pohon dengan perasaan terharu berkata, “Yang bernyanyi dan memuji Anda belum tentu adalah seorang sahabat, tetapi yang bersedia menunjukkan kekurangan Anda, juga bisa membantu Anda, inilah Sahabat sejati.”

Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mengelus untuk menghancurkan.
Selektiflah dalam memilih seorang kawan, mana yang benar-benar sahabat dan mana yang hanya sekedar memanfaatkan Anda.

26 January 2013

Jangan Main-main Dengan Shalat Anda!

“Sesungguhnya seseorang melaksanakan shalat selama ENAM PULUH TAHUN, akan tetapi SATU shalat pun TIDAK DITERIMA baginya. Mungkin ia menyempurnakan ruku’ tetapi ia tidak menyempurnakan sujud, dan menyempurnakan sujud akan tetapi tidak menyempurnakan ruku’.” (H.R. Abul Qasim)
=> Renungkan! 60 tahun pada masa sekarang berarti seumur hidupnya => tidak diterima satu pun => hisabnya amatlah berat => siksa akhirat (pasti). Padahal siksa akhirat itu sangat-sangat keras. Hayati kembali 5 tulisan pokok terkait siksa akhirat yang telah disampaikan.

“Sejelek-jelek manusia mencuri adalah orang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujudnya.” (H.R. Ahmad)

“Sesungguhnya seorang hamba menunaikan shalat, dan barangkali TIDAK DICATAT kecuali sepersepuluhnya, atau sepersembilannya, atau seperdelapannya, atau sepertujuhnya, hingga habis bilangan yang terakhir.” (H.R. An-Nasa’i)
=> Tentu hal di atas terjadi karena tingkat kekhusyu’an yang berbeda. Sebenarnya 2 dalil (H.R. Abul Qasim & H.R. An-Nasa’i) di atas sudah sangat cukup menjadi alasan betapa pentingnya Tips Rahasia Khusyu’ Dalam Sholat.

Sehingga shahabat Ali pun berkata bahwa “Amal yang paling baik adalah perbuatan seikhlas-ikhlasnya untuk mecari ridho Allah dan DICATAT oleh Allah”. Menunjukkan bahwa banyak amal-amal yang ‘tidak dicatat’ karena amal tersebut rusak/ cacat karena satu atau berbagai sebab.

Hassan bin ‘Athiyah berkata, “Dua orang melakukan shalat yang sama, tetapi perbedaan keutamaan antara keduanya bisa SEJAUH LANGIT DAN BUMI ...”

“... Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Q.S. Al-Baqarah 238)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya.” (Q.S. Al-Mu’minuun: 1-2)

Dan tentu pembaca yang budiman telah mengerti bahwasanya sholat adalah tiang agama, sholat adalah amal yang pertama kali dihisab, dan sholat itu pada mulanya diperintahkan sampai 50 kali karena amat pentingnya .  Maka, hanya satu kalimat yang bisa disimpulkan: “Jangan main-main dengan sholat Anda!”


(untuk dimengerti, mengerti artinya paham, paham artinya menghayati, menghayati artinya membawa perbaikan, DAN AGAR tidak meninggalkan shalat sunnah rowatib yang mana dapat menambal cacatnya sholat fardhu)

24 January 2013

Lilin Harapan

Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh.

Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka

Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”

Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.

Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”

Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:”Aku adalah Cinta” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.”

“Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”

Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…

Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam.

Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”

Lalu ia mengangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:

Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:

” Akulah H A R A P A N “

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah H A R A P A N.
yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!

23 January 2013

Salah Tujuan Hidup

Apa yang akan kita katakan kepada orang yang ingin pergi dari Mekkah ke Madinah dengan mengumpulkan seluruh harta bendanya, mengendarai mobilnya dan menuju Madinah dengan niat ingin "menetap" di sana. Tetapi, sebelum sampai di tempat tujuan ia berhenti di perkampungan yang berdekatan. Di tempat tersebut, ia mengumpulkan harta dan membeli material-material bangunan yng diperlukan, seperti batu bata dan besi, lalu mulai membangun rumah, menghias, dan mengisi rumah dengan perabotan. Adapun ketika ia ditanya tentang tujuan awalnya, ia menjawab, "Madinah, tetapi aku berniat beristirahat sebentar di sini." TENTU, orang ini akan dianggap GILA dan KURANG WARAS pikirannya oleh seluruh manusia.

Jangan heran dengan hal ini! Sekarang banyak manusia, baik orang-orang 'jenius', ahli pikir, maupun pemimpin mereka mengerjakan perbuatan ini, kecuali orang yang dirahmati Rabb-nya.

Dengan harta, tenaga, dan waktu yang dimilikinya, mereka telah berjalan dalam jangka waktu yang sebentar dan menuju sejengkal tanah dalam jalan kehidupan yang panjang. Mereka tinggal di sana dalam waktu yang SEBENTAR dan MENINGGALKAN apa yang akan mereka diami untuk 'selama-lamanya'.

(sebagai sebuah perumpamaan untuk menanamkan kembali tentang tujuan awal penciptaan manusia dan bahwa hidup adalah sebuah perjalanan untuk menuju tujuan kehidupan kekal yang sesungguhnya)

22 January 2013

Ujian Sesungguhnya Yang 'Diremehkan' !

Namun, alangkah mengherankan keadaan kita. 

Mereka berusaha rajin masuk kuliah serta mengerjakan tugas-tugas dan makalah agar menjamin kelulusannya di dunia, sementara untuk ujian yang paling besar (ujian akhirat), mereka merasa puas dengan batas minimal dan berani mengambil resiko. Ujian dunia bisa dususul di waktu-waktu mendatang. Namun, untuk ujian akhirat, bukankah tak ada kesempatan dua kali untuk perbaikan nilai setelah tampak hasilnya?

Karena itu, selayaknya kita bersungguh-sungguh dan bekerja keras demi akhirat. Allah berfirman:

“Supaya jangan ada orang yang mengatakan: "AMAT BESAR PENYESALANKU ATAS KELALAIANKU dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ), atau supaya jangan ada yang berkata: 'Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa', atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab, 'Kalau SEKIRANYA AKU DAPAT KEMBALI (KE DUNIA), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik'.” (Q.S. Az-Zumar: 56-58)

Oleh karena itu, hendaknya kita waspada dari kelalaian kita dan TERBANGUN dari tidur kita sebelum berlalunya waktu dan didahului oleh orang yang mendahului masuk surga. Adapun orang yang tersisa hanyalah orang yang memandang dengan penuh penyesalan.
Jangan sampai nanti ada di antara kita termasuk orang yang mengatakan seperti ini:

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku KEMBALIKANLAH aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. SEKALI-KALI TIDAK! ...” [Q.S. Al Mu'minuun 99-100]

21 January 2013

Bukankah Dia Suami Orang ?

Fenomena facebook, ”sekiranya engkau sudah tau bahwa itu adalah suami orang, kenapa pula masih suka berkomunikasi hingga bersenda gurau dengan suami orang”

Ada yang mengatakan bahwa cinta itu buta. Benarkah?

Ada yang mengatakan bahwa cinta itu anugrah. Benarkah?
Ada pula yang mengatakan bahwa cinta itu dari mata turun ke hati. Benarkah?
Ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu rela berkorban, suci, saling menerima kekurang . . . . .bla,,bla,,bla,,

Terserah seperti apa kau mau mendefinisikan tentang cinta. Karena pengertian cinta di dalam dirimu sendiri juga kadang berubah-ubah. Kadang ketika hatimu sedang bahagia, kau mengatakan cinta itu adalah A, namun ketika hatimu sedang sedih, kau mengatakan cinta itu adalah B.

Sulit bagi kami mendefinisikan tentang cinta.
Cinta tak bisa kami ungkapkan dengan kata-kata, tetapi cinta hanya dapat dirasakan dengan hati.

Ya, Karena hatilah yang lebih mengetahui, meskipun kadang lisan ini begitu kuat untuk berbohong.

Terkait masalah cinta. Pernah ada satu pertanyaan “siapa yang tidak pernah jatuh cinta di dunia ini?”
Lagi lagi, hanya hatimu yang bisa menjawabnya. Cinta disini lebih dikhususkan pada cinta fitrah antara lawan jenis. Perasaan cinta antara si Fulan dengan Fulanah.

>> Ternyata jatuh cinta itu mudah

Kami tak pernah menyalahkan situs jaringan ini, karena di layanan dunia maya ini pula kami banyak menemukan saudara seiman, saudara semanhaj. Dimana dengan itu, kami dapat banyak bertukar info, bertukar ilmu.
Pernah disuatu kesempatan, masih dalam ranah “facebook”, kami menemukan seorang akhwat yang begitu serius berbicara masalah agama dengan seorang ikhwan. Sang akhwat bertanya masalah ini, masalah itu, kemudian sang ikhwan menjawabnya.

Keesokan harinya lagi, sang akhwat terus bertanya tentang ilmu agama yang tidak ia ketahui, kemudian sang ikhwan menjawabnya lagi. Begitulah seterusnya, hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya. Tak sadar jika diri mulai terjebak perangkap syaitan.
Yang awalnya saling tukar ilmu agama, kemudian beranjak ke maslah pribadi.
Disinilah kami baru tau, ternyata hati seorang wanita itu begitu gampang tertarik dengan seorang laki-laki karena kepintarannya.

>>ini adalah kisah yang memiriskan hati

Akun sebuah facebook bisa dimiliki oleh siapa saja. Baik yang masih lajang ataupun telah menikah. Dalam sebuah catatan di dunia maya, kami pernah dapati keluhan hati seorang ummahat yang mengatakan bahwa suaminya sering menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di depan layar facebook. Sampailah akhirnya diketahui bahwa suaminya sedang dekat dengan seorang akhwat. Kami sedikit meragukan apa yang ia sampaikan, namun keraguan itu terjawab sudah ketika mata kami menyaksikan sendiri bagaimana pergaulan ikhwan dan akhwat di dunia maya. Ada yang saling bertukar ilmu, ada pula yang saling berdebat, ada pula yang saling bersenda gurau. Tak peduli masalah status.
Awalnya hanya bercerita tentang masalah agama. Namun lama-kelamaan akan bertanya ke masalah pribadi. Semakin hari semakin dekat, bersenda gurau, hingga tak jarang suara bebek pun keluar dipercakapan mereka. Seperti inilah bunyinya “wkwkwkwkwk”

Kadang ada juga akhwat yang bertanya, “ya akhi, apakah istri akhi tau tentang diri ana?”
Dengan gampang sang ikhwan berkata, “tidak tau”

Masya Allah, kami miris dengan keadaan seperti ini. Ternyata begitu banyak saudara kita yang terjerat perangkat syaitan di dalam dunia maya ini.

Di dunia maya pula, banyak suami yang menyembunyikan pertemanannya dengan seorang wanita, begitu pula sebaiknya.

Dan yang lebih membuat miris lagi, kami sadar bahwa yang melakukan ini adalah orang-orang yang paham dengan agama, namun sulit terlepas dari jeratan syaitan.

Disinilah kami merasa, betapa besar fitnah yang disebabkan oleh wanita.

Tidaklah aku tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki laki (melainkan fitnah yang datang dari) wanita.” Dikeluarkan oleh Bukhari (9/5096); Muslim (4/2097), Ibnu Majah (3998) dan At-Tirmidzi (2780) dan dia berkata: “Hadits Hasan Shahih”

Yaa akhowat fillah, sungguh ini adalah nasehat untuk kita semua.
Begitu banyak kami dapati curahan hati dari para ummahat.

Yaa akhowat, sekiranya kau sudah tau bahwa itu suami orang, tak perlulah kau berteman akrab dengannya. Tak perlu pula kau berkomunikasi secara sembunyi-sembunyi dengannya.

Yaa akhowat, jika kau telah menikah nanti, kamipun meyakini, bahwa kau tak akan rela jika suamimu dekat dengan seorang wanita tanpa sepengetahuanmu.
Maka bayangkanlah jika posisimu seperti itu.

Yaa akhowat, kamipun paham jika kita begitu haus akan ilmu. Namun keadaan haus akan ilmu tidaklah menjadikan diri kita menjadi penyebab kehancuran rumah tangga orang lain.
Jika kau haus akan ilmu, datangilah majelis-majelis ilmu yang tebuka. Jangan mendatangi suami orang secara tertutup.

Pahami kembali lmu-ilmu agama yang kita dapati.
Pahami kembali bagaimana cara islam mengatur tata cara komunikasi dengan lawan jenis.
Tak pernah ada kata terlambat untuk bertaubat.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla illa ha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika.

20 January 2013

Kita Pasti Mati

Setelah terjadi kehancuran seluruh jagad raya dan kematian seluruh makhluk dan para malaikat, akan terjadi hal berikut:

... Dimana saat ini tinggal Allah Ta'ala dan malaikat pencabut nyawa.

"Allah Ta'ala memerintah malaikat maut agar mecabut semua nyawa mereka. Dia pun melaksanakan tugas itu. Kemudian Allah Ta'ala berfirman: 'Wahai malaikat maut, siapakah di antara makhluk-KU yang masih hidup!' ... Malaikat Maut menjawab: 'Wahai Tuhanku, HANYA hamba YANG LEMAH ini yang masih hidup’. Allah Ta'ala berfirman: 'Wahai malaikat maut, apakah engkau tidak mendengar Firman-KU! Bahwa tiap-tiap makhluk itu merasakan mati! ..., maka cabutlah nyawamu sendiri’.

Kemudian malaikat maut pergi ke suatu tempat antara surga dan neraka, lalu ia berusaha mencabut rohnya sendiri. Dia berteriak SANGAT KERAS SEKALI, sampai andaikan semua makhluk kala itu masih hidup, tentu mereka MATI SEMUA karena teriakan malaikat maut. Diapun berkata: 'Andaikan saya tahu bahwa rasa sakit yang SANGAT MENYAKITKAN ini, pasti saya tidak mencabut nyawa-nyawa orang-orang beriman kecuali dengan perlahan-lahan dan halus sekali’.
(Hadits dishahihkan oleh Imam Bukhari)

Hanya Tuhan Allah, satu-satunya Dzat Yang Kekal dan Yang Maha Hidup. Malaikat maut saja masih dikatakan lemah (padahal kemampuannya yang lemah itu dapat mengangkat langit tujuh), lantas apa kita?! Apalagi kita manusia kecil yang baru mendengar teriakan malaikat maut saja, semua manusia pasti akan mati. Manusia amatlah lemah, kecil, dan tak berdaya. Bagaimana bisa manusia dapat melupakan akan Penciptanya Yang Maha Besar, Maha Kuasa. Bagaimana bisa manusia merasa berkuasa, bersikap angkuh, dan menindas manusia lain di muka bumi? Dan bagaimana bisa manusia dapat melupakan hari dimana kepastian kedatangannya jauh melebihi pastinya ilmu Matematika sekalipun?

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S. Ali ‘Imraan 185)

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (Q.S. An-Nisaa’ 78)

“Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah." Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).” (Q.S. Yuunus 49)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (Q.S. Al-Anbiyaa’ 35)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (Q.S. Al- ‘Ankabuut 57)

--Cukuplah kematian itu sebagai nasihat (H.R. Thabrani dan Baihaqi)--

19 January 2013

Kekasih Sejati Alloh

Nabi Muhammad saw. adalah orang pertama yang dibangkitkan pada hari kiamat, dan orang pertama pula yang menerima dan memberikan syafaat. Beliau juga adalah orang pertama yang masuk ke dalam surga. Allah memberikan kekhususan kepada beliau dengan Asy-Syafa’ah Al-’Udzmaa(syafaat yang teragung), yaitu kedudukan yang terpuji, dan dianugerahi Al-Kautsar yaitu telaga di surga, serta wasilah yaitu derajat yang tinggi di surga, dan kekhususan-kekhususan lain.

Al-Baihaqi juga meriwayatkan bahwa bersamaan dengan lahirnya Nabi Muhammad saw., sepuluh balkon istana Kisra runtuh dan api yang biasa disembah orang-orang Majusi padam, serta runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah seketika itu juga gereja-gereja itu amblas ke dalam tanah.

Karena keutamaannya yang besar, hingga Allah dan para malaikat-Nya pun bershalawat* untuk Nabi Muhammad saw. (kandungan QS.33, Al-Ahzab:56)
*memberikan rahmat

"Aku diberi kelebihan dari Nabi yang lain dengan enam hal: Aku diberi jawami'ul kalim (kata-kata yang padat makna), Aku diberi kemenangan dengan rasa takutnya para musuh, harta rampasan perang dihalalkan untukku, permukaan bumi bisa digunakan sebagai alat bersuci dan tempat shalat, Aku diutus kepada seluruh umat manusia dan Aku penutup para nabi."(H.R. Muslim)

Keistimewaan lainnya dalam Al-Quran dan Hadits:
1. Allah menyatakan bahwa ia benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS.68, Al-Qalam:4)
2. Suri teladan yang baik bagimu (QS.33, Al-Ahzab:21)
3. Untuk jadi cahaya yang menerangi (QS.33, Al-Ahzab:45-47)
4. Rahmat bagi semesta alam ( QS.21, Al-Anbiya:40&107)
5. “Setiap Nabi diutus hanya kepada bangsanya sendiri, tetap saya diutus kepada semua makhluk,” (penggalan HR. Muslim)
6. “Saya diutus dari generasi terbaik anak Adam,” (pengalan HR. Bukhari)
7. "Aku adalah pimpinan anak-cucu Adam di hari kiamat nanti, Aku orang yang pertama dibangkitkan dari kubur, Aku orang yang pertama memberi syafa'at dan Aku orang yang pertama diberi syafa'at". (HR. Muslim)

Bahkan ada beberapa hadits yang sangat menunjukkan keitimewaan luar biasa melebihi ciptaan Allah berupa langit dan bumi sekali, meskipun sanadnya lemah.

Beberapa Hadits Qudsi:
"AKU menjadikan segala sesuatu karena engkau, dan AKU jadikan engkau karena AKU."

Hadits lain yang serupa:
"Kalau bukan karena kamu wahai Muhammad, AKU tidak akan menciptakan langit."
"Kalau tidak karenamu wahai Muhammad, AKU tidak akan menciptakan bumi dan segala isinya."

Demikian kemuliaan yang TERAMAT SANGAT pada junjungan kita Nabi Besar saw., sehingga pada saat hari kebangkitan pun, beliau dihormati dengan berbagai mahkota kehormatan.

17 January 2013

Makna Hidup Seimbang Yang Sebenarnya

Allah berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi ….” (Q.S. Al-Qashash: 77)

Setelah merenungkan ayat mulia ini, didapati bahwa kata “ibtaghi” (carilah) disebutkan untuk MENGUKUHKAN perkara yang agung. Perkara beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan mempergunakan nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya untuk menaati-Nya.

Ketika merenungkan lafal, “Janganlah kamu melupakan”, didapati bahwa peringatan di sini disebutkan lantaran beberapa faktor, di antaranya:

1. Pengukuhan bahwa DUNIA IALAH SARANA DAN BUKAN TUJUAN atau target. Sebab, tidak pernah ada bahwa sarana itu lebih penting daripada tujuan.
2. Kemungkinan kata “lupa” di dalam firman-Nya, “Janganlah kamu melupakan”, menegaskan REMEHNYA urusan dunia.
3. Perhatian terhadap urusan yang besar dan menyibukkan diri dengannya bisa melupakan urusan-urusan sekunder lain, seperti dunia dan kebutuhan individu di dalamnya. Dengan demikian, ada baiknya seorang hamba di sini diperingatkan agar tidak sibuk beribadah hingga membuatnya LUPA dari dunia dan kebutuhannya.

Lantaran larut dalam ibadah kepada Allah, para penuntut akhirat melalaikan urusan dunia dan kebutuhan mereka di dalamnya, lebih-lebih pada perhiasan-perhiasannya. Sehingga, peringatan tersebut sesuai dengan kondisi mereka.

Abu Hurairah, seorang shahabat yang selalu menyertai Rasulullah saw. untuk mengadopsi ilmu beliau. Hal itu membuatnya lupa dengan dunianya. Lalu ia berkata kepada para shahabatnya. “Kalian sibuk dengan dunia, sedangkan aku sibuk menemani Rasulullah saw.”

DUNIA MACAM APA yang menyibukkan para shahabat Rasulullah saw.? APA YANG AKAN DIKATAKAN Abu Hurairah ra. seandainya ia melihat kita???!

Inilah dia Haritsah ra. yang pernah ditanya oleh Rasulullah saw., “Bagaimanakah keadaanmu pada pagi hari, wahai Haritsah?” Dia menjawab, “Pada pagi hari aku dalam keadaan mukmin sejati.” Nabi bertanya lagi, “Aku ingin melihat apa yang engkau ucapkan, sebab setiap ucapan itu memiliki hakikat. Lalu, bagaimanakah hakikat keimananmu?” Dia menjawab. “Aku telah MENJAUHKAN DIRIKU DARI DUNIA, lalu aku gunakan malam untuk bergadang (shalat dan dzikir malam) dan siang hari untuk berhaus-haus (puasa). Selain itu, seakan-akan aku melihat ‘Arsy Rabb-ku Nampak jelas, dan seakan-akan aku melihat penduduk surga saling berkunjung di dalamnya, serta seakan-akan aku melihat penduduk neraka sedang berdesak-desakan di dalamnya”. Nabi berkata. “Wahai Haritsah, engkau telah mengetahui maka tetapilah (komitmenlah)!”

Inilah Ahmad bin Hambal, seorang ulama besar yang melaksanakan shalat sebanyak tiga ratus rakaat sehari semalam (red) dan mengkhatamkan Al-Quranul Karim sekali dalam setiap pekan. Ia adalah sosok yang banyak berdoa, berdzikir, serta ditambah lagi dengan kesibukannya menuntut ilmu dan mengajarkannya. Ahmad bin Hambal pernah berdoa, “Ya Allah, janganlah Engaku menyibukkan hati kami dengan hal-hal yang Engkau bebankan kepada kami.”

Dari Anas ra., bahwa ada tiga orang yang sampai menganggap sedikit saja amal ibadah Nabi saw (red!), Seorang dari mereka itu berkata: "Adapun saya ini, maka saya bersembahyang semalam suntuk selama-lamanya." Yang lainnya berkata: "Adapun saya, maka saya berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah saya berbuka." Yang seorang lagi berkata: "Adapun saya, maka saya menjauhi para wanita, maka sayapun tidak akan kawin selama-lamanya."(Kandungan hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Ketika Salman menanyakan pada istri Abuddarda yang hanya mengenakan pakaian yang serba kusut – yakni tidak berhias sama sekali. Lalu istrinya menjawab, “Abuddarda' itu sudah tidak ada hajatnya lagi pada keduniaan - maksudnya: sudah meninggalkan keduniaan, baik terhadap wanita atau lain-lain."

Banyak pula riwayat shahih mengenai Abdullah bin Al-'Ash, seorang yang berpuasa setahun penuh dan mengkhatamkan bacaan Al-Quran sekali setiap malam (red!), sampai istrinya berkata, “ia tidak pernah menginjak hamparan kita dan tidak pernah memeriksa tabir kita - maksudnya tidak pernah berkumpul untuk menyetubuhi isterinya.”

Hingga mereka ditegur, “Tuhanmu itu ada hak atas dirimu, untuk dirimu sendiri juga ada hak atasmu, untuk keluargamupun ada hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang berhak itu akan haknya masing-masing." Dalam suatu riwayat, ditegaskan bahwa sekeras apapun kita beribadah, amal itu TETAP berpahala, Allah tetap senang menerima, dan Allah tidak pernah bosan! Hingga kitalah yang akan bosan dan lelah, maka Rasulullah menekankan bahwa yang dicintai Allah adalah istiqomahnya, maka lakukanlah yang mana engkau sanggup istiqomah, meskipun sedikit, dimana semakin banyak menunjukkan ketinggian derajat seseorang.

*Gambaran sosok seperti merekalah yang pantas mendapatkan teguran sebagaimana dimaksud dalam Al-Qashash 77, dan bukan orang seperti kita.

Karena sibuk beribadah, sebagian manusia ada yang lalai dari mengurusi keluarga dan menyayangi mereka, sampai-sampai ada penekanan terhadap mereka bahwa keluarga itu memiliki hak. SEMENTARA BAGI KITA, kita perlu orang yang mengingatkan akan tujuan luhur penciptaan kita serta orang yang bisa menyadarkan dengan keras agar kita mengingat akhirat.

15 January 2013

Kisah Ajaib Bersama Tukang Tambal Ban

Ini kisah yang tak mungkin terlupakan. Pertemuan dengan seorang tukang tambal ban yang benar-benar mengubah hidup. Ternyata benar, membantu orang orang lain itu dapat memudahkan aliran rezeki.

Pagi-pagi buta, dengan berkendara sepeda motor, saya mengantar istri mengikuti pelatihan Guru. Baru setengah perjalanan, tiba-tiba motor mudah oleng ke kanan dan ke kiri. Ketika diperiksa, ban depan gembos. Saya merutuk karena merasa tersinggung.

Bukan apa-apa, saya juga harus membagi waktu ke kantor supaya tidak terlambat. Tetapi ini malah bocor. Akhirnya terpaksa istri naik bus kota. Sementara saya mencari tukang tambal ban terdekat. Nyatanya, sejauh berjalan sambil ngos-ngosan, tak tampak ada tukang tambal ban. Saya memaki habis-habisan.

Untunglah, di dekat sebuah pasar, ketemu juga dengan tukang tambal ban. Dengan semangat segera saja motor saya tepikan. “Maaf pak. Belum operasi. Mungkin nanti siang atau sore. Saya belum tidur,” kata si tukang tambal. Amalaakk, rusuh hati saya. Kemudian dia menujukkan beberapa lokasi tambal ban. Kembali saya merutuk. Jauh nian semua data yang diberikan. Padahal belum sarapan lagi.

Apalagi, dua lokasi tambal ban juga cuma terlihat tulisannya saja. Alias belum muncul tukangnya. Saya melirik jam. Sudah hampir jam delapan. Baru tukang tambal ketiga, saya bisa bernapas lega. Tanpa bicara terlalu banyak, si tukang langsung main tangkas. Cepat dan ringkas sekali, batin saya.

“Sampean duduk saja mas sambil menunggu,” katanya, sembari menunjuk kayu persegi panjang. Namun belum sempat duduk, saya merasakan sakit di perut. Saya jadi ingat, sebelum berangkat saya masih sempatkan minum kopi sisa tadi malem. Mungkin itulah penyebab sakitnya perut. Saya mengamati sekitar, tak ada tanda-tanda toilet. Pinggir jalan semuanya rumah-rumah besar yang tak mungkin saya tumpangi ke toilet.

“Pak, saya kan sedang sakit perut ya. Kira-kira di mana ya pak, ada toilet?” pak tukang tambal ban menoleh. Ia tampak berpikir sebentar. Ia menoleh ke arah depan. Saya baru paham maksudnya. Di depan, tepat sebrang jalan, terdapat sungai besar Kali Mas. Sungai besar itu dibentang jalan dengan jembatan melegkung. Tapi, mana mungkin buang hajat di sungai besar begitu? Bisa keliatan semua pengendara jalan ya lumayan memalukan tokh?

“Masak di sungai pak? Apa tidak ada tempat lain?”

“Bukan di sungainya mas. Tapi di bawah jembatannya.”

“Bawah jembatan?? Maksudnya?”

“Coba nanti sampean sebrangi jalan. Turun di sisi jembatan. Tepat di bawah jembatan kan ada pembatas sungainya. Sampean beolnya pas di bawah jembatan itu. Di situ juga tempat saya tidur..”

Saya melongo. Tempat tidur??

“Sampean bingung? Mari saya antar saja,” tukas pak Tamban Ban. Kami bersama menyebrang jalan. Saat tiba di pinggir sungai, ternyata tepi pagar sungai memiliki jalan kecil berukuran setengah meter. Kami melompat ke jalan kecil. Pak Tambal Ban menunjuk ke bawah Jembatan. Di sana, terlihat pagar bambu yang menutupi batas antara luar dan dalam jembatan.

“Sampean buka pintunya. Masuklah, di sana ada tempat tidur saya. Ada tangga turun ke sungai juga. Hati-hati ya mas..” jelasnya detil. Saya segera bergerak, sementara pak Tambal Ban naik kembali ke atas jalan raya.

Saya termangu saat pintu dibuka. Pas di tengah jembatan, terlihat bangunan kecil yang dipagar kayu dan kardus. Sepertinya, itulah rumah yang dimaksud pak Tambal Ban. Saya mengelus dada. Bagaimana ia bisa betah tidur di tempat macam ini. Apa ia tidak khawatir, tiba-tiba air sungai meluap?

Saya segera mendekati rumah teramat sangat-sangat paling sederhana (RTSSPS) itu. Sebab isi perut makin tak bisa ditahan lagi. Langkah saya sempat terhenti, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di dalam rumah mungil. Sesuatu itu seperti bangun. Dan, kepalanya terlihat jelas. Rasanya wajah terasa pias dan pucat saat tahu apa yang bergerak itu. Saya segera bersiap-siap jika terjadi sesuatu membahayakan. Apalagi, saat kepalanya menoleh, dan lidahnya menjulur-julur mengerikan.

Guk, guk, gukkkkkkk!!

Anjing!

Sialan. Pekik saya membatin sembari ambil langkah seribu. Binatang paling saya takuti itu terus saja menyalak keras. Membuat jantung serasa mau copot, berlari melompati pagar. Baru berhenti pas di awal turun sungai. Menata napas yang kencang.

“Loh, kok cepat sekali mas?” tanya pak Tambal Ban. Saya tersenyum simpul. Gara-gara dicekam rasa takut, keinginan saya buang besar jadi hilang. Kembali saya duduk di kayu persegi panjang. “Iya. Terima kasih pak. Wah, nggak tau saya jadinya jika tak dikasih tahu tadi,” jelas saya pura-pura. Tetapi beruntung juga, salakan itu Anjing bisa redakan isi perut. Pak Tambal Ban cuma membalas senyum.

“Asli Surabaya pak?” tanya saya.

“Oh, tidak nak. Saya asli Nganjuk. Di Surabaya, saya hanya nyari nafkah,” katanya. Saya terhenyak. Dari Nganjuk? Sampai sejauh itu cari nafkah? Apa mencukupi hasilnya?

“Sehari bisa dapat pelanggan berapa pak?” tanya saya, untuk mengetahui taksiran penghasilan. “Kalau sekarang nggak nentu Nak. Nggak kayak zaman dulu. Kadang sehari malah nggak dapat objekan sama sekali. Kadang bisa dapat 3 atau 4 objekan. Kalau dapat banyak, tapi kan tenaga juga terbatas bila sekaligus.”

Saya manggut-manggut. Pembicaraan kami terus berlangsung, sembari pak Tambal Ban menyelesaikan tugas. Untuk urusan pulang kampung, pak Tambal Ban pulkam setiap bulan. Uang sebulan hasil nambal ia tabung sedemikian rupa sehingga cukup buat hidup di Surabaya, biaya pulkam dan tentu saja, buat tambahan nafkah istri dan anak-anaknya.

“Kenapa nggak nyari kerja di Nganjuk saja pak?”

“Haha, ya pekerjaan ini sudah saya mulai sejak tahun 80-an nak. Mau kerja di kampung, memangnya saya mau kerja apa? Sawah nggak punya. Ya nggak apa-apa, yang penting Tuhan masih memberikan saya pekerjaan, yang bisa buat nyukupi anak-istri,” katanya tenang. Saya terharu. Saya belum bisa membayangkan, bagaimana caranya bapak ini bisa mengatur biaya hidupnya. Hidup di bawah jembatan, mungkin bagian dari caranya menghemat pengeluaran.

“Sudah nak. Silahkan dicek dulu,” katanya. Saya segera cek kondisi ban. Setelah yakin ban sudah aman, saya memberinya uang nominal duapuluh ribuan.

“Waduh nakk. Ini kan masih pagi. Saya tak uang kembalian. Apa nggak ada yang pas saja?” saya memeriksa dompet, saku dan tas. Kosong melompong. “Sampean bawa saja dulu. Kalo dapat pecahan, ke sini lagi aja,” katanya mengusulkan. Baik banget sih, batin saya. “Tak usah kembalian pak. Buat sampean aja semuanya.”

“Loh? Semuanya? Uang sebanyak begini???

Sudah nak, nggak apa-apa kok. Rezeki itu

sudah ditentukan yang Mahakuasa. Sampean bawa saja.

Itu kebanyakan klo saya ambil semua. Kasihan sampean itu..”

“Santai aja pak. Ambil saja,” tegas saya.

“Sebanyak ini??” saya mengangguk heran. Ia menatap saya tak percaya. Sepertinya ia merasa nominal uang itu memang terlalu besar sebagai pembayaran nambal ban. Saya langsung hidupkan gas motor. Segera berlalu dari hadapannya. Meninggalkannya yang masih termangu.

Sepanjang perjalanan, saya tak habis pikir. Kok ya ada orang macam pak Tambal Ban. Sosok pekerja keras, mau hidup prihatin di rumah bawah jembatan, dan menabung uang meski tak seberapa demi anak-istri.

Lebih-lebih, ketika terngiang raut wajah tak percayanya ketika menerima uang dua puluh ribuan. Uang yang buat saya bisa habis 1-2 hari. Tapi buat pak Tambal Ban, mungkin bisa buat tambahan tabungan, buat pulkam dan beli oleh-oleh anak di rumah.

Saya jadi merasa bersalah sama Tuhan. Mengeluh karena pekerjaan dengan gaji yang tak seberapa, belum cukup buat beli rumah sendiri, mengeluh belum punya HP BB, mengeluh makan saja di warung biasa, bukan di restoran. Juga kenapa saya tidak ditakdirkan jadi anggota dewan saja, bisa beli mobil dan rumah sendiri.

Tetapi pak Tambal Ban kini berhasil mengubah semua kehidupan saya. Kini saya merasa sudah kaya raya. Ya, apa sih kebutuhan saya yang tak terpenuhi dalam hidup ini?

Motor saya punya, kontrakan bagus bisa saya sewa, pekerjaan satu tempat dengan keluarga saya miliki, handphone juga ada, televisi di ruang tamu, dan masih banyak lagi yang lain. Betapa, banyaknya anugerah rezeki dari yang Mahakuasa!

Satu lagi, untung saja saya bukan koruptor.

Jadi, tak perlu masuk penjara.

14 January 2013

Hidup Adalah Perjuangan

Dulu, ada seorang raja yg mengatakan pada seorang penunggang kuda, bahwa jika dia bisa menjelajahi daerah seluas apapun, maka raja akan memberikan kepadanya daerah seluas yg sanggup dijelajahinya itu. Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.

Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti untuk makan dan minum karena dia mau memiliki tanah yg maha luas.

Akhirnya tibalah ia pada suatu tempat setelah berhasil menjelajahi daerah cukup luas, tetapi ia sudah sangat lelah dan hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, "Mengapa aku paksa diri begitu keras untuk menguasai tanah yg seluas ini? Kini aku sudah sekarat, dan hampir mati dan aku ‘hanya’ butuh tanah seluas 2 METER untuk menguburkan diriku sendiri.

Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita cenderung memaksa diri sangat keras tiap hari untuk mencari uang, kekuasaan, dan keyakinan diri. Kita cenderung mengabaikan kesehatan kita, waktu bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan di sekeliling kita, hal-hal yg ingin kita lakukan.

Kita cenderung mengabaikan kehidupan rohani kita. Kita cenderung tidak memikirkan dengan serius hidup kita sesudah mati. Anda percaya ada kehidupan sesudah mati? Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, “kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tidak mampu memutar mundur waktu atas semua hal yg tidak sempat lakukan”.

Maka dengan tulus dari kesadaran diri masing-masing, luangkanlah waktu memikirkan sejenak mengenai “Perjalanan Hidup Sesudah Mati”. Karena kehidupan setelah kematian adalah kehidupan yang ‘sesungguhnya’ (Q.S. Al-Ankabuut: 64), bukankah kehidupan di bumi ini memiliki relativitas waktu sangat mendekati (nyaris) NOL jika dibandingkan dengan waktu akhirat? (“SEKEJAP SAJA”). Lagi pula kesenangan dunia hanyalah tipuan yang memperdaya (“KESENANGAN SEMU YANG AMAT PAYAH”), dan cuma senda gurau & main-main saja (Q.S. Al-An’aam: 32).

Dan ketika permulaan Hari Kiamat telah datang (“KIAMAT DALAM SAINS & ISLAM”), maka ‘Hari Penyesalan’ tiba. “Semua manusia diliputi rasa gelisah & penderitaan yang tidak terperi dan tak kuasa menahannya” (penggalan H.R, Bukhari Muslim). Kengerian yang amat menusuk (“KENGERIAN TERAMAT SANGAT HARI KIAMAT”). Perhitungan & pembalasan yang sempurna (Q.S. Al-Baqarah: 281), sangat sempurna dan kekal (“TAK KAN TERBAYANG LAMANYA WAKTU AKHIRAT”),

Kita dan semua umat muslim perlu berhati-hati dengan ayat berikut:

“Maka tatkala mereka ‘melupakan peringatan yang telah diberikan’ kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, KAMI SIKSA MEREKA DENGAN SEKONYONG-KONYONG, MAKA SEKETIKA ITU MEREKA TERDIAM BERPUTUS ASA.“ (Q.S. Al-An’aam: 44)

Akhir kata,
“Ilmu pasti bukanlah 1+1=2, tetapi sebenar-benar ilmu pasti adalah kematian dan Hari Kiamat”.

13 January 2013

Takkan Terbayangkan Lamanya Waktu Di Akhirat

"Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. Selain air yang mendidih dan nanah. Sebagai pambalasan yang setimpal." (An Naba' 23-26)

Rasulullah saw. bertanya kepada Jibril: "Apakah Huqub itu?" Lalu Jibril menjawab, "Yaitu masa 4000 TAHUN." Rasulullah saw. bertanya lagi, "Dalam 1 tahun ada berapa bulan?" Jibril menjawab: "Yaitu ada 4000 BULAN". Rasulullah saw. bertanya, "Dalam 1 bulan ada berapa hari?" Malaikat Jibril menjawab, "Yaitu ada 4000 HARI". Rasulullah saw bertanya: "Dalam 1 hari ada berapa jam?" Jibril menjawab, "Yaitu ada 70.000 JAM, dan setiap jamnya itu SAMA DENGAN waktu SETAHUN dari tahun di dunia.

Resume:
Jadi, 1 Huqub = 4000 x 4000 x 4000 x 70000 tahun
= 4.480.000.000.000.000 tahun = 4.480 triliun tahun!
(angka ini bukan main2, jumlah seluruh pendapatan pajak negara Indonesia dalam 1 tahun dari ‘segala sektor’ saja setahu penulis belum pernah mencapai 1000 triliun! Itu adalah uang! Sedangkan ini adalah waktu, apalagi satuannya adalah ‘tahun’, Subhaanallaah)
= 4000 x 4000 x 4000 x 70000 x 365 x 24 jam
= 39.244.800.000.000.000.000 jam = 39,244 milyar x 1 milyar jam!!!

“ITU BARU 1 HUQUB”, padahal banyaknya bilangan huqub TIDAK akan dapat ditulis dan TIDAK akan pernah selesai ditulis (ingat firman Allah terhadap Nabi Musa).

Jika dikalkulasi, waktu dunia seperti ‘TIDAK PERNAH ADA’ atau bisa dibilang NOL. Ingat lagi pesan yang lalu tentang ‘SATU CELUPAN’ SAJA, didapati bahwa orang PALING BAHAGIA di dunia pun (dari manusia pertama hingga terakhir), sejenak saja! maka “semua kenikmatan” nya MUTLAK dianggap NOL.

Akhir kata, “dunia/ akhirat ≈ NOL”.

12 January 2013

Seandainya Manusia Tahu...

Hadits dalam Kitab Hadits Riyadhus Shalihin yang mengandung makna sangat dalam bagi orang-orang yang bersedia merenungi:

... FirmanNya: "Apakah yang mereka minta itu?" Dijawab: "Mereka meminta syurga." FirmanNya: "Adakah mereka pernah melihat syurga?" Dijawab: "Tidak, demi Allah, ya Tuhan, mereka tidak pernah melihat syurga itu." FirmanNya: "Bagaimanakah andaikata mereka dapat melihatnya?" Dijawab: "Andaikata mereka pernah melihatnya, tentulah mereka akan lebih lobanya pada syurga itu, lebih sangat mencarinya dan lebih besar keinginan mereka pada syurga tadi." FirmanNya: "Dari apakah mereka memohonkan perlindungan?" Dijawab: "Mereka mohon perlindungan daripada neraka." FirmanNya: "Adakah mereka pernah melihat neraka itu?" Dijawab: "Tidak, demi Allah mereka tidak pernah melihatnya." FirmanNya: "Bagaimanakah andaikata mereka pernah melihatnya?" Dijawab: "Andaikata mereka pernah melihatnya, tentulah mereka akan lebih sangat larinya dan lebih sangat takutnya pada neraka itu." ....(penggalan Hadits Muttafaq ‘alaih, shahih)

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Jika saja seorang mukmin mengetahui SIKSAAN ALLAH, TIDAK ADA seorang pun (dari mereka) yang berambisi ke surga-Nya. Dan jika saja orang kafir tahu rahmat Allah, tidak seorang pun dari mereka yang putus asa terhadap surga-Nya." (H.R. Muslim, shahih)

Hal ini memberi isyarat bahwa penting bagi seorang muslim untuk mengetahui gambaran kehidupan akhirat; siksa Allah (Neraka) untuk mengingatkannya dan rahmat Allah (Surga) sebagai motivator dalam beramal. Karena semua manusia hanya akan berakhir di salah satu atau keduanya. Allah sendiri yang memberikan peringatan berupa ancaman neraka dan kabar gembira berupa surga dari banyak ayat-ayat Al-Quran, maka selayaknya manusia yang beriman merasa terpanggil.

Kisah seseorang yang mengalami mimpi berada dalam neraka yang hanya dengan mimpinya dapat membakar kulit tubuhnya dan dengannya kemudian dapat membuat perubahan besar-besaran dalam hidupnya, kisah ini dapat kita jadikan pelajaran yang amat berharga. Gambaran kerasnya siksa tidak akan bisa digambarkan seutuhnya karena itu di luar batas akal manusia. Namun, beberapa dalil naqli hanyalah cukup dapat 'sedikit' menggambarkan itu. Namun, kiranya itu sudah cukup memberi 'peringatan' bagi manusia. Bukankah Al-Quran turun dan Nabi Muhammad saw. diutus untuk memberi peringatan?

“Al Qur'an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (38:87, ayat dengan makna seperti ini sangat banyak, misalnya: 6:19, 6:90, 14:52, 20:99, 21:24, 25:1, 68:52, 74:54, 81:27)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (17:105, ayat dengan makna seperti ini pun lebih banyak lagi)

=> SANGAT KERAS SIKSANYA, maka seseorang dapat hanya akan beramal untuk lebih berlindung dari neraka dan TIDAK TERLALU BERAMBISI KE SURGA! (Tanpa surga pun, baginya terbebas dari siksa sekeras itu adalah keberuntungan besar).

“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shaleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik.” (Al-Kahfi: 2)

(untuk menguatkan pandangan akan dahsyatnya kehidupan sesungguhnya yang sama sekali tidak terbayangkan di kehidupan dunia, sebagai pelajaran bagi siapa saja yang tidak menginginkan penyesalan di hari yang telah dijanjikan)

11 January 2013

Siksa Neraka Yang Paling Ringan

Mungkin sudah banyak beredar tentang siksa neraka paling ringan, tetapi penulis menjumpai tidak sampai lengkap ditulis/ diberitakan sehingga mungkin kebanyakan orang tidak ‘tersentak’ hatinya. Umumnya yang sering terdengar adalah hadits berikut:

“Azab yang paling ringan di neraka pada hari kiamat ialah dua butir bara api di kedua telapak kakinya yang dapat merebus otak.” (HR. Tirmidzi)

Padahal, dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim ada matan yang lebih lengkap. Berikut hadits yang amat mengerikan tersebut selengkapnya:

Nabi saw. bersabda: "Sesungguhnya seringan-ringannya siksa ahli neraka, yaitu orang yang dikenakan pada dirinya sepasang sandal (batu) dari api. Maka OTAKNYA MENDIDIH sebab dari sepsang sandal (batu itu), seperti mendidihnya air dalam panci dan "semua tetangganya mendengarnya", GIGI GERAHAMNYA MENJADI BARA API dan KEDUA BIBIRNYA MENJADI BARA API, kobaran api keluar DARI DALAM PERUT dan KEDUA TELAPAK KAKINYA. Sedang dia benar-benar mengetahui (meyakini) bahwa DIRINYALAH YANG PALING PEDIH SIKSANYA diantara ahli neraka yang lain. PADAHAL itu adalah SERINGAN-RINGANNYA SIKSA bagi ahli neraka".

Seperti itu adalah siksa yang PALING RINGAN! Kepedihannya sudah terlalu meyakitkan. Masih lagi ditambah bahwa ia berpikir itu siksa paling pedih! PADAHAL kenyataan justru sebaliknya! Sehingga tiap-tiap penghuni neraka sepertinya merasa sangat sangat sakit dan paling perih azabnya. Itu namanya SIKSA DI ATAS SIKSA! Dalam Q.S. An-Nahl ayat 88 disebut sebagai 'adzaaban fauqal 'adzaab (siksaan di atas siksaan).

Murka Allah tidak sampai di situ saja! Sabda Rasul bahwa “Tiap-tiap penghuni neraka mempunyai 70 KULIT, dari kulit yang satu ke kulit yang lain terdapat 7 LAPIS dari api neraka”. Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa “ketebalan kulitnya sejarak 3 hari perjalanan”. Artinya, begitu lebar dan banyak lapisan kulitnya menjadikan siksa semakin terasa mematikan. Firman Allah dalam Q.S. Thaahaa: 74 dan juga sabda Rasul bahwa ia hilang akal, tidak mati (mereka ingin mati tapi tidak bisa), tidak pula hidup.

Sangat pedih, murka Allah pun tidak sampai di situ saja. Setiap 70 KULIT itu luluh, akan diganti dengan 70 KULIT yang akan terus disiksa. “... Setiap kali kulit mereka hangus, KAMI GANTI kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka (benar-benar) merasakan AZAB ...” (Q.S. An-Nisaa’: 56). Itu namanya ‘siksa yang berlipat-lipat’.

Hanya ada teriakan, rintihan, jeritan, dan tangisan sangat keras. Dan setiap kali meminta diringankan azab karena terlalu pedihnya, justru semakin DITAMBAHKAN LAGI siksa dan azabnya.

“Karena itu rasakanlah! Dan Kami sekali-kali tidak akan MENAMBAH kepada kamu selain daripada azab.” (Q.S. An Naba: 30)

Syaikh Mahir Ahmad Ash Shuufiy dalam bukunya An-Naaru Ahwaaluhaa Wa 'Adzaabuhaa (buku terjemahan: ‘Misteri Kedahsyatan Neraka’) menyatakan bahwa firman Allah tersebut, maksudnya, bahwa siksa neraka senantiasa ditambahkan, tidak pernah berhenti dan tidak pernah dikurangi. Para ahli tafsir berkata, "Di dalam Al-Quran TIDAK ada bagi penduduk neraka, AYAT YANG LEBIH PEDIH dari ayat ini. Setiap meminta pertolongan dari satu jenis siksaan, mereka ditolong dengan siksaan lain yang lebih pedih dari sebelumnya." (Tafsir Al-Qurthubi)


Selain siksa, nyala Jahannam pun ditambahkan lagi:
“Tiap-tiap kali nyala api Jahanam itu akan padam Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.”(Q.S. Al isra: 97)

Sehingga berakhir pada suatu kesimpulan bahwa siksa Allah adalah SIKSA DI ATAS SIKSA; siksa yang berlipat-lipat! Yang masih DILIPATGANDAKAN 70 KALI, dan ini berlangsung terus-menerus (bisa berabad-abad sampai jutaan tahun) sampai seseorang ‘diangkat’ dan dimasukkan ke surga (jika ia orang ‘beriman’ TETAPI terlampau banyak dosanya; untuk melebur dosanya itu). Inilah SIKSA PALING RINGAN! Lalu bagaimana dengan siksa yang lebih berat? (dalam 1 tingkatan neraka), dan akan SEPARAH APA LAGI jika tingkatan nerakanya semakin bawah (untuk orang kafir)?

Penggalan sebuah hadits dari Anas bin Malik:

“Api neraka itu ada 7 pintu, tiap-tiap pintu ada bahagiannya yang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan.'

Nabi saw. bertanya: 'Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?'

Jawab Malaikat Jibril: 'Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70.000 TAHUN, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 KALILIPAT.' (yang lebih bawah lebih panas) ....”

“Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah SANGAT DAHSYATNYA.” (Al-Buruj 12)
“… lalu Allah menyiksa mereka dengan SIKSAAN YANG SANGAT KERAS.” (Al-Haqqah 10)
“... dan ketahuilah bahwa Allah SANGAT KERAS SIKSAAN-NYA.” (Al-Baqarah 196)

Teteskan air mata Anda...
Menangislah bila harus menangis....

09 January 2013

Makna Dibalik 50 Shalat

Allah pertama kali mewajibkan shalat 50 kali kepada umat Muhammad ketika beliau melakukan mi'raj. Tetapi, berkenaan dengan masalah ini, pernahkah kita bertanya tetntang hikmah disebutkannya hadits bahwa Allah telah mewajibkan shalat sebanyak 50 kali, lalu Dia memberikan dispensasi kepada kita?

Menurut keyakinan, wallahu a'lam, Allah MEMANG mewajibkan semua itu. Namun demikian, Dia mengetahui keadaan kita bahwa kita tidak akan mampu melakukannya. Seandainya kita mengerjakan shalat sebanyak 50 kali, sementara sehari semalam hanya ada 24 jam, berarti kita SETIAP SETENGAH JAM sekali kita akan mengerjakan shalat (tepatnya 28 menit 48 detik).

Misalnya, dari 24 jam yang ada, lalu kita kurangi 6 jam untuk tidur, berarti kira-kira SETIAP 20 MENIT kita akan mengerjakan shalat (tepatnya 21 menit 36 detik). Berdasarkan perhitungan ini, apabila seorang lelaki melakukan shalat di masjid, ia TIDAK AKAN meninggalkan masjid karena waktu shalat sangat dekat, sementara seorang wanita tidak akan meninggalkan mushallanya karena alasan yang sama. Dengan demikian, kapankah waktu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup dan di manakah tanggung jawab kehidupan dan tuntunan-tuntunannya?

Kalau begitu, apa tujuan diwajibkannya shalat 50 kali kemudian diringankan bagi kita dan diringkas menjadi lima? Ia tak disebutkan secara serampangan. Allah Mahasuci dari semua itu, Dia Mahabijaksana dalam segala firman dan perbuatan-Nya.

Hikmahnya, wallahu a'lam, secara lahir ialah Dia ingin menjelaskan kepada para hamba-Nya bahwa Dia tidak menciptakan mereka di dunia ini, KECUALI hanya untuk beribadah kepada-Nya. Karena itu, Dia mewajibkan shalat DAN MENYUKAI PENAMBAHAN BILANGANNYA sebatas kemampuan. Dengan demikian, hadits tersebut menunjukkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Mengukuhkan TUJUAN penciptaan manusia, yakni beribadah.
2. Menjelaskan keutamaan shalat fardhu atas shalat lainnya, serta memotivasi memperbanyak SHALAT SUNNAH dan seluruh bentuk ibadah sesuai kemampuan.

Semua ini menjelaskan bahwa “asal penciptaan MAKHLUK*” ialah untuk beribadah (Adz-Dzaariyaat 56). Maksud "ibadah" di sini ialah IBADAH MAHDHAH yang murni karena Allah.

*MAKHLUK; semua makhluk! dari bangsa manusia, hewan, tumbuhan dan benda-benda alam semesta, dari golongan yang tampak maupun yang tidak tampak, malaikat, jin, bahkan IBLIS (meskipun iblis yang dahulu 'ketaatan & kedudukannya lebih tinggi dari malaikat' menjadi membangkang setelah Adam muncul), yang besar dan yang kecil, yang benar-benar hidup dan yang seolah mati. Dalam fisika-astronomi, bahkan planet itu pun sebenarnya hidup! Ia makan dengan memakan planet lain (dalam kurun waktu yang sangat lama). Dan 'semua bertasbih' (fi'il mudhari', dan sudah barang tentu fi'il madhi) menurut cara masing-masing yang telah dikehendaki SANG PENCIPTA PALING SEMPURNA. Apakah kita tidak malu dengan ‘batu’ itu???

08 January 2013

Kesenangan Semu Yang Menipu

Sebuah konsep dan pengetahuan yang sangat penting yang seharusnya semua umat muslim memahaminya dengan baik.

Orang kaya merasa takut jika kekayaannya hilang, seorang ayah takut jika anak-anaknya tertimpa berbagai malapetaka dan bencana, pemilik rumah takut adanya pencuri, orang yang sehat takut jatuh sakit, dan orang yang sakit takut mati. Mereka SELALU DIHANTUI KETAKUTAN ke mana pun mereka pergi. Setiap kali harta 'bertambah' banyak, 'bertambah banyak pula' rasa takut dan khawatir.

Berbagai bentuk kesenangan dunia telah banyak tersedia bagi para pemiliknya. Namun, berbagai kesenangan itu TERCAMPUR dengan berbagai hal yang 'menakutkan'. Ketika kesenangan yang satu menyebabkan kanker, kesenangan yang lain justru menaikkan kolesterol. Ada juga kesenangan yang menyebabkan penikmatnya mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi), bahkan ada yang menyebabkan terjangkit penyakit AIDS, Syphilis, dan Herpes.

Berbagai jalan menuju kesenangan juga telah banyak tersedia bagi penikmatnya, tapi banyak bersenang-senang justru menyebabkan KEBOSANAN, mengantarkan kepada kegemukan dan pengangguran serta mendatangkan berbagai penyakit.

Dan yang PASTI, setiap bentuk dari sekian bentuk kenikmatan di dunia, PASTI mempunyai batas akhir yang disebut dengan 'batas kekenyangan'. Jika setelah itu ditambah lagi akan dikategorikan sebagai sesuatu yang sia-sia dan tidak bermanfaat, dan memberikan kemudharatan.

Dunia ini hanyalah kenikmatan yang mengandung "kesedihan dan kesusahan, serta ketakutan dan kegelisahan".

Dua hal pokok: PERTAMA, kesenangan dunia ada 'batasnya'. Jika melebihi itu artinya menjadi kesusahan! KEDUA, kenikmatan yang "belum mencapai batas" pun tercampur dengan "kepahitan, kesedihan, dan kesusahan, serta ketakutan dan kegelisahan". Ini kesenangan semu yang amat payah!

Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya (Q.S. Ali Imran: 185). Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kenikmatan yang menipu [kesenangan yang palsu] (Q.S. Al-Hadiid: 20). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya (Q.S. Al-Israa': 21). Maka ambillah ia sebagai pelajaran, wahai orang mu’min.

07 January 2013

Dahsyatnya ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’

Ada banyak bacaan dzikir, salah satunya adalah tahlil.Berikut akan diutarakan dahsyatnya ucapan yang sebenarnya ringan diucapkan tapi amat berat di timbangan. Berikut inti percakapantentang kisah Nabi Musa yang bercakap dengan Tuhan:

PERCAKAPAN MUSA A.S. DENGAN TUHAN

Musa A.S.: Oh Tuhan, ajarilah kami sesuatu yang dapat kami pakai untuk berdzikir dan berdo'a kepada Engkau.
Tuhan: Ucapkan, Laa Ilaaha Illallaah ha Musa.
Musa A.S.: Oh Tuhan, semua hamba-Mu telah mengucapkan kalimat itu.
Tuhan: Hai Musa, andaikan langit yang tujuh berserta seluruh penghuninya selain Aku, dan bumi yang tujuh ditimbang dengan Laa Ilaaha Illallaah, niscaya masih berat Laa Ilaaha Illallaah.

Kata Hikmah :
1. Kisah ini diambil dari hadits Nabi S.A.W. yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Abi Sa'id Al-Khud Riyyi ra.
2. Nilai Laa Ilaaha Illallaah lebih hebat daripada langit, bumi, dan seluruh penghuninya.
3. Langit itu juga berpenghuni.
4. Bumi itu tujuh lapis sebagaimana langit.
5. Seutama-utama dzikir adalah Laa Ilaaha Illallaah*.
*cocok dengan hadits dari Jabir ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: "Dzikir yang paling afdhol adalah mengucapkan 'Laa ilaaha illallaah'." (H.R. Tirmidzi, shahih)

Hal-hal BODOH, SEPELE, dan KECIL apakah yang sebenarnya melalaikan kita ini???

=>Untuk menjaga ‘istiqomah’ kita, maka bacalah usai sholat 10 atau 33 kali atau menurut bilangan yang Anda sukai. Mungkin kita tidak pernah terpikir bahwa SATU-SATUNYA ibadah yang diperintahkan dalam Al-Quran agar dilakukan sebanyak-banyaknya adalah ‘dzikir’.

” Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yangsebanyak-banyaknya.” (Q.S. Al-Ahzab: 41)

“… sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Q.S. Al-Anfaal: 45)

Hal ini cukup ringan, dalam 1 detik saja Anda dapat membacanya 2 kali. Jadi Anda hanya perlu meluangkan waktu 16,5 detik! Ini sungguh-sungguh ‘sangat berharga’ untuk Anda. Maka segera amalkanlah ‘sekarang juga’.

06 January 2013

Dahsyatnya Api Neraka !

Diriwayatkan dalam suatu hadits, sesungguhnya ketika Allah SWT memerintahkan kepada malaikat Jibril untuk mengambil api kepada Malaikat Malik, yang kemudian api itu diberikan kepada Nabi Adam as., sehingga Nabi Adam as. bisa memasak makanan dengan api, maka berkatalah Malaikat Malik: "Wahai Jibril, berapakah api yang kamu butuhkan?". Malaikat jibril menjawab: "Aku membutuhkannya sebesar buah kurma". Lalu Malaikat Malik berkata: "Wahai Jibril, andaikata aku memberikan api itu kepadamu sebesar BUAH KURMA, maka akan HANCURLAH TUJUH LANGIT, DAN TUJUH BUMI karena dari panasnya api itu".

Malaikat Jibril berkata: "Kalau begitu sebesar BIJINYA". Maka Malaikat Malik berkata: "Kalau aku memberikan apa yang kau inginkan, maka tidak akan turun hujan biar hanya setetes, dan juga tumbuh-tumbuhan tidak akan bisa tumbuh di bumi".

Malaikat Jibril melapor: "Ya Tuhanku, seberapakah api yang harus aku ambil?". Lalu Allah SWT berfirman: "Ambillah kira-kira sebesar semut kecil". Kemudian Malaikat Jibril mengambil api sebesar SEMUT KECIL, lalu mencelupkan api itu ke dalam sungai sebanyak 70 KALI.

Selanjutnya Malaikat Jibril membawa api itu kepada Nabi Adam as. Lalu Malaikat Jibril meletakkan api itu di atas gunung yang tinggi, maka GUNUNG ITU MENJADI HANCUR, kemudian Malaikat Jibril MENGEMBALIKAN API yang sebesar semut itu ke tempatnya, yaitu neraka. Dimana masih tersisa asap api itu di beberapa batu dan besi, sampai pada hari kita ini, maka api yang ada ini, adalah dari ASAP api neraka yang sebesar SEMUT TADI. Maka ambillah dia sebagai pelajaran, wahai orang-orang mu'min.

Api neraka sebesar "buah kurma" saja pasti menhancurleburkan tujuh langit dan tujuh bumi! Api neraka sebesar "biji kurma" saja pasti berdampak tidak akan ada kehidupan sedikit pun! Api neraka sebesar "SEMUT KECIL yang telah DICELUPKAN ke dalam sungai 70 KALI" saja pasti menghancurkan gunung yang tinggi! Baru "BEKAS atau SISA ASAP api sebesar semut kecil yang telah dibasuh air 70 KALI" adalah panasnya api dunia!!!

05 January 2013

Satu Celupan Saja !

Sebelum melangkah lebih jauh, resapi dan tangisi dalam hati hadits mengerikan berikut:
Rasulullah SAW. bersabda:

“Pada Hari Kiamat, didatangkanlah penghuni neraka yang paling nikmat kehidupannya di dunia, lalu ia dicelupkan SEJENAK ke dalam neraka, kemudian ia ditanya, ‘Pernahkan kamu merasakan kenikmatan meski hanya sedikit?’ Ia menjawab, ‘TIDAK PERNAH, ya Rabb’ Lalu didatangkan pula penghuni surga yang (dahulu) paling sengsara di dunia, lalu ia dicelupkan SEJENAK ke dalam surga, kemudian ditanya, ‘Pernahkan kamu merasakan kesengsaraan meski hanya sedikit?’ Ia menjawab, ‘TIDAK PERNAH, ya Rabb’ …” (H.R. Muslim, Shahih Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan, jika seseorang dianugerahi:

“Kemakmuran di dunia berupa harta yang melimpah, kebahagiaan, ‘kenikmatan yang tiada batas’, umur yang panjang dan kesehatan, dan bahkan juga kekuasaan, kedudukan serta pangkat(akumulasi)”,

Kemudian ia dicelupkan ‘sebentar saja’ ke dalam neraka, MAKA ‘semua keuntungan’ yang telah ia peroleh “SEDIKIT PUN tidak bisa menyamai/ mengimbangi celupan itu”. Hasilnya menjadi NOL dibandingkan dengan satu celupan tersebut.

Lantas, bagaimanakah dengan kondisi orang yang tinggal di neraka selama bertahun-tahun dan dalam waktu yang lama, MESKIPUN setelah itu tempat kembalinya ialah surga?

04 January 2013

Bentuk Bulat Planet Bumi - Keajaiban Al Qur'an

Bumi itu datar, itulah anggapan sebagian orang-orang terdahulu terhadap bumi, terutama di semenanjung Arab pada zaman Nabi Muhammad SAW. Di saat paham mengenai “bumi itu bulat” yang dipionirkan oleh Phytaghoras (abad 6 SM) dan Aristotle (384-322 BC) mulai berkembang di beberapa belahan bumi, belahan bumi yang lain menganut paham bahwa “bumi itu datar”. Kepercayaan akan bentuk bumi itu sendiri, baik bumi itu datar maupun bulat, masih didasarkan pada pengamatan indera dan argumen-argumen logika, tanpa bukti-bukti ilmiah, sehingga paham tersebut kurang begitu populer dibandingkan dengan paham yang telah dipercaya oleh orang-orang terdahulu jauh sebelum itu. Beberapa mengambil argumen bentuk bumi dengan bersandarkan akan interpretasi akan wahyu, terutama gereja-gereja Nasrani awal dan orang-orang Yahudi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, walaupun paham “bumi itu bulat” sudah ada pada saat itu, akan tetapi sebagian besar manusia masih percaya bahwa “bumi itu datar”.

Al-Qur'an diturunkan pada masa dimana hampir sebagian besar penduduk semenanjung Arab menganggap bumi itu datar, dan mungkin pemikiran bahwa bumi itu bulat pada saat itu adalah sesuatu hal yang tidak dapat diterima, terlebih ilmu astronomi saat itu tidak populer di kalangan orang-orang Arab. Pada masa sekarang ini, paham “bumi itu bulat” hampir tak terbantahkan. Bukti-bukti nyata, baik melalui pengamatan di bumi bahkan dengan melalui pengamatan langsung di luar angkasa telah disodorkan kepada kita, sehingga paham bahwa “bumi itu datar” sukar untuk dipertahankan. Namun perlu diingat bahwa Al-Qur’an turun tidak dimasa ini, akan tetapi di masa ketika orang-orang masih percaya bahwa bumi itu datar. Bahkan di berbagai tempat di dalam Al-Qur'an dikatakan bahwa bahwa bumi itu di bentangkan dan dihamparkan (dalam bahasa arab-nya dikatakan dengan "faraash", "wasia", "mahd", "basaat", "suttihat", "tahaaha", "dahaaha")


[51:48] Dan bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)
[15:19] Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
[50:7] Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata
[71:19] Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan
[78:6] Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan ?
[79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya
[88:20] Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
[91:6] dan bumi serta penghamparannya
[13:3] Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi ...

Ayat-ayat ini dijadikan argumen yang menunjukkan bahwa bumi itu datar, menurut Al-Qur’an. Kata-kata dibentangkan dan dihamparkan, semuanya memiliki makna datar. Jadi, Allah melalui Al-Qur’an menyatakan bahwa bumi itu sebenarnya datar, sebagaimana yang disebutkan di awal penciptaan. Atau benarkan demikian ?

Pertama-tama patut kita lihat, kata datar, atau lurus dalam bahasa arab adalah "sawi" atau "almustafi". Tidak ada satu pun kata dalam Al-Qur'an yang menggunakan kedua frasa tersebut untuk mendeskripsikan bumi. Sesuatu yang datar juga memiliki sudut atau pojok atau sisi atau akhir, yang mana istilah-istilah ini pun tidak pernah digunakan Al-Qur'an dalam mendeskripsikan bumi. Walaupun AL-Qur'an diturunkan di masa dimana orang-orang berpikir bahwa bumi itu datar, akan tetapi tidak ada satu pun ayat di dalam Al-Qur'an yang secara explisit mengatakan bahwa bumi itu datar.

Kita lihat lagi di surah Ar-Rahmaan ayat 33 yang berbunyi :

[55:33] Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup melintasi penjuru (aqthar) langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kewenangan (keahlian / kekuasaan).

Catatan : kata "bi sulthaan" di akhir ayat ini sering diterjemahkan dengan "kekuatan". Arti dari "sulthaan" ini sendiri adalah kewenangan, keahlian, kekuatan.

Perhatikan bahwa Al-Qur'an menggunakan kata "aqthar" yang diterjemahkan sebagai penjuru (region). Kata "Aqthar" ini sendiri mengandung arti diameter atau garis tengah, dan dihadirkan dalam bentuk jamak. Bentuk tunggal dari "aqthar" adalah "quthr" dan dualnya adalah "qutharin".

Suatu bangun tiga dimensi yang memiliki "banyak" diameter adalah elipsoid atau yang cenderung menyerupai itu. Elipsoid merupakan suatu bangun yang bulat menyerupai bola dengan bentuk memipih seperti telur.

Jadi, 1400 tahun yang lalu, Al-Qur'an menyatakan bahwa alam semesta (dalam hal ini langit) dan bumi berbentuk elipsoid, bola pipih, disaat sebagian besar penduduk dunia saat itu menganggap bumi adalah datar, dan langit adalah apa yang terlihat dari bumi dengan mata telanjang.

Pengartian "aqthar" sebagai "diameter" pada jaman-jaman dahulu tidak dikenal, sehingga akhirnya di artikan dengan kata-nya yang terdekat aqtashara yang berarti penjuru. Akan tetapi banyak kata-kata dalam Al-Qur'an yang tidak biasa atau tidak dikenal pada zamannya sehingga pengertiannya di ambil yang terdekat atau lebih umum pada masa itu. Apalagi pada masa itu menyatakan "bumi itu bulat" adalah suatu ide yang kurang dapat diterima. Sebagai firman Allah, Al-Qur'an menyatakan kebulat-pipihan bumi secara tersirat, yang akan dapat dibuktikan berabad-abad kemudian seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi manusia.

Penggunaan dan pemilihan kata itu sendiri merupakan salah satu keistimewaan Al-Qur'an. "Aqthar" sebagai diameter memang mungkin tidak dikenal pada zamannya, akan tetapi Allah yang maha Mengetahui tahu bahwa berabad-abad kemudian bahwa kata "aqthar" akan digunakan sebagai "diameter", jauh sebelum manusia menyadari bahwa Al-Qur'an menyebutkan hal yang akan membuktikan kesesuaiannya dengan ilmu pengetahuan. Sama halnya dengan kata "kawkaban" yang di pakai di beberapa ayat lain di dalam Al-Qur'an, yang pada zaman diturunkannya Al-Qur'an hanya di kenal sebagai "bintang", belakangan setelah ditetapkannya istilah planet, maka "kawkaban" pun memiliki arti sebagai "planet".

Di surah lain, Az-Zumar ayat 5, Allah Berfirman :

[39:5] Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq; Dia menutupkan (yukawwiru) malam atas siang dan menutupkan siang atas malam ...

"Menutupkan" (yukawwiru) dalam ayat di atas secara bahasa mengandung pengertian "melapisi sesuatu kepada suatu benda yang bundar", biasanya dipakai dalam istilah "menutupkan turban di kepala". Jadi sekali lagi secara tersirat Allah ingin memberitahukan kepada manusia bahwa bumi itu tidaklah datar seperti yang diperkiraan.

Pertanyaan lain muncul : mengapa Allah tidak langsung menyatakan bahwa bumi itu bulat? Melainkan harus membuatnya tersirat? Sedangkan banyak ayat lainnya menyatakan bahwa bumi itu di bentangkan, dihamparkan, didatarkan ?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Al-Qur'an diturunkan dimasa sebagian besar manusia berpikir bahwa bumi itu datar. Menyatakan secara langsung bumi itu bulat akan membuat Islam semakin tidak akan diterima pada masa itu, banyak orang akan menuduh Nabi adalah orang yang benar-benar gila. Masalah bumi dan alam semesta itu bulat atau elipsoid bukanlah masalah yang terkait dengan tauhid dan perbaikan akhlak yang menjadi misi utama Islam pada masa itu, oleh sebab itu ayat-ayat yang menyatakan bumi itu bulat diturunkan Allah secara tersirat, karena sebagai kitab “penutup”, Al-Qur’an harus sejalan dengan tanda-tanda yang Allah taruh di seluruh penjuru alam semesta. yang kebenarannya akan dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, bagi kaum yang mau berfikir, wallahu a'lam. Di pihak lain, tidak ada satupun ayat dalam Al-Qur'an yang secara terang-terangan menyatakan bahwa bumi itu datar ataupun diam tidak bergerak.

Pertanyaan lain menjadi muncul, apa maksudnya Al-Qur'an menyatakan bumi itu dihamparkan atau dibentangkan? bukannya itu sama saja mengatakan bahwa bumi itu datar?

Pernyataan "bumi itu dihamparkan/dibentangkan" dengan "bumi itu datar" adalah dua hal yang berbeda. Sekarang mari kita melihat sejarah, selama beratus-ratus bahkan beribu-ribu tahun manusia percaya bahwa bumi itu datar. Mengapa? Jawabannya : karena bumi itu didatarkan Allah agar makhluk-makhluknya dapat hidup di bumi. Karena selama itu manusia sama sekali tidak pernah merasakan bahwa bumi itu bulat. Tidak sampai pada akal manusia saat itu bagaimana manusia dan hewan-hewan dapat hidup di suatu benda yang bulat tanpa dia tergelincir daripadanya. Allah memberikan gravitasi yang sesuai bagi bumi sehingga mampu menyokong kehidupan makhluk-makhluk yang ada didalamnya, dimana setiap makhluk tersebut tidak akan merasakan bumi itu bulat. Ya, dengan gravitasi, Allah menjadikan bumi yang bulat menjadi datar.

[79:27] Apakah kamu lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya,
[79:28] Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,
[79:29] dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.
[79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.
[79:31] Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
[79:32] Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh,
[79:33] (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

Perhatikan dalam surah An-Naazi'aat diatas "penghamparan Bumi" terjadi setelah Allah menjadikan siang dan malam di bumi. Berarti sebelum "penghamparan" itu, bumi sudah ada, akan tetapi bumi masih bulat tanpa gravitasi yang sesuai, masih belum dapat dihuni oleh makhluk hidup. Barulah setelah itu bumi "dihamparkan / didatarkan" oleh Allah, sehingga air, laut, tumbuh-tumbuhan mulai bermunculan di bumi, begitu juga manusia. Kita semua merasakan bumi itu "datar" walaupun sebenarnya bumi itu bulat.

Menurut ilmuwan mesir kontemporer, Zaghlul an-Najjar, menyatakan bahwa pada awal penciptaan langit dan bumi, kecepatan putaran bumi pada porosnya amatlah tinggi sehingga dalam setahun melebihi 2200 hari dengan panjang siang dan malam kurang dari 4 jam. Pada saat itu bumi belum “dihamparkan”. Makhluk hidup belum dapat hidup dipermukaannya. Setelah itu, Allah mulai proses “penghamparan” bumi.

Yang menarik dari surah An-Naazi'at ayat 30 ini adalah kata "dahaha" yang banyak menjadi perdebatan. "Dahaha" di sini di artikan dengan "dihamparkan", hanya muncul sekali yaitu di ayat ini, dari sekian banyak ayat Al-Qur'an yang mengatakan "dihamparkan / dibentangkan".

[79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya (dahaha).

"Dahaha" berasal dari kata kerja "daha" yang diturunkan dari kata kerja "dahu" yang dapat berarti membentangkan, mendorong, melemparkan, menggerakkan. Ibnu Barri mengatakan "Daha al-Ardh" berarti mendorong bumi sehingga bergerak. Disini An-Naazi'at ayat 30 dapat diartikan "Dan sesudah itu bumi Allah gerakkan (didorong sehingga berputar) hingga akhirnya menjadi (terasa) datar". Juga dapat dilihat berdasarkan asal katanya “dahraj” yang berarti bergerak berputar atau berguling.

Saat ini pergerakan bumi (rotasi dan revolusi) diketahui sebagai penyebab adanya gravitasi dan juga menyebabkan bentuk bumi menjadi lebih panjang di equatorial (bulat pipih), sesuatu yang telah disampaikan Allah melalui Al-Qur'an 15 abad silam, wallahu a'lam.

[77:25] Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul (Kifaatan)
[77:26] yang hidup dan yang mati

"Kifaatan" pada surah Al-Mursaalat ayat 25 diatas diartikan dengan "berkumpul", berasal dari kata "kafata" yang berarti "mengumpulkan ke suatu tempat". Ayat ini mengindikasikan adanya suatu kekuatan pada bumi yang menarik segala sesuatu yang hidup maupun yang mati di bumi untuk kembali berkumpul di bumi (baca : gravitasi). Karena Allah menjadikan bumi "tempat berkumpul" lah, sehingga manusia merasakan bahwa bumi itu datar, padahal sebenarnya bumi itu relatif bulat yang "dihamparkan" Allah dengan cara di "daha" kan.

[70:40] Maka aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki (semua) timur (masyaariq) dan (semua) barat (maghaaribi), sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa.

Al-Ma’aarij (70) ayat 40 di atas menyatakan secara explisit bahwa bumi memliki banyak timur (masyaariq, bentuk jamak) dan banyak barat (maghaaribi, bentuk jamak), sesuatu yang tidak mungkin apabila bumi itu datar. Banyak timur dan banyak barat memungkinkan apabila bumi itu berbentuk bulat ataupun elipsoid, sehingga untuk setiap titik di bumi, barat dan timurnya berbeda-beda dikarenakan matahari yang menjadi acuan timur dan barat terlihat pada posisi yang berbeda-beda saat terbit dan terbenamnya apabila bumi berbentuk bulat, dan seharusnya terlihat sama apabila bumi itu memang datar.

Masyaariq dan Maghaarib dalam bahasa arab juga dapat berarti "tempat terbit matahari" dan "tempat terbenam matahari" sebagaimana yang dipakai di surah Ar-Rahmaan ayat 17 :

[55:17] Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.

Surah Ar-Rahmaan ayat 17 di atas menyatakan bahwa Allah menjadikan bumi memiliki dua tempat terbit matahari (masyariqayn) dan dua tempat terbenam matahari (magharibayn). Ayat ini secara simbolis menyatakan bahwa bumi itu bulat dan berotasi. Jika di suatu tempat telah mengamati bahwa matahari terbenam, pada saat yang sama di belaham bumi yang berlawanan mengamati bahwa matahari baru terbit, sehingga secara pengamatan, ada dua tempat terbit matahari dan dua tempat terbenamnya, yang mengindikasikan bahwa bumi itu bulat dan berotasi.


Tempat Terendah di Bumi
Postingan ini akan diakhiri dengan membahas surah Ar-Ruum ayat 1 - 3 :

[30:1-3] Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi di negeri yang terdekat (adnal) dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang

Ayat yang diturunkan sekitar tahun 620 M ini menceritakan mengenai kekalahan bangsa Romawi, dalam hal ini Byzantine melawan bangsa Persia, dengan puncak kekalahan adalah direbutnya kota Yerusallem, diambilnya true cross dari tangan umat kristen Yerusallem, dan pembantaian 57000-65000 orang di Yerusallem setelah Byzantine kalah berperang dengan tentara Persia yang dipimpin Khosrou di sekitar laut mati (dead sea basin), yang terletak di antara Palestina dan Yordania saat sekarang ini.Dan Al-Qur'an meramalkan bahwa walaupun pada saat itu bangsa Ruum (Byzantine) dikalahkan, tetapi mereka akan bangkit dan menang terhadap Persia (yang mana terbukti beberapa tahun kemudian setelah ayat ini diturunkan)

Perhatikan kata "Adnal" dalam ayat di atas yang diartikan "terdekat". Kata "adnal" itu sendiri berarti "terendah", namun kalimat "negeri yang terendah" pada masa diturunkannya ayat ini kurang dapat dimengerti sehingga pengertiannya dijadikan yang "terdekat".

Faktanya, daerah sekitar laut mati (dead sea), yang disebut juga sebagai laut garam, merupakan daratan terendah di permukaan Bumi, yaitu 394 meter (1291 kaki) di bawah permukaan laut.

Fakta yang baru diketahui manusia melalui citra yang diambil dari satelit ini sudah diungkapkan Allah kepada manusia melalui kitab-Nya yang sempurna 15 abad yang lalu.

Wallahu a'lam

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya

(dari berbagai sumber)


03 January 2013

Aku Bahagia

Aku bahagia...

Aku bahagia karena telah menemukan kesejatian dalam hidup ini. Aku bahagia karena aku tahu kemana aku harus melangkah. Tidak ada yang bisa menghalangiku. Aku bahagia mendapat “ujian”. Bagiku tidak ada yang namanya musibah. Semua ujian ini adalah sebuah gurauan dari Tuhanku. Dia memang suka bercanda dan membuatku senantiasa tersenyum. Aku ingin berbagi kebahagiaan ini dengan semua orang. Aku ingin melihat mereka semua tertawa riang menikmati gelombang samudera kehidupan. Bagaikan seorang peselancar yang bermain-main di atas ombak besar. Riuh rendahnya peristiwa membuatku seperti anak kecil yang bermain ayunan. Kadang di atas kadang di bawah. Warna warni kehidupan membuatku terkagum-kagum. Betapa gerakan-Mu senantiasa mempesona. Aku ingin selalu di belakang-Mu menghadapi semuanya. Aku ingin menikmati nyamannya bersandar pada-Mu.

Tapi aku sedih jika...

Aku sedih jika telah membuat-Mu berpaling dariku. Jika aku mulai menjauh dari-Mu, itulah musibah yang sesungguhnya. Aku sedih jika telah mengecewakan-Mu.

Dan aku pun takut...
Aku takut karena aku tidak tahu
 dimana aku akan berakhir. Hanya ada dua pilihan, kekal di surga atau kekal di neraka (QS.2:80-82). Tidak ada pilihan ketiga. Setiap shalat, itulah yang selalu aku keluhkan pada-Mu. Aku meratap, memohon, menangis. Duhai Yang Maha Pengasih, tempatkan aku di tempat yang baik. Peliharalah aku dari kekalnya siksa neraka. Kepada siapa lagi aku mesti berharap selain hanya kepada-Mu.