30 December 2014

Mencari Kebenaran (Acara Tahun Baru)

Di penghujung tahun selalu ada tradisi yang tak pernah luput dari sorotan masyarakat khususnya para pemuda atau bahkan remaja, selain bertepatan dengan hari Natal, hari lahirnya sang Juru Selanat bagi kaum Kristiani di bulan Desember ini pun akan mengalami pergantian tahun baru masehi. Tiap stasiun televisi jauh-jauh hari telah mengumumkan akan menggelar acara special dalam rangka memperingati tahun baru masehi. Di sisi lain para pedagang pun tak mau melewati moment tahun baru yang menurut mereka akan meraup keuntungan dengan memperjual belikan assesoris tahun baru seperti terompet, topi kerucut khusus tahun baru, kembang api serta assesoris yang menandakan penyambutan tahun baru.

Puncak kemeriahan tahun baru terjadi menjelang detik-detik pergantian tahun di jam 00:00, tanpa ada perintah para penonton di studio maupun pemirsa di rumah serempak meniup terompet dan tak lupa menyalakan kembang api yang harga belinya cukup menguras kantong. Berbeda dengan suasana di jalan raya terdengar suara knalpot dan teriakan klakson kendaraan bernotor yang memecah kesunyian malam, kemudan berlanjut dengan saling mengucapkan selamat tahun baru.

Sejarah Tahun Baru 1 Januari
Mari kita buka The World Book Encyclopedia tahun 1984, volume 14, halaman 237.
“The Roman ruler Julius Caesar established January 1 as New Year’s Day in 46 BC. The Romans dedicated this day to Janus , the god of gates, doors, and beginnings. The month of January was named after Janus, who had two faces – one looking forward and the other looking backward.”
“Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah – sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu.”
Sosok dewa Janus dalam mitologi Romawi
Dewa Janus sendiri adalah sesembahan kaum Pagan Romawi, dan pada peradaban sebelumnya di Yunani telah disembah sosok yang sama bernama dewa Chronos. Kaum Pagan, atau dalam bahasa kita disebut kaum kafir penyembah berhala, hingga kini biasa memasukkan budaya mereka ke dalam budaya kaum lainnya, sehingga terkadang tanpa sadar kita mengikuti mereka. Sejarah pelestarian budaya Pagan (penyembahan berhala) sudah ada semenjak zaman Hermaic (3600 SM) di Yunani, dan dikawal oleh sebuah persaudaraan rahasia yang disebut sebagai Freemasons. Freemasons sendiri adalah kaum yang memiliki misi untuk melenyapkan ajaran para Nabi dari dunia ini.

Bulan Januari (bulannya Janus) juga ditetapkan setelah Desember dikarenakan Desember adalah pusat Winter Soltice, yaitu hari-hari dimana kaum pagan penyembah Matahari merayakan ritual mereka saat musim dingin. Pertengahan Winter Soltice jatuh pada tanggal 25 Desember, dan inilah salah satu dari sekian banyak pengaruh Pagan pada budaya Kristen selain penggunaan lambang salib. Tanggal 1 Januari sendiri adalah seminggu setelah pertengahan Winter Soltice, yang juga termasuk dalam bagian ritual dan perayaan Winter Soltice dalam Paganisme.

Kaum Pagan sendiri biasa merayakan tahun baru mereka (atau Hari Janus) dengan mengitari api unggun, menyalakan kembang api, dan bernyanyi bersama. Kaum Pagan di beberapa tempat di Eropa juga menandainya dengan memukul lonceng atau meniup terompet.

SANBENITO: Topi Kerucut Simbol Permutadan
Topi kerucut yang biasa dipakai masyarakat untuk merayakan hari ulang tahun dan perayaan tahun baru Masehi merupakan simbol permutadan oleh kaum muslim di Andalusia. Topi kerucut ini disebut SANBENITO, topi ini digunakan untuk menandai bahwa mereka telah murtad dibawah penindasan gereja Katholik Toma yang menerapkan inkuisi Spanyol. Saat itu terjadi pembantaian Muslim Andalusia yang dilakukan oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela yang dikenal dengan peristiwa Inkuisisi Spanyol. Inkuisisi dimulai semen¬jak tahun 1492 dikeluarkannya Dekrit Alhambra yang mengharuskan semua non-Kristen untuk keluar dari Spanyol atau me-meluk Kristen. Muslim yang memilih tetap tinggal dilumpuhkan secara ekonomi dan diisolasi dalam kampung-kampung tertu¬tup yang disebut Gheto untuk memudahkan pengawasan terhadap aktifitas Muslim.Tidak cukup hanya diisolasi, tapi Muslim Andalusia harus menggunakan pakaian khusus berupa rompi dan topi kerucut yang disebut Sanbenito. Ketika orang Barat menggunakan topi ini dalam pesta-pesta mereka, sejatinya mereka merayakan kemenangan atas jatuhnya Muslim Andalusia dan keberhasilan Inkuisi Spanyol. Masa demi masa berlalu topi kerucut ini kemudian menjadi budaya yang digunakan oleh umat Islam dalam merayakan tahun baru masehi dan ulang tahun.

Islam Menyikapi
Tahun baru Masehi adalah tahun baru yang tak ada anjuranya dalam Al qur’an dan As Sunnah untuk dirayakan. Telah diuraikan diatas bahwa semua budaya tahun baru Masehi merupakan budaya yang berasal dari orang kafir. Anehnya banyak orang islam yang mengadopsi untuk merayakan budaya yang berasal dari orang kafir ini, terlebih para pemuda dan remaja yang minim akan pengetahuan tentang asal usul tahun baru Masehi. Padahal jelas dalam Al qur’an ada larangan untuk tidak melakukan suatu amalan yang tidak ada dasar pengetahuan tentangnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu TIDAK MEMPUNYAI ILMU tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra’ : 36)
Merayakan (ikut serta) dan meramaikan perayaan tahun baru Masehi merupakan bentuk kemaksiatan. Memakai atribut tahun baru masehi seperti topi kerucut dan lainnya merupakan bentuk menyerupai kaum-kaum kafir terdahulu, padahal Rosulullah melatang tindakan yang demikian.

“Siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka ia termaksud didalamnya”
HR.Abu Dawud dan Ahmad

Manusia memang telah berubah, disaat perayaan tahun baru Masehi yang jelas-jelas budaya kaum kafir dan jelas hukumnya untuk dirayakan oleh kaum muslim malah sengaja merayakan, bahkan rela mengorbankan ribuan uang, waktu serta tenaga yang tidak ada manfaat justri akan membawa kemudhoratan. Berbeda ketika tahun baru Muharram, tahun barunya umat muslim dating, kebanyakan dari mereka adem ayem dalam menyambutnya, pdahal di bualan Muharram banyak peristiwa yang penuh dengan sejarah, diantaranya Nabi Adam bertobat kepada Allah, hari pertama Allah menciptakan alam, Nabi Isa diangkat ke langi, peristiwa terbelahnya laut Merahuntuk menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya, semua petistiwa itu terjadi dibulan Muharram.

Minimnya pengetahuan tentang tsaqofah islam dikalangan kaum muslim terutama bagi para pemuda dan remaja akan menjadi masalah besar karena lambat laun mereka akan meninggalkan aturan islam dan mengikuti budaya barat, dan tentu hal ini jika dibiarkan kaum muslim akan menjadi minoritas. Sebelum itu terjadi diperlukan strategi untuk menyelamatkan kaum muslim terutama para pemuda dan remaja yang kelak mereka akan memegang estafet kepemimpinan bangsa ini. Strategi yang paling ampuh adalah dengan menerapkan aturan islam secara kaffah, tak hanya diurusan ibadah tetapi disemua lini kehidupan.

Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
(TQS. Al-Baqarah [2]:/

===============
Oleh :Ukhty yulia 

24 December 2014

Iman yang Menakjubkan

Suatu hari ketika orang-orang kafir berkumpul di rumah Abu Jahal, tiba-tiba datang Tariq Ash Shaidilani. Ia berkata, "alangkah mudahnya membunuh Muhammad jika kalian setuju denganku."
"Bagaimana caranya, wahai Tariq?"

Tariq menjawab, "sesungguhnya saat ini Muhammad sedang duduk bersandar di dinding Ka’bah. Seandainya salah satu di antara kita pergi ke sana, dan menjatuhinya dengan batu yang besar dari atas Ka’bah, pasti ia akan mati seketika." Maka salah seorang di antara mereka yang bernama Shihab berdiri. "Seandainya kalian mengizinkanku, sungguh aku akan membunuhnya."

Setelah orang-orang yang hadir di tempat itu setuju, Shihab segera menuju Ka’bah.
Sesampainya di Ka’bah, Tariq naik sambil membawa batu besar. Kemudian dijatuhkannya batu itu, tepat ke arah Rasulullah saw. yang sedang duduk bersandar di bawahnya. Namun, tiba-tiba keluar salah satu batu dari dinding Ka’bah untuk menahan batu besar yang seolah jatuh melayang dari udara itu. Rasulullah segera berdiri dari duduknya dan menghindar. Tak lama berselang, batu besar itu jatuh menimpa tanah. Kemudian batu dari dinding Ka’bah yang tadi keluar kembali ke tempatnya seperti sedia kala.

Shihab yang berada di atas Ka’bah terheran-heran melihat kejadian itu. Setelah bergegas turun untuk menemui Rasulullah, ia menyatakan masuk Islam.
Tariq pun akhirnya juga masuk Islam setelah melihat mu’jizat tersebut. Berikut pula orang-orang yang bersamanya, yang juga menyaksikan mu’jizat tersebut.

Muhammad bin abu Bakar bertutur; "Iman kepada Nabi saw. yang sangat menakjubkan ialah, imannya orang akhir zaman. Karena mereka beriman meski tidak menyaksikan sendiri mu’jizat Rasulullah saw.."
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw. bersabda; "Tahukah kalian, orang yang imannya paling menakjubkan?"

Para Sahabat menjawab, "para malaikat, ya Rasulullah!"
Rasulullah saw. berkata, "bagaimana mereka tidak beriman, sedangkan Malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada mereka?"
Para Sahabat menjawab lagi, "iman para Sahabatmu, wahai Rasul."

Rasulullah berkata, "bagaimana para Sahabat tidak beriman, sedangkan mereka melihat mu’jizat dariku dan aku juga memberitahukan kepada mereka apa yang diturunkan padaku?"
Kemudian Rasulullah bersabda; "Orang yang imannya paling menakjubkan adalah iman orang-orang yang datang (ada) sesudah (wafat) aku. Mereka beriman dan membenarkanku meskipun tidak hidup di jamanku dan tidak melihatku. Mereka itulah saudara-saudaraku. "

19 December 2014

Pemabuk Cinta

Seorang teman, setiap hari menerima SMS dan telepon berkali-kali dari pacarnya yang sedang bekerja di Singapura. Menjelang tidur, ponsel mulai berdering sampai malam. Pagi haripun, dia masih sering menerimanya, biarpaun malam hari sudah berkali-kali SMS-an. Yang jelas, dia yang di negri Singa itu tak pernah bosan untuk memulainya terlebih dahulu. Baik dalam bentuk ‘short message’, ataupun telpon

Laki-laki itu juga selalu melayaninya. Tak peduli apakah itu jam kerja ataupun jam tidur. Jika SMS dan telepon itu datang dari yang dikasihinya, ia akan tetap menjawab biarpun ia dalam kondisi yang kadang merepotkan. Demi cinta, halangan akan menjelma menjadi kemudahan.

Saya tak begitu heran dengan perilaku semacam itu. Sebab setiap orang pun pernah mengalami hal yang demikan. Seseorang yang sedang menyenangi sesuatu, cenderung akan menyerahkan segala-galanya kepada yang disenangi. Minimal akan sangat mudah untuk berkorban.

Saat Ramadhan waktu itu, saya sempat memperhatikan dengan seksama waktu-waktu perempuan itu mulai SMS ke Brunei. Dimulai sejak membangunkan sahur, kemudian saat makan sahur, menjelang imsak, dan ia juga masih mengingatkan agar jangan sampai lupa subuh.

Petang hari biasanya mulai lagi. Dari hanya mengucap ‘selamat berbuka puasa’. Mengingatkan agar jangan sampai ketinggalan tarawih, dan sampai menjelang tidur lagi. Mereka tak bosan-bosan untuk terus berkomunikasi.

Saat akan berangkat bekerja, perempuan itu masih terus mengingatkan agar selalu hati-hati di jalan dan selalu ingat Allah. Sang lelaki juga makin cinta, karena perhatian dari kekasihnya luar biasa.

Jika mau dikalkulasi dengan rupiah, entah berapa rupiah pulsa yang ia terbangkan ke Brunei setiap harinya. Seorang teman bahkan pernah berkelakar. “Gaji kekasihmu bekerja di Singapura nanti habis hanya untuk membeli pulsa. ”

Si laki-laki sempat khawatir juga disinggung seperti itu. Ia bahkan berkali-kali mengingatkan agar supaya tak terlalu sering SMS ataupun telepon. Namun himbauan itu tak pernah diindahkan.

Tak ada yang bisa membendung tindakannya. Semua itu berasal dari sesuatu yang bernama; Cinta. Kalau sudah kata itu yang bicara, makanan tidak enakpun rasanya menjadi enak. Tahi kucingpun serasa coklat. Apalagi jika benar-benar coklat, pasti terasa segala-galanya. Pendek kata, cinta sering membawa kita kepada tindakan yang tidak berlogika.

Perempuan itu memang sedang dimabuk cinta. Batas-batas kenegaraan yang berupa laut, dengan jarak yang jutaan kilometer, tak menghalangi dia untuk terus eksis berkomunikasi. Berapapun pulsa yang dia habiskan, itu semua tak menjadi soal. Yang penting: cinta.

Saya menjadi menghayal sendiri. Jika cinta itu kita tujukan kepada sang Pencipta. Seandainya rasa cinta kita, kita praktekan dalam hubungannya dengan sang pembuat kehidupan ini. Tentu, akan mendapat sambutan yang luar biasa.

Seandainya kita terus belajar untuk memupuk cinta kita kepada Allah, seandainya hidup kita, mati kita, ibadah kita, langkah kita hanya karena ingin dicintai Allah, betapa besarnya balasan cinta Dia kepada kita.

Sayang, hamba yang lemah ini, masih amat suka memupuk cinta kepada sesuatu yang sesaat. Kita sering lupa untuk memupuk cinta yang sejati, cinta yang abadi. Sehingga untuk mengorbankan waktu saja, demi cintanya kepada-Nya kita sering berpikir berkali-kali.

Tak ada salahnya jika kita mau belajar tentang aplikasi cintanya orang-orang shaleh kepada sang Pencipta. Korban waktu, tenaga, harta bukanlah sesuatu yang memberatkan bagi pemabuk cinta Illahi. Jangankan harta, nyawapun akan diserahkan padaNya.

Tak berlogika? Sekilas bisa seperti itu, tapi lagi-lagi kita harus sadar, bahwa anugerah cinta memang harus kita kelola dalam diri sebaik mungkin. Agar kata itu bisa menjelma menjadi kekuatan yang berakibat baik bagi diri sendiri dan sesama.

Power cinta bisa melahirkan tindakan positif yang luar biasa bila menejemen keimanan mendampinginya. Ringan tangan, mudah berbagi, tak menghindar dari berjuang, adalah hal-hal positif yang bisa kita awali dari sebuah rasa cinta kita terhadap hidup, kehidupan dan yang membuat kita hidup.

==================
Purwokerto, <woyo_sus@yahoo. Co.id>

Kacamata Air Dua Kulah

Terkadang kita menjumpai ada yang begitu mudah menyalahkan dan menjustice kesalahan, padahal orang tersebut sejatinya adalah mempunyai banyak kebaikan. Semua kebaikan itu seolah sirna dan yang ada hanyalah keburukannya saja. Ada pepatah yang sangat lama populer : “Nila setitik merusak susu satu belanga” atau “Kemarau satu tahun dihapus oleh hujan satu hari”. Maksud dari pepatah ini adalah sindiran bukan pembenaran dari sikap melupakan kebaikan.

Di era keterbukaan informasi dan media seperti hari ini sering terjadi, banyak yang sejatinya tidak baik tapi karena yang selalu diinformasikan dan diberitakan kebaikannya, maka seolah ia memiliki sejuta kebaikan, dan banyak yang sejatinya baik tapi karena yang selalu diinformasikan dan diberitakan ketidak kebaikannya, maka seolah ia memiliki sejuta kejelekan. Ini adalah sebuah pemandangan paranoid yang sering kita jumpai, fakta yang seringkali gelap karena sebuah bayangan.

Tapi, marilah kita sejenak melihat bagaimana Islam memandang hal ini, sebagaimana hadits Rasulullah SAW :
“Tidak ada seorang pun yang selamat dari kesalahan, dan tidaklah sepatutnya (kita) melenyapkan kebaikan-kebaikan seseorang karena suatu kesalahan. Sebagaimana halnya air, apabila telah mencapai dua kulah, maka air itu tidaklah mengandung kotoran.” (ini lafazh riwayat hadits Ad Darimi, 737-738; ad Daruquthni, I21-22.)
Yang dimaksud air dua kulah adalah jumlahnya berkisar 216 liter. Air tersebut menjadi air mutlak (air suci dan bisa digunakan untuk mensucikan sesuatu) dan tidak musta’mal (air bekas bersuci dan tidak bisa mensucikan sesuatu), bila ukurannya minimal dua kulah. Bila bercampur najis dan tidak merubah salah satu dari tiga unsurnya (warna bau dan rasa), maka air tersebut bersih dari najis.

Ini adalah pandangan bagaimana Islam memandang proporsional dua kutub antara kebaikan dan kekurangan orang lain. Jika faktanya adalah kebaikan atau ketaqwaannya masih lebih banyak dari keburukannya dan tidak merusak amal kebaikannya. Keburukan yang bukan menjadi karakter pribadi maka sesungguhnya ia adalah orang baik. Karena kebaikan itu menghapus dosa dan dan kesalahan.
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud:114).
Kalau kita melihat sisi kehidupan para sahabat nabi SAW, benar mereka adalah manusia luar biasa yang terlahir di bumi. Namun mereka adalah manusia bukan malaikat, yang pasti tidak luput kesalahan dan dosa. Zubair bin Awwam yang menceraikan Asma binti Abu Bakar, adalah satu contoh bahwa mereka adalah manusiawi juga, tapi keimanan mereka amal-amalnya, ketaqwaannya, karya-karyanya adalah jauh sangat besar jika dibandingkan dengan satu keburukannya.

Karena kita adalah kumpulan manusia dan bukan kumpulan malaikat, maka sisipkanlah kacamata air dua kulah untuk melihat kesalahan saudaranya.

Wallahu A’lam bishshawab


==================
Oleh : Imam Rohani, ST. MT

15 December 2014

Penyembah Patung Di Lautan

Diceritakan oleh Abdul Wahid, bahwasanya mereka pada suatu ketika berlayar diatas sebuah perahu. Tiba-tiba perahu itu bocor, lalu mereka menambalnya pada sebuah pulau ditepi pantai. Pada saat  itu mereka menemukan seseorang yang menyembah patung.

Mereka bertanya kepadanya, “Apa yang engkau sembah?” Dia menunjukkan kepada patung tersebut.

Lalu dia bertanya, “Adapun kalian, apa yang kalian sembah?” Mereka menjawab, “ Kami menyembah Allah yang memiliki singgasana dilangit, kerajaan di bumi, dimana kehidupan dan kematian ada di ketetapan-Nya.”
Dia bertanya, “ Apakah yang menunjukkan kalian akan keberadaan-Nya?” Abdul Wahid berkata, “Kami menjawab, “Dia mengutus kepada kami seorang rasul.”
Lalu dia bertanya, “Dimanakah dia berada?” Kami menjawab, “Allah telah mewafatkannya.”

Dia bertanya, “Apa yang menjadi bukti kalian atas keberadaannya?” Kami menjawab, “Dia meninggalkan kepada kami Kitab Pemilik kerajaan.”
Dia berkata, “Perlihatkanlah kepadaku.” Abdul Wahid berkata,” Lalu kami menyodorkan Al-Qur’an kepadanya.”

Dia berkata, “Aku tidak dapat membaca.” Abdul Wahid berkata, “Lalu kami membacakan kepadanya satu surat dari kitabullah.” Diapun menangis seraya berkata, “ Tidaklah sepatutnya bagi Zat yang memiliki perkataan ini untuk dimaksiati.” Abdul Wahid berkata, “Maka kami mengajarkan kepadanya syariat-syariat Islam.” (ia pun menjadi Muslim).

Ketika malam tiba, kami shalat kemudian tidur. Dia berkata, “Apakah Tuhan yang kalian sembah tidur?” Kami menjawab, “Tuhan kami hidup dan tidak tidur.” Dia berkata , “Sejelek-jelek hamba adalah kalian, kalian tidur sedangkan Tuhan kalian tidak tidur.”

Abdul Wahid berkata, “ Kami merasa heran terhadap perilakunya.” Hingga tibalah saat kepergian kami. Lalu kami mengumpulkan uang dan memberikan kepadanya. Dia menolaknya dengan berkata, “Maha Suci Allah, kalian menunjuki aku suatu jalan yang kalian belum melaluinya , sesungguhnya aku dulu menyembah patung di lautan dan dia tidak menelantarkan aku, maka bagaimana setelah aku mengetahuiNya!.

Abdul Wahid berkata, “Perihalnya sangat mengherankan.” Kemudian dia menderita sakit. Lalu kami datang menjenguknya. Kami bertanya kepadanya, “ Apakah engkau mempunyai hajat?” Dia menjawab, “Tuhan yang kalian tunjukkan kepadaku telah menunaikan hajatku.” Abdul Wahid berkata, “Maka kami tidak beranjak hingga dia meninggal dunia.”

Lalu aku bermimpi melihat dia berada di dalam sebuah kemah yang disisinya terdapat seorang wanita. kemudian Dia berkata, “Semoga keselamatan tercurahkan untuk kalian dan ini adalah sebaik-baik tempat kembali.”

Kisah ini terdapat pada kitab “Gidzaa’ul Al Baab”, Al- Isfarayaini telah manukilnya dari Ibnu  Jauzi.. Engkau dapat merasakan dari kisah ini, bagaimana ayat-ayat (Allah) ketika bertaut dengan hati yang lembut. Dia akan merubah kehidupan manusia serta pemahaman kepada mereka, serta memberikan bekas dalam hati berupa rasa malu kepada Allah, bertawakkal dan berserah diri kepada-Nya pada waktu malam dan siang.

Dimana hati tidak lagi bergantung kepada makhluk, baik ketika mencari kemanfaatan atau menolak kemudharatan. Adapun orang seperti ini tidak pernah putus asa, gagal, serta celaka baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwasanya dia dapat melampaui orang-orang yang mendahuluinya memeluk Islam dalam keadaan yang sangat menakjubkan.

================
-Said Abdul Azhim-

09 December 2014

Nilai Diri Seorang Muslim bukan pada Harta dan Kedudukan

Ada seorang lelaki miskin, mengenakan kain yang usang , pakaian yang dekil, perut lapar , tanpa alas kaki, berasal dari garis nasab tidak terhormat, tidak punya kedudukan , harta dan keluarga besar, tidak punya rumah untuk berteduh, tidak punya perabot yang bernilai, minum hanya air dari kolam umum dengan gayung kedua tangannya bersama orang orang yang lewat, tidur di masjid , hanya berbantalkan tangannya, dan berkasur pasir bercampur kerikil.

Namun begitu, dia adalah seorang yang selalu berdzikir kepada Rabb nya, selalu membaca kitab Allah, selalu berada pada barisan terdepan dalam shalat maupun pada saat perang.

Suatu ketika, dia lewat di depan Rasulullah SAW, lalu Rasul memanggilnya,” Wahai Julaibib, tidakkah kamu ingin menikah?” orang itu menjawab,”Wahai Rasulullah, siapakah yang mau menikahkan putrinya denganku?” Aku tidak punya kedudukan dan tidak pula harta.” Beberapa hari kemudian Rasulullah bertemu dengannya. Rasulullah menanyakan hal yang sama pula. Dan dia pun menjawab dengan jawaban yang sama. Pada pertemuan yang ketiga Rasulullah mengajukan pertanyaan yang sama, dan dijawab dengan jawaban yang sama pula. Maka bersabdalah Rasulullah,” Wahai Julaibib, pergilah ke rumah fulan, (nama seorang Anshor)-lalu katakan padanya, “Rasulullah menyampaikan salam untukmu dan memintamu untuk mengawinkanku dengan anak perempuanmu.”

Sahabat Anshar dimaksud berasal dari keluarga terhormat dan terpandang. Maka berangkatlah Julaibib menemui sahabat anshar itu. Diketuknya pintu rumahnya, dan selanjutnya disampaikannya apa yang diperintahkan oleh Rasulullah. Sahabat anshar itu berkata, “semoga kesejahteraan tercurah untuk Rasulullah, tapi bagaimana bisa aku mengawinkan anakku denganmu yang tidak mempunyai kedudukan dan harta benda? Pada saat itu isteri sahabat anshar itu juga mendengar pesan rasulullah SAW yang disampaikan Julaibib itu, dan dia pun terheran heran dan bertanya tanya…Dengan Julaibib, yang tidak mempunyai harta dan kedudukkan?” dari dalam putrinya mendengar apa yang dikatakan oleh Julaibib dan pesan Rasulullah yang disampaikannya, segera anak perempuan itu berkata kepada kedua orang tuanya,”apakah kalian menolak permintaan Rasulullah ? Tidak, demi dzat yang jiwaku ditanganNya !”

Selanjutnya , terjadilah pernikahan yang penuh berkah, lahir rumah tangga yang penuh keridhaanNya. Beberapa waktu kemudian, datanglah seruan jihad. Julaibib pun ikut serta ke medan perang. Dengan tangannya, terbunuh tujuh orang musuh dari orang orang kafir. Namun dia sendiri juga terbunuh. Dia meninggal dengan berbantalkan tanah dengan penuh keridhaan Allah dan RasulNya.

Setelah itu Rasulullah SAW memeriksa semua korban perang saat itu, dan para sahabat memberitakan nama nama yang syuhada. Tak ada nama Julaibib disebut, sebab memang dia tidak termasuk orang yang dikenal dan terpandang di kalangan sahabat. Namun Rasululllah sangat ingat Julaibib dan tidak pernah melupakannya. Beliau hapal nama itu ditengah kerumunan nama nama besar yang syahid dan tidak melalaikannya. Sergah rasulullah.” Tapi kini aku kehilangan Julaibib.”

Rasulullah mendapati jasadnya yang penuh dengan debu, dan mengusap debu dari wajahnya seraya berkata, “ Kau telah membunuh tujuh orang, lalu kamu sendiri terbunuh, kamu bagian dariku dan aku bagian darimu.

Sebenarnya nilai seorang Julaibib adalah keimanannya, kecintaan Rasulullah kepadanya, dan prinsip yang ia pegang hingga ajalnya. Kemiskinan dan ketidakjelasan kedudukan di masyarakat tidak menghambatnya untuk memperoleh kedudukan yang mulia, dia telah mencapai cita citanya untuk mati syahid, mendapatkan keridhaanNya, meraih kebahagiaan di dunia dan akherat. – Aidh Al qarni-

04 December 2014

Kalkulasi Kasar Intensitas Dzikir

Kasih sayang Allah tak bisa ditakar, ditimbang, dihitung dan diukur. Manusia tidak punya perangkat untuk mengukur keseluruhan karunia dari Yang Maha Pengasih. Manusia hanya diminta bersyukur atas semuanya. Pada akhirnya pun, syukur yang dipersembahkan kepada Tuhan akan kembali kepada dirinya sendiri.

Fakta untuk sampai kepada syukur pun, teramat banyak untuk dikumpukan. Dari yang ”sepele” sampai yang agung dan rumit.

Sebarapa kisaran udara yang manusia hirup teramat banyak, meskipun dengan kecanggihan bisa diperkirakan. Konon kapasitas paru-paru seorang laki-laki normal berisi 4-5 liter udara dan pada seorang perempuan 3-4 liter udara.

Ketika manusia menghirup udara atau menarik nafas (inspirasi) lalu menghembuskannya keluar (ekspirasi) serta istirahat di antara kedua proses tersebut, tidak kurang dari 10-20 kali setiap satu satu menit terjadi pada manusia dewasa secara mekanis. 24 kali pada usia dua sampai lima tahun. 30 kali pada usia dua belas bulan dan 30-40 pada bayi baru lahir dalam setiap menitnya. Dari sekian tanda, proses ini adalah tanda hidup yang paling kasat mata. Tetapi manusia kadang lalai berterima kasih kepada Tuhan. Padahal Dia lah yang menyuplai oksigen gratis agar manusia bisa bernafas untuk menyambung hidupnya.

Berapa liter sudah air yang diminum manusia sepanjang hidup mungkin setara dengan bah. Tetapi metabolisme tubuh buatan Tuhan mampu mengatasinya. Jika rata-rata pria dewasa mengkonsumsi 3 liter air (13 gelas) dan perempuan 2,2 liter (9 gelas) per hari, berapa kubik air yang sudah dimasukkan ke dalam tubuhnya di usianya sekarang?. Tetapi berbahagilah, ada mekanisme Tuhan dalam mengatasi air itu. Allah memperkenalkan urin yang rata-rata keluaran urin orang dewasa 1,5 liter sehari. Air juga dapt keluar melalui pernafasan, keringat dan pergerakan usus. Di sinilah terjadi keseimbangan yang mengagumkan antara air yang masuk dan dibuang. Subhanallah.

Intenskah manusia menghitung detail berkedip? Setiap kali berkedip, waktu yang dibutuhkan antara 100 sampai 150 milidetik, karena itulah kadang manusia tidak sadar ketika mereka melakukannya. Manusia biasanya berkedip 10 sampai 15 kali permenit untuk membuat kornea mata tetap terjaga kelembabannya dan tetap terkena oksigen. Selama satu jam berarti hampir 900 kali berkedip. Katakanlah kita terjaga selama 16 jam sehari, berarti selama itu kita tidak kurang dari 14.400 kali kita berkedip. Berarti Allah terus-menerus menyegarkan mata setiap orang sebanyak 14.400 selama terjaga baik ia mukmin maupun kafir.

Dari ahli anatomi, manusia menjadi melek, bahwa berkedip merupakan gerakan otomatis untuk melindungi dari benda asing seperti debu atau benda lain yang bisa masuk ke mata. Berkedip juga untuk menjaga agar mata tetap berair, sehingga mata tidak kering dan terasa perih. Saat berkedip, bola mata akan dibasahi air mata yang akan membersihkannya jika terdapat debu yang menempel. Jadi, kedipan laksana helm bagi mata dan menjaganya tetap bersih. Banyak yang bersyukur atas nikmat berkedip. Banyak pula yang menjadikannya sebagai jerat birahi yang terlarang.

Lagi dan teramat banyak nikmat Tuhan yang paling alami untuk dikumpulkan. Tetapi sudahkah setiap manusia membayarnya dengan syukur dan selalu menyebutnya dalam dzikir?

Sekarang mari kita gandengkan nikmat Tuhan yang telah disebut di atas dengan intensitas dzikir sebagai wujud rasa syukur. Apakah sudah cukup untuk ”membayar” sekedar kedipan mata?

Usia hidup rata-rata ummat Muhammad shallallaahu ’alaihi wa sallam antara 60 sampai 70 tahun lebih kurang misalnya. Taruhlah rata-rata sampai usia 65 tahun ia bertahan dalam pengembaraan hidup di dunia. Dalam bahasa fiqih, ada batasan seorang muslim terkena taklif yang disebut usia baligh. Maka kalkulasi ibadahnya baru dihitung setelah ia baligh. Rumus sederhananya barangkali demikian :

Tutup Usia (65 th) – masa baligh (15 th) = Panjang usia taklif (50 th). Maka sepanjang usia 50 tahun hidup itulah, pembuktian rasa syukur dan intensitas dzikir seorang muslim dihisab setiap detik.

Menarik sekali Al Qur’an mengingatkan agar manusia banyak-banyak berdzikir. Bisa jadi, karena intensitas dzikirnya teramat sedikit ditelan kesibukan yang tak berujung. Cobalah renungkan fakta waktu yang dihabiskan manusia.

Waktu berjalan dalam hitungan detik, menit, jam dan hari. Lalu minggu, bulan dan tahun. Sehari semalam berdurasi 24 jam atau setara dengan 1.440 menit atau 86.400 detik. Dalam kungkungan waktu itulah manusia hidup dan bergulat dengan aneka aktivitas. Lalu berapa lama porsi kita berdzikir? Kalau kita ambil 5 waktu sholat wajib saja yang kira-kira hanya memakan waktu 10 menit, hasilnya memang sangat minim, hanya 50 menit dalam sehari. Kurang dari satu jam dari 24 jam waktu tersedia. Bolehlah kita genapkan saja jadi 1 jam.

Bayangkan, dalam seminggu kita hanya menghabiskan waktu untuk sholat setara 5,8 jam saja dari 168 jam tersedia. Sebulan hanya 25 jam, setara dengan sehari semalam lebih satu jam, padahal hitungan jam dalam sebulan tidak kurang dari 720 jam dalam 30 hari. Lalu setahun kurang lebih tersedia waktu 8.760 jam selama lebih kurang 365 hari. Dalam setahun, sholat menghabiskan waktu tidak lebih hanya 360 jam, setara dengan 15 hari.

Berapa waktu yang dihabiskan untuk sholat selama kurun waktu 50 tahun? Jika dirata-ratakan dalam sehari semalam butuh waktu 1 jam untuk sholat, maka akan ditemukan angka 18.250 hari dalam 50 tahun. Ini berarti 18.250 x 1 jam = 18.250 jam. Angka ini setara dengan hanya 2 tahun saja dari kurun waktu 50 tahun. Ini pun belum tentu sholat yang didirikan padat berisi di sisi-Nya. Subhanallaah. Sepadankah untuk ”melunasi” rasa syukur atas nikmat bernafas dan berkedip saja?

Sekarang mari bandingkan dengan aktifitas lain. Tidur misalnya. Waktu tidur yang sehat dan umum lebih kurang 8 jam perhari. Berarti dalam 50 tahun, waktu yang habis dipakai tidur setara dengan 18.250 hari dikalikan 8 jam. Hasilnya sama dengan 146.000 jam. Angka ini setara dengan 16 tahun 7 bulan untuk tidur.

Aktifitas kerja standar lebih kurang 9 jam perhari. Dalam 50 tahun berarti 18.250 hari dikalikan 9 jam. Hasilnya 164.250 jam, setara dengan 19 tahun 2 bulan.

Waktu aktifitas santai atau relaksasi lebih kurang 6 jam dengan berbagai kegiatan menyenangkan dalam sehari. Dalam 50 tahun waktu yang dipakai relaksasi berarti 18.250 hari dikali 6 jam. Hasilnya 109.500 jam. Angka ini setara dengan 12 tahun 9 bulan. Cukup fantastis untuk acara santai semacam nonton TV sambil minum kopi, belanja dan hal-hal lain yang sifatnya santai.

Ternyata, dibanding dengan aktifitas lain, intensitas dzikir terlalu sedikit. Sementara nikmat yang kita rasakan terlalu banyak. Bahkan terlampau banyak hingga tidak ada angka untuk menjumahnya. Wajarlah Al-Qur’an mengingatkan agar orang beriman tidak putus berdzikir hanya sebatas shalat wajib. Tetapi menambahnya dengan nafilah. Di samping itu, Kanjeng Nabi mengajarkan agar aktifitas positif yang kita geluti selalu harus dibuka dan diakhiri dengan dzikir. Tentu dzikir sebagaimana beliau mencontohkan dalam lafdz dan kaifiahnya.

Ya, Rabb … malu rasanya hamba di hadapan-Mu.
 
======================
Abdul Mutaqin  - eramuslim.com

02 December 2014

Jangan Tinggalkan Keluargamu!

Ada sebuah kisah nyata yang mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran darinya.
Ini profil seorang suami yang buruk dan tidak patut kita tiru. Ia memang bukan pemabuk dan bukan pula penjudi, dan ia juga tidak pernah serong dengan wanita lain, pokoknya tak ada catatan buruk terhadapnya di masyarakat, akan tetapi ia “hanya” menelantarkan keluarganya, “cuma” itu saja.

Setiap istri tentu mengharapkan suami yang romantis, perhatian kepadanya dan bisa berbagi suka duka bersama, akan tetapi sayangnya si suami ini sangat dingin dan acuh terhadap keadaan istrinya, ia lebih mementingkan karirnya. Selain itu yang lebih memprihatinkan lagi ia juga bukan orang yang taat beragama, ia tidak pernah melaksanakan shalat lima waktu sama sekali. Istrinya stress menghadapi fakta seperti itu dan merasa kesepian, walaupun ia tinggal serumah bersama suaminya, tapi ia seolah-olah tinggal sendirian, apalagi si suami ini sering pula meninggalkannya karena urusan kerja di luar kota.

Hari demi hari ia lalui dengan kesendirian. ketika lahir anak-anaknya, mungkin ada yang mengira akan terjadi perubahan pada diri suami, kenyataannya? Tak ada perubahan sama sekali. Baginya karir nomor 1, sedangkan keluarga nomor ke sekian. Demikian seterusnya sampai puncaknya si istri ini stress berat, sampai tingkatan seperti orang gila. Kadang ia bicara dan tertawa sendiri dan pernah juga ia keluar rumah tanpa memakai pakaian sehelaipun, dan itu terjadi ketika si suami sedang pergi ke luar kota dan si istri lagi di rumah ibunya.

Melihat pemandangan yang mengerikan seperti itu, Ibu si istri kaget bukan kepalang dan segera membawanya ke rumah sakit jiwa. Setelah beberapa hari dirawat, Dokter yang menangani si istri itu berkata kepada ibunya, ” Ibu,setelah kami diagnosa, anak ibu tidak gila ia hanya stress berat, sejak datang ke sini sampai sekarang anak ibu terus menangis, sebaiknya ibu membawanya ke psikiater saja untuk dikonsultasikan.” Akhirnya si ibu ini membawanya ke psikiater. Setelah memperhatikan dan menyimak keterangan si ibu, psikiater menyimpulkan bahwa obat yang efektif untuk si istri ini cuma satu yaitu perhatian suaminya!

Ketika si suami pulang dari luar kota, ia terkejut melihat kondisi istrinya sudah berubah layaknya orang gila. Lantas apa tindakannya setelah itu? Tak ada tindakan apapun, bahkan berobatpun tidak, sepertinya kejadian yang menimpa istrinya itu seperti angin yang berlalu, tak terlalu mengkhawatirkan baginya. Maka Istrinya pun tetap dalam keadaannya semula, seperti orang gila, ia berbicara dan tertawa sendiri, kadang tiba-tiba marah dan melakukan tingkah laku yang aneh.
Itu sikapnya terhadap istrinya, lantas bagaimana sikapnya terhadap anak-anaknya? Apakah berbeda dengan sikapnya terhadap istrinya? Ternyata tidak juga, ia tetap acuh dan bersikap kaku terhadap mereka, karena yang menjadi prioritasnya adalah karirnya. Ketika menghadapi anaknya yang berbuat kesalahan (ketika masih seumuran anak SD),ia tidak menasehatinya baik-baik, tetapi langsung memarahinya dan kadang menyindirnya di depan saudara-saudaranya. Lantas apa akibatnya? Satu persatu anaknya menjauh darinya, karena mereka takut bercampur benci kepadanya. Ketika ia mengetahui kalau anak-anaknya mulai menjauh darinya, akankah ia berusaha mengalah untuk merangkul anak-anaknya kembali? Rupanya tidak, ia tetap dalam keacuhannya.

Sebagaimana peribahasa: “Siapa yang menanam maka ia pula yang menuai”, maka demikian pula si suami ini, akhirnya ia merasakan sendiri hasil sikap kaku dan keacuhannya selama ini, jadilah ia seperti orang asing di rumah sendiri. Sebagaimana kebiasaan umumnya kita ketika masih kecil, kalau orang tua pulang setelah bekerja seharian, biasanya kita menyambutnya “Bapak datang, bapak datang!!” Tapi bagaimana dengan si suami ini? Dia tidak mendapatkan sambutan apa-apa, ketika ia memasuki rumahnya seolah-olah ia memasuki rumah mati, tak ada “kehidupan”, si istri sibuk dengan “kegilaan”nya dan anak-anak sibuk dengan urusan masing-masing.

Si suami terus mengejar karirnya, sampai akhirnya berhasil mencapai targetnya, ia berhasil menduduki pucuk pimpinan di suatu instansi pemerintah, berbagai gelar ia sandang dan berbagai penghargaan ia dapatkan, namanya menjadi terkenal, orang-orangpun menaruh hormat kepadanya, tapi apakah ia bahagia dengan semua itu?

Setelah mendapatkan apa yang ia kejar, ternyata ia tak merasakan kebahagiaan yang berarti, serasa hampa. Ia pun mulai menyadari kesalahannya, kemudian berusaha memperbaiki kehidupannya dan kehidupan rumah tangganya, tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Hubungannya dengan anak-anaknya sudah terlanjur jauh dan istrinya pun sudah permanen dengan “kegilaannya”. Akhirnya ia pun memasuki masa tuanya dalam kesepian dan kesendirian, sebagaimana dulu ia meninggalkan anak dan istrinya dalam kesepian. Dan yang lebih tragis lagi, di saat kesepiannya itu dia terkena stroke, maka bertambahlah dukanya…

Seorang suami adalah pemimpin keluarga, di atas pundaknyalah amanah mengayomi dan membimbing anggota keluarganya menuju keridhoan Allah dan menjauhi kemurkaan-Nya, karena itu tidak boleh baginya untuk menyia-nyiakan dan menelantarkan amanah-Nya itu, karena kelak ia akan ditanya tentang itu di hari kiamat.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang orang yang dipimpin.”(HR.Bukhari dan Muslim)
“Cukuplah seseorang dianggap berdosa karena menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungan hidupnya.”(HR.Abu Daud dan Ahmad)

Selain itu, keluarga juga merupakan orang-orang yang siap menemani dan membantu kita, baik di masa muda maupun masa tua kita, dan mereka pulalah yang akan mendoakan kita tatkala terputus seluruh amalan kita sedangkan ketika itu kita amat membutuhkan apa yang bisa meringankan penderitaan kita di alam kubur dan dahsyatnya alam Mahsyar serta panasnya api neraka, maka akankah kita tetap menelantarkan mereka?

==========================
Jakarta,
umaranung@yahoo.co.id

30 November 2014

Sebab Sebab Turunnya Rezeki

Akhir-akhir ini banyak orang yang mengeluhkan masalah penghasilan atau rizki, entah karena merasa kurang banyak atau karena kurang berkah. Begitu pula berbagai problem kehidupan, mengatur pengeluaran dan kebutuhan serta bermacam-macam tuntutannya. Sehingga masalah penghasilan ini menjadi sesuatu yang menyibukkan, bahkan membuat bingung dan stress sebagian orang. 

Maka tak jarang di antara mereka ada yang mengambil jalan pintas dengan menempuh segala cara yang penting keinginan tercapai. Akibatnya bermunculanlah koruptor, pencuri, pencopet, perampok, pelaku suap dan sogok, penipuan bahkan pembunuhan, pemutusan silaturrahim dan meninggal kan ibadah kepada Allah untuk mendapatkan uang atau alasan kebutuhan hidup.

Mereka lupa bahwa Allah telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab yang dapat mendatangkan rizki dengan penjelasan yang amat gamblang. Dia menjanjikan keluasan rizki kepada siapa saja yang menempuhnya serta menggunakan cara-cara itu, Allah juga memberikan jaminan bahwa mereka pasti akan sukses serta mendapatkan rizki dengan tanpa disangka-sangka.
Diantara sebab-sebab yang melapangkan rizki adalah sebagai berikut:

-        Takwa Kepada Allah
Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan menjadikannya terus bertambah. Allah Subhannahu wa Ta”ala berfirman, artinya,
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)

Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala yang diridhai Allah dalam segala kondisi maka Allah akan memberikan keteguhan di dunia dan di akhirat. Dan salah satu dari sekian banyak pahala yang dia peroleh adalah Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika hidup, dan Allah akan memberikan kepadanya rizki secara tidak terduga.

Imam Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah di atas, “Yaitu barang siapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya.”
Allah swt juga berfirman, artinya,

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. 7:96)

- Istighfar dan Taubat
Termasuk sebab yang mendatang kan rizki adalah istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam ,
“Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. 71:10-12)

Al-Qurthubi mengatakan, “Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52,red) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rizki dan hujan.”

Ada seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri, maka beliau berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”, lalu ada orang lain yang mengadukan kefakirannya, dan beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Ada lagi yang mengatakan, “Mohonlah kepada Allah agar memberikan kepadaku anak!” Maka beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering kerontang, beliau pun juga menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah.”
Maka orang-orang pun bertanya, “Banyak orang berdatangan mengadukan berbagai persoalan, namun anda memerintahkan mereka semua agar beristighfar.” Beliau lalu menjawab, “Aku mengatakan itu bukan dari diriku, sesungguhnya Allah swt telah berfirman di dalam surat Nuh,(seperti tersebut diatas, red)

Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu berhenti dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannnya saja sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang demikian tidak memberikan faidah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan.

- Tawakkal Kepada Allah
Allah swt berfirman, artinya,
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. 65:3)
Nabi saw telah bersabda, artinya,
“Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti Allah akan memberikan rizki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rizki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)

Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri dan sikap bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan. Segala yang ada di alam berupa makhluk, rizki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya adalah dari Allah semata.
Maka hakikat tawakkal adalah sebagaimana yang di sampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya) dalam seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi dan menahan, tidak ada yang mendatangkan madharat dan manfaat selain Dia.

- Silaturrahim
Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah satu sebab terbukanya pintu rizki, di antaranya adalah sebagai berikut:

-Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, artinya,
“Dari Abu Hurairah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim.” (HR Al Bukhari)

-Sabda Nabi saw, artinya,
“Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani)
Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada hubungan nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau tidak, mahram atau bukan mahram.

- Infaq fi Sabilillah
Allah swt berfirman, artinya,
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39)
Ibnu Katsir berkata, “Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak.”

Juga firman Allah yang lain,artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:267-268)
Dalam sebuah hadits qudsi Rasu
lullah saw bersabda, Allah swt berfirman, “Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu.” (HR Muslim)

- Menyambung Haji dengan Umrah
Berdasarkan pada hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu Mas”ud Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
“Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pande besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai, dishahihkan al-Albani)

Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka ikuti haji tersebut dengan umrah, dan jika kita melakukan umrah maka ikuti atau sambung umrah tersebut dengan melakukan ibadah haji.

- Berbuat Baik kepada Orang Lemah
Nabi saw telah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rizki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan (berbuat baik) kepada orang-orang lemah, beliau bersabda, artinya,
“Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rizki melainkan karena orang-orang lemah diantara kalian.” (HR. al-Bukhari)

Dhu”afa” (orang-orang lemah) klasifikasinya bermacam-macam, ada fuqara, yatim, miskin, orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar, hamba sahaya dan lain sebagainya.

- Serius di dalam Beribadah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Allah Subhannahu wa Ta”ala berfirman, artinya,
“Wahai Anak Adam Bersungguh-sungguhlah engkau beribadah kepada Ku, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menanggung kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan itu maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu.”

Tekun beribadah bukan berarti siang malam duduk di dalam masjid serta tidak bekerja, namun yang dimaksudkan adalah menghadirkan hati dan raga dalam beribadah, tunduk dan khusyu” hanya kepada Allah, merasa sedang menghadap Pencipta dan Penguasanya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya sedang bermunajat, mengadu kepada Dzat Yang menguasai Langit dan Bumi.

Dan masih banyak lagi pintu-pintu rizki yang lain, seperti hijrah, jihad, bersyukur, menikah, bersandar kepada Allah, meninggalkan kemaksiatan, istiqamah serta melakukan ketaatan, yang tidak dapat di sampaikan secara lebih rinci dalam lembar yang terbatas ini. Mudah-mudahan Allah memberi kan taufik dan bimbingan kepada kita semua. Amin.

=======================
Al-Sofwah( Sumber: Kutaib “Al Asbab al Jalibah lir Rizqi”, al-qism al-ilmi Darul Wathan. )/Bambang Ant

26 November 2014

Hidup Susah Di Akhir Zaman

Susah?

Iya susah. Jujur saja.

Hidup di masa sekarang terasa susahnya. Bagi yang tak mau mengakui susah, mungkin saja memang tak merasa susah; atau tak mengalami susah.
Susah bagi orang yang berusaha konsisten dengan nilai-nilai agamanya. Apakah dia muslim, kristen atau yahudi.

Orang Yahudi sedemikian merasa susahnya hidup sampai-sampai merasa perlu selalu mengingat-ingat terus menerus ”tragedi etnik Yahudi” di Perang Dunia Kedua. Museum peringatannya dibangun diberbagai negeri bahkan lintas benua. Dalam museum tersebut dipamerkanlah ”kesengsaraan” mereka di masa itu, konon. If you believe it.

Orang kristen juga mengalami susah, sebagaimana yang dialami komunitas kristen di Amerika. Mereka yang masih ingin mempertahankan nilai-nilai kristiani  harus menempuh jalan Homeschooling bagi generasi penerus mereka. Jika mereka membiarkan anak-anak mereka sekolah di sekolah umum maka anak-anak akan diajarkan Yoga, Semedi, bertoleransi dengan Gay dan Lesbian, membolehkan aborsi bebas, dan…anak-anak mereka tidak akan menghargai orangtuanya lagi.

Para pendeta di negeri-negeri barat susah payah mempertahankan jumlah jemaatnya, tanpa hasil yang berarti, akhirnya harus merelakan gerejanya dijual untuk kemudian dialih –fungsikan sebagai gedung biasa.

Lain lagi muslim.
Bagi mereka yang hidup di negara mayoritas muslim, mereka disusahkan dengan maraknya berbagai aliran ”baru” (baca: sesat/ bid’ah) di tengah-tengah komunitas muslim. Berbagai aliran inipun getol mencari pembelaan dan dukungan dari beberapa tokoh penting elit negeri ini sehingga ”fatwa-fatwa” para politisi-pun bergema dikoran-koran lebih kencang dari dalil Al Qur’an dan Hadits. Bagi yang awam dengan dalil rujukan, maka kebingungan sudah pasti menyerbu.
Masih ada lagi kesusahan gara-gara ulah entah siapa yang dengan manisnya menyebar bom-bom (baca kaliber petasan) dalam buku kepada sejumlah tokoh anti Islam, sehingga kemudian lagi-lagi ”dendang tentang terorisme” kembali dinyanyikan media massa.

Bagaikan hantu jin dedemit entah turunan mana, ”teroris” dikabarkan bergentayangan di seantero kota. Siapa sih teroris? Nah ini susahnya, selalu ada nyanyiannya, namun kemudian penyelesaiannya cukup dengan dar-der-dor, habislah sudah tanpa bisa menjawab lagi.
Masih ditambah lagi dengan kemudian label ini dengan mudah ditempelkan ke mana saja. Kelompok A itu teroris, si B itu teroris, ustad anu  teroris…
Kabur, samar, kacau…. tidak ada kejelasan ayat-ayat atau hadits rujukan kecuali berbagai teori dari para pakar yang kadang-kadang muncul bagaikan dalang penutur di pagelaran wayang. Jika anda mendengarkan para pakar teroris sedang diwawancarai oleh media elektronik, anda akan tercengang dengan betapa banyaknya yang mereka ketahui tentang para teroris tersebut, sampai ke relung-relung hati para teroris itu dapat di terangkan dengan gamblang oleh si pakar. ”Si A ini semula direkrut oleh si X, kemudian ada konflik antar mereka kemudian si A malah bergabung dengan Y yang lebih bergaris keras”. ”Si Z ini menjadi aktor bom bunuh diri karena kecewa dengan kehidupan dalam keluarganya, ayahnya dipenjara, dst, dst”.

Luar biasa, dukun-pun kadang seperti itu ketika sedang menipu mangsanya. Koq mirip ya? Pakar ilmiah tapi sudah seperti dukun prewangan yang mampu menembus hati manusia.

Siapa yang tidak merasa susah hidup di dunia? Bukankah dunia memang sudah dijanjikan sebagai ”daarul ibtila” yakni  berarti ’kampung/ negeri ujian’.
Terlebih lagi bagi kita manusia ummat Muhammad SAW ynga hidup di Akhir Zaman.

Simaklah keterangan dari Nabi Muhammad Saw dalam Hadits berikut:
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَنْبَأَنَا إِسْمَاعِيلُ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا
: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman telah memberitakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepadaku Al ‘Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah berkata; Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki diwaktu pagi mukmin dan diwaktu sore telah kafir, dan diwaktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (AHMAD – 8493)

Nah inilah hadits yang memberitakan situasi yang sangat mengkhawatirkan di Akhir Zaman. Sebagaimana seorang Ustadz selalu menyebut-nyebut ketika menerangkan Hadits ini: Nabi SAW ketika mengeluarkan hadits ini tidak mengatakan seseorang pagi berbuat baik kemudian sore berbuat dosa; yang jika demikian orang tersebut masih ada imannya. Namun Beliau Saw mengatakan seseorang akan pagi beriman dan sore hari kafir yang berarti keimanannya hilang.

Kehilangan iman merupakan kerugian dan musbah terbesar sepanjang hidup dan matinya seseorang, yang berakibat buruknya nasib orang tersebut selama-lamanya di Akhirat. Semoga kita tidak bernasib demikian.
Hadits tersebut memberikan penegasan ancaman atau tantangan besar yang pasti akan selalu kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Dewasa ini segala nilai agama sudah dibolak-balikkan sedemikian rupa sehingga seseorang tak lagi merasa perlu akan agama.
Baru-baru ini kami berkesempatan berjumpa dengan seorang yahudi yang lolos dari peristiwa holocaust. Setelah panjang lebar beliau menceritakan kembali pengalaman buruknya di masa itu, kami memberanikan diri bertanya apakah yang mendorong dia untuk tetap bertahan hidup setelah siksaan dan penderitaan luar biasa yang dialaminya? Dia menjawab: well, life has to go on…hidup harus berjalan terus, kemudin aku mencoba pergi jauh-jauh dari sana dan memulai hidup baru di sini. Kemudian kami bertanya lagi: apakah Tuhan menjadi motivasi anda bertahan hidup? Apakah anda percaya Tuhan?
Jawaban kakek tua berusia 93 th tersebut sangat mengejutkan kami: Tidak! Saya tidak percaya Tuhan, sebab jika Dia memang ada maka seharusnya semua kekejaman tersebut tak perlu terjadi!

Menyedihkan! Itulah gambaran seseorang yang sudah berputus –asa dari Rahmat Allah, padahal bangsanya selama ini mengaku sebagai bangsa pilihan Tuhan, sebagai bangsa unggul yang berhak mewarisi bumi, ternyata setelah mengalami ujian dunia ,yang betapapun beratnya tetap saja bersifat fana dan pasti akan berakhir, ternyata ia malah membuang imannya dan menggantikan dengan kepemimpinan otaknya. Bangsa yang satu ini memang sangat mengagungkan kecerdasan otak dan bergantung pada itu. Semoga Allah Memberi Petunjuk pada kakek tersebut sebelum kematiannya, karena itu lebih baik baginya.

Itulah gambaran sekelumit contoh tentang kesusahan hidup di dunia, di mana sejak kehidupan sehari-hari kita sudah dikepung dengan berbagai kesulitan ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, namun kesusahan dan kesulitan juga sampai pada kesulitan mempertahankan iman karena cobaan hidup di dunia. Semoga kita dan keluarga terhindar dari fitnah-fitnah yang berbahaya. Terhindar dari fitnah dunia, fitnah kehidupan dan kematian, fitnah kubur dan fitnah almasihuddajjal. Amin ya Rabbal ’alamin.

================
Siti Aisyah Nurmi  - eramuslim.com

24 November 2014

Rumah Masa Depan

Rumah Masa Depan, seperti apa wujudnya? Yang terbayang dibenak manusia kebanyakan adalah adalah rumah yang mewah, megah, dengan halaman luas, penuh dengan pepohonan dan bunga-bungaan yang sedap dipandang mata atau rumah yang bergaya ala Eropa, Italy, Spanyol dan lain sebagainya, dengan pintu gerbang yang megah dan pilar-pilar putih di beranda seperti istanah yang megah, begitulah kebanyakan yang terbayang bila mendengar kata Rumah Masa Depan!
Dan mungkin tak terbayang, kalau rumah masa depan yang dimaksud dalam tulisan ini, jauh… jauh sekali dari bayangan kebanyakan orang, karena Rumah Masa Depan yang dimaksud dalam tulisan ini luasnya hanya 1 X 2 meter saja! Harganyapun tidak sampai ratusan juta atau bahkan sampai milyaran seperti yang dijual di San Diago, nama yang terkesan ada di Amerika atau Eropa, nyatanya ada di Kerawang, Jabar!

Bayangkan hanya untuk pemakaman saja sampai memakan biaya ratusan juta bahkan milyaran, dan anehnya dizinkan oleh pemerintah! Sementara orang yang masih hidup dan kebanyakan rakyat yang tak punya, jangankan rumah, mancari makan saja susah! Loh ini untuk orang yang mati dibutuhkan dana sampai ratusan juta bahkan milyaran! Ironis sekali… di tengah-tengah rakyat banyak yang masih hidupnya “ Senin Kemis” ada kuburan seharga ratusan juta rupiah!
Kembali ke Rumah masa Depan yang di dalam Islam sangat sederhana sekali. Hanya berukuran 1 X 2 meter saja, dan penghuninya hanya dibungkus kain sederhana, kain kapan putih. Dan di atas kuburanpun kalau pakai sunnah, hanya seonggok batu, tanpa nama, tanpa apa-apa lagi. Islam mengajarkan kesederhaan, baik dikala hidup maupun saat kematian. Sebaliknya dipihak “sana” kuburan main besar-besaran, dan membutuhkan tanah yang juga besar-besaran! Ironis sekali.

Padahal bungkusan bagaimanapun cantik, bagus dan indahnya akan dibuang ke tong sampah dan hanya jadi sampah. Jasadpun demikian, betapapun, cantik, gagah, bagus, indah, rupawan dan sangat mempesonakan, pada akhirnya hanya menjadi santapan cacing-cacing tanah dan manjadi bangkai yang amat busuk. Makanya Allah tidak melihat jasad hambaNya, tapi amal ibadahnya.

Kuburan itu ibarat bungkusan, megah tidaknya kuburan, bukan jaminan buat bebas dari neraka atau dapat surga. Bukan berarti kalau kuburanya megah lantas di dalamnya syurga, atau sebaliknya yang kuburannya sederhana lantas di neraka, tak ada itu. Masuk surga dan neraka, bukan di lihat dari megah atau tidaknya sebuah kuburan, tapi tergantung pada amal sholehnya, tergantung pada amal perbuatannya ketika hidup di dunia, dan tergantung pada keimanannya masing-masing!

Agar di Rumah Masa Depan bahagia, aman, sejahtera maka jangan pernah berhenti berkomunikasi dengan Allah. Di manapun dan kapanpun kamu berada. Karena Allah selalu bersamamu dimanapun dan kapanpun kamu berada, baik kamu sadari ataupun tidak. Bagus tidaknya Rumah Depan tergantung pada amalan di dunia. Dan amalan di dunia akan semakin kuat bila ada energi iman di dada.

Jika kamu punya iman di dada, maka sesungguhnya imanmu itu punya energi yang amat kuat. Energi iman itu dapat menahan beban penderitaan yang bagaimanapun jua, Energi iman pula yang dapat menahan caci maki, hinaan dan celaan orang lain betapapun kasarnya.

Dengan energi iman pula besarnya godaan hawa napsu dapat diatasi dengan lapang dada. Energi imanlah yang membuat seseorang mampu bertahan hidup di negara yang serba kacau balau. Di Negara yang penuh dengan ancaman peperangan seperti di Irak, Syria, Afganistan, Palestina dan lain sebagainya. Mereka akan tetap berjuang membela keimanan atau negara mereka dari serangan atau serbuan pihak-pihak kafir!

Dengan energi iman, seseorang tetap dapat memuja Tuhannya ditengah-tengah hawa dingin yang mengigit tanpa perasaan berat. semua dikerjakan dengan ikhlas dan tetap gembira. Energi iman membuat seseorang tahan dari segala macam cobaan, ujian dan musibah

Kalau kamu masih saja kuatir, padahal Allah SWT selalu bersamamu, maka di manakah keimananmu? Bila perasaan kuatir selalu menderamu, itu artinya imanmu masih lemah, sama artinya kamu tidak percaya atau kurang percaya kepada Allah SWT yang telah mengatur segala urusanmu dengan Maha rapih, tertib dan teratur. Kenapa Allah SWT melakukan itu semua? Karena Allah menyintaimu, menyayangimu dan mengasihimu. Jika kamu tidak merasakan itu semua, dasar kamu saja tak tahu diri!

Kembali pada Rumah Masa Depan yang luasnya hanya 1 X 2 meter saja, sudah anda siapkan untuk membangunnya? Sudahkah anda menyiapkan diri untuk mengisinya? Sudahkah anda menghitung amal untuk mendiaminya? Mengapa ini ditanyakan, karena Rumah Masa Depan ini paling unik, suka atau tidak, manusia akan masuk ke dalamnya! Dan uniknya lagi, tanpa pandang bulu, terpaksa atau sukarela, Rumah Masa Depan sedang menanti, dan pintunya selalu terbuka, 24 jam!

============= =====
 Oleh: Syaripudin Zuhri
Moskow, 2 Safar 1436 H/24 November 2014

18 November 2014

Bahagia Di Dunia, Bagi Orang – Orang Yang Mengikuti Jalan Allah

Empat hal jika diberikan kepada seseorang, sungguh ia telah diberi kebaikan dunia dan akhirat, yakni hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir, sabar saat mendapat ujian, serta istri yang tidak berkhianat dalam kehormatan dirinya (selingkuh) dan harta suami.” (HR Ath – Thabrani dan Al – Baihaqi)
Ada empat hal yang termasuk kebahagian seseorang, yaitu istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang bagus.” (HR Ibnu Hibban)
Dari dua hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada tujuh indikator kebahagian hidup di dunia, berikut uraiannya : 

Qalbun Syakirun / Hati yang selalu bersyukur
Selalu menerima apa yang diberikan oleh Allah, sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan yang dapat menimbulkan stress. Jika diuji dengan kelapangan, maka ia bersyukur dan memperbanyak amal ibadahnya. Jika diuji kesempitan, maka ia bersyukur pula karena ia merasa ujiannya belum seberapa dibandingkan orang – orang yang ada dibawahnya.

Zaujun Shalih / Pasangan hidup yang shaleh
Pasangan hidup yang shaleh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang shaleh pula. Suami yang shaleh atau istri yang shalihah akan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Mereka juga akan membangun rumah tangga atas dasar tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.
Auladun Abrar / Anak – anak yang shaleh

Akan menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tua. Kehadiran mereka akan menumbuhkan kebahagiaan yang tiada terkira. Mereka patuh dan berbakti kepada orang tua, sehingga hati orang tua pun akan merasa tenang dan tentram.

Biatun Shalihah / Lingkungan yang baik
Lingkungan kondusif untuk iman kita. Sebab, Lingkungan yang baik akan menjaga perilaku penghuninya untuk dapat beristiqamah dalam kebaikan. Sebaliknya, lingkungan yang buruk akan mempengaruhi turunya iman seseorang atau setidaknya membuat batinnya tersiksa, karena melihat berbagai kemaksiatan.
Malun Halalun / Harta yang halal

Islam tidak melihat banyaknya harta seseorang, tetapi Islam memandang dari segi kehalalan dan keberkahannya. Harta yang haram, seberapapun banyaknya, tidak dapat membuat pemiliknya hidup bahagia. Kebalikannya, harta yang halal akan menjadikan pemiliknya hidup bahagia dan berkah, meskipun tidak seberapa.

Tafaqquh fid – Din / Memahami agama
Orang yang paham agama, hidupnya akan lebih bahagia. Hatinya tenang dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Agar seseorang paham terhadap ajaran agamanya, ia harus bersemangat dalam memahami ilmu – ilmu agama Islam. Ilmu adalah cahaya, oleh sebab itu, semakin seseorang paham agama, hidupnya akan semakin bahagia dan dimudahkan jalanya menuju syurga
Umrun Mubarak / Umur yang berkah

Umur yang diisi dengan beribadah kepada Allah SWT. Umur yang seperti ini akan membuat seseorang bahagia. Sabda Rasulullah Saw, “Sebaik – baik orang adalah yang panjang umurnya dan bagus amalnya.” (HR Al – Hakim). Seiring berjalannya umur, ia mengisinya dengan berbagai amal shaleh. Tidak sedikit pun waktu yang dibiarkan sia – sia, sehingga tidak berujung dengan penyesalan di hari tua.
Inilah jaminan Allah bagi orang – orang yang mengikuti jalan Nya. Yakni, akan mendapatkan kebahagian hidup di dunia ini, sebelum di akhirat nanti.
 
=================
 
Sumber :
FAHRUR MU’IS
Amalan Ringan Berpahala Surga
42+ Amalan Ringan Sehari – hari yang berbuah surge
Solo : Kafilah Publising 2012

15 November 2014

Cemburu pada Ibunda Khadijah

Perlahan Nadya melipat sajadahnya yang telah basah oleh airmata. Saat berdoa ia merasa sebagai manusia yang amat rapuh. Dosa-dosanya menggunung. Betapa pedihnya saat ia menyadari bahwa ia tak layak untuk syurgaNya. Namun ketakutannya pun amat sangat, saat teringat dengan neraka. Sebagai seorang istri, Nadya amat menyadari keterbatasannya. Pengabdian, ketaatan dan cintanya pada sang suami penuh kekurangan. Kadang Nadya merasa tak layak untuk sang suami yang dicintainya sepenuh hati. Nadya sangat menyadari, ia bukan wanita yang cantik, lemah lembut, kaya raya dan berbudi pekerti luhur seperti Bunda Khadijah, sehingga pantas mendapatkan cinta yang luar biasa dan tiada duanya dari rasulullah sang suami tercinta.

Hatinya kecil saat teringat suaminya adalah pria shaleh dan tampan yang banyak dikagumi wanita. Wanita-wanita yang lebih segalanya darinya. Tak heran Nadya, bila sang suami kemudian ingin menikah lagi. Ingin membagi cintanya dengan wanita lain. Toh poligami bukan perbuatan dosa. Sungguh Nadya tak ingin menjadi anggota komunitas sosialita istri-istri galau saat suaminya berkeinginan menikah lagi sehingga pandai melakukan pelanggaran syara, hatinya buta tak lagi mampu melihat kebaikan-kebaikan pada diri sang suami, dan syukurnya sirna, hilang tertutupi oleh rasa cemburu. Apalagi Nadya sadar betul dirinya amat sangat jauh dari istri sempurna nan shalihah seperti Bunda Khadijah.

Siapa tak mengenal Bunda Khadijah? Istri dan kekasih rasulullah Muhammad SAW. Pengabdiannya sebagai seorang istri tiada duanya. Ketaatannya pada sang suami tak ada bandingannya. Cintanya yang tulus pada sang pujaan hati tak diragukan lagi. Pengorbanannya pada idaman jiwa laksana hujan di kemarau panjang. Kasih sayang seorang istri yang penuh keikhlasan telah menjadikan Muhammad sang suami merasakan ketenangan, kebahagiaan dan kenyamanan luar biasa, saat ujian dan badai bergulung-gulung datang menerpa dakwah nabi.

Banyak kaum wanita yang iri dan amat cemburu dengan Bunda Khadijah. Bagaimana tidak, sebuah istana megah telah Allah sediakan di syurga, dan hanya beliau satu-satunya wanita yang mendapat salam dari Allah. Cinta sang suami untuk beliau pun amat besar dan tiada akhir sekalipun Bunda Khadijah telah tiada. Bunda Khadijah pula wanita yang hanya disibukkan oleh perjuangan dakwah dan ketaatan pada Allah, tanpa harus dibebani oleh “perasaan” lain karena sang suami taaruf lagi, ingin menikah lagi dan jatuh hati dengan wanita lain, seperti dialami kebanyakan wanita zaman sekarang. Bunda Khadijah bisa tetap fokus menjadi ibu untuk anak-anaknya tanpa disesaki sebuah pikiran, di hati suami ada lagi wanita selain dirinya..

Itu hanya sebagian tanda kasih sayang Allah pada Bunda Khadijah dengan ditakdirkanNya menjadi satu-satunya istri sepanjang hidup di dunia. Di akhirat Allah pun telah menjamin dengan sebuah istana penuh permata di dalam syurga. Wanita manakah yang tak iri?

Kaum wanita sangat boleh iri dan cemburu dengan Bunda Khadijah tapi bukan hanya sebatas pada “taqdirnya” yang tak pernah dipoligami. Namun harus lebih dari itu. Yaitu tentang pengabdian, pengorbanan, ketaatan dan cinta seorang istri. Di saat manusia lain mengingkari, Bunda Khadijah tetap mempercayai sang suami. Seluruh harta kekayaannya pun dengan ikhlas diserahkan untuk perjuangan dakwah. Cintanya sepenuh hati untuk sang suami, meski Muhammad bukan lelaki pertama dalam hidupnya. Lisannya penuh kelembutan dan kata-kata yang menyejukkan.

Berbeda sekali dengan istri zaman sekarang, yang kebanyakan masih bebas berteman dengan pria selain suaminya, di luar koridor yang diperbolehkan syara. Seharusnya hanya dalam hal pendidikan, pengobatan dan perdagangan interaksi pria wanita ajnaby diperbolehkan. Di luar itu sama sekali terlarang, karena kehidupan wanita pria pada dasarnya adalah terpisah.

Lihatlah di kota-kota besar, atas nama emansipasi seorang istri makan siang berdua dengan suami orang saat jam istirahat kantor. Atas nama anak-anak, seorang wanita menghubungi terus menerus mantan suaminya meski hanya untuk memamerkan perhiasan yang baru dibelinya dan semacamnya. Dikiranya karena pernah menjadi suami istri, boleh untuk mengkomunikasikan apa saja. Bebas untuk berkeluh kesah, curhat layaknya saat masih menjadi suami istri. Atas nama kemajuan teknologi, istri-istri bebas berinteraksi apa saja dengan pria lain di dunia maya.

Pun bukan rahasia lagi, betapa banyak istri-istri yang merendahkan sang suami karena penghasilannya lebih besar, meski jumlah kekayaannya masih amat jauh di bawah Bunda Khadijah. Lisannya tak terjaga sehingga menyakiti dan menyinggung perasaan suami. Jauh dengan Bunda Khadijah yang tetap memuliakan sang suami dalam segala keadaan, meskipun kaya raya dan memiliki kedudukan tinggi di kalangan kaumnya.

Meski teramat berat, setiap istri sudah seharusnya belajar dari Bunda Khadijah, bila menginginkan kemuliaan seperti beliau. Seorang Khadijah adalah istri yang memenuhi hak-hak suami setelah keutamaannya menunaikan ketaatan pada Allah. Mencintai suami dengan tulus, berkorban untuk suami penuh keikhlasan dan hanya mengharap pada ridha Tuhannya, menyenangkan dan menenangkan suami, serta memiliki kata-kata yang terjaga dan menyejukkan. Hanya suami satu-satunya pria yang bertahta di hidupnya.

Andai Nadya bisa menjadi seperti Bunda Khadijah…. namun pada faktanya memang ia tidak bisa. Hanya setitik saja ketaatan yang bisa dilakukannya untuk suami tercinta. Menjadi seperti Khadijah ternyata amat mudah dilakukan saat awal-awal pernikahan, ketika cinta masih begitu menggebu, ketika rasa didominasi oleh ketakjuban atas taqdir jodoh yang tiada terduga, ketika hati bak samudera terpesona dengan anugerahNya yang tak bernilai. Sangat gampang dilakukan saat madu-madu pernikahan masih begitu manis, saat semua hal tentang rumah tangga masih baru, saat bunga-bunga kasih baru mulai tumbuh dan bersemi.

Namun setelah waktu berganti, dari bulan ke bulan, bahkan memasuki bilangan tahun, menjadi seperti Khadijah ternyata tak mudah lagi. Kehadiran anak-anak, rutinitas pekerjaan dan aktifitas ikut mengubah haluan hati. Isi hati mulai terbagi-bagi tidak hanya untuk suami saja. Kalimat-kalimat menyejukkan yang dulu selalu hadir, mulai terlupakan terganti oleh kata-kata amat biasa. Keromantisan yang awalnya setiap waktu, berubah rutinitas yang juga biasa.

Menjadi seperti Khadijah untuk manusia biasa memang berat. Tapi semua bisa dicoba dan diusahakan. Dibalik keterbatasan yang kita punya, ada Allah tempat kita memohon pertolongan. Ada Allah Sang Maha Pengabul Doa. Ada Allah tempat kita meminta kekuatan cinta agar ia bersemi lagi dan menumbuhkan kelapangan hati, kekuatan jiwa untuk bisa tetap menjadi seperti Khadijah tanpa lekang oleh waktu dan usia. Laa Haula Walaa Quwwata illa billah.



===============

Oleh : Anna Nur F

12 November 2014

Penemuan-Penemuan Islam Yang Gemparkan Dunia

Kehidupan modern tak lepas dari penemuan-penemuan ilmuwan muslim. Proyek 1001 kembali mengingatkan sejarah 1000 tahun warisan muslim yang terlupakan.
Ada sebuah lubang dalam ilmu pengetahuan manusia, melompat dari zaman Renaisans langsung kepada Yunani, ujar Chairman Yayasan Sains, Teknologi dan Peradaban Profesor Salim al-Hassani pemimpin 1001 Penemuan.
Saat ini Penemuan 1001 sedang pameran di Museum Sains London. Hassani mengharapkan pameran tersebut akan menegaskan kembali kontribusi peradaban non-barat, seperti kerajaan muslim yang suatu waktu pernah menutupi Spanyol dan Portugis, Italia selatan dan terbentang seluas daratan China. Inilah penemuan muslim yang luar biasa:

1. Operasi Bedah

Sekitar tahun 1000, seorang dokter Al Zahrawi mempublikasikan 1500 halaman ensiklopedia berilustrasi tentang operasi bedah yang digunakan di Eropa sebagai referensi medis selama lebih dari 500 tahun.
Diantara banyak penemu, Zahrawi yang menggunakan larutan usus kucing menjadi benang jahitan, sebelum menangani operasi kedua untuk memindahkan jahitan pada luka. Dia juga yang dilaporkan melakukan operasi caesar dan menciptakan sepasang alat jepit pembedahan.

2. Kopi

Saat ini warga dunia meminum sajian khas tersebut tetapi, kopi pertama kali dibuat di Yaman pada sekitar abad ke-9. Pada awalnya kopi membantu kaum sufi tetap terjaga ibadah larut malam.
Kemudian dibawa ke Kairo oleh sekelompok pelajat yang kemudian kopi disukai oleh seluruh kerajaan. Pada abad ke-13 kopi menyeberang ke Turki, tetapi baru pada abad ke-16 ketika kacang mulai direbus di Eropa, kopi dibawa ke Italia oleh pedagang Venesia.

3. Mesin Terbang

Abbas ibn Firnas adalah orang pertama yang mencoba membuat konstruksi sebuah pesawat terbang dan menerbangkannya. Di abad ke-9 dia mendesain sebuah perangkat sayap dan secara khusus membentuk layaknya kostum burung.
Dalam percobaannya yang terkenal di Cordoba Spanyol, Firnas terbang tinggi untuk beberapa saat sebelum kemudian jatuh ke tanah dan mematahkan tulang belakangnya. Desain yang dibuatnya secara tidak terduga menjadi inspirasi bagi seniman Italia Leonardo da Vinci ratusan tahun kemudian.

4. Universitas

Pada tahun 859 seorang putri muda bernama Fatima al-Firhi mendirikan sebuah universitas tingkat pertama di Fez Maroko. Saudara perempuannya Miriam mendirikan masjid indah secara bersamaan menjadi masjid dan universitas al-Qarawiyyin dan terus beroperasi selama 1.200 tahun kemudian.
Hassani mengatakan dia berharap orang akan ingat bahwa belajar adalah inti utama tradisi Islam dan cerita tentang al-Firhi bersaudara akan menginspirasi wanita muslim di mana pun di dunia.

5. Aljabar

Kata aljabar berasal dari judul kitab matematikawan terkenal Persia abad ke-9 Kitab al-Jabr Wal-Mugabala, yang diterjemahkan ke dalam buku The Book of Reasoning and Balancing.
Membangun akar sistem Yunani dan Hindu, aljabar adalah sistem pemersatu untuk nomor rasional, nomor tidak rasional dan gelombang magnitudo. Matematikawan lainnya Al-Khwarizmi juga yang pertama kali memperkenalkan konsep angka menjadi bilangan yang bisa menjadi kekuatan.

6. Optik


The Nimrud lens or Layard lens is a 3000-year old
Banyak kemajuan penting dalam studi optik datang dari dunia muslm, ujar Hassani. Diantara tahun 1.000 Ibn al-Haitham membuktikan bahwa manusia melihat obyek dari refleksi cahaya dan masuk ke mata, mengacuhkan teori Euclid dan Ptolemy bahwa cahaya dihasilkan dari dalam mata sendiri.
Fisikawan hebat muslim lainnya juga menemukan fenomena pengukuran kamera di mana dijelaskan bagaimana mata gambar dapat terlihat dengan koneksi antara optik dan otak.

7. Musik

http://spicmacaypune.files.wordpress.com/2010/01/jamil-khan.jpg?578&h=432
Musisi muslim memiliki dampak signifikan di Eropa. Di antara banyak instrumen yang hadir ke Eropa melalui timur tengah adalah lute dan rahab, nenek moyang biola. Skala notasi musik modern juga dikatakan berasal dari alfabet Arab.

8. Sikat Gigi

http://completehealthcircle.files.wordpress.com/2013/12/main_teeth_0.jpg%3Fw%3D690?613&h=346
Menurut Hassani, Nabi Muhammad SAW mempopulerkan penggunaan sikat gigi pertama kali pada tahun 600. Menggunakan ranting pohon Miswak, untuk membersihkan gigi dan menyegarkan napas. Substansi kandungan di dalam Miswak juga digunakan dalam pasta gigi modern.

9. Engkol

http://alvitoo.files.wordpress.com/2011/04/1-4.jpg?581&h=387
Banyak dasar sistem otomatis modern pertama kali berasal dari dunia muslim, termasuk pemutar yang menghubungkan sistem. Dengan mengkonversi gerakan memutar dengan gerakan lurus, pemutar memungkinankan obyek berat terangkat relatif lebih mudah.

Teknologi tersebut ditemukan oleh Al-jazari pada abad ke-12, kemudian digunakan dalam penggunaan sepeda hingga kini. (Rr/Nn)

09 November 2014

Allah Yang Maha Memberi

Allah telah mengenalkan diri-Nya kepada seluruh makhluk dengan cara memberitahukan bahwa “Dia adalah zat Yang Maha Memberi “

3:8

“Karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Karunia (Qs. Ali Imran :8)

38:9
“Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan Rahmat Tuhanmu Yang Maha perkasa lagi Maha Pemberi (QS. Shad:9)

AL WAHHAB berarti Zat yang banyak memberi tanpa batas. Dia adalah Zat yang menguasai langit dan bumi berikut seluruh kekayaan yang dikandungnya. Tiada satupun yang dapat mengalahkan pemberianNya dan semua pemberiaNya itu tidak mengurangi simpananNya.

Pemberian Allah kepada Hamba 
Allah adalah Zat Yang memberi hidup dan kehidupan. Dialah zat yang telah memberi kita otak, hati, penglihatan  dan pendengaran, disamping makanan, minuman , pasangan dan keturunan.
Contoh pemberian Allah berupa keturunan yang baik diberikan kepada Nabi dan Rasul. Misalnya Nabi Ibrahim As dianugrahi Ishak dan Ismail dan kemudian Ya’kub. Allah menakdirkan keturunan Nabi Ibrahim ini menjadi Nabi dan memperoleh kitab dariNya.

29:27
“..Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan kemudian Ya’kub. Kami jadikan kenabian dan Kitab pada keturunannya…” (QS AL Ankabut:27)
Termasuk Nabi yang mendapat anugrah yang sama adalah Nabi Daud a.s. yang dianugrahi anak bernama Sulaiman as,

38:30
” Dan kami karuniakan Sulaiman kepada Daud. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhannya ..” (QS Shad;30).

21:90
Allah juga menganugerahkan Yahya kepada Zakaria as. (Qs Al Anbiya 90)
Sebaliknya Allah memberikan berupa cobaan kepada Ayub a.s. penyakit ditubuhnya, harta yang ludes dan anak-anak yang meninggal. Setelah itu Allah menggantikan cobaan itu dengan dua kali lebih baik dari yang Allah ambil itu.
Allah menetapkan agar kita memohon anak yang saleh , seperti yang dimohonkan oleh para nabi dan rasulNya. Demikianlah penjelasan Allah tentang hamba-hambaNYa (ibadurrahman).


25:74
”Orang-orang yang berkata “Wahai Tuhan Kami , anugerahkanlah kepada  kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa (Al Furqan ; 74) 

Pemberian Allah yang paling agung
Jika kepada para Nabi Allah memberikan yang paling agung yaitu kenabian , kitab, hikmah dan ayat-ayat yang jelas.  Maka kepada manusia secara keseluruhan pemberian Allah yang paling agung adalah petunjukNya kepada kebenaran yang telah Allah turunkan kepada hamba dan Nabinya Muhammad salallahu alaihi wassalam. Demikianlah Allah mengajarkan bahwa dalam setiap rakaat shalat kita selalu membaca :…

1:6
Ihdinashshiraathalmustaqiim..” Tunjukanlah kami jalan yang lurus (QS Al Fatihah : 6)

Pemberian Allah yang paling Agung lainnya adalah ilmu yang diperoleh hamba-hambaNya yang saleh, sebagaiamana diberikan ilmu tentang besi kepada  Nabi Daud dan ilmu mengendalikan angin,bercakap dengan makhluk Allah binatang dan jin, mendirikan istana kepada Nabi Sulaiman as.
Allah juga telah memberikan hikmah kepada hambaNYa Lukman :

31:12
” …Dan benar-benar Kami menganugrahkan hikmah kepada Lukman..” (QS Luqman ; 12)

Dibolehkan kepada  seluruh hamba, ketika berdoa untuk memohon kebaikan dunia. Akan tetapi Allah mencela orang yang hanya memohon kebaikan dunia dan memuji orang-orang mukmin yang memohon kebaikan dunia dan akhirat”…Dan di antara mereka ada yang berdoa :

2:201
“Wahai Tuhan Kami berilah kami kebaikan  dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka..” (Qs Al Baqarah; 201)

Pemberian dari Allah dapat berubah menjadi murkaNya ketika Allah telah berikan apa yang baik bagi hambaNya , namun tidak diiringi dengan menjalankan perintah Allah sebagaimana mestinya. Tatkala ia diberi harta, hamba tersebut tidak mengeluarkan zakat dan infaq sebagai tanda kecintaannya kepada Allah. Dan ketika seorang hamba meminta ilmu dan Allah memberikannya, maka ia wajib mengamalkannya  dengan tujuan untuk mencari ridho Allah , Allah berfirman :


9:75
9:76
9:77
9:78

… Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah,”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan berderma dan pastilah kami termasuk orang yang saleh.” Setelah Allah memberikan sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, berpaling dan mereka memanglah orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah ingkar kepada Allah akan apa yang mereka ikrarkan kepada-Nya(juga ) mereka selalu berdusta. Tidaklah mereka tahu bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka. Dan bahwasannya Allah amat mengetahui segala yang gaib (Qs At Taubah: 75-78)

Rasulullah selalu bertasbih dengan nama Al Wahhab. Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari salamah ibn al akwar.a. : Saya tidak pernah mendengar Rasulullah membuka doanya kecuali beliau membukanya dengan,

…Subhanarobbiyal a’lal aliyyil wahhab..
Maha suci Allah zat Yang Mahaluhur dan Maha Memberi

(al Musnad : 16548, Hakim 1/498. Hadis ini dianggap sahih oelh Hakim dan dianggap mauquf oleh Azh Dzahabi)