30 August 2014

Jangan Remehkan Ucapan Anda

Mengajak manusia ke jalan Allah ta’aala merupakan aktifitas yang sangat mulia. Allah ta’aala menyebutnya sebagai ”ucapan yang paling baik”. Namun tidak banyak muslim yang mau dan sanggup melakukannya. Pada umumnya seorang muslim dihalangi oleh seribu satu alasan untuk tidak melakukannya. Ada alasan yang sangat umum yaitu ”nanti si non-muslim tersinggung”. Itulah sebabnya Allah ta’aala membekali kita dengan firmanNya: ”…dan berdebatlah (beradu argumenlah) dengan mereka dengan cara yang baik.”(QS AnNahl ayat 125) Artinya, Allah ta’aala Maha Tahu bahwa sangat mungkin ajakan kita tersebut mendatangkan penolakan dari obyek da’wah. Tapi itu bukan alasan untuk tidak berda’wah..!

Seorang muslim tatkala menyampaikan da’wah Islam harulah memiliki optimisme dan harapan hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Ia harus selalu mengingat bahwa kewajibannya hanyalah menyampaikan. Adapun soal obyek da’wahnya mau menerima atau tidak, maka ini bukan urusan si muslim. Soal seseorang memperoleh hidayah atau tetap sesat sepenuhnya terserah Allah subhaanahu wa ta’aala.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

” Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS AnNahl ayat 125)

Hal lain yang juga harus selalu diingat oleh seorang muslim yang mengajak orang lain agar ikut jalan Allah ta’aala ialah: ”Jangan remehkan ucapan Anda.” Siapa tahu, justru melalui lisan Anda seseorang memperoleh hidayah. Anda tidak akan pernah tahu apakah ucapan Anda mendatangkan taufiq dan hidayah Allah ta’aala sebelum Anda mencobanya..!

Ada seorang kawan saya yang sewaktu lulus SMA pergi untuk kuliah ke luar negeri. Saat ia pertama kali tiba di London kemampuan berbahasa Inggrisnya masih belum lancar. Waktu itu sedang bulan Ramadhan. Hari-hari pertama tiba di Inggris ia ikut sebuah bus Tour Wisata keliling kota London. Saat datang waktu makan siang bus itu berhenti di sebuah restoran dan semua turis turun untuk makan siang. Termasuk kawan saya orang Indonesia muslim tersebut.

Semua penumpang bus wisata makan di restoran tersebut kecuali kawan saya karena ia sedang puasa. Maka ketika melihat ia tidak makan si Guide (penunjuk jalan) seorang berkebangsaan Inggris mendekatinya dan bertanya: ”Why aren’t you eating?” (Mengapa kamu tidak ikut makan?).

Dengan bahasa Inggris yang terbatas iapun menjawab: ”I am Muslim. This is Ramadhan. I am fasting.” (Saya seorang muslim. Ini bulan Ramadhan. Saya sedang puasa)

Tiba-tiba dengan nada mengejek si penunjuk jalan itupun berkata: ”Oh, rupanya Anda datang dari sebuah negera muslim. Negara yang miskin sehingga kamu tidak sanggup makan…”

Lalu kawan kitapun menjadi marah dan tersinggung. Tapi bagaimana caranya mengungkapkan kemarahan dalam suatu bahasa yang belum dikuasai? Akhirnya ia hanya bisa berkata: ”Wait, one year… I will explain to you the beauty of Islam…” (tunggulah satu tahun, nanti aku jelaskan padamu indahnya ajaran Islam). Maksudnya ia ingin diberi kesempatan belajar bahasa Inggris dahulu selama setahun, baru nanti ia akan jelaskan secara panjang lebar apa itu sebenarnya ajaran Islam nan indah ini.

Sesudah satu tahun kawan saya inipun memenuhi janjinya. Ia datangi si penunjuk jalan untuk menjelaskan Islam kepadanya. Namun apa yang terjadi? Begitu mereka berjumpa satu sama lain, tiba-tiba si guide orang Inggris ini menyapa kawan kita orang Indonesia ini dengan ucapan: ”Assalaamu’alaikum, brother…!”

Maka kawan saya ini terkejut dan bertanya: ”Anda sudah masuk Islam?”

”Iya benar, saya sudah masuk Islam, ” kata si orang Inggris.

”Waduh, saya baru saja mau menjelaskan kepada Anda apa itu Islam, ” kata kawan saya.

”Anda terlambat, saudaraku…” kata si Inggris.

Maka si orang Indonesiapun bertanya: ”Bagaimana ceritanya Anda sampai memeluk Islam?”

”Saya masuk Islam sejak Anda mengatakan ’I will explain to you the beauty of Islam’… Maka sayapun bertanya-tanya apa memang di dalam Islam ada keindahan? Saya selama ini hanya tahunya Islam itu identik dengan terorisme dan segala yang hitam dan jelek.. Maka karena saya penasaran sayapun belajar Islam. Dan alhamdulillah, saya mendapat hidayah dari Allah ta’aala…”

Subhanallah...! Maka, saudaraku, bersegeralah. Ajaklah teman kerja Anda, tetangga Anda atau barangkali saudara Anda yang non-muslim ke dalam rahmat Allah ta’aala… Jangan remehkan ucapan Anda. Siapa tahu lewat lisan Anda Allah ta’aala akan limpahkan hidayah iman-Islam kepada seseorang…..
==============
 
Redaksi eramuslim.com

Keajaiban Sebuah Harapan

"Ketika satu pintu tertutup maka pintu lain terbuka.

Namun, kita sering kali terpaku menyesali pintu yang tertutup itu,

hingga tak bisa melihat pintu lain yang terbuka bagi kita "

~Alexander Graham Bell~  (Ilmuwan dan Penemu)

Saya dapat oleh-oleh dari acara kajian semalam. Bukan makanan yang enak, tapi kisah tentang keajaiban sebuah harapan. Awalnya saya pendam saja sebagai masukan tersendiri bagi jiwa saya. Tapi kemudian saya pikir akan punya kemanfaatan yang lebih jika saya mau berbagi. Yah, karena untuk berbagi harta saya belum cukup mampu, maka izinkan saya berbagi cerita ini untuk Anda. Syukur-syukur bisa membuka cakrawala dan wawasan yang berbeda dalam meneropong sisi kehidupan yang penuh liku ini.

Mentor spiritual saya yang menjadi pembicara semalam tidak membawakan materi yang berat dan spesifik, hanya menceritakan kehidupan salah satu tetangganya. Sebut saja Pak Sholeh (bukan nama sebenarnya), awalnya dia dan keluarganya hidup makmur berkecukupan. Mempunyai banyak usaha, anaknya juga begitu. Salah stunya punya usaha warnet yang rame di Jogjakarta. Namun, layaknya roda, kehidupan ini berputar, tak selamanya orang merasakan hidup senang dengan harta yang melimpah.

Pada suatu waktu, usahanya bangkrut. Keluarganya menyalahkannya sebagai biang dari kebangkrutan. Walaupun masih berkumpul dengan keluarganya, tapi dia merasa ada sesuatu yang berbeda, harga dirinya sebagai kepala keluarga dipandang sebelah mata oleh isteri dan anak-anaknya. Dia memang merasa bersalah, tapi perubahan sikap keluarganya yang drastis tersebut telah mengusik hatinya, membuatnya sedikit terluka. Dalam kondisi demikian, si bapak ini lebih banyak merenung sambil berpikir untuk memulai usaha lagi dari nol karena memang hartanya telah habis, telah bangkrut.

Dan..Si bapak mulai merintis kerja menjadi tukang rombeng

Pekerjaan sebagai tukang rombeng (mencari barang-barang bekas) memang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Awalnya dengan terpaksa melakukan pekerjaan itu. Tapi pelan-pelan menjadi biasa. Begitulah hari-hari melelahkan dijalaninya sambil tetap terus merenungkan diri tentang keadaan yang menimpanya. Dia lantas lebih banyak berpikir tentang eksistensi dirinya dan kekadiran akan Tuhan. Ya, dia mulai sadar bahwa selama ini jarang menghadirkan Tuhan dalam hatinya, lebih banyak lalai, lebih banyak lupa.

Nah, pada suatu waktu, si bapak ini mendaptkan uang enambelas ribu limaratus (Rp 16. 500) seharinya. “Lumayan”, gumamnya sambil mengusap peluh di keningnya. Karena siang begitu terik dan diri terasa lelah, mampir ke sebuah warung untuk membeli minuman. Dalam warung tersebut, ada dua orang lelaki yang sedang asyik bermain catur. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia justru mentraktir keduanya minum teh botol bersama, ya, bapak tukang rombeng ini yang membayarnya.

Rupanya, salah satu lelaki itu terkesan. Berawal dari traktiran itu, salah satu bapak tersebut mengajak si tukang rombeng kerumahnya, ngobrol sana sini. Di sinilah kemudian terseritakan apa yang dialami tukang rombeng itu. Termasuk cerita tentang keluarganya yang tak lagi menghargai dirinya setelah jatuh ke jurang kemiskinan. Mendengar ceritanya, hatinya pun luluh dan trenyuh. Peristiwa tak terduga berjalan spontan. Kebetulan, ada sebuah rumah yang masih kosong yang masih menunggu pembeli. Dan tukang rombeng ini disuruh untuk menempati saja tanpa harus bayar.

Subhanallah, bersyukurlah dirinya. Tentu, semuanya bukan semata-mata karena sebotol teh, tetapi karena ketulusan dan kegigihan dalam hidupnya. Rela menjalani kehidupan dengan pekerjaan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya untuk kembali mencapai kesuksesan seperti sediakala. Tak kenal putus asa, yang ada hanyalah harapan akan sebuah nasib yang lebih baik kelak kemudian. Cerita diakhiri ketika tukang rombeng sedang merintis usaha baru di sebuah rumah yang ditempatinya secara cuma-cuma.

Kawan, inilah kejaiban sebuah harapan…

Kita, tentu pernah mengalami kondisi yang pelik, kondisi di mana kadang mustahil sebuah persoalan bisa terselesaikan. Namun, karena kekuatan sebuah harapan, kita pelan-pelan toh akan bisa menyelesaikan persoalan itu. Jika tak ada harapan, bisa jadi keterputusasaan yang muncul. Orang frustasi memikirkan guncangan masalah hebat menghantui dirinya, ujungnya bisa bunuh diri. Nah, bagi Anda yang kini sedang dihimpit masalah besar. Hidupkan kekuatan harapan, hilangkan rasa putus asa dan berkeluh kesah berkepanjangan. Dan, Anda akan menjadi orang hebat kelak ketika bisa melalui liku roda kehidupan yang kurang menyenangkan ini.
===========================

Snow Man Alone

freelance_corp @yahoo. Com

25 August 2014

Umat Islam, Bersiaplah Songsong Era Baru !

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan Dien (Jalan hidup) yang benar untuk dimenangkanNya atas segala Dien, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”


(Q.S At Taubah : 33)


Islam hadir berawal dari pinggiran kota Mekkah yang gersang, diturunkan kepada seorang penggembala yang tidak dapat membaca dan menulis. Ditengah suatu bangsa yang gemar menghabiskan energinya untuk berseteru antar sesamanya sendiri. Di apit oleh 2 kekuatan raksasa dunia yaitu peradaban Romawi Timur dan Persia. Namun dengan izinNya, petunjuk hidup yang dibawa penggembala tersebut akhirnya mampu menyatukan bangsa Arab yang tadinya terpecah belah, menaklukkan 2 kekuatan raksasa dan memimpin dunia.

Salah satu keistimewaan Islam adalah kemampuannya bertahan menghadapi situasi sesulit apapun, dihajar oleh makar musuh-musuhnya namun mampu bertahan dan tetap bersemi. Adalah Allah yang telah menjamin penjagaan Islam hingga menjelang akhir zaman. Jika kita mengacu hanya kepada nalar semata, maka jika bukanlah petunjuk dari Penguasa alam sudah tentu melihat perjalanannya Islam sudah luluh lantak dihajar bertubi-tubi. Namun Allah menunjukkan kuasaNya, Islam akan tetap ada dan bangkit sebagai cahaya yang menerangi perikehidupan manusia hingga menjelang akhir zaman.

Islam pernah berada dalam ambang kepunahan ketika perang Ahzab, pasukan sekutu berniat meluluh-lantakkan basis kaum muslimin di madinah ditambah kaum yahudi Bani Quraizhah yang mengkhianati perjanjian dan siap menikam dari belakang. Selama sebulan kaum muslimin terkepung oleh pasukan sekutu, digambarkan oleh AlQur’an saking gentingnya situasi hingga rasa sesak mencapai kerongkongan. Namun, berkat keteguhan iman generasi awal Islam, Allah memenuhi janjiNya dan memberikan pertolongan sehingga umat Islam terselamatkan dan justru semakin bersemi. Tak cukup sampai disitu, bahaya kembali datang, kali ini pasukan terkuat didunia yaitu Romawi dengan kaki tangannya dari kalangan kabilah Arab berhasil menghimpun pasukan super raksasa berjumlah 200.000 bersenjata lengkap akan memusnahkan kaum muslimin. Pasukan kaum muslimin hanya berkekuatan 3000 prajurit dengan peralatan seadanya. Bayangkan saja, 200.000 vs 3000. Namun, sekali lagi, Allah menunjukkan kuasaNya dengan menyelamatkan cahaya Islam dari kehancuran lewat kecemerlangan sosok Khalid bin Walid. Bahkan kelak, serangan balik kaum muslimin mampu meruntuhkan kekaisaran Romawi timur.

Setelah Rasululllah wafat, sebagai suatu sunatullah yang telah ditetapkan. Musuh-musuh Islam tak henti-hentinya melakukan makar untuk memadamkan cahayaNya. Di abad pertengahan, kerajaan kristen eropa bersekutu untuk melancarkan perang Salib kepada kaum muslimin memenuhi panggilan Paus Urbanus II, tahun 1099 pasukan salib berhasil merebut Yerusalem dan melakukan pembantaian massal terhadap penduduknya. Yerusalem dikuasai selama 88 tahun oleh pasukan salib. Namun, Allah tak akan membiarkan cahaya Islam padam, muncullah sosok Shalahuddin Al Ayyubi sebagai ksatria Islam dan membebaskan Yerusalem dari cengkraman tentara salib. Dan Islam-pun kembali berjaya.

Umat Islam benar-benar nyaris menjadi kenangan sejarah ketika terjadi musibah yang amat memilukan. Pada tahun 1258, Tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan memporak-porandakan lentera peradaban dunia. Ibukota Kekhilafahan Abbasiyah yaitu Baghdad. Terjadinya salah satu pembantaian tersadis dimana rakyat Baghdad disembelih di jalanan-jalanan kota, bahkan dokumentasi sejarah menyatakan sungai Tigris berwarna hitam airnya akibat banyaknya buku, literature dan manuskrip pengetahuan yang dibakar dari perpustakaan al Hikmah. Tentara Mongol bukan hanya memusnahkan penduduk tetapi memusnahkan peradaban. Umat Islam benar-benar luluh lantak. Meskipun pada akhirnya tentara Mongol berhasil mundur, namun umat muslim sudah terlanjur hancur lebur akibat ekspansi brutal pasukan Mongol.

Namun sekali lagi, Allah akan terus menjaga cahayaNya lewat para manusia pilihan. Tahun 1453, muncul-lah sebaik-baik panglima muda bernama Muhammad Al Fatih yang melakukan penaklukkan spektakuler terhadap kota Konstantinopel (Sekarang Istambul-Turki). Umat Islam pun kembali bangkit dan berjaya. Namun setelah itu, umat Islam terus menerus mengalami kemunduran hingga puncaknya adalah runtuhnya pengawal ajaran Islam Kekhilafahan Utsmani pada tahun 1924. Saat itu umat Islam benar-benar seperti anak-anak ayam kehilangan induk. Musuh Islam mengepung dari segenap penjuru sebagaimana yg telah nabi sabdakan bahwa akan tiba suatu masa bangsa-bangsa kafir mengerumuni kaum muslimin sebagaimana orang-orang mengerumuni makanan. Dewasa ini adalah era keterpurukan kaum muslimin di segala bidang.

Musuh-musuh Islam tahu benar, umat muslim begitu tangguh ketika diserbu secara fisik. Mereka paham, bahwa untuk mengalahkan umat Islam maka perlu menghilangkan sumber energi umat Islam yg paling utama yaitu AlQur’an. Perlu diketahui, sesungguhnya hal yang paling ditakuti musuh Islam bukanlah karena kaum muslimin melaksanakan sholat, dzakat, puasa dll. Tetapi penerapan AlQur’an secara menyeluruh dalam setiap sendi perikehidupan sebagaimana yang dikatakan Snouck Hugronje. Bagi Islam, kekuasaan bukanlah milik siapapun kecuali Allah S.W.T. Manusia hanya sebagai makhluk yang dititipkan “Konsep Hidup” agar dilaksanakan di muka bumi. Oleh karena itu, dalam rangka menjauhkan kaum muslimin dari sumber energi utamanya, mereka merumuskan berbagai racun pemikiran kepada umat Islam. Demokrasi, nasionalisme, komunisme, darwinisme, liberalisme dan berbagai racun merusak lainnya sehingga banyak kaum muslimin termakan dan mengikuti jalan hidup mereka. Dan akhirnya, umat Islam berada dalam ketertindasan dibawah cengkraman kaki tangan kaum kafir.

Namun, Allah akan tetap menjaga cahayaNya. Sehebat apapun musuh-musuh Islam melakukan makar dan tipu daya, tidak akan ada yang bisa mengalahkan rencana Allah S.W.T. Rasulullah bersabda di akhir zaman nanti akan tiba masa tegaknya kembali kepemimpinan Islam yang mengikuti jalan kenabian (Khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah) setelah sebelumnya umat Islam dirundung nestapa pada fase kekuasaan diktator kaki tangan penjajah. Akhir-akhir ini, tanda-tanda itu kian tampak terasa. Kepemimpinan Islam akan datang yang akan merontokkan sistem dajjal yg mencengkram dunia saat ini. Sabda Rasulullah tersebut seolah dibenarkan oleh National Intellegence Council (NIC) yaitu sebuah lembaga riset yg dibiayai Amerika Serikat untuk meneliti kemungkinan peta kekuatan politik dan ekonomi di masa mendatang. Menurut NIC, ada 4 kemungkinan yang terjadi di tahun 2020 yaitu :

1. Davod World : India dan China akan menjadi pemegang tampuk kepemimpinan dunia.

2. Pax Americana : Amerika akan tetap memimpin dunia dengan pedoman hidup demokrasi dan kapitalismenya

3. The New Islamic Caliphate : Akan tegaknya sebuah kepemimpinan Islam mendunia yang meruntuhkan nilai-nilai dan dominasi barat

4. Cycle of Fear : Dunia berada didalam kekacauan dan ketakutan.

Jadi sebagai muslim, Kemenangan Islam di akhir zaman adalah suatu keniscayaan yang telah dijanjikan dan tak perlu diragukan, yg akan diminta laporan pertanggungjawaban adalah sejauh mana kontribusi kita sbg orang yang mengaku muslim utk memperjuangkannya, atau malah ikut menghambat dan memusuhinya ? So, are you the real Muslim ? Tak akan ada yang sia-sia dalam membela Islam, hanya ada dua kemungkinan, jika gugur ditengah jalan maka sejatinya kita akan tetap hidup di syurga dengan segala kenikmatannya atau kita berhasil memperoleh kemenangan dan mulia hidup di dunia dengan Islam.

Untuk itu saya berpesan untuk diri saya pribadi dan kaum muslimin lainnya, Berbanggalah wahai kaum muslimin dengan Islam yang ada di dada kita, jagalah aset mahal tersebut ditengah deru fitnah akhir zaman. Kenapa kita patut berbangga dengan jalan hidup Islam ? Karena Islam tidak seperti pedoman hidup lain (Demokrasi, nasionalime, komunisme, darwinisme dll) yang berasal dari buah pikiran manusia yang terbatas dan penuh kekurangan. Melainkan petunjuk hidup yang digariskan sang Pencipta manusia yang Maha Tahu. Layaknya pabrik elektronik yang menerbitkan buku pedoman pemakaian bagi produknya karena sudah barang tentu sang produsen lebih tahu keadaan produk ciptaannya. Genggamlah kuat-kuat meskipun dengan itu kita harus menjadi generasi terasing, karena kata Rasulullah Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana keadaan awalnya, maka beruntunglah orang terasing itu. Kita lahir dengan fitrah sebagai Islam, hidup dengan Islam, dan menghadapNya tetap dalam keadaan Islam. Itulah satu-satunya jalan keselamatan. Semoga kita selamat sampai tujuan dan Allah berkenan memberi kita kekuatan. Jika orang-orang berpaling dan memilih jalan hidup lain, maka katakanlah kepada mereka. ‘Isyhaduu bi anna Muslimuun” (Saksikanlah bahwa saya seorang yang berserah diri sebagai muslim).

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS.Ali ‘Imran:139)

Wallahua’lam 
 
===========
Oleh : M Yusron Mufid

17 August 2014

Perempuan dan Seekor Ayam

Diriwayatkan pada musim haji, Abdullah bin Mubarak memasuki kota Kuffah. Ketika ia hendak menunaikan ibadah haji, di tengah kota ia melihat seorang perempuan sedang membersihkan seekor ayam yang mati dari tumpukan sampah.

Kemudian Abdullah bertanya, “Apakah ayam yang kau bersihkan itu seekor bangkai ataukah ayam yang disembelih?”

“Ini bangkai dan akan kujadikan makan malam untuk keluargaku,” kata perempuan itu.

Abdullah kemudian mendekat dan berkata, “Sungguh Allah telah mengharamkan bangkai, Dan kalian hidup di Kuffah yang dikelilingi ulama. Apakah kalian akan memakannya?”

"Menyingkirlah dariku,” ucap perempuan itu sambil berlalu.

Abdullah mencoba mengejarnya dan mengingatkan akan keharaman bangkai.

Perempuan itu kemudian bercerita, “Aku memiliki beberapa anak, dan mereka sudah tiga hari tidak makan. Aku pun telah mencarinya, namun sia-sia.”

Kemudian, Abdullah bergegas menuju kudanya yang menjadi kendaraan sekaligus pengangkut bekalnya selama haji, la menuntun kuda tersebut yang di punggungnya penuh dengan makanan, pakaian, dan bekal lainnya.

Sesampainya di rumah tersebut, Abdullah mengetuk pintu dan keluarlah perempuan itu. Lalu Abdullah memukul kudanya hingga masuk ke dalam rumah perempuan tersebut.

Ia kemudian berkata kepada wanita tersebut, “Buanglah bangkai tadi, di atas kuda itu ada bahan- bahan makanan dan beberapa pakaian. Ambillah kuda itu serta semua yang ada di punggungnya. Semua itu untuk kalian.”

Setelah itu, Abdullah sadar bahwa musim haji hampir selesai dan ia tak mungkin mencapai Makkah dalam waktu yang tersisa itu. Ia kemudian memutuskan untuk bermukim di Kuffah dalam beberapa pekan menunggu rombongan haji kembali dari Makkah dan bermaksud menumpang mereka dalam perjalanan karena bekalnya habis diberikan kepada wanita tadi.

Ketika rombongan haji melewati Kuffah, Abdullah pun kembali ke kampung halamannya bersama mereka. Setibanya di rumah, Abdullah berkumpul dengan kawan-kawannya yang usai menunaikan ibadah haji, sedangkan para tetangga berdatangan meminta berkah dan tentu saja untuk berbagi pengalaman.

Kemudian Abdullah berkata kepada mereka, “Sungguh tahun ini aku menyesal karena tidak jadi pergi berhaji.”

Dengan penasaran salah satu dari kawannya yang menunaikan ibadah haji berkata, “Subhanallah, apa yang kau katakan? Bukankah engkau berhaji bersama kami? Apakah kau tidak ingat bahwa aku menitipkan bekalku kepadamu dan aku mengambilnya di Arafah?”

Kawan lainnya juga berkata, ‘Tidakkah engkau memberiku minum ketika di Makkah?”

Dan kawan yang satunya lagi juga berkata, “Tidakkah kau ingat ketika kita bersama-sama membeli oleh-oleh di pasar itu?”

Abdullah pun sejenak kebingungan dan berkata, “Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Yang kuingat tahun ini aku tidak pergi berhaji.”

Kemudian pada malam harinya, Abdullah tertidur dan bermimpi bertemu seorang yang berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, sesungguh¬nya Allah telah menerima sedekahmu dan Allah mengirimkan malaikat yang menjelma sebagai dirimu dan berhaji atas kamu.”

Hikmah: Tidak ada yang sia-sia dari kebaikan yang kita lakukan di dunia ini. Cerita Abdullah hanyalah sebuah pelajaran bagi pelaku kebajikan yang lain, bahwa semua kebaikan dibalas oleh Allah berlipat ganda. Hanya saja kebaikan itu tidak semuanya diperlihatkan kepada kita. Abdullah- lah orang yang beruntung telah menikmati hasil kebaikan di dunia ini.

===================================
 
Sumber: Buku Kutukan Seorang ibu, 30 Kisah Islami Sumber Kebijaksanaan Hidup, Penulis: Syarif Yahya

14 August 2014

Dunia Seperti Gelapnya Malam



Belum sempat Duha kami tegakkan seperti biasa. Baru beberapa siswa setor hafalan seperti biasa. Belum sempat tausiyah rutin disampaikan. Belum lagi kebiasaan saya ”menyentil” siswa yang enggan remedial. Belum sempat. Tiba-tiba lantai tiga sedikit bergoyang. Mungkin ada gempa. Semua berhamburan.

Gempa memang menakutkan. Terutama gempa berskala besar, getaran dan efek rusaknya membuat trauma. Banyak orang ”bangkrut” karena gempa. Kehilangan harta, anak dan isteri bahkan kehilangan nyawa karenanya.

Banyak yang kaya jadi miskin. Dahulu tidur di rumah besar, indah dan asri tetapi tiba-tiba harus berdesakan di tenda pengungsian. Pengap, panas, kotor dan tidak hygienis. Tak ada yang tersisa dari rumah idamannya. Rumah yang dibangun dari jerih payah dari rezeki yang disisihkan. Rumah yang sering dibanggakan ketika tamu bertandang. Dengan segala dekorasi hiasan, barang antik dan perabot yang dipasang berjejer. Dengan kolam renang yang menawan di sisi taman buatan yang menyejukkan mata memandang. Semuanya tak tersisa. Hancur. Sementara gubuk reyot tetangganya tetap kukuh berdiri. Seolah menunjukkan kegagahan pada si kaya bahwa ia masih mampu berdiri dan masih sanggup melindungi penghuninya dari terik dan curah hujan yang mengguyur bumi. Itulah gambaran dunia yang sesungguhnya. Gempa hanya satu instrumen bahwa dunia ini kapan saja bisa lenyap sebab kefanaannya.

Getaran gempa bisa menjadi sumber belajar yang dapat mengantarkan kepada kuasa Allah. Fenomena getar alam itu juga bisa didisain untuk mengikis berbagai citra diri yang negatif semisal takabbur, ujub, riya, sum’ah, tamak, kikir, ananiyah dan sebagainya menuju kesadaran baru. Kesadaran yang insyaf bahwa manusia amatlah kecil berhadapan dengan kekuasaan Sang Pencipta. Semestinya juga, getaran gempa semakin menyadarkan manusia bahwa skenario akhir zaman dan kehancuran dunia menambah bobot iman akan kepastian kiamat. Menjadilah ia dermawan, ikhlas, syukur, qona’ah, suka dengan taubat dan tawadhu di hadapan Allah dan sesama.

Masya Allah, entah sudah berapa ribu kali getaran gempa menyapa hidup kita. Dari yang berskala kecil yang nyaris tidak kita sadari sampai pada skala yang mampu mengangkat pondasi gedung bertingkat dan merobohkannya layaknya rumah kardus. Tetapi, apakah setiap manusia mau secara ikhlas mengambil pelajaran dari peristiwa itu? Tidak. Nyatanya hanya orang yang memiliki kehalusan akhlak, kemurnian tauhid dan ketundukkan pada aturan Allah saja yang menjadikannya sebagai sinyal agar menjadi lebih ahsan dari hari kemarin, hari ini dan esok harinya.

Nyatanya, tidak sedikit manusia yang tetap takabbur walau ribuan kali gempa terjadi. Mereka masih senang membabat hutan tanpa peduli menanam generasi pohon sesudahnya. Masih ada manusia yang membuang limbah di aliran sungai hingga kejernihannya dirampas tak tersisa walau hanya sekedar untuk mencuci sandal jepit. Begitu juga yang dialami eksosistem dan biota laut. Terumbu karang dirusak, hutan bakau dipangkas, pasir laut dikeruk dan entah apalagi kezaliman yang dilakukan manusia demi memenuhi ambisi perutnya.

Sikap takabbur juga masih ditunjukkan manusia tertentu dalam bentuk yang lebih lunak tetapi daya rusaknya tidak kalah dahsyat. Belakangan begitu banyak idiologi diumbar yang secara terang-terangan mengajak orang durhaka kepada Allah dengan dalih kebebasan, HAM, kesetaraan dan berbagai jargon yang menyilaukan. Bagaimana tidak diartikan sebagai kedurhakaan apabila kebebasan didefiniskan sebagai bebas menjadi Nabi sesudah Rasulullah, menganggap halal pernikahan sejenis atau bahwa seorang muslim taat akan berdampingan dengan Thomas Alfa Edison di surga kelak?

Begitu banyak orang durhaka menjadi soleh dengan merasakan getaran kekuasaan Allah dalam peristiwa gempa. Kikirnya menjadi dermawan. Congkaknya berubah ramah. Maksiatnya macet dan ibadahnya lancar. Kecut masam wajahnya berangsur hilang berganti senyum keramahan. Punuk yang terbuka telah dibalut hijab. Masya Allah … itulah mereka yang masih memiliki sedikit sisa kehalusan akhlak, kemurnian tauhid dan ketundukkan pada aturan Allah. Gempa segera mengembalikannya kepada kesadaran ilahiyah yang tertimbun hiruk pikuk kilau duniawi.

Gempa memang menakutkan. Tetapi juga tidak sedikit manusia lemah yang semakin congkak, seperti para penjaja idiologi yang sering ditempatkan sebagai pahlawan bagi ”peradaban” dan faham agama yang disebut lebih sesuai zaman. Seperti para akrobat di meja peradilan di mana hukum dipermainkan. Seperti para pengedar narkoba yang merusak mental generasi bangsa. Seperti …. seperti …. seperti … entah seperti apa lagi.

Betapa rapuhnya dunia ini dan betapa lemah kita di hadapan Allah. Secara fisik, manusia memang ahsanu taqwim, tetapi kadang tidak berdaya berhadapan dengan serangan virus yang tubuhnya saja tidak dapat dilihat mata telanjang. Tiba-tiba saja manusia merasakan pedih hanya karena ada debu halus melekat di dinding bola matanya. Dalam kenikmatan makan, kadang manusia amat bergantung kepada air hanya untuk mendorong masuk makanan di tenggorokan atau tersedak aroma lezatnya hidangan. Manusia begitu lemah sehingga tidak sadar seekor lalat pun telah berhasil mencuri makanannya. Bahkan tidak sedikit nyawa melayang di atas kendaraan hanya karena manusia tidak kuasa melawan rasa kantuk yang membawanya ke liang kubur. Mengapakah rasa angkuh masih bersemayam?

Getaran bumi dalam peristiwa gempa semestinya menggetarkan kesadaran ilahiyah atas tanda-tanda kekuasaan al-Mutakabbir. Bahwa kapan saja Allah bisa merenggut segala milik manusia sesuai kefanaan sifatnya. ”Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.” Demikian pesan Allah dalam QS. Yunus [10] : 24).

Dunia seperti gelapnya malam yang sukar ditebak. Berjalan di gelapnya malam tanpa cahaya sama saja berjudi dengan nasib. Mencintainya berlebihan seperti meminum air laut di tengah dahaga. Semakin diminum semakin dahaga. Sementara iman seperti obor di tengah kegelapan malam. Dengannya manusia mantap melangkah dan berpijak. Manusia beriman tahu mana yang harus di pijak dan mana yang harus lingkahi dengan imannya. Dan bagi manusia beriman, getaran gempa seperti sinyal bahwa ia harus lebih merapat kepada kemurahan dan perlindungan Rabbul ’aalamiin. Allahu a’lam.

Ciputat abdul_mutaqin@yahoo.com

13 August 2014

Janganlah Menjual Agama Demi Harta



Diceritakan, pada jaman Nabi Musa as, ada seseorang yang bercerita pada orang-orang. Katanya, "Nabi Musa kalimullah, najiyullah, shafiyullah, telah berkata padaku...". Berlalulah kejadian mengenai orang itu dalam masa yang lama, sementara Nabi Musa as tidak mengetahuinya.

Hingga pada suatu hari, datanglah seseorang menghadap Nabi Musa as sambil menuntun seekor babi dengan tali berwarna hitam, lalu berkata, "Wahai, Nabi Allah Apakah engkau mengenal si fulan?".


"Aku pernah mendengar namanya," jawab Nabi Musa.

"Inilah dia!" lanjut orang tadi, sambil menunjuk pada babi yang di bawanya.


Lalu Nabi berdoa kepada Allah Swt agar mengembalikan wujud orang tadi seperti semula, agar ia bisa ditanya mengapa Allah menjadikannya demikian.

Lalu Allah berfirman, "Wahai, Musa! Andaikan engkau berdoa seperti Adam dan yang selainnya, niscaya Aku tidak akan mengabulkannya. Akan tetapi, Aku akan memberitahumu mengapa ia berubah menjadi seekor babi, karena sesungguhnya ia mencari harta dengan menjual agama".



Sumber : buku Janganlah Bersedih! 150 cerita hikmah penyejuk hati, Penulis : Mohammad A. Syuropati

09 August 2014

Believe it or Not? Ternyata Pelaku ‘Ini’ adalah Penyumbang Israel !

Sebuah fakta yang sangat mencengangkan saat kami mencoba menghitung kerugian yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok. Ternyata, kerugian merokok bukan hanya terkait masalah kesehatan, akan tetapi mencakup ekonomi, politik, agama dan seterusnya.

Ceritanya bermula saat mengisi program spiritual training “Life Management” di salah satu ibu kota propinsi di Sumatera yang diikuti sekitar 200 peserta beberapa waktu lalu. Setelah acara pembukaan selesai dan acara training dimulai, tiba-tiba kami dikagetkan dengan suasana ruang yang full AC itu berubah menjadi panas dan sumpek. Penyebabnya tak lain adalah asap rokok yang menyembur dari mulut para peserta. Kami coba perhatikan setiap wajah peserta. Ternyata tak kurang dari 70% peserta asyik merokok, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Coba bayangkan berapa jumlah asap rokok yang diproduksi saat itu di dalam ruang tertutup full AC itu?

Setelah menyampaikan mukaddimah (pengantar) training yang akan memakan waktu dua hari dua malam tersebut, sejenak kami berhenti dan berfikir bagaimana cara menyetop mereka yang sedang menikmati nikotin yang sangat berbahaya itu. Bahayanya bukan hanya bagi kesehatan para pelakunya, akan tetapi, bagi para perokok pasif (yang tidak ikut merokok dan mencium asap rokok yang keluar dari rongga para perokok) akan lebih berbahaya lagi. Begitulah hasil penelitian para ahli kesehatan masa kini.

Awalnya kami merasa agak sulit menyetop mereka merokok, khususnya dalam ruang acara training, karena team training kami lupa mencantumpkan tidak boleh merokok dalam tatib acara selama training berlangsung.

Setelah merenung sejenak, timbul ide untuk mencari tips efektif untuk menyetop mereka merokok. Akhirnya terfikir untuk mengangkat dan memaparkan fakta negatif para perokok yang mungkin saja mereka belum mengetahui dan menyadarinya. Kami teringat pada email seorang sahabat terkait dengan fakta negatif bagi para perokok. Fakta tersebut bukan terkait dengan masalah kesehatan, akan tetapi terkait dengan ekses negetaif ekonomi dan politik yang ditimbulkan oleh prilaku buruk merokok. Karena mereka mayoritasnya para pegiat politik, kami yakin mereka akan antusias mendengarkan apa yang akan kami sampaikan.

Sebelum menyampaikan fakta-fakta tersebut kami memulainya dengan ungkapan, “Para hadirin yang dimuliakan Allah. Sebelum kita mulai acara spiritual training ini, ada masalah politik besar yang terjadi dalam ruangan ini yang akan menghambat acara ini, dan kemungkinan besar bisa gagal.” Mendengar ungkapan itu, mereka terlihat mulai serius dan menujukan pandangannya pada kami. Lalu, kami lanjutkan, “Masalah tersebut adalah ROKOK”. Hadirinpun terdiam. Lalu kami lanjutkan lagi, “Kalau masalah ini tidak bisa kita selesaikan, kami usulkan salah satu dari dua pilihan, kendati keduanya pahit; yaitu para peserta training yang ingin merokok silahkan di luar ruang ini. Atau, kalau para peserta tetap ingin merokok dalam ruang ini, kami akan keluar dari ruang ini, nanti setelah tidak ada lagi yang merokok baru kami masuk lagi ke ruang ini. Kalau ada yang merokok, kami akan keluar lagi, kendati yang merokok hanya satu orang.


Namun, sebelum pilhan itu kita ambil, berikan kami waktu sejenak untuk menyampaikan beberapa fakta berikut terkait dengan bapak-bapak yang yang suka merokok. Adapun fakta-fakta yang dimaksudkan ialah :
  • Total penduduk dunia 6.5 Milyar.
  • Total Muslim dunia 1.3 Milyar.
  • Total perokok di dunia 1.15 Milyar.
  • Total Muslim yang merokok tidak kurang dari : 400 juta orang dan 140 juta orang adalah kaum Muslimin di Indonesia.
  • Produser rokok terbesar di dunia adalah Phillip Morris.
  • Donasi Phillip Morris kepada Israel adalah 12% dari profit yang mereka raih.
  • Kalau kaum Muslimin yang merokok menghabiskan satu bungkus/hari, berarti mereka membakar 400 juta bungkus rokok/hari.
  • Kalau harga rokok rata-rata $ 1.00/bungkus, berarti konsumsi mereka untuk rokok $ 400 juta/hari
  • Kalau 50% kaum Muslimin yang merokok membeli produk Philip Morris, berarti mereka menghisap 200 juta bungkus rokok produk Philip Morris/hari.
  • Total dana kaum Muslim yang masuk ke Morris sekitar $200 juta/hari
  • Rata-rata keuntungan rokok produk Philip Morris : 10% /bungkus
  • Berarti profit Philip Morris dari belanja rokok kaum Muslimin $ 20 juta/hari
  • Dengan demikian, kamu Muslim yang merokok menyumbang ke Israel $ 2.4 juta/hari dan $ 28.8 juta/tahun atau $ 288 juta/10 tahun

Ini fakta terkait dengan sumbangan para hadirin dan kaum Muslilimin lain di dunia kepada negera Yahudi. Bayangkan, mereka membakar uang sebanyak $ 400 juta/hari, sambil merusak diri sendiri (kesehatan sendiri) serta menyumbang pula ke Israel. Padahal menurut para Mujahidin Palestina, untuk memerdekakan Palestina dan Masjid Aqsha dari penjajahan bangsa yahudi diperlukan dana $ 500 juta/tahun. Sedangkan Anda habiskan untuk belanja rokok saja $ 400 juta/hari, atau sekitar $ 4.8 Milyar / tahun? Apakah ini perbuatan yang bisa diterima akal sehat? Apakah perbuatan ini tidak akan memancing murka Allah?

Dana yang Anda habiskan untuk merokok akan lebih baik digunakan kepada hal-hal yang bermanfaat lainnya; di antaranya tabungan untuk menunaikan ibadah haji misalnya. Jika Anda menabung setiap hari senilai satu bungkus rokok, atau sekitar Rp 10,000 maka uang Anda akan terkumpul sebanyak Rp 300.000/bulan, atau sekitar Rp 3.6 juta pertahun. Dalam sepuluh tahun Anda akan mampu menunaikan ibadah Haji yang biayanya tahun ini hanya sekitar Rp 30 juta.

Kalau Anda merokok selam 30 tahun, berarti Anda mampu berangkat haji dan dengan dua orang anggota keluarga yang lain. Lalu Anda katakan, saya belum bisa menunaikan ibadah haji karena Allah belum memberi Anda rezki yang cukup. Faktanya adalah, Anda dengan sengaja membakar setiap hari sebagian rezki yang Allah berikan itu dan digunakan untuk merusak diri sendiri, orang-orang lain di sekitar Anda. Dan lebih miris lagi, secara tidak sadar Anda menyumbang kepada Israel yang sedang mencaplok tempat suci Anda sendiri dan setiap hari membunuh saudar-saudara Anda di Palestina? Believe it or Not? Anda percaya atau tidak? Mereka serempak menjawab, “Percaya!”

Setelah mendengarkan fakta-fakat tersebut, Alhamdulillah, para peserta sepakat untuk tidak merokok di dalam ruang training dan bahkan sebagian besarnya berjanji untuk meninggalkan rokok secara bertahap. Akhirnya training dapat berjalan dengan baik tanpa gangguan asap rokok para peserta sampai training selesai.

Pada acara penutupan training, tiba-tiba kami dikagetkan dengan lima orang peserta sebagai utusan para peserta training yang maju kedepan untuk menyampaikan pesan dan kesan selama mengikuti acara training. Yang menarik adalah, mereka bukan menyampaikan kritik, saran atau kesan. Melainkan membacakan sumpah dan komitmen untuk berhenti merokok selama-lamanya. Inilah hasil spiritual training yang nyata, kata mereka. Mereka mengaku, selama ini merokok karena belum mengetahui begitu besar mudarat yang ditimbulkan kebiasaan merokok, sambil mengatakan, “Sekarang saatnya kita bangun spiritual kita bebas dari rokok dan berhenti merokok adalah pintu masuk dunia spiritual yang lebih dalam dan lebih kongkrit”, ungkap mereka. Lalu, mereka meneriakkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Kamipun berucap dalam hati sambil terharu; Selamat berhenti merokok bapak-bapak. Semoga senantiasa mendapat ridha-Nya. Amin.

05 August 2014

Perbedaan Perilaku Antara Sukses Dan Gagal

Yang membedakan antara orang yang sukses dan orang yang gagal biasanya adalah tingkat kemauan. Orang sukses selalu berkemauan kuat dan rela berkorban, sedangkan orang gagal memiliki kemauan yang lembek dan mudah kalah dengan situasi yang ada.

Mengapa di sekeliling kita ada orang yang sukses dan gagal ? Jawaban yang paling utama adalah karena mereka berbeda sikap mental ketika menjalankannya. Orang yang sukses biasanya memiliki kemauan yang kuat untuk meraih kesuksesan. Sedangkan orang yang gagal biasanya melakukan tugas dengan asal-asalan, tanpa dibarengi kemauan yang kuat, ,kurang persiapan dan mudah menyerah. Kemudian, kenapa orang yang memiliki kemauan yang kuat bisa sukses? Alasannya adalah:

Pertama, ia dapat memaksimalkan pikiran dan kosentrasinya, sehingga dalam melakukannya betul-betul totalitas dan fokus. Bila ia sudah memiliki tingkat konsentrasi penuh maka semua potensi yang dimilikinya akan keluar secara optimal.

Kedua, selalu berusaha energik dan antusias, sehingga setiap detiknya dipergunakan untuk meraih kesuksesan yang diidam-idamkan, la mempunyai prinsip " sedetik saja berlalu tanpa makna maka sejuta kesempatan meraih sukses akan hilang".

Ketiga, seiring dengan tekad yang dahsyat, ia akan terus berusaha menggali ilmu dan pengalaman yang akan mempercepat meraih kesuksesan. Dengan ilmu semua akan menjadi semakin mudah. Dan,

Keempat, bila kemauan yang kuat sudah mendarah daging maka lahirlah motivasi tinggi untuk terus berusaha semaksimal mungkin. Walaupun semangat sedang menurun, ia akan mudah bangkit kembali.