Showing posts with label akhirat. Show all posts
Showing posts with label akhirat. Show all posts

17 May 2015

Menjemput atau Dijemput Maut

Seringkali saya melihat sebuah peristiwa di jalan raya yang sangat memilukan. Sebuah peristiwa kecelakaan lalu-lintas. Biasanya antara sebuah sepeda motor dan sebuah mobil. Baik mobil angkutan umum maupun kendaraan berat lainnya.
Peristiwa yang sering terjadi ini, karena si pengendara motor yang mengejar waktu, agar tidak terlambat ke tempat tujuannya. Atau juga sopir angkot yang tergesa-gesa langsung meminggirkan kendaraan di sebabkan adanya penumpang yang tiba-tiba minta di turunkan secara mendadak. Hingga kendaraan yang dari arah belakang mobil, harus berhenti atau mendadak mencari celah agar tidak menabrak angkot di depannya.

Jika kecelakaan itu mengakibatkan manusia kehilangan nyawanya, maka bisa dikatakan ada dua kesimpulan yang bisa diberikan pada si mayat. Bila dia mengendarai kendaraannya karena sifat ketergesaan dan tidak mematuhi peraturan lalu-lintas, maka tentu saya bisa memberikan kesimpulan bahwa dialah yang menjemput maut. Karena dia lalai untuk berjalan sesuai prosedur berlalu-lintas.

Lain lagi bila si korban adalah orang yang bersikap sebaliknya. Dia berusaha untuk patuh berlalu-lintas di jalan raya dan bersikap hati-hati dalam mengendarai kendaraannya. Maka kesimpulan yang bisa di berikan : dia di jemput oleh maut.
Menjemput dan di jemput maut, memang sama-sama berakhir pada hilangnya nyawa seseorang. Tapi perlu di waspadai, bila kitalah yang mendatangi maut, maka bisa saja itu berkonotasi bunuh diri.( terkecuali bila kita datang menjemput maut untuk meraih syahid di jalan Allah, ).
Seperti seseorang yang suka memakan sesuatu yang tidak boleh dimakannya, karena alasan penyakitnya. Penyakit seperti tekanan darah tinggi, yang harus memerhatikan kadar garam yang di konsumsinya, misalnya Ataupun seorang perokok yang tahu bahwa asap rokok membahayakan jiwanya sendiri dan orang di lingkungannya.

Hal-hal kecil yang nampak sepele untuk kita abaikan, mungkin akan berakibat fatal akan kesehatan kita. Memang sih urusan maut, Allah Swt. yang mempunyai wewenang. Tapi, kita sebagai manusia yang diciptakan dengan akal yang baik, tentu saja harus tahu apa yang boleh dilakukan untuk menjaga kesehatan.

Ada sebuah kisah yang menyedihkan. Seorang karyawan sebuah perusahaan yang bertugas sebagai sopir kendaraan mengangkut karyawan pagi dan sore hari. Pada suatu pagi ( mungkin masih jam enam ), dia memarkir mobilnya di sebuah pinggir jalan raya. Penempatan mobilnya sesuai aturan. Hingga ada seorang anak muda dari arah yang berlawan arah dengan arah mobil yang di parkir. Anak muda ini mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Apa yang terjadi? Dia menabrak mobil yang sedang diam tersebut, yang akhirnya membuat pengendara motor tersebut meninggal dunia, dan orang yang diboncengnya luka parah.

Bagaimana komentar orang? Mereka menyesalkan sikap anak muda tersebut. Terlihat baru pulang dari begadang. Ternyata motor yang dikendarainya pun adalah pinjaman. Tapi naas bagi sopir mobil tersebut. Dia tetap harus masuk penjara untuk beberapa bulan. Saya juga tidak tahu persis bagaimana proses hukumnya. Tapi yang jelas anak muda yang telah lalai menaati peraturan lalu lintas itu, selain menjemput mautnya sendiri ternyata membuat orang lain juga menderita.

Oleh karena menjemput dan di jemput maut adalah sama pada akhirnya, ternyata berbeda pada prosesnya. Yah sebuah proses yang terjadi tergantung pada manusianya. Apakah memang dia selalu berhati-hati, ataukah memang dia sendiri lalai..

Semoga tulisan ini dapat membuat kita dapat lebih berhati-hati dalam bersikap, terutama dalam hal mengendarai kendaraan. Karena yang kita inginkan adalah maut sendiri yang menjemput kita tentunya.

=======================
Ambe.mardiah@gmail.com

09 April 2015

Orang Cerdas Banyak Mengingat Kematian

Selesai sholat sunah ba’diyah Isya’ di Masjidil Haram, seperti biasa aku tidak langsung meninggalkan Masjid. Aku sengaja menghindari berdesak-desakan dengan jama’ah sholat yang keluar dari Masjid. Kerumunan orang yang ke luar bersamaan dari Masjid, berjalan merayap, mirip kemacetan kendaraan bermotor di ibukota.

Pada saat bersamaan ratusan jama’ah memasuki Masjidil Haram berpakaian ihram. Ketika itu, satu minggu menjelang pelaksanaan ibadah haji, tanggal 2 Dzulhijjah 1428 H. Jama’ah yang datang memasuki Masjid akan melaksanakan Umrah fardlu sekaligus Thawaf Qudum, karena baru saja datang di Baitullah.

Waktu antara Isya’ dan Subuh cukup panjang, sehingga mereka bisa melakukan Thawaf dan Sa’i Umrah tanpa terpotong oleh pelaksanaan sholat fardlu berjama’ah. Ketika sholat berlangsung, sekeliling Ka’bah yang merupakan area Thawaf dan antara bukit Shafa dan Marwah yang merupakan area Sa’i menjadi tempat sholat. Saat itu orang yang berthawaf dan bersa’i sangat padat. Thawaf dan Sa’i Umrah paling cepat diselesaikan selama dua setengah jam. Jika dilaksanakan antara Maghrib dan Isya’, dapat dipastikan akan terpotong oleh waktu sholat Isya’, dan harus dilanjutkan setelah sholat Isya’. Waktu Umrah yang sering dipilih adalah antara Subuh dan Dhuhur. Waktu cukup panjang, sehingga thawaf dan sa’i tidak terpotong pelaksanaan sholat fardlu berjama’ah.

Ketika kerumunan orang mulai berkurang, aku segera berdiri untuk meninggalkan Masjidil Haram. Seperti biasa, sehabis sholat Isya’, acara tetapku adalah makan malam. Aku keluar melalui Gate 1, King Abdul Aziz Gate yang berhadapan langsung dengan pintu masuk gedung tertinggi di sekeliling Masjidil Haram. Gedung yang menjulang tinggi tersebut terdiri dari pusat perbelanjaan dan perhotelan. Di lantai tiga dan lantai empat terdapat food court yang laris diserbu jama’ah setelah pelaksanaan sholat. Malam itu aku berencana makan ayam goreng cepat saji di food court.

Sejenak pandanganku tertuju pada kerumunan orang di halaman Masjid, di depan Locker Room. “ Innaa lillahi wa innaa ilayhi rooji’uun, ” kuucapkan lirih. Ternyata, persis di seberang pintu Locker Room, terbujur kaku jenazah di atas lantai bertutupkan kain ihram. Petugas keamanan Masjid menghalau orang-orang agar tidak berkerumun di sekitar jenazah. Sesekali petugas tadi berbicara melalui radio komunikasi dalam genggamannya. Orang yang wafat tersebut belum berhaji karena waktu haji masih seminggu lagi. Semoga Allah SWT memberikan pahala haji baginya atas niat haji yang telah tertanam dalam hatinya.

Setiap selesai sholat fardlu berjama’ah, hampir dipastikan imam Masjidil Haram dan imam Masjid Nabawi akan memberi aba-aba akan dilakukan sholat jenazah. Jama’ah tolong-menolong dalam menggotong keranda berisi jenazah dari mobil jenazah untuk disholatkan di dalam Masjid. Kemudian digotong lagi menuju mobil jenazah yang parkir di pinggir jalan agak jauh dari Masjid. Penggotong jenazah harus bisa bisa menerobos lautan manusia yang berjejal di halaman Masjid hingga tempat parkir mobil jennazah. Pernah kuhitung ada sembilan jenazah digotong beriringan menuju mobil jenazah dari dalam Masjid, usai sholat Dhuhur.

Adanya sholat jenazah usai sholat fardlu merupakan peringatan dari Allah SWT, agar para jama’ah haji selalu mengingat kematian. Dalam kehidupan, kecerdasan seseorang tidak hanya dinilai dari tingkat keahlian atau kepandaian yang diperolehnya. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: “Kami bersepuluh datang kepada Rasulullah SAW, ketika seorang Anshar berdiri dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?’ Maka Rasulullah SAW menjawab: ‘Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling banyak mempersiapkan kematian. Merekalah orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat. ” (HR Ibnu Majah). Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Hasyr [59]: 18).
 
===================
Sigit Indriyono

19 March 2015

Mau Surga? Inilah Harga Sebuah Surga…

Rasulullah SAW bersabda :
“Jaminlah bagiku enam hal, niscaya aku jamin surge bagi kalian; jujurlah dalam berbicara, tepatilah apabila berjanji, tunaikanlah amanah yang diberikan kepadamu, jagalah kemaluanmu, tahanlah pandanganmu, dan tahanlah tanganmu dari berbuat dosa  (HR Ahmad, Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Hibban )
Akidah yang sahih dan selamat tidak berguna sampai ia tampak pengaruhnya dalam akhlak diri, tindakan anggota tubuh. Kalau tidak begitu, ia hanyalah lafadz yang kosng tanpa nilai. Seorang mukmin adalah orang yang dipercaya dengan pribadinya, beriman kepada Tuhannya, mengharap balasan yang baik dariNya. Inilah harga surge yang telah dijelaskan Rasulullah.
Enam sifat , apabila diterapkan dalam perilaku dan menampakkan pengaruh dalam perbuatannya di atas adalah bukti kebenaran imannya, keshahihan akidahnya, kesempurnaan kepribadiannya, semua ini menjadikannya berhak mendapatkan surga.
  • Menjadi orang jujur. Ia tidak berdusta dalam perkataannya, tidak dengan isyarat maupun penipuan, meskipun terdapat sarana yang dapat membawanya melakukan hal itu. Allah SWT berfirman :
“Hai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama sama orang orang yang benar.” (QS Attaubah 119)
Rasullullah SAW ditanya , “Mungkinkah seorang mukmin berdusta?” beliau menjawab, “Tidak” lalu beliau membaca Ayat Al Quran :
“Sesungguhnya yang mengada akan kebohongan, hanyalah orang orang yang tidak beriman kepada ayat ayat Allah, dan mereka itulah orang orang pendusta.” (QS An Nahl 105)
  • Menepati Janji. Apabila ia berkata, “Ya”, maka ia pasti melakukannya. Apabila ia memutuskan perjanjian, ia akan mewujudkannya. Kesempurnaan kepribadian terlihat disini.
“Diantara orang orang mukmin itu ada orang orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka mereka ada yang menunggu nunggu dan mereka tidak mengubah janjinya” (QS Al Ahzab 23)
Kita membaca dalam cerita jahiliyyah tentang orang yang menepati perkataannya. Ia kembali menuju tempat pembunuhan, setelah itu terucap darinya agar ia tidak dituduh melarikan diri.
  • Menunaikan amanat yang dibebankan. Orang dapat dipercaya bila ia amanah dan menepatinya, Seorang mukmin tidak akan menjadi penghianat apapun kondisinya.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS Annisa 58)
“Apabila amanah telah diabaikan, maka tunggulah kehancurannya (HR Bukhari)
Dalam hadis lainnya, disebutkan, “Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak menunaikan amanah.”
  •  Termasuk perbuatan khianat adalah mengurangi timbangan dan takaran, mengambil tenunan tanpa izin pemiliknya, memberikan kepada orang lain apa yang bukan miliknya untuk menarik manfaat untuk dirinya.” Yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas pula “. ((Muttafaq Alaih)
  • Menjaga kemaluan dan menahan pandangan termasuk akhlak orang orang beriman. Mereka sibuk dengan pengawasan Allah daripada melakukan perbuatan sia sia, tenggelam dalam syahwat atau menggunakan waktu dengan perbuatan tiada manfaat.
  • Mukmin menjaga tangannya agar tidak melakukan perbuatan yang menyakiti makhluk. Ia tidak melakukan kekerasan pada seorang pun, tidak menzalimi, tidak menerima kezaliman. Allahu SWT berfirman :
“ Dan orang orang yang menyakiti orang orang mukmin dan mukminat  tanpa kesalahan  yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata (QS Al Ahzab 58)
Orang yang dapat menjamin dirinya melakukan enam perkara mulia ini, niscaya Rasulullah SAW menjamin baginya surge yang lebarnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang yang bertakwa.

=======================
 – Hasan Al Banna-

04 March 2015

Tabungan Kebaikan

 
Pernahkah anda berfikir untuk menabung demi kebaikan?. Seperti layaknya kebanyakan kita berlomba-lomba untuk menabung mengumpulkan kekayaan dengan mengikuti berbagai macam jenis investasi mulai dari tabungan tahapan berencana, ikut deposito, reksadana, jamsostek dan lain sebagainya. Kita pasti akan mencari jenis investasi apa yang memberi keuntungan terbesar dalam rangka menambah kekayaaan kita. Bisa saja dengan membuka Deposito di bank-bank tertentu yang menjanjikan suku bunga lebih tinggi atau bisa juga dengan mengumpulkan coin emas untuk dijadikan simpanan, bilamana suatu saat nanti harga emas naik, bisa dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

Dari segelintiran kegiatan yang kita lakukan tersebut di atas merupakan wujud usaha dalam menambah kekayaaan kita di dunia. Tapi apakah kita pernah berfikir memperlakukan akhirat kita dengan hal yang sama?. Kita mencari-cari investasi terbesar apa yang bisa kita lakukan agar investasi akhirat kita lebih banyak. Sudahkah kita memanfaatkan momen-momen tertentu untuk membuat tabungan kebaikan kita yang kelak akan di buka di akhirat nanti?.

Tabungan yang mampu menyelamat kan kita dari siksa api neraka.
Saya teringat pembicaraan seorang teman yang mengatakan ” Udah Ukhti, terima aja, itung-itung saya ingin menabung untuk kebaikan, lagian anti tidak perlu berterima kasih kok. Semua itu ana lakukan untuk ana pribadi, akan tetapi mungkin caranya lewat anti, ana memberikan tabungan kebaikan ini”. Katanya ketika memberikan bantuan kepada saya. Subahanallah, saya jadi berfikir masih ada orang seperti ini di dunia. Orang yang memberikan kebaikan tanpa memikirkan imbalan dari manusia, justru ia berharap cukup ridho Allah yang menjadi tujuan akhir hidupnya.

Setelah itu saya merenungi kata-katanya. Apa yang dia ucapkan tersebut memberi kesan yang menyentuh hati saya. Biasanya kita berbuat baik selalu dengan iming –iming balasan dari manusia. Contoh kecilnya saja, ketika kita memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan sempat terbersit sifat ria dan ingin di sanjung oleh orang lain. Lalu suatu waktu kita pernah bersilaturahmi ke rumah teman, intensitasnya sering. Tiba-tiba ada rasa bosan dalam diri kita untuk tidak berkunjung lagi ke rumah sahabat atau kerabat kita karena sahabat atau kerabat kita tersebut tidak membalas kunjungan kita.

Menghitung – hitung amal kebaikan sebetulnya belumlah cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan Allah SWT kepada kita. Terkadang kita suka pilih kasih dalam memberi sesuatu kepada orang lain, suka membeda-bedakan orang dalam bergaul, tidak mau berkumpul dengan fakir miskin yang mengundang kita dalam acara kecilnya karena merasa gengsi dan lebih baik dari mereka. Bicarapun kita pilih orang-orang yang fisiknya lebih sempurna atau lihat cantik atau gantengnya. Masya Allah, betapa naifnya kita yang masih kikir dalam menabung untuk amal kebaikan kita sendiri.

Bahkan hal terkecil sekalipun dalam memberikan salam kepada sesama saudara sesama muslimpun masih memilih-milih kerabat dekat atau tidak, kenal atau tidak, kaya atau miskin, cantik atau jelek, tampan atau tidak, pendek atau tinggi, hitam atau putih. Ukuran-ukuran dunia masih menjadi pertimbangan kita dalam berbuat kebaikan. Padahal Allah, Zat yang Maha Sempurna saja tidak pernah membedakan makhluk yang Dia ciptakan kecuali hanya orang-orang yang bertaqwa saja. Jadi buat apa kita membatasi tabungan kebaikan kita dengan hal-hal dunia yang menghambat jumlah tabungan kebaikan kita tersebut.

Semakin banyak investasi kebaikan kita, maka semakin banyaklah amal yang kita bawa nantinya di akhirat kelak. Tabungan kebaikan kita dapat kita lakukan tanpa batas. Semampu kita, sekuat tenaga kita untuk mengisinya. Bukankah Allah sudah menjelaskannya dalam Qs:.99 ( Az-Zilzal) ayat 7 yang artinya:

” Barang siapa yang berbuat kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan menerima balasannya”.

Zarrah adalah biji yang tidak kelihatan menjadi perumpamaan oleh Allah SWT merupakan bentuk penghargaan yang diberikan kepada manusia sekecil apapun amal perbuatannya. Semua mendapat balasan dari Allah SWT.

Lalu Allah memberikan teguran lagi untuk kita dalam suratnya QS: 101 (Al-Qori’ah), :ayat 6-7 yang artinya:

” Maka adapun orang yang berat timbangan kebaikannya,(6) Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (Senang) (7).

Dua surat yang tertera di atas merupakan janji Allah. Janji yang pasti bagi yang melakukan kebaikan-kebaikan. Sebesar apapun kita menabung kebaikan kita, maka Allah akan membalasnya kelak di akhirat nanti dengan kesenangan.

Allah pun menjelaskan dalam surat lainnya bahwa barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka kebaikan itu adalah untuk dirinya sendiri dan begitu pula sebaliknya.

Jadi masihkah kita menghitung-hitung apa yang sudah kita keluarkan untuk kebaikan. Bukankah semakin banyak jumlah tabungan kebaikan kita, maka akan semakin banyak pula timbangan yang kita perolehdi akhirat kelak? 
Wallahuallam bissowab.
 
======================
Elvira Suryani - eramuslim.com

19 February 2015

Mengingat Kematian, Ringankan Kesulitan Hidup

Cukuplah kematian sebagai pelembut hati, pengucur air mata, pemisah dengan keluarga dan sahabat, pemutus angan-angan”

Mengingat kematian, mendampingi orang yang menghadapi sakratul maut, mengantar jenazah, mengingat gelap dan beratnya siksa kuburan niscaya akan membangunkan jiwa kita dari tidurnya, menyadari kelalaiannya, membangkitkan semangatnya, menggelorakan nilai perjuangannya dan mengembalikannya segera kepada Allah.

Allah berfirman: “setiap jiwa pasti akan merasakan kematian”

AL Hasan berkata: “kematian telah menelanjangi dunia sehingga tidak menyisakan kegembiraan bagi orang yang berakal”

Orang yang banyak mengingat kematian akan ringan baginya semua kesulitan hidup.

Orang yang banyak mengingat kematian akan dimuliakan dengan tiga hal: segera bertaubat, ketenangan hati dan semangat ibadah.

Suatu hari Ibnu Muthi’ melihat rumahnya, dia terkesima dengan keindahannya lalu dia menangis seraya berkata: “kalau tidak karena kematian niscaya aku akan gembira denganmu”.

Ibnu Munkadir berkata tentang seseorang yang sering ziarah kubur: “Orang ini menggerakkan hatinya dengan mengingat kematian”

Oleh karenanya Rasulullah selalu mengajak para sahabat untuk memperbanyak mengingat kematian, dengan mengingat mati akan melapangkan dada, menambah ketinggian frekwensi ibadah

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu HIbban dan dishahihkan oleh Al Bani di dalam kitab Shahih Al Jami’)

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang ke-sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri)
 
==================
Oleh Ustdaz Didik Hariyanto 

04 January 2015

Mensikapi Hari Hari-mu

Jika hari yang baru menghampirimu maka ucapkanlah kepadanya,” Selamat datang wahai tamu yang mulia” Selanjutnya, jamulah dia dengan sebaik baiknya, yaitu dengan melaksanakan ibadah dan amalan fardhu, menunaikan yang wajib, dan melakukan sholat berulang ulang, Janganlah engkau cemarkan harimu dengan dosa dan kesalahan karena sesungguhnya dia tidak akan kembali lagi.

Jika engkau ingin mengingat masa lalu maka ingatlah saat pertama engkau ingin mengingat hari yang telah dijalani , maka ingatlah apa yang telah berhasil engkau selesaikan saat itu sehingga engkau akan merasa bahagia. Jika engkau ingin mengingat hari esok maka ingatlah mimpi mimpi indahmu agar dirimu menjadi optimis.
===================

Aidh Al Qarny

26 November 2014

Hidup Susah Di Akhir Zaman

Susah?

Iya susah. Jujur saja.

Hidup di masa sekarang terasa susahnya. Bagi yang tak mau mengakui susah, mungkin saja memang tak merasa susah; atau tak mengalami susah.
Susah bagi orang yang berusaha konsisten dengan nilai-nilai agamanya. Apakah dia muslim, kristen atau yahudi.

Orang Yahudi sedemikian merasa susahnya hidup sampai-sampai merasa perlu selalu mengingat-ingat terus menerus ”tragedi etnik Yahudi” di Perang Dunia Kedua. Museum peringatannya dibangun diberbagai negeri bahkan lintas benua. Dalam museum tersebut dipamerkanlah ”kesengsaraan” mereka di masa itu, konon. If you believe it.

Orang kristen juga mengalami susah, sebagaimana yang dialami komunitas kristen di Amerika. Mereka yang masih ingin mempertahankan nilai-nilai kristiani  harus menempuh jalan Homeschooling bagi generasi penerus mereka. Jika mereka membiarkan anak-anak mereka sekolah di sekolah umum maka anak-anak akan diajarkan Yoga, Semedi, bertoleransi dengan Gay dan Lesbian, membolehkan aborsi bebas, dan…anak-anak mereka tidak akan menghargai orangtuanya lagi.

Para pendeta di negeri-negeri barat susah payah mempertahankan jumlah jemaatnya, tanpa hasil yang berarti, akhirnya harus merelakan gerejanya dijual untuk kemudian dialih –fungsikan sebagai gedung biasa.

Lain lagi muslim.
Bagi mereka yang hidup di negara mayoritas muslim, mereka disusahkan dengan maraknya berbagai aliran ”baru” (baca: sesat/ bid’ah) di tengah-tengah komunitas muslim. Berbagai aliran inipun getol mencari pembelaan dan dukungan dari beberapa tokoh penting elit negeri ini sehingga ”fatwa-fatwa” para politisi-pun bergema dikoran-koran lebih kencang dari dalil Al Qur’an dan Hadits. Bagi yang awam dengan dalil rujukan, maka kebingungan sudah pasti menyerbu.
Masih ada lagi kesusahan gara-gara ulah entah siapa yang dengan manisnya menyebar bom-bom (baca kaliber petasan) dalam buku kepada sejumlah tokoh anti Islam, sehingga kemudian lagi-lagi ”dendang tentang terorisme” kembali dinyanyikan media massa.

Bagaikan hantu jin dedemit entah turunan mana, ”teroris” dikabarkan bergentayangan di seantero kota. Siapa sih teroris? Nah ini susahnya, selalu ada nyanyiannya, namun kemudian penyelesaiannya cukup dengan dar-der-dor, habislah sudah tanpa bisa menjawab lagi.
Masih ditambah lagi dengan kemudian label ini dengan mudah ditempelkan ke mana saja. Kelompok A itu teroris, si B itu teroris, ustad anu  teroris…
Kabur, samar, kacau…. tidak ada kejelasan ayat-ayat atau hadits rujukan kecuali berbagai teori dari para pakar yang kadang-kadang muncul bagaikan dalang penutur di pagelaran wayang. Jika anda mendengarkan para pakar teroris sedang diwawancarai oleh media elektronik, anda akan tercengang dengan betapa banyaknya yang mereka ketahui tentang para teroris tersebut, sampai ke relung-relung hati para teroris itu dapat di terangkan dengan gamblang oleh si pakar. ”Si A ini semula direkrut oleh si X, kemudian ada konflik antar mereka kemudian si A malah bergabung dengan Y yang lebih bergaris keras”. ”Si Z ini menjadi aktor bom bunuh diri karena kecewa dengan kehidupan dalam keluarganya, ayahnya dipenjara, dst, dst”.

Luar biasa, dukun-pun kadang seperti itu ketika sedang menipu mangsanya. Koq mirip ya? Pakar ilmiah tapi sudah seperti dukun prewangan yang mampu menembus hati manusia.

Siapa yang tidak merasa susah hidup di dunia? Bukankah dunia memang sudah dijanjikan sebagai ”daarul ibtila” yakni  berarti ’kampung/ negeri ujian’.
Terlebih lagi bagi kita manusia ummat Muhammad SAW ynga hidup di Akhir Zaman.

Simaklah keterangan dari Nabi Muhammad Saw dalam Hadits berikut:
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَنْبَأَنَا إِسْمَاعِيلُ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا
: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman telah memberitakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepadaku Al ‘Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah berkata; Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki diwaktu pagi mukmin dan diwaktu sore telah kafir, dan diwaktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (AHMAD – 8493)

Nah inilah hadits yang memberitakan situasi yang sangat mengkhawatirkan di Akhir Zaman. Sebagaimana seorang Ustadz selalu menyebut-nyebut ketika menerangkan Hadits ini: Nabi SAW ketika mengeluarkan hadits ini tidak mengatakan seseorang pagi berbuat baik kemudian sore berbuat dosa; yang jika demikian orang tersebut masih ada imannya. Namun Beliau Saw mengatakan seseorang akan pagi beriman dan sore hari kafir yang berarti keimanannya hilang.

Kehilangan iman merupakan kerugian dan musbah terbesar sepanjang hidup dan matinya seseorang, yang berakibat buruknya nasib orang tersebut selama-lamanya di Akhirat. Semoga kita tidak bernasib demikian.
Hadits tersebut memberikan penegasan ancaman atau tantangan besar yang pasti akan selalu kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Dewasa ini segala nilai agama sudah dibolak-balikkan sedemikian rupa sehingga seseorang tak lagi merasa perlu akan agama.
Baru-baru ini kami berkesempatan berjumpa dengan seorang yahudi yang lolos dari peristiwa holocaust. Setelah panjang lebar beliau menceritakan kembali pengalaman buruknya di masa itu, kami memberanikan diri bertanya apakah yang mendorong dia untuk tetap bertahan hidup setelah siksaan dan penderitaan luar biasa yang dialaminya? Dia menjawab: well, life has to go on…hidup harus berjalan terus, kemudin aku mencoba pergi jauh-jauh dari sana dan memulai hidup baru di sini. Kemudian kami bertanya lagi: apakah Tuhan menjadi motivasi anda bertahan hidup? Apakah anda percaya Tuhan?
Jawaban kakek tua berusia 93 th tersebut sangat mengejutkan kami: Tidak! Saya tidak percaya Tuhan, sebab jika Dia memang ada maka seharusnya semua kekejaman tersebut tak perlu terjadi!

Menyedihkan! Itulah gambaran seseorang yang sudah berputus –asa dari Rahmat Allah, padahal bangsanya selama ini mengaku sebagai bangsa pilihan Tuhan, sebagai bangsa unggul yang berhak mewarisi bumi, ternyata setelah mengalami ujian dunia ,yang betapapun beratnya tetap saja bersifat fana dan pasti akan berakhir, ternyata ia malah membuang imannya dan menggantikan dengan kepemimpinan otaknya. Bangsa yang satu ini memang sangat mengagungkan kecerdasan otak dan bergantung pada itu. Semoga Allah Memberi Petunjuk pada kakek tersebut sebelum kematiannya, karena itu lebih baik baginya.

Itulah gambaran sekelumit contoh tentang kesusahan hidup di dunia, di mana sejak kehidupan sehari-hari kita sudah dikepung dengan berbagai kesulitan ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, namun kesusahan dan kesulitan juga sampai pada kesulitan mempertahankan iman karena cobaan hidup di dunia. Semoga kita dan keluarga terhindar dari fitnah-fitnah yang berbahaya. Terhindar dari fitnah dunia, fitnah kehidupan dan kematian, fitnah kubur dan fitnah almasihuddajjal. Amin ya Rabbal ’alamin.

================
Siti Aisyah Nurmi  - eramuslim.com

18 November 2014

Bahagia Di Dunia, Bagi Orang – Orang Yang Mengikuti Jalan Allah

Empat hal jika diberikan kepada seseorang, sungguh ia telah diberi kebaikan dunia dan akhirat, yakni hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir, sabar saat mendapat ujian, serta istri yang tidak berkhianat dalam kehormatan dirinya (selingkuh) dan harta suami.” (HR Ath – Thabrani dan Al – Baihaqi)
Ada empat hal yang termasuk kebahagian seseorang, yaitu istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang bagus.” (HR Ibnu Hibban)
Dari dua hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada tujuh indikator kebahagian hidup di dunia, berikut uraiannya : 

Qalbun Syakirun / Hati yang selalu bersyukur
Selalu menerima apa yang diberikan oleh Allah, sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan yang dapat menimbulkan stress. Jika diuji dengan kelapangan, maka ia bersyukur dan memperbanyak amal ibadahnya. Jika diuji kesempitan, maka ia bersyukur pula karena ia merasa ujiannya belum seberapa dibandingkan orang – orang yang ada dibawahnya.

Zaujun Shalih / Pasangan hidup yang shaleh
Pasangan hidup yang shaleh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang shaleh pula. Suami yang shaleh atau istri yang shalihah akan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Mereka juga akan membangun rumah tangga atas dasar tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.
Auladun Abrar / Anak – anak yang shaleh

Akan menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tua. Kehadiran mereka akan menumbuhkan kebahagiaan yang tiada terkira. Mereka patuh dan berbakti kepada orang tua, sehingga hati orang tua pun akan merasa tenang dan tentram.

Biatun Shalihah / Lingkungan yang baik
Lingkungan kondusif untuk iman kita. Sebab, Lingkungan yang baik akan menjaga perilaku penghuninya untuk dapat beristiqamah dalam kebaikan. Sebaliknya, lingkungan yang buruk akan mempengaruhi turunya iman seseorang atau setidaknya membuat batinnya tersiksa, karena melihat berbagai kemaksiatan.
Malun Halalun / Harta yang halal

Islam tidak melihat banyaknya harta seseorang, tetapi Islam memandang dari segi kehalalan dan keberkahannya. Harta yang haram, seberapapun banyaknya, tidak dapat membuat pemiliknya hidup bahagia. Kebalikannya, harta yang halal akan menjadikan pemiliknya hidup bahagia dan berkah, meskipun tidak seberapa.

Tafaqquh fid – Din / Memahami agama
Orang yang paham agama, hidupnya akan lebih bahagia. Hatinya tenang dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Agar seseorang paham terhadap ajaran agamanya, ia harus bersemangat dalam memahami ilmu – ilmu agama Islam. Ilmu adalah cahaya, oleh sebab itu, semakin seseorang paham agama, hidupnya akan semakin bahagia dan dimudahkan jalanya menuju syurga
Umrun Mubarak / Umur yang berkah

Umur yang diisi dengan beribadah kepada Allah SWT. Umur yang seperti ini akan membuat seseorang bahagia. Sabda Rasulullah Saw, “Sebaik – baik orang adalah yang panjang umurnya dan bagus amalnya.” (HR Al – Hakim). Seiring berjalannya umur, ia mengisinya dengan berbagai amal shaleh. Tidak sedikit pun waktu yang dibiarkan sia – sia, sehingga tidak berujung dengan penyesalan di hari tua.
Inilah jaminan Allah bagi orang – orang yang mengikuti jalan Nya. Yakni, akan mendapatkan kebahagian hidup di dunia ini, sebelum di akhirat nanti.
 
=================
 
Sumber :
FAHRUR MU’IS
Amalan Ringan Berpahala Surga
42+ Amalan Ringan Sehari – hari yang berbuah surge
Solo : Kafilah Publising 2012

15 November 2014

Cemburu pada Ibunda Khadijah

Perlahan Nadya melipat sajadahnya yang telah basah oleh airmata. Saat berdoa ia merasa sebagai manusia yang amat rapuh. Dosa-dosanya menggunung. Betapa pedihnya saat ia menyadari bahwa ia tak layak untuk syurgaNya. Namun ketakutannya pun amat sangat, saat teringat dengan neraka. Sebagai seorang istri, Nadya amat menyadari keterbatasannya. Pengabdian, ketaatan dan cintanya pada sang suami penuh kekurangan. Kadang Nadya merasa tak layak untuk sang suami yang dicintainya sepenuh hati. Nadya sangat menyadari, ia bukan wanita yang cantik, lemah lembut, kaya raya dan berbudi pekerti luhur seperti Bunda Khadijah, sehingga pantas mendapatkan cinta yang luar biasa dan tiada duanya dari rasulullah sang suami tercinta.

Hatinya kecil saat teringat suaminya adalah pria shaleh dan tampan yang banyak dikagumi wanita. Wanita-wanita yang lebih segalanya darinya. Tak heran Nadya, bila sang suami kemudian ingin menikah lagi. Ingin membagi cintanya dengan wanita lain. Toh poligami bukan perbuatan dosa. Sungguh Nadya tak ingin menjadi anggota komunitas sosialita istri-istri galau saat suaminya berkeinginan menikah lagi sehingga pandai melakukan pelanggaran syara, hatinya buta tak lagi mampu melihat kebaikan-kebaikan pada diri sang suami, dan syukurnya sirna, hilang tertutupi oleh rasa cemburu. Apalagi Nadya sadar betul dirinya amat sangat jauh dari istri sempurna nan shalihah seperti Bunda Khadijah.

Siapa tak mengenal Bunda Khadijah? Istri dan kekasih rasulullah Muhammad SAW. Pengabdiannya sebagai seorang istri tiada duanya. Ketaatannya pada sang suami tak ada bandingannya. Cintanya yang tulus pada sang pujaan hati tak diragukan lagi. Pengorbanannya pada idaman jiwa laksana hujan di kemarau panjang. Kasih sayang seorang istri yang penuh keikhlasan telah menjadikan Muhammad sang suami merasakan ketenangan, kebahagiaan dan kenyamanan luar biasa, saat ujian dan badai bergulung-gulung datang menerpa dakwah nabi.

Banyak kaum wanita yang iri dan amat cemburu dengan Bunda Khadijah. Bagaimana tidak, sebuah istana megah telah Allah sediakan di syurga, dan hanya beliau satu-satunya wanita yang mendapat salam dari Allah. Cinta sang suami untuk beliau pun amat besar dan tiada akhir sekalipun Bunda Khadijah telah tiada. Bunda Khadijah pula wanita yang hanya disibukkan oleh perjuangan dakwah dan ketaatan pada Allah, tanpa harus dibebani oleh “perasaan” lain karena sang suami taaruf lagi, ingin menikah lagi dan jatuh hati dengan wanita lain, seperti dialami kebanyakan wanita zaman sekarang. Bunda Khadijah bisa tetap fokus menjadi ibu untuk anak-anaknya tanpa disesaki sebuah pikiran, di hati suami ada lagi wanita selain dirinya..

Itu hanya sebagian tanda kasih sayang Allah pada Bunda Khadijah dengan ditakdirkanNya menjadi satu-satunya istri sepanjang hidup di dunia. Di akhirat Allah pun telah menjamin dengan sebuah istana penuh permata di dalam syurga. Wanita manakah yang tak iri?

Kaum wanita sangat boleh iri dan cemburu dengan Bunda Khadijah tapi bukan hanya sebatas pada “taqdirnya” yang tak pernah dipoligami. Namun harus lebih dari itu. Yaitu tentang pengabdian, pengorbanan, ketaatan dan cinta seorang istri. Di saat manusia lain mengingkari, Bunda Khadijah tetap mempercayai sang suami. Seluruh harta kekayaannya pun dengan ikhlas diserahkan untuk perjuangan dakwah. Cintanya sepenuh hati untuk sang suami, meski Muhammad bukan lelaki pertama dalam hidupnya. Lisannya penuh kelembutan dan kata-kata yang menyejukkan.

Berbeda sekali dengan istri zaman sekarang, yang kebanyakan masih bebas berteman dengan pria selain suaminya, di luar koridor yang diperbolehkan syara. Seharusnya hanya dalam hal pendidikan, pengobatan dan perdagangan interaksi pria wanita ajnaby diperbolehkan. Di luar itu sama sekali terlarang, karena kehidupan wanita pria pada dasarnya adalah terpisah.

Lihatlah di kota-kota besar, atas nama emansipasi seorang istri makan siang berdua dengan suami orang saat jam istirahat kantor. Atas nama anak-anak, seorang wanita menghubungi terus menerus mantan suaminya meski hanya untuk memamerkan perhiasan yang baru dibelinya dan semacamnya. Dikiranya karena pernah menjadi suami istri, boleh untuk mengkomunikasikan apa saja. Bebas untuk berkeluh kesah, curhat layaknya saat masih menjadi suami istri. Atas nama kemajuan teknologi, istri-istri bebas berinteraksi apa saja dengan pria lain di dunia maya.

Pun bukan rahasia lagi, betapa banyak istri-istri yang merendahkan sang suami karena penghasilannya lebih besar, meski jumlah kekayaannya masih amat jauh di bawah Bunda Khadijah. Lisannya tak terjaga sehingga menyakiti dan menyinggung perasaan suami. Jauh dengan Bunda Khadijah yang tetap memuliakan sang suami dalam segala keadaan, meskipun kaya raya dan memiliki kedudukan tinggi di kalangan kaumnya.

Meski teramat berat, setiap istri sudah seharusnya belajar dari Bunda Khadijah, bila menginginkan kemuliaan seperti beliau. Seorang Khadijah adalah istri yang memenuhi hak-hak suami setelah keutamaannya menunaikan ketaatan pada Allah. Mencintai suami dengan tulus, berkorban untuk suami penuh keikhlasan dan hanya mengharap pada ridha Tuhannya, menyenangkan dan menenangkan suami, serta memiliki kata-kata yang terjaga dan menyejukkan. Hanya suami satu-satunya pria yang bertahta di hidupnya.

Andai Nadya bisa menjadi seperti Bunda Khadijah…. namun pada faktanya memang ia tidak bisa. Hanya setitik saja ketaatan yang bisa dilakukannya untuk suami tercinta. Menjadi seperti Khadijah ternyata amat mudah dilakukan saat awal-awal pernikahan, ketika cinta masih begitu menggebu, ketika rasa didominasi oleh ketakjuban atas taqdir jodoh yang tiada terduga, ketika hati bak samudera terpesona dengan anugerahNya yang tak bernilai. Sangat gampang dilakukan saat madu-madu pernikahan masih begitu manis, saat semua hal tentang rumah tangga masih baru, saat bunga-bunga kasih baru mulai tumbuh dan bersemi.

Namun setelah waktu berganti, dari bulan ke bulan, bahkan memasuki bilangan tahun, menjadi seperti Khadijah ternyata tak mudah lagi. Kehadiran anak-anak, rutinitas pekerjaan dan aktifitas ikut mengubah haluan hati. Isi hati mulai terbagi-bagi tidak hanya untuk suami saja. Kalimat-kalimat menyejukkan yang dulu selalu hadir, mulai terlupakan terganti oleh kata-kata amat biasa. Keromantisan yang awalnya setiap waktu, berubah rutinitas yang juga biasa.

Menjadi seperti Khadijah untuk manusia biasa memang berat. Tapi semua bisa dicoba dan diusahakan. Dibalik keterbatasan yang kita punya, ada Allah tempat kita memohon pertolongan. Ada Allah Sang Maha Pengabul Doa. Ada Allah tempat kita meminta kekuatan cinta agar ia bersemi lagi dan menumbuhkan kelapangan hati, kekuatan jiwa untuk bisa tetap menjadi seperti Khadijah tanpa lekang oleh waktu dan usia. Laa Haula Walaa Quwwata illa billah.



===============

Oleh : Anna Nur F

07 October 2014

Perbuatan Khianat adalah Penyebab Kesulitan Hidup

Ada satu jenis lagi perbuatan yang menyebabkan kesulitan hidup di dunia bahkan di akhirat yaitu ; KHIANAT

Pada saat ini masyarakat Indonesia sedang menyaksikan bagaimana orang-orang yang berkhianat  koruptor, manipulator (dsb)  dengan jabatan yang telah diamanahkan bangsa kepadanya di nodai oleh suatu perbuatan khianat terhadap tugas-tugasnya dan kekuasaan yang dipegangnya. Para pemegang amanah itu tidak menjalankan amanat sebaik-baiknya tetapi tragisnya dilain pihak mereka terus berusaha mempertahankan amanat yang diberikan kepadanya dengan berbagai cara, Walhasil ketika perbuatan khianat itu terbuka hijabnya yang selama ini tertutupi, maka tidak saja dirinya yang hancur karena malu, hilang martabat dan hartanya, hancur pula perasaan keluarga dan orang-orang disekelilingnya.

Allah berfirman :
“ Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad ) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui  (Al Anfaal : 27)
Al Wahidi – semoga Allah merahmatinya – mengatakan , Ayat ini diturunkan kepada Abu Lubabah ketika Rasulullah Saw mengutusnya ke Bani Quraizhah, saat mereka dikepung. Sedang keluarga dan anaknya ada di dalamnya. Kemudian mereka berkata kepada Abu Lubabah, “ Wahai Abu Lubabah, apa pendapatnmu jika kita memakai keputusan Sa’ad demi kepentingan kita ? “ Kemudian Abu Lubabah mengisyaratkan kelehernya, maksudnya ia akan disembelih, maka jangan kalian melakukan hal tersebut. Perbuatan itu adalah khianat kepada Allah dan RasulNya. Abu Lubabah berkata “ Kakiku masih tetap berada pada tempat itu, sampai aku sendiri menyadari bahwa aku telah khianat kepada Allah dan Rasul-Nya . Allah berfirman ,
“ Dan sesungguhnya Allah tidak meridhai tipu daya orang yang berkhianat (QS Yusuf : 52)

Maksudnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang khianat atas amanat yang dibebankan kepadanya. Ini berarti bahwa Allah akan membeberkan aibnya’ pada akhir nanti dengan dijauhkannya hidayah dari Allah.
Allah berfirman :
Akan tetapi jika (tawanan-tawanan itu ) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka sesugguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana (Al Anfaal : 71)
Meskipun para tawanan itu hendak mengkhianatimu, wahai Muhammad dengan menampakkan seakan-akan baik dalam perkataannya dan mereka beriman, tetapi sebenarnya mereka telah mengkhianati Allah, sebelum terjadi peperangan ini yaitu perang Badar .

Allah berfirman,
“ Hai orang-orang beriman , janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (al Anfaal :27)
Maksudnya, janganlah kalian mengkhianati agama kalian dan Rasul kalian dengan membocorkan rahasia-rahasia kaum Mukminin. Dan mengkhianati apa yang telah diamanatkan kepada kalian berupa taklif-taklif syari, kewajiban-kewajiban agama , sebagaimana firman Allah.
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit , bumi dan gunung-gunung , maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat  zalim dan bodoh (Al Azhaab : 72)

Ibnu Abbas berkata,” khianat kepada Allah itu berupa perbuatan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan dan khianat kepada Rasulullah saw berupa perbuatan meninggalkan sunah-sunah yang telah beliau gariskan dan melakukan maksiat terhadapnya. Begitu juga khianat terhadap amanat, yaitu amal-amal yang telah Allah percayakan kepada hamba-hambaNya

Allah berfirman :
“Dan jika kamu khawatir terjadinya pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur ., sungguh Allah tidak menyukai orang  yang berkhianat ” (Al Anfaal ’58)
Makna yang dimaksud adalah jika kalian khawatir terhadap suatu kaum akan berbuat khianat , maka cabutlah perjanjian yang telah engkau sepakati  dan katakanlah kepada mereka bahwa kami telah mencabut perjanjian dengan kalian , sekarang kami memerangi kalian . agar mereka tahu pentingnya hal tersebut sehingga mereka akan sama-sama menyadari keutamaan bersamamu dengan ilmunya itu. Janganlah kalian memerangi mereka sedangkan diantara kalian dan mereka ada perjanjian , dan mereka menaruh percaya kepada kalian , hingga perbuatan ini dianggap sebagai tindak pengkhianatan dan mengingkari janji. “ Innallaha laa yuhibbul khaainin” ungkapan ini sebagai alasan diperintahkannya membatalkan perjanjian ,karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat khianat dan tidak dapat dipercaya.

Allah berfirman
“….dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena membela orang-orang yang khianat” ( An Nisaa : 105)
“ Dan janganlah kamu berdebat untuk membela orang –orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa (an Nisaa; 107)
Maksudnya janganlah kalian berdebat untuk membela orang yang mengkhianati dirinya dengan melakukan maksiat. Bahwa Alah tidak menyukai orang yang sangat suka berkhianat, tenggelam dalam jurang kemaksiatan dan dosa.

Rasulullah saw bersabda;
Tidak ada iman bagi orang yang tidak dapat diamanati . Tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati perjanjian
 (Hr Ahmad. Al Bazzaar, ath Tharani dan Ibnu Hibban)

Khianat akibatnya akan jelek dalam segala hal. Bahkan dalam suatu kondisi akan lebih jelek dari yang lainnya. Orang yang berkhianat dalam suatu hutan , tidak sama dengan orang yang berkhianat terhadap sanak saudara, harta dan melakukan pebuatan-perbuatan dosa besar. Rasulullah saw bersabda,” Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; jika ia berbicara akan berdusta, jika berjanji ia mengingkari dan jika dipercaya , ia akan berkhianat (HR Bukhari dan Muslim)

Rasullah saw bersada “ Allah berkata, Aku menjadi fihak yang ketiga dari dua orang yang bersepakat, selama tidak ada salah satunya yang khianat. Di dalam hadits itu juga disebutkan Perkara pertama kali yang akan diangkat dari manusia adalah amanah. Dan yang terakhir kali yang tersisa adalah shalat. Barangkali orang yang melakukan shalat itu tidak akan mendapat kebaikan sedikit pun ( Hr bu Dawud dan Al Hakim).
Rasulullah saw juga bersabda, “ Jauhkanlah kalian dari amanat, karena ia adalah akhlak yang paling tercela (Hr abu Dawud , An Na- Nasa’I, dan Ibnu Maajah)
Rasulullah saw bersabda,” Beginilah ahli neraka, beliau menyebutkan seeorang yang tidak diragukan sifat tamaknya dan jika ia diamanati maka pasti akan khianat.”

Ibnu Mas’ud r.a. berkat,” Di hari Kiamat akan didatangkan orang yang khianat dengan amanahnya. Kemudian dikatakan kepadanya,” tunaikan amanahmu.” Kemudian ia berkata, bagaiamana mungkin aku bisa wahai Tuhanku, sedang dunia telah sirna? Beliau berkata,” kemudian amanah itu berwujud seperti sesuatu ketika ia diambil dari neraka jahanam dan dikatakan kepdanya,” turun dan ambillah ia, kemudian keluar darinya.” Beliau berkata,” Kemudian ia turun dan mengambilnya dengan digendong di pundaknya , yang beratnya melebihi berat gunung di dunia. Sehingga ketika ia mengira bahwa ia telah selamat, tiba-tiba ia tergelincir kembali. Tergelincir dalam neraka selama-lamanya. “

Kemudian beliau berkata, shalat adalah amanah. Wudhu adalah amanah. Mandi wajib adalah amanah. Timbangan adalah amanah. Maka berikanlah semua titipan itu.

==============
-lr- eramuslim.com

13 September 2014

PENYEBAB TERJADINYA ISTIDRAJ

Jangan dulu gembira jika Anda terus menerus dilimpahi harta, kesenangan, kesuksesan sementara hidup Anda dari dulu tidak pernah diisi dengan ibadah. Shalat pun tidak,puasa tak pernah dan zakat pun enggan. Sudah meninggalkan dunia hitam (alias rambut sudah putih semua) namun tak pernah mengaji Al-Qur’an bahkan mengenal huruf nya pun tidak.
Maka bisa jadi itu adalah istidraj. Yaitu sengaja Allah limpahi Anda dengan kesenangan dan dibukakan dunia agar semakain terjerumus diri kita. Cirinya : semakin maksiat justru semakin kaya rasa, semakin bejat justru semakin sukses, walhasil semakin jahatlah orang itu..
Maka istidraj ini tidak datang dengan tiba-tiba. Keputusan Allah memberikan istidraj disebabkan oleh perbuatan dan sikap diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Tidak Beriman
Ketika Allah melimpahkan sebagian harta duniawi kepada hambanya tidak serta merta itu menjadi istidraj kecuali jika ia memang kafir. Maka salah satu penyebab Istidraj adalah penolakan terhadap keimanan yaitu kekafiran. Oleh karena itu harta yang diperoleh orang kafir jelas merupakan istidraj. Karena dengan harta itu orang kafir akan berbangga dengan kekuatan yang ada dalam diri mereka dan saling tolong menolong dalam kekafiran.
Adapun orang kafir sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain (Q.S. Al-Anfaal  [8] : 73)
Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu (di dunia), karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka (Q.S. Ibrahim [14] :30)
 (Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-Mursalat [77] : 46)
biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya (Q.S. Al-An’aam [6] :91)
  1. Syirik
Apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Q.S. Az-Zumar [39] :8)
  1. Kemunafikan
Sebab lain terjadinya istidraj ialah kemunafikan. Kemunafikan di sini adalah munafik haqiqi yaitu orang yang berpura-pura masuk Islam sedangkan hatinya sebenarnya tidak menerima kebenaran Islam. Maka orang munafik hakiki sama kedudukannya dengan orang kafir. Dan jika orang munafik itu dilimpahi kelimpahan harta maka janganlah kita iri karena hal itu merupakan istidraj.
Dan apabila kamu melihat mereka(orang munafik) , tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum (karena keelokannya). Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka (karena pandai bicara). Mereka seakan-akan kayu yang tersandar.  Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka  waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (Q.S. Al-Munafiquun [63 ] : 4)
Pada ayat di atas diisyaratkan bahwa istidraj tak hanya berupa harta, namun bisa juga berupa tubuh yang elok dan kefasihan kata-kata atau kepandaian berbicara di depan umum. Sehingga orang-orang menjadi terkesima dan terpengaruh mendengar perkataan mereka. Sedangkan mereka dihinggapi rasa narsis yang akut sehingga mengira bahwa setiap sorak sorai itu ditujukan bagi dirinya. Orang seperti ini mengira setiap orang memperhatikan dirinya, dan dimana saja ia merasa menjadi perhatian orang.
Maka terhadap orang munafik seperti ini Allah justru sengaja membiarkan saja mereka bersenang-senang di dunia dan dilimpahi harta yang banyak, kepandaian, ketenaran, tubuh yang elok (karena banyak harta wajar saja jika mereka mampu merawat tubuhnya dengan berbagai treatment sehingga tubuhnya sangat elok).
  1. Sombong Terhadap Kebenaran
Sombong yang dimaksud di sini adalah sombong yang menyebabkan ia menolak kebenaran. Maka orang seperti ini mungkin saja akan tertimpa istidraj. Maka harta yang ada padanya hanya akan menyebabkan dirinya semakin sombong dan jauh dari kebenaran.
Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu diba lasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik (Q.S. Al-Ahqaaf  [46] :20)
Ibnu mas’ud ia memarfukannya : “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji dari kesombongan” Ada seseorang yang bertanya : Sesungguhnya seseorang suka kalau pakaiannya bagus dan terompahnya bagus” Ia (Rasulullah SAW) bersabda : “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menghina manusia” (H.R. Muslim, Tirmidzi dan Abu Daud)

  1. Hamba Dunia dan Cinta Dunia
dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan (Q.S. Al-Al-Fajr [89] : 15-17)
Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Q.S. At-Taubah  [9] : 24)
Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka. (Q.S. Muhammad [47] :12)
Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: “Bersenang-senanglah kalian sampai suatu waktu.” (Q.S. Adz-Dzaariyat [51] :43)
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : “Begitulah manusia, bila dunia telah menjadi besar di penglihatnnya, dan mendiami reuang yang luas dalam relung hatinya, niscaya ia akan menilainya lebih besar dari Tuhannya, lalu menjadikan dirinya hamba yang amat patuh padanya..” (Mutiara Nahjul Balaghoh Hal 27)
  1. Memohon Dunia Saja
Sebagian orang ada yang pikirannya terfokus pada keinginan dunia saja. Siang malam ia berusaha mati-matian untuk meraih dunia. Segenap pikiran dan waktunya dicurahkan untuk memperoleh dunia. Akhirat sama sekali terlewat dari pikirannya. Kalaupun ia ingat berdoa, semata memohon keberhasilan dunia.
Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. (Q.S. An-Nisaa[4] : 134)
Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu (di dunia) baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat (Q.S. Asy-Syuura  [42] :20)
Perhatikanlah ayat di atas, jika Anda mengharapkan akhirat maka Allah akan memberikan akhirat plus ditambah keuntungannya yaitu sebagian nikmat dunia. Sedangkan bagi orang yang hanya mengharapkan dunia, maka hanya sebagian nikmat dunia yang dibukakan sedangkan tak mendapat kenimatan akhirat.
Maka orang seperti ini akan ditimpa istidraj. Yaitu mungkin saja Allah mengabulkan jerih payahnya siang malam meraih dunia itu sehingga tercapailah apa yang dia rencanakan dan dia idam-idamkan. Namun hal itu sama sekali tidak baik baginya. Mengapa? Karena dengan tercapainya apa yang dia inginkan itu akan semakin membuat dirinya lupa pada akhirat dan semakin banyak hartanya semakin sibuk ia dibuatnya.
Ali bin Abi Thalib pernah menasehati Kumail bin Ziyad An-Nakha’iy berkata : “Wahai Kumail ilmu lebih utama dariapada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan harta, engkau harus menjaga hartamu” (Nahjul Balaghoh Mutiara Hal 35)
Dari Uqbah bin Amir r.a. Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya demi Allah, aku tidak khawatir kalian akan kembali musyrik sepeninggalku tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba dalam kehidupan dunia. (H.R. Muslim No.4248)
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: Bahwa Rasulullah saw. pada satu hari berada di atas mimbar lalu beliau bersabda: Ada seorang hamba yang diberikan pilihan oleh Allah antara Allah akan memberinya kemewahan dunia atau memberi sesuatu yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu memilih sesuatu yang ada di sisi-Nya. (H.R. Muslim No.4390)
  1. Bakhil dan Kikir
Istidraj juga dapat menimpa orang muslim yang kikir. Bagi orang muslim, berlimpahnya harta adalah sebuah ujian. Dengan kelimpahan harta itu Allah menyuruh untuk menafkahkan sebagian harta tersebut. Tidak seluruhnya namuan hanya “sebagian”.
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya (Q.S. Al-Hadiid [57] :7)
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-Baqarah [2] : 261)
Namun sebagian manusia memang cenderung kikir. Dan bagi orang yang kikir maka kelimpahan harta itu bisa berubah menjadi istidraj yang menjerumuskannya kepada murka Allah.
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah (Q.S. At-Taubah [9] : 76-77)
Sekiranya manusia memiliki emas sepenuh dua lembah niscaya ia akan mencari yang ketiganya (H.R. Bukhari Muslim)
Dan manusia itu bersifat kikir (Q.S. An Nisaa’ [4] ; 128, Al Israa’ [17] : 100)
  1. Tamak dan Rakus Pada Dunia
Dari Ibnu Umar r.a.berkata : berkata Nabi SAW : Sesungguhnya seorang mukmin makan dengan satu ususu sedangkan si kafir makan dengan tujuh usus (H.R. Bukhari Muslim dalam Alu’lu wal marjan Jilid 2 No 1334)
Dari Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda : “Dunia ini adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir. Sedangkan akhirat adalah surga bagi mukmin dan penjara bagi kafir (H.R. Tirmidzi No. 2246 Disahihkan oleh Albani)
  1. Tidak Bersyukur
Sebagian orang ditimpa istidraj karena mereka lupa kacang dengan kulitnya dan lupa bersyukur kepada Allah setelah Allah kabulkan doa mereka dan Allah limpahkan apa yang mereka inginkan. Hal ini sebagaimana digambarkan pada ayat berikut ini :
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan  (Q.S. Yunus [10] : 12)
Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka (Q.S. Yunus [10] : 11)
Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). (Q.S. An-Nahl [16] :55)
Ali bin Abi Thalib pernah berkata mengenai ciri-ciri orang yang tidak bersyukur yaitu : Ia tidak mampu mensyukuri apa yang dikaruniakan kepadanya dan selalu menghendaki tambahan dari apa yang ada pada dirinya. Bila jatuh sakit ia menyesali dirinya tapi bila telah kembali sehat ia merasa aman berbuat sia-sia. (Mutiara Nahjul balaghoh Hal 37)
  1. Tidak  Amanah Terhadap Harta
Sebagian orang ditimpa istidraj karena ia tidak amanah dengan harta yang dilimpahkan Allah padanya. Dia membelanjakan harta itu untuk hal-hal kemaksiatand an tidak digunakan untuk kebaikan.
mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (di dunia). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). (Q.S. Al-Ankabut [29] :66)
mereka mengingkari rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu). (Q.S. Ar-Ruum [30] :34)
Dunia dihuni empat ragam manusia. Pertama, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka dia berkedudukan paling mulia. Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh. Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama. Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji. Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang, serampangan dan membabi-buta (kelompok yang ketiga), maka timbangan keduanya sama. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
  1. Melakukan Kezhaliman Terus Menerus
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya (Q.S. Al-humazah [104] :1-3)
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil  (Q.S. Al-Qashash [28] :58)
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (Q.S. Al-Qashash [28] :60)
Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw, lalu berkata, “Hai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah dengannya. (H. Ath-Thabrani)
  1. Lupa Diri
Harta dan kenikmatan dunia itu pada asalnya adalah sesuatu yang dibolehkan, dan merupakan salah satu nikmat dari Allah. Tak ada yang mengharamkan perhiasan dunia dan menghalangi orang dari meraihnya.
Namun harta dan kenikmatan dunia itu berpotensi membuat orang lupa diri dan hanya sedikit sekali orang yang selamat dari godaan dunia.
Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku (Q.S. Shaad  [38] : 32)
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (Q.S. Al-An’aam [6] : 44)
Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan. (H.R. Ahmad)
  1. Merasa Semua Berjalan Sesuai Planning
Sebagian orang diberi harta, kedudukan, dan dibukakan berbagai kenikmatan dan keleluasaan di dunia pada mulanya sebagai ujian. Dan sebagian orang diwujudkan oleh Allah segala apa  yang direncanakannya dan segala apa yang dicita-citakannya. Maka orang itu kemudian merasa tidak ada campur tangan Allah dalam hal ini dan semua terwujud berkat upaya dirinya dan berkat kepandaiannya.
Qarun berkata : Sesungguhnya aku memiliki harta itu karena ilmu yang ada padaku (Q.S. Al-Qashash : 78)
Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 115)
Dan apakah ia (Qorun) tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Q.S. Al-Qashash [28] : 78)
 
============
 

20 July 2014

Menjemput atau Dijemput Maut

Seringkali saya melihat sebuah peristiwa di jalan raya yang sangat memilukan. Sebuah peristiwa kecelakaan lalu-lintas. Biasanya antara sebuah sepeda motor dan sebuah mobil. Baik mobil angkutan umum maupun kendaraan berat lainnya.

Peristiwa yang sering terjadi ini, karena si pengendara motor yang mengejar waktu, agar tidak terlambat ke tempat tujuannya. Atau juga sopir angkot yang tergesa-gesa langsung meminggirkan kendaraan di sebabkan adanya penumpang yang tiba-tiba minta di turunkan secara mendadak. Hingga kendaraan yang dari arah belakang mobil, harus berhenti atau mendadak mencari celah agar tidak menabrak angkot di depannya.

Jika kecelakaan itu mengakibatkan manusia kehilangan nyawanya, maka bisa dikatakan ada dua kesimpulan yang bisa diberikan pada si mayat. Bila dia mengendarai kendaraannya karena sifat ketergesaan dan tidak mematuhi peraturan lalu-lintas, maka tentu saya bisa memberikan kesimpulan bahwa dialah yang menjemput maut. Karena dia lalai untuk berjalan sesuai prosedur berlalu-lintas.

Lain lagi bila si korban adalah orang yang bersikap sebaliknya. Dia berusaha untuk patuh berlalu-lintas di jalan raya dan bersikap hati-hati dalam mengendarai kendaraannya. Maka kesimpulan yang bisa di berikan : dia di jemput oleh maut.

Menjemput dan di jemput maut, memang sama-sama berakhir pada hilangnya nyawa seseorang. Tapi perlu di waspadai, bila kitalah yang mendatangi maut, maka bisa saja itu berkonotasi bunuh diri.( terkecuali bila kita datang menjemput maut untuk meraih syahid di jalan Allah, ).

Seperti seseorang yang suka memakan sesuatu yang tidak boleh dimakannya, karena alasan penyakitnya. Penyakit seperti tekanan darah tinggi, yang harus memerhatikan kadar garam yang di konsumsinya, misalnya Ataupun seorang perokok yang tahu bahwa asap rokok membahayakan jiwanya sendiri dan orang di lingkungannya.

Hal-hal kecil yang nampak sepele untuk kita abaikan, mungkin akan berakibat fatal akan kesehatan kita. Memang sih urusan maut, Allah Swt. yang mempunyai wewenang. Tapi, kita sebagai manusia yang diciptakan dengan akal yang baik, tentu saja harus tahu apa yang boleh dilakukan untuk menjaga kesehatan.

Ada sebuah kisah yang menyedihkan. Seorang karyawan sebuah perusahaan yang bertugas sebagai sopir kendaraan mengangkut karyawan pagi dan sore hari. Pada suatu pagi ( mungkin masih jam enam ), dia memarkir mobilnya di sebuah pinggir jalan raya. Penempatan mobilnya sesuai aturan. Hingga ada seorang anak muda dari arah yang berlawan arah dengan arah mobil yang di parkir. Anak muda ini mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Apa yang terjadi? Dia menabrak mobil yang sedang diam tersebut, yang akhirnya membuat pengendara motor tersebut meninggal dunia, dan orang yang diboncengnya luka parah.

Bagaimana komentar orang? Mereka menyesalkan sikap anak muda tersebut. Terlihat baru pulang dari begadang. Ternyata motor yang dikendarainya pun adalah pinjaman. Tapi naas bagi sopir mobil tersebut. Dia tetap harus masuk penjara untuk beberapa bulan. Saya juga tidak tahu persis bagaimana proses hukumnya. Tapi yang jelas anak muda yang telah lalai menaati peraturan lalu lintas itu, selain menjemput mautnya sendiri ternyata membuat orang lain juga menderita.

Oleh karena menjemput dan di jemput maut adalah sama pada akhirnya, ternyata berbeda pada prosesnya. Yah sebuah proses yang terjadi tergantung pada manusianya. Apakah memang dia selalu berhati-hati, ataukah memang dia sendiri lalai..

Semoga tulisan ini dapat membuat kita dapat lebih berhati-hati dalam bersikap, terutama dalam hal mengendarai kendaraan. Karena yang kita inginkan adalah maut sendiri yang menjemput kita tentunya.

Ambe.mardiah@gmail.com

13 May 2014

Perubahan Diri, Ketika Memegang Amanah

Mungkin ini episode kehidupan seseorang, yang sangat jarang ditemui, ketika kehidupan sudah banyak berubah. Berubah dikarenakan sifat-sifat manusia sendiri. Mereka tidak dapat menemukan kehidupan yang sebenarnya.

Manusia menjadi hamba atas dirinya, dan nafsu tidak dapat memuliakan manusia. Mengapa banyak diantara manusia memilih nafsu, yang melandasi kehidupannya? Tapi, di tengah-tengah kepekatan kehidupan dunia, masih ada orang-orang yang menjadi teladan dalam kehidupan ini. Kisah ini akan dapat memberikan percikan air, bagi yang dahaga akan kemuliaan.

Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi, mengisahkan kehidupan Amirul Mu’minin, Umar bin Abdul Aziz, yang sesudah menjadi Khalifah menjadi asing dan aneh. Sebuah penuturan yang sangat menyentuh hati, bagi yang masih mempunyai rasa, dan Ka’ab mengisahkannya.

“ Sekali waktu saya menemui Umar bin Abdul Aziz setelah diangkat menjadi Khalifah. Sungguh. Kiranya tubuhnya sudah sangat menjadi kurus. Rambutnya telah memutih. Raut mukanya sudah jauh berbeda dengan sebelumnya. Padahal, dahulu sewaktu Umar menjadi Gubernur di Madinah, Umar adalah seorang yang sangat tampan dan badannya berisi …”

Kemudian, ketatap wajahnya lama sekali, sehingga ia bertanya kepadaku :

“Wahai Ibnu Ka’ab, apa yang menyebabkan anda menatapku seperti itu, padahal dulu anda tidak pernah berbuat demikian?”, tanya Umar. “Saya sangat heran, wahai Amirul Mu’minin!”, jawab Ka’ab. “Apa yang mengherankanmu?”, tanya Umar lagi. “Perubahan diri Amirul Mu’minin. Badan Amirul Mu’minin menjadi kurus, rambut memutih, raut wajah yang memucat. Kemana keindahan diri Amirul Mu’minin yang sangat mempesona dulu? Rambut hitam lebat, tubuh nampak gagah, dan subur”, tambah Ka’ab. Tapi, segala sirna keindahan yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz, ketika menjadi Khalifah.

Lalu, Umar menjawab semua pertanyaan Ka’ab itu dengan mengatakan : “Engkau akan lebih heran lagi, bila melihat diriku nanti s etelah terkubur dalam tanah. Mataku akan copot dari tempatnya, dan ulat-ulat akan berkeliaran di mulut dan tenggorokanku”, ujar Umar.

Ya. Wajah yang tampan dan tubuh yang gagah perkasa itu telah berubah, karena deraan tanggung jawabnya yang besar. Suatu hari, di awal masa jabatannya sebagai Khalifah, dipangilnya istrinya, Fatimah, wanita mulia putri seorang Khalifah, yang sangat jelita itu, lalu dihadapkan pada kenyataan yang harus mereka hadapi. Dengan lemah lembut, disampaikan oleh Umar kepada Fatimah, bahwa seorang suami, Umar sudah tidak ada harganya lagi. Beban yang harus dipikulnya sangat berat, sehingga tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk keperluan-keperluan lainnya.

Dan, Umar menyerahkan kepada Fatimah sepenuhnya hak untuk memilih jalan hidup dan menentukan dirinya..

Tapi, Fatimah, namanya yang terukir dengan gemerlapan sepanjang sejarah, memilih tetap menemani Umar, sampai ajal menjemputnya. Fatimah selalu mendampingi Umar, meskipun sangat terasa berat dalam memasuki kehidupan ini. Fatimah sama sekali tak pernah mengeluh, tatkala perutnya kelaparan, meskpun Fatimah, istri seorang Khalifah Umar ibn Abdul Aziz. Dan, Fatimah hanya mengatakan : “Alangkah bedanya kehidupan kami sebelum dan sesuah menjadi Khalifah, bagaikan timur dengan barat”, ujarnya. “Demi Allah, kami belum pernah menikmati kegembiraan setelah kami menduduki jabatan ini ..”, tambahnya. Kini, lenyaplah sudah segalanya dari sisi permaisuri ini.

Padahal, sebelumya ia adalah seorang puteri Khalifah dan merupakan saudara Khalifah, yang segala kenikmatan hidup tersedia baginya. Sutera yang sangat halus dan indah, intan permata, emas dan perak, serta harta kekayaan lainnya. Kini, yang dimiliki Fatimah, tinggal dua lembar baju kasar. Karena, Umar bin Abdul Aziz telah menyuruh semua kekayaannya dijual, termasuk kekayaan isterinya, kekayaan anak-anaknya. Semua uang hasil penjualan kekayaannya itu diserahkan kepada Baitul Mal milik kaum muslimin.

Kini, Fatimah dan Umar, berdua, hanya makan roti kering yang hanya diolesi minyak atau dicampur dengan sedikit bumbu. Hingga, Fatimah yang mulanya sangat cantik itu, berubah menjadi wanita yang pucat dan lunglai ..!

Sekali waktu, Amirul Mu’minin masuk ke dalam kamarnya. Di dapatinya Fatimah sedang menambal pakaiannya, yang usang sambil duduk bersimpuh diatas tikar. Dipegangnya pundak istrinya Fatimah, seraya Umar berguarau : “Fatimah. Alangkah nikmatnya malam-malam yang kita lalui di Dabiq (Istana) dulu, jauh lebih menyenangkan dari malam-malam seperti sekarang ini”, ucap Umar. Maksudnya, kehidupan mereka berdua sebelum menjadi Khalifah.

Lalu, Fatimah menjawab : “Demi Allah, padahal waktu itu, kanda (Khalifah Umar) tidak lebih mampu dari waktu sekarang ini”, ucap Fatimah. Mendengar ucapan istrinya, Fatimah, kemudian wajah Umar pun menjadi muram, airmatanya pun mengalir deras. Umar sadar bahwa senda guraunya telah melewati batas. Kemudian, Umar : “Wahai Fatimah. Aku takut terhadap siksa Rabbku, jika mendurhakia-Nya,yakni di suatu hari yang amat dahsyat siksanya”, ungkap Umar kepada istrinya Fatimah.

Dan, tak lama, Fatimah telah terbiasa dan menyenangi kehidupan yang dipilih oleh suaminya Umar untuk dirinya dan seluruh keluarganya. Dan, Fatimah menghayatinya dengan setia dan penuh cinta. Sampai keduanya dipisahkan oleh kematiannya. 

Wallahu ‘alam.

02 April 2014

Berapa harga Tuhanmu ?

Sebagai seorang muslim, tentulah sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mengikuti semua apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, dan juga menjauhi apa-apa yang dilarang oleh-Nya. Inilah konsep keimanan yang kita yakini selama ini. Namun ternyata masih saja ada sebagian umat islam yang tak mengendahkan perihal tersebut. Bukannya mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya, sebagaian umat ini justru melakukan hal yang sebaliknya. Mengerjakan yang dilarang, dan menjauhi yang seharusnya dikerjakan. Tak sedikit juga yang melakukan hal tersebut karena “dipaksa” oleh keadaan. Sehingga mau tak mau, harus melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya.

Pada bulan Desember misalnya, banyak umat islam yang dengan terpaksa ataupun suka rela, menggunakan atribut-atribut kaum nasrani. Ini biasa terjadi dan dilakukan oleh beberapa umat islam yang statusnya adalah pekerja mall, restoran, perkantoran, ataupun tempat hiburan lainnya. Alih-alih tuntutan pekerjaan, mereka akhirnya memakai atribut tersebut. Padahal ini justru bertentangan dengan hakikat keimanan kita. Meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan melakukan dengan perbuatan. Mengaku sebagai orang yang beriman, mengucapkan kalimat syahadat, namun pada prakteknya justru mengikuti cara-cara orang kafir, sama saja kita telah “membohongi” keimanan kita. “kalau kami menolak, maka kami akan dipecat”. Beberapa orang akan melontarkan hal yang demikian, jadi seolah-olah, ancaman pemecatan itu boleh dijadikan alasan untuk tetap menggunakan atribut kaum nasrani. Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Ada sebuah contoh lagi. Kejadian ini mungkin banyak menimpa kaum muslimin yang bekerja sebagai buruh pabrik. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa setiap hari jumat laki-laki yang beragama islam wajib hukumnya untuk melaksanakan shalat jumat berjamaan di masjid. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit yang justru meninggalkan shalat jumat hanya karena alasan pekerjaan. “Mesin tidak boleh dimatikan, harus ada yang jaga, jadi kami tidak bisa shalat jumat karena jaga mesin”. Ini umumnya terjadi disejumlah pabrik-pabrik tekstil yang ada di Negeri ini. Para pegawainya yang muslim, ketika hari jumat tiba, mereka kesulitan untuk shalat jumat, lantaran “perintah” atasan yang melarang untuk menghentikan mesin. Alasannya, bila mesin dimatikan, perusahaan akan mengalami kerugiaan yang besar. Dan “kerugian besar” dalam hal material menjadi alasan untuk tidak mengerjakan kewajiban yang satu ini. Padahal sebagai umat islam, kita telah sepakat meyakini bahwa shalat merupakan salah satu dari 5 (lima) rukun islam setelah syahadat. Bahkan shalat adalah batas yang membedakan seorang muslim dengan orang kafir.

Bila sampai hari kita masih saja meninggalkan kewajiban kita sebagai seorang muslim, hanya kerena alasan duniawi, maka seperti itu pula kita memperlakukan Allah SWT. Kita akan menyembah Allah, apabila ada keuntungan material yang kita dapati, bila tidak, bisa jadi Allah pun tak lagi kita sembah. Memang sudah semestinya kita sadari “sudah sejauh mana keimanan kita terhadap Allah ?”. Jangan-jangan, statment kalau kita beriman itu hanya sekedar di bibir saja, tapi hati kita tak meyakininya. Akibat hati yang tak sepenuhnya meyakini, akhirnya, perbuatan kita pun tak mencerminkan seperti orang yang beriman. Kita, disadari atau tidak, telah menukar keimanan kita dengan dunia. Kita telah “menghargai” Tuhan kita dengan harga yang sangat murah. Kita mengkhawatirkan kehidupan dunia yang sementara, dengan menjadikan akhirat kita sebagai taruhannya.

Ya Allah, janganlah Kau palingkan hati kami, dari kesenangan dunia yang semu. Jangan pula Kau sesatkan kami, dari jalan kebanaran ini, dari jalan islam yang mulia ini.

Aamiinn…..

05 March 2014

Cantik Ala Kapitalisme


Pernah lihat iklan sabun mandi ? Iklan Shampoo, atau iklan body lotion ? Pemandangan apa yang paling dominan diperlihatkan pada saat iklan itu berlangsung ? Yups, pasti tentang model iklannya. Iya kan ? Kebanyakan iklan tersebut selalu menampilkan model-model wanita yang aduhai. Tubuh tinggi semampai, kulit putih bersinar, rambut panjang terurai. Ya, iklan-iklan tersebut selalu condong menampilkan sisi fisik seorang wanita, entah dibagian tubuhnya yang mana. Yang jelas, iklan seperti itu mengambarkan tentang wanita yang ingin tampil cantik. Maka, agar terlihat cantik, harus memakai produk-produk yang diiklankan tadi.

Dan sayangnya, maindset kita pun ikut terbawa dengan apa yang dipertontonkan oleh iklan-iklan ditelevisi. Akhirnya, makna cantik yang didapatkan adalah cantik yang sesuai dengan tampilan iklan tersebut. Agar cantik, maka seseorang itu haruslah mempunyai kulit yang putih halus, rambut panjang, tubuh tinggi semampai, body seksi menawan, dll. Kita pun jadi terjebak oleh makna cantik yang disuguhkan oleh para kapitalis. Imbasnya, banyak orang yang tidak memiliki kepercayaan diri bila melihat standar cantik seperti diiklan tersebut.

Kapitalisme telah berhasil membuat opini tentang makna cantik. Dan masyarakat pun dibuat setuju dengan apa yang disampaikan para pemilik modal tersebut. Cantik ala kapitalisme, membuat banyak remaja gadis berlomba-lomba memutihkan kulitnya dengan krim pemutih. Belum lagi dengan yang meluruskan rambut, entah sudah berapa banyak orangnya. Dan yang parah, tidak sedikit dari mereka mengumbar keseksian bodynya, agar terlihat tampak cantik di depan para mata lelaki.

Tak ada yang melarang wanita manapun untuk tampil cantik dan menawan. Namun masalahnya, cantik yang dipahami oleh masyarakat banyak, hanya sekedar “asik” untuk dipandang, bukan kecantikan hakiki.

Negara Korea, menjadi Negara yang melakukan operasi plastik tertinggi di dunia. Survei menyebutkan, bahwa sekitar 76% wanita Korea direntan usia 20-30 tahun, pernah melakukan operasi. Jenis operasi yang dilakukan beragam, mulai dari mengecilkan perut, membesarkan mata, memancungkan hidung, sampai merombak wajah. Tujuannya, tidak lain dan tak bukan adalah ingin tampil cantik. Kebanyakan remaja Korea, menginginkan kado ulang tahunnya berupa operasi plastik, dibanding dengan pemberian berupa materi. Adalah artis Song Hye Gyo yang wajahnya paling banyak di-request oleh para remaja putri di Korea.

Di Indonesia, tak sedikit yang melakukan hal serupa. Alih-alih ingin tampil menawan, beberapa orang turut melakukan operasi plastik. Umumnya, banyak dilakukan oleh kalangan selebriti dan model. Tuntutan profesi. Ya, di era Kapitalisme seperti sekarang ini, kecantikan hanya dinilai dari cashing luarnya saja. Akhlak, itu soal belakangan, asal wajah menarik, kesempatan menjadi terkenal pun bisa dilakukan. Presepsi kita telah diperbudak oleh para penikmat kehidupan dunia. Barat, telah mampu memutar balikkan makna cantik ditengah-tengah masyarakat. Lewat penjajahan yang terus dilakukan melalui antek-anteknya, yakni para kapitalis, kebudayaan barat masuk dengan leluasa. Para kapitalis dengan senang hati mengambarkan kehidupan masyarakat barat dengan tontonan-tontonannya. Termasuk lewat iklan-iklan yang menggunakan keunggulan fisik para modelnya.

Cantik, tak sekedar bicara soal fisik. Karena sejatinya, fisik yang diberikan oleh Allah SWT, sudah dalam keadaan yang sempurna. Kita, hanya diperintahkan untuk menjaganya, bukan merubahnya. Merawatnya, bukan merenofasinya. Tanpa disadari, banyak yang telah menghilangkan rasa syukur atas nikmat diberikan jasad yang sempurna oleh Allah SWT, hanya karena ingin terlihat “lebih” dimata manusia.

Sekali-kali, bahwa baik atau buruk penilaian manusia tentang keadaan fisik yang ditujukan kepada kita, itu semua tak akan mampu untuk menyelamatkan kita dari siksa api neraka. Cantik bukan sekedar fisik, tapi cantik terpancar dari dalam hati, prilaku, akal, dan akidahnya. Pahamilah, kecantikan sejati, bukan untuk dinikmati ribuan pasang mata laki-laki. Kecantikan fisik, hanya dialamatkan untuk suami, bukan yang lain.

Jangan pernah terprovokasi dengan kecantikan yang diperlihatkan oleh para kapitalis. Meraka, hanya ingin menjual produknya agar laris manis dipasaran, tak peduli dengan cara apapun yang dilakukan, termasuk dengan menampilkan model seksi yang aduhai.

Sadarilah, hanya wanita shalehah, yang mampu menyelamatkan kecantikannya dari siksa api neraka. Dia senantiasa menjaga apa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya. Dia selalu menjaga setiap jengkal bagian tubuhnya, agar tak tampak oleh sembarang mata yang melihat. Dia, selalu bersyukur dengan segala macam kondisi fisik yang diterimanya. Karena dia meyakini bahwa pemberian Allah lah yang terbaik, bukan mengikuti hawa nafsu sesaat. Dan dia memahami, bahwa kondisi fisik yang Allah berikan, adalah sesuatu yang tak mungkin bisa ditawar-menawar bentuknya, semua itu sudah dalam qadhanya Allah.

Hanya islam lah yang mengajarkan kita tentang arti kecantikan yang hakiki. Kecantikan yang terpancar dari dalam qalbu, bukan sekedar tampilan fisik yang menipu. Semoga, kita semakin memahami, bahwa segala yang kita lakukan, akan dimintai pertanggung jawaban. Termasuk, mengubah bentuk struktur tubuh, hanya demi kecantikan yang semu.

Mustaqim Aziz

06 February 2014

Apa yang Kita Kejar ?

Kawan, dunia ini memang melenakkan, banyak keindahan dan kenikmatan, serta kesenangan yang ditawarkannya. Dunia menggoda siapa saja yang berada di dalamnya. Tak ayal, banyak dari kita yang terjerembab dalam kesenangan semu yang ditawarkan oleh dunia. Ketahuilah kawan, dunia ini ibarat air laut, semakin kau minum, maka akan semakin haus. Ya, semakin kita mengejar dunia, maka akan semakin kita terpedaya olehnya.

Kawan, apa yang hendak kita kejar di kehidupan yang singkat ini ? Harta ? Lihatlah Qarun, manusia yang paling kaya pada masanya, namun akhirnya dia terhinakan oleh kekayaannya sendiri. Jabatan ? Ingatkah kalian dengan Fir’aun ? dia adalah manusia paling angkuh di dunia, sombong dan melampaui batas. Fir’aun adalah raja tersohor, bahkan dia tak segan mengakui dirinya sebagai tuhan yang berhak menetapkan hukum sesuai dengan kehendaknya. Namun kita sudah sama-sama mengetahui, bahwa Fir’aun pada akhirnya pun mati dalam keadaaan hina dan dihinakan dengan jabatan kekuasaannya. Lantas, apa yang kita kejar selama hidup di dunia ini ?

Miris betul, ketika media mengabarkan para pejabat Negara yang korupsi, hanya untuk memenuhi kantong dan isi perutnya sendiri, tanpa dia perhatikan kondisi rakyatnya yang menjerit kelaparan. Sedih sekali, melihat kelakuan para elit politik yang saling berebut kekuasaan yang pada akhirnya banyak mereka salah gunakan. Belum lagi masyarakat yang lainnya, menghabiskan waktu hanya untuk bersenang-senang dengan dunia. Dia tinggalkan seruan kebaikan, dan beralih pada seruan kemaksiatan.

Apa yang kita kejar di dunia ini ? Kelak semua yang ada di Dunia ini, perlahan-lahan akan meninggalkan kita. Paras yang cantik rupawan, kelak akan menampakkan garis-garis kerutan yang menandai usia kita semakin senja. Harta yang selama ini ita kumpulkan, tidak dapat memberikan jaminan ketenangan. Jabatan Dunia, yang sedari dulu kita perebutkan, kelak akan menjadi amal yang memberatkan timbangan keburukan.

Ingatlah kawan, hidup kita tak hanya sekedar di dunia ini. Dunia yang penuh dengan berbagai macam kesenangan, kegemerlapan, tapi pada akhirnya dia pun meninggalkan kita. Ada alam lain yang sedari kini menanti kita, yakni alam akhirat. Disanalah kita kan kekal selamanya, disanalah kehidupan kita yang sebenarnya. Apa yang kita kejar selama hidup ini, kelak akan kita tuai hasilnya di akhirat sana. Bila kita mengejar kenikmatan Dunia saja, tanpa menghiraukau akhirat, kelak kita akan mendapatkan balasannya. Pun halnya bila kita mengejar akhirat, dan menjadikan Dunia sebagai tempat bercocok tanam kebaikkan, in shaa allah kelak kita pun akan memanen kebaikan dan ditempatkan ditempat yang baik, di akhirat sana.

Apa yang kita kejar selama hidup ini ? Satu persatu semua akan meninggalkan kita, hingga tak ada lagi yang tersisa, kecuali amal yang kita kerjakan semasa kita hidup di Dunia. Sadarilah, semua ini hanya sementara, kelak, segala bentuk kenikmatan, keindahan, kemewahan, ataupun kesenangan Dunia yang kita kejar selama ini, akan berakhir dan pergi meninggalkan kita.

Semoga, kita semakin menyadari akan arti hidup ini, bahwa kehidupan ini bukan hanya untuk mengejar perhiasan Dunia yang semu, melainkan untuk meraih ke ridhaan Ilahi, agar kelak kita dimasukkan kedalam surga yang abadi. Aamiinn, allahumma aamiinn.



Mustaqim aziz
Twitter : mustaqimaziz2
Fb : moi_no_phobia@yahoo.com

02 February 2014

Waspada Setiap Perbuatan Ada Balasannya

Pernahkah kita tertimpa sesuatu yang dirasa tidak enak, misalkan terkena bola golf mengenai kepala. Jangan dulu menyalahkan orang lain yang tidak sengaja melakukannya itu, melainkan periksa, ingat-ingat, apa yang telah kita lakukan terhadap orang lain. Bisa jadi kita pernah melempar sesuatu, ternyata mengenai orang lain tanpa kita sengaja, misalnya. Demikianlah, suatu perbuatan akan nada balasannya. Bahkan Allah menerangkan dalam QS Ali Imran : 140 tatkala orang-orang beriman dalam Perang Uhud mendapat luka, bahwa itu merupakan pergiliran dari Allah atas luka yang telah menimpa kaum kafir.

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Setiap makhluk yang ada di alam semesta ini, tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan Allah. Dan tidak ada satu pun perbuatan manusia yang tidak diberikan perhitungannya oleh Allah Yang Maha Menyaksikan. Setiap kebaikan dan keburukan pasti dibalas dengan adil, meskipun hanya sebesar zarrah. Baik itu di dunia maupun di akhirat kelak.

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai." (QS. Al Israa: 7)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa pernah menganiaya saudaranya, baik yang berhubungan dengan kehormatannya ataupun sesuatu yang lain (harta benda), maka hendaknya ia segera minta dihalalkan (minta ma’af), sebelum tiba masa di mana dinar dan dirham sudah tiada berguna lagi (sebelum datangnya kematian). (Jika hal itu tidak dilakukan). Apabila baginya (memiliki simpanan) amal shalih maka amalnya itu akan diambil (sebagai pengganti) sesuai kadar kedzalimannya. Dan jika dia tidak memiliki (amal) kebaikan, maka kejelekan (dosa-dosa) orang yang teraniaya akan dilimpahkan dan dibebankan kepadanya”. (HR Bukhari)

Memang, kita sering melihat banyak orang yang hidup berkecukupan yang secara nyata-nyatanya mereka adalah tergolong orang-orang yang sering berbuat dosa. Lantas bagaimana halnya dengan adanya keyakinan bahwa balasan dari perbuatan baik adalah kebaikan?

Orang-orang yang sering terlihat berbuat berdosa, namun terlihat nyaman dengan berbagai kepemilikian duniawinya, walau demikian bagaimana dengan kondisi hati mereka? Apakah ada ketenangan di hati mereka? Pasti tidak ada. Karena, hanya dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tentram. Buat apa memiliki kekayaan duniawi kalau hati gelisah, makan tidak tenang, tidur tidak nyenyak.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du : 28)

Balasan terbaik bukanlah dengan apa yang ia miliki dari kekayaan duniawi, tetapi semakin dekat kepada Allah, hati yang semakin mantap, yakin dan istiqomah dalam beribadah kepada Allah. Di saat kita memiliki niatan yang baik, kita lantas dituntun oleh Allah, bersabar dalam berusaha, sehingga saat bertemu dengan rizki semua dilakukan dengan penuh keberkahan. Ditambah dengan dikeluarkannya sedikit dari rizki yang kita miliki untuk berjuang di jalan Allah, maka semakin nikmat karunia yang telah Allah berikan ini.

Jangan pernah merasa tidak adanya pertanggungjawaban atas perbuatan kita di dunia ini, karena semua hal yang kita lakukan diawasi dan diperhitungkan oleh Allah untuk diberi balasan bahkan di dunia ini juga, kecuali perbuatan dosa yang segera dimohonkan ampunan-Nya. Semua hal akan dipertanggungjawabkan, karena pada hari perhitungan kelak, anggota tubuh ini akan bersaksi.

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." (QS. Yaasiin: 65)

Oleh karena itu, berhati hatilah dalam menjaga pikiran dan sikap kita. Terus bersihkan hati, agar kita semakin mudah dalam merasakan kehadiran dan pengawasan Allah.

Seseorang yang tauhidnya bagus, dapat dipastikan bahwa akhlaknya juga terjaga. Karena, dia yakin bahwa Allah Maha Melihat, sehingga dia akan sibuk dengan Allah tanpa perlu berakting dan berpura-pura.

"Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Yunus: 61)

Kita tidak tahu sesuatu yang terjadi di masa depan. Saat ujian di sekolah, misalnya, sebagai murid tidak akan pernah tahu materi yang nantinya akan keluar. Sedangkan Allah Maha Tahu apa pun yang akan terjadi di kemudian hari dengan detail. Jadi…bergantung saja pada Allah, berdoa dengan sungguh-sungguh, ikhtiar dengan benar dan baik, dan lakukanlah hal-hal yang Allah sukai, dan berharaplah semua akan dimudahkan.