Showing posts with label harta. Show all posts
Showing posts with label harta. Show all posts

23 November 2015

ENGKAU ADALAH MILIK HARTA, JIKA...

Seorang penyair berkata:

"Sesungguhnya engkau adalah milik harta jika engkau menahan harta tersebut. Dan harta menjadi milikmu tatkala engkau menginfakkan harta tersebut." (Al-Ahnāf bin Qais)

Dan ini benar, bahwasanya jika seorang dia mencari harta yang banyak, sementara tidak dia infaqkan maka sesungguhnya dialah milik harta.

Kenapa?
Karena dia bekerja keras untuk mencari harta tersebut, dia tunduk kepada harta tersebut sementara harta tersebut bukan miliknya.

Oleh karenanya, Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda:

"Sungguh celaka penyembah dinar dan sungguh celaka penyembah dirham." (HR. Bukhāriy)

Di sana ada orang-orang yang benar-benar diperbudak oleh harta, dinar dan dirham. Waktunya habis untuk tunduk kepada dinar dan mencari harta tersebut.

Bahkan ibadahnya diatur oleh harta tersebut. Kapan hartanya mengatakan, "Tunda ibadahmu, tinggalkan ibadahmu." Maka demi harta dia akan tinggalkan dan tunda-tunda ibadahnya.

Maka benarlah sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
"Sungguh celaka penyembah dinar dan sungguh celaka penyembah dirham."

Adapun jika harta tersebut kita ingin infaqkan dijalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka sesungguhnya harta tersebut milik kita.

Dalam suatu hadits tatkala disembelih seekor kambing kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyuruh istri-istri Nabi untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Maka setelah dibagikan (daging) kambing tersebut Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bertanya kepada 'Aisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā: "Wahai 'Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?"

Maka kata 'Aisyah: "Tidak ada yang tersisa kecuali hanya bagian pundak dari kambing."

Maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
"Seluruh kambing tersisa kecuali pundak kami yang tidak tersisa."

(HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)


Tatkala 'Aisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā menjelaskan kenyataan bahwasanya daging kambing semua sudah dibagikan tidak ada yang tersisa, yang belum dibagikan hanyalah bagian pundak kambing, maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan sebaliknya; justru yang telah dibagikan seluruhnya itulah yang tersisa.

Artinya apa? Tersisa di akhirat.

Itulah harta yang benar-benar milikmu, yang akan membangun istanamu di akhirat.

Adapun yang belum dibagi, itu yang tidak tersisa, karena itu tidak jadi milikmu.

Dan ini sesuai dengan sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

Ada 3 perkara yang mengikuti mayat tatkala mayat dikuburkan, yaitu keluarganya, hartanya dan amalannya. Maka yang 2 akan kembali yaitu keluarga dan hartanya. (HR. Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960 dari shahābat Anas bin Mālik)

Tatkala seseorang dikubur maka harta dan keluarganya (istri dan anak-anak) tidak akan ikut dikubur.

Akan tetapi yang tersisa ikut dikubur bersama adalah amalnya.

Tatkala harta tidak diinfaqkan dijalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla atau tidak diinfaqkan sesuai yang diridhai Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka harta tersebut tidak akan menjadi amal.

Tetapi saat harta tersebut diinfaqkan dijalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka berubahlah status harta tersebut menjadi amalan shalih dan akan menyertai sang hamba dalam kuburnya.
Oleh karena itu, tatkala kita mencari harta, niatkanlah karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Tatkala kita mencari nafkah untuk anak istri, niatkanlah karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Tatkala kita mengumpulkan harta, niatkanlah bahwa harta tersebut akan kita gunakan sebagiannya untuk dijalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Karena saat kita mencari nafkah karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan mengeluarkannya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka harta tersebut akan menjadi amal shalih yang akan menemani kita di kubur dan akan membela kita tatkala di akhirat kelak.

Akan tetapi sebaliknya, jika ternyata harta tersebut tidak kita niatkan karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita gunakan hanya sekedar untuk berfoya-foya, tidak ada tujuan yang jelas, membangun rumah yang tinggi tanpa niat karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita kumpulkan harta, tanah, emas, dollar, rupiah yang banyak tapi bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka sesungguhnya harta yang kita kumpulkan tersebut akan menjadi bumerang dan memperberat hisab kita di akhirat kelak.

Allāh berfirman:

"Sesungguhnya kalian akan benar-benar ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla atas segala nikmat yang kalian rasakan." (At-Takātsur 8)

=======================
bimbinganislam.com

17 September 2015

Cara Berdagang Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah seorang pebisnis dan pedagang yang handal. Visi beliau dalam berdagang hanya satu, yaitu:
“Bahwa transaksi bisnis sama sekali tidak ditujukan untuk memupuk kekayaan pribadi, namun justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnis dengan etika yg tinggi. Adapun hasil yang didapat harus didistribusikan ke sebanyak mungkin umat.”
Prinsip yang beliau pegang cukup 3 hal saja, yaitu:
  1. Jujur
  2. Saling menguntungkan kedua pihak
  3. Hanya menjual produk yang bermutu tinggi
Tiga prinsip di atas menjiwai cara bisnis beliau. Berikut adalah teladan beliau sebagai seorang pedagang/penjual:
  1. Tidak boleh berbohong dan menipu pembeli mengenai barang yang dijual
  2. Carilah keuntungan yang wajar. Jika pembeli bertanya, sebutkan harga modalnya
  3. Kepada para pelanggan yang tidak mampu membayar kontan (tunai), berikanlah waktu untuk melunasinya. Bila dia betul-betul tidak mampu membayar setelah masa tenggat pengunduran itu, padahal dia telah berusaha, maka ikhlaskanlah
  4. Hindari sumpah yang berlebihan, apalagi sumpah palsu untuk mengelabui konsumen
  5. Lakukan transaksi jika telah ada kata sepakat antara penjual dan pembeli
  6. Lakukan penimbangan dan penakaran dengan benar dan setepat mungkin
  7. Camkan pada pembeli bahwa yang membayar di muka bahwa ia tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut benar-benar menjadi miliknya (terbayar lunas terlebih dahulu)
  8. Jangan melakukan transaksi monopoli dalam perdagangan, berikan kesempatan yang lain untuk berdagang juga.
Semoga kita semua bisa meneladani beliau. Amin

Referensi:
  1. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dilakukan penjualan, katakanlah: tidak ada penipuan.”
  2. Rasulullah SAW bersabda, “Kedua belah pihak dalam transaksi perdagangan berhak membatalkan, selama mereka tidak berpisah. Jika mereka berkata benar, menjelaskan sesuatunya dengan jernih, maka transaksi mereka akan mendapatkan berkah. Tapi jika menyembunyikan sesuatu serta berdusta, maka berkah yang ada dalam transaksi mereka akan terhapus.” (Bukhari dan Muslim)
  3. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkata, “Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli, dan ketika dia membuat keputusan.” (HR Bukhari)
  4. Nasehat Rasulullah SAW, “Hindarilah banyak bersumpah ketika melakukan transaksi dagang, sebab itu dapat menghasilkan penjualan yang cepat, lalu menghapuskan berkah.”
  5. Abu Sa’id meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, “Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada.”
  6. Ibnu ‘Umar meriwayatkan dari Rasulullah SAW, “Kedua kelompok di dalam transaksi perdagangan memiliki hak untuk membatalkannya hanya sejauh mereka belum berpisah, keculai transasksi itu menyulitkan kelompok itu untuk membatalkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
  7. http://www.facebook.com/notes/jaringan-bisnis-ukhuwah-islamiyah/berdagang-dengan-sunnah-rasulullah-saw/288601072336

29 August 2015

10 Perkara yang Allah Benci

Kebanyakan orang melakukan sesuatu tanpa menyadari bahwa apa yang dilakukan itu sangat dibenci Allah. Kosongnya ilmu dari diri mereka menyeretnya hanyut dalam perkara-perkara yang seharusnya senantiasa dihindari, dijauhi dan bahkan harus dibenci karena Allah juga sangat membencinya.

Ada sepuluh hal yang Allah sangat benci yang tidak seharusnya kita terjerat di dalam perangkapnya :
  1. Kikirnya orang-orang kaya
  2. Takabburnya orang-orang miskin
  3. Rakusnya para ulama
  4. Minimnya rasa malu para wanita
  5. Suka dunia orang-orang yang sudah tua renta
  6. Malasnya para pemuda
  7. Kejinya para penguasa
  8. Pengecutnya para tentara perang
  9. Ujubnya para zahid
  10. Riya’nya para ahli ibadah
Orang-orang kaya itu dihadirkan untuk membei bantuan dan meringankan orang lain, meringankan beban orang-orang tak berdaya sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Kekayaan yang mereka miliki jangan sampai terkonsentrasi pada dirinya dan tidak bisa dinikmati oleh orang lain. Bahkan menurut Rasulullah, cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang tidur kekenyangan sementara tetangganya mengerang kelaparan. Kepedulian sosial adalah bagian sangat penting dalam ajaran Islam yang harus senantiasa dikibarkan panji-panjinya. Orang yang tidak pernah terlibat merasakan denyut nadi perasaan orang lain sesungguhnya dia bukan bagian dari mereka. Barang siapa yang tidak pernah peduli pada masalah-masalah kaum muslimin maka sesungguhnya dia bukan bagian bagian dari mereka.
منن أصبح لا يهتم بالمسلمين فليس منهم
Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka dia bukan bagian dari mereka (HR. Hakim).

Kikirnya orang-orang kaya akan menyumbat kesejahteraan sosial yang menjadi pilar besar ajaran Islam.
وأى داء أدوى من البخل
Lalu penyakit apa lagi yang lebih berbahaya daripada sifat kikir (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Adapun takabburnya orang-orang miskin adalah penyakit yang sulit dimengerti. Apa yang mendorong dirinya menjadi takabbur. Padahal harta tidak punya, kekayaan tidak melimpah. Rumah morat marit, kendaraan sudah berumur. Lalu apa yang membuat mereka sombong? Padahal orang kaya berharta saja yang memiliki kekayaan dan harta berlimpah tidak boleh menyombongkan diri kepada siapa saja. Sebab Allah sangat tidak menyukai perilaku sombong itu karena dia termasuk sifat yang melekat pada Iblis, yang karenanya dia dilaknat Allah dan diusir dari surga serta akan dikekalkan dalam neraka. Simaklah firman Allah berikut ini :
واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وبالوالدين إحسانا وبذي القربى واليتامى والمساكين والجار ذي القربى والجار الجنب والصاحب بالجنب وابن السبيل وما ملكت أيمانكم إن الله لا يحب من كان مختالا فخورا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (An-Nisaa’ : 36).
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (Lukman : 18).

Kesombongan hanya akan menyesakkan dada pelakunya dan memuakkan orang yang dihadapinya. Kesombongan hanya akan merenggangkan keakraban yang selama ini sudah terbina. Kesombongan hanya akan membuat jiwa tidak terkontrol sehingga meremehkan setiap orang yang dihadapinya. Sungguh lebih gila jika kesombongan itu dilakukan oleh orang-orang miskin papa yang tidak memiliki apa-apa. Beda antara harga diri dengan kesombongan. Harga diri adalah mempertahakan kehormatan diri jika dihina sedangkan sombong adalah meremehkan sesama.

Sedangkan para ulama dihadirkan untuk menghadirkan contoh sifat qana’ah dan tidak rakus pada dunia. Ulama sebagai penyeru akhlak dan moralitas hendaknya menyadari bahwa dirinya ditatap, disorot dan diamati oleh sekian ribu mata yang senantiasa menanti perilaku lurusnya. Ulama tidak dilahirkan untuk rakus pada dunia. Sebagai pewaris para Nabi sudah sepantasnya mereka tidak terlalu berpikir mewariskan dunia pada anak-anaknya namun yang dia pikirkan bagimana mewariskan ilmu pada generasinya.

Manusia-manusia yang bukan ulama saja tidak boleh tamak pada dunia apalagi ulama yang seharusnya menjadi contoh bagi mereka. Rakus pada dunia mematikan perburuan pada akhirat dan melemahkan ummat ini. Para pecinta dunia akan terkena penyakit ganas yang disebut dengan”wahn” cinta cinta dunia over-dosis dan takut mati over-dosis.

Para ulama pecinta dunia hampir bisa dipastikan mereka akan kehilangan karisma dan martabat keulamaannya dan akan mendapat gelar “ulama dunia” atau sering pula disebut dengan ulama suu’, ulama buruk.
ويل لأمتى من علماء السوء يتخذون هذا العلم تجارة يبيعونها من أمراء زمانهم ربحا لأنفسهم لا أربح الله تجارتهم
Celakalah bagi ummatku dari ulama buruk yang menjadikan agama ini sebagai komoditas, yang mereka jual pada para penguasa mereka di zamannya demi meraup keuntungan untuk diri mereka sendiri. Allah pasti tidak akan menjadikan bisnis mereka memperoleh keuntungan (HR. Hakim).

Wanita, fitrahnya dihadirkan dengan rasa malu yang luar biasa. Dari cara mereka bicara, cara mereka memandang, cara mereka berjalan ada sentuhan-sentuhan kelembutan yang luar biasa yang menggambarkan bahwa mereka adalah seorang wanita. Wanita dicipta untuk melahirkan kelembutan-kelembutan yang terefleksi dari perilaku mereka yang senantiasa berhiaskan rasa malu. Maka jika seorang wanit sedikit rasa malunya, dunia akan menjadi tidak seimbang lagi. Karena sisi positif wanita telah kehilangan ikatannya. Wanita masa kini tidak lagi merasa memamerkan auratnya di depan laki-laki asing.

Maka jangan heran jika Allah murka karena maksiat mereka. Padahal kita bisa belajar dari apa yang dilakukan oleh dua anak gadis Nabi Syu’aib tatkala mereka mau mengambil air di sebuah sumur lalu keduanya bertemu Musa, sosok wanita ideal yang saat ini tidak pernah lagi jadi perbincangan. Allah berfirman : Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang dzalim itu”. (Al-Qashahs : 25). Malu adalah mahkota seorang wanita, dan kehilangan rasa malu sama dengan kehilangan mahkotanya. Dan secara otomatis hilang pula harga dirinya.

Orang tua renta sudah seharusnya mempersiapkan segala hal untuk kematiannya. Kerentaannya hendaknya memberikan peringatan keras bahwa dia telah dekat untuk menuju ambang kematian. Dia telah jauh berjalan menemupuh liku-liku dunia dan semua uji cobanya. Rambut yang menguban, gigi yang bertanggalan, tulang-belulang yang mulai keroposan adalah sebagai pengingat bahwa kematian akan segera menjelang, menjemputnya bersama ketuaan yang sudah disandang.
Orang tua yang masih senang dunia, mabuk di dalamnya, berebut kenikmatannya yang hanya sementara tentu saja sangat Allah benci. Apakah mereka tidak sadar bahwa dunia akan segera ditinggalkannya, lalu untuk apa dia masih berburu dunia dengan penuh tamak dan cinta yang melampui batas.

Adapun masa muda adalah masa paling produktif dalam kehidupan manusia. Masa muda adalah masa gelora kehidupan mereka. Masa muda adalah masa penentuan masa depan yang sesungghnya. Maka malasnya pemuda adalah alamat awal dari suram dan buramnya masa depan mereka. Gelap dan gulitanya hari-hari ke depan mereka. Manusia yang tidak memiliki awal yang cemerlang biasanya sulit menuai cahaya di ujung kehidupan. Pemuda tiang sebuah bangsa.
Maju dan tidaknya sebuah bangsa berada pada produktivitas mereka, sedangkan bangkrut dan hancurnya sebuah negara ada pada kemalasan mereka. Islam di awal-awal bangkit karena dukungan para pemuda enerjik yang anti kemalasan. Siang mereka adalah kerja keras dan malam mereka adalah ibadah malam.
Rasulullah menghimpun orang-orang mulia dalam tujuh golongan diantaranya adalah pemuda yang enerjik. Rasulullah bersabda :
سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله إمام عادل وشاب نشأ في عبادة الله ورجل قلبه معلق بالمسجد إذا خرج منه حتى يعود إليه ورجلان تحابا في الله فاجتمعا على ذلك وافترقا عليه ورجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه ورجل دعته امرأة ذات منصب وجمال فقال إني أخاف الله رب العالمين ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه
Tujuh golongan orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Peminpin yang adil, pemuda yang tumbuh berkembang dalam beribadah kepada Allah, lelaki yang hatinya senantiasa terpaut ke mesjid tatkala dia keluar darinya hingga dia balik kembali, dua lelaki yang saling mencinta karena Allah. Dia berkumpul karenanya dan berpisah karenanya pula. Lelaki yang mengingat Allah sendirian kemudian kedua matanya mengalirkan air mata, lelaki yang dipanggil oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan cantik lalu dia berkata : Sesunggguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam, seseorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya (HR. Malik, Tirmidzi, Bukhari Muslim).
Peminpin sebagaimana diisyaratkan hadits di atas juga seharusnya berbuat adil bukan berlaku kejam agar mereka mendapat naungan Allah di hari kiamat. Keadilan mereka sangat ditunggu dan dirindu oleh rakyat. Karena harapan keadilan memang bertumpu pada para penguasa itu. Keadilan adalam dambaan setiap orang, cita setiap insan. Tatkala seorang penguasa yang seharus adil berubah menjadi keji maka kemurkaan Allah yang demikianpedih telah menunggu mereka. Karena Allah sangat tidak suka pada mereka yang berbuat zhalim. Allah berfirman : Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang dzalim (Ali Imran : 151).

Para prajurit yang berlaga di medan perang adalah manusia-manusia pilihan untuk melakukan pembelaan terhadap agama mereka. Maka harus tidak ada dalam jiwa mereka rasa pengecut dan gentar saat menghadapi musuh sebesar apapun jumlah musuh yang ada di depan mereka. Selengkap apapun peralatan musuh yang mereka miliki. Jiwa prajurit adalah jiwa ksatria yang pantang menyerah pada musuh.

Jiwa prajurit tidak pernah menyimpan sikap pengecut dalam kamus hidup mereka. Sikap pengecut hanya akan menjadi virus yang menularkan kegentaran pada prajurit lain dan akan merusak semangat juang mereka. Oleh sebab itulah sungguhh sangat hina manusia-manusia yang melarikan diri pada saat perang sedang berkecamuk. Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur) (Al-Anfaal : 15).

Ujub adalah penyakit hati yang bisa menyerang siapa saja. Tidak terkecuali pada zahid yang banyak menghindari dunia dan lebih dekat pada akhirat. Namun kezahidan mereka akan menuai murka Allah jika dalam kezahidan itu bergemuruh ujub yang membuncah dalam ucapan dan perilaku mereka.
Rasulullah bersabda :
ثلاث مهلكات : شح مطاع ، وهوى متبع ، وإعجاب المرء بنفسه
Tiga perkara yang menghancurkan : kekikiran yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti dan ujub dengan pendapat sendiri (HR. Bazzar dan Ath-Thabrani).

Yang tak kalah sengitnya akan mendapatkan murka Allah adalah mereka yang menyatakan diri sebagai ahli ibadah namun riya’ menyelimuti seluruh ritual ibadahnya, mengiringi setiap langkah ibadahnya. Pujian selalu dia harapkan dari mulut manusia, pujaan selalu mereka dambakan dari lisan mereka. Sungguh celakalah mereka karena sesungguhnya riya’ itulah syirik kecil yang sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah agar kita meninggalkannya.

Maka, jika kita menjadi orang kaya dermawanlah pada sesama. Jika kita ditakdirkan menjadi seorang miskin lebih rendah hatilah pada manusia. Jka kita menjadi ulama janganlah rakus pada dunia. Jika Anda seorang wanita maka ingat bahwa mahkota Anda ada pada rasa malu Anda. Jika kita telah tua renta maka segeralah rakus pada akhirat. Jika jika masih muda maka semangatlah bekerja untuk mengisi amanah khilafah di dunia yang Allah bebankan kepada Allah.

Dan jika Anda penguasa berbuat adillah pada orang yang kita pimpin. Jika Anda ada di medan tempur bersikaplah berani. Kalaupun Anda adalah seorang zahid tapi tak layak bagi Anda untuk berkata dan berbuat ujub dan jangan pula ibadah Anda terkotori oleh riya’ yang sering menjangkit jiwa tanpa diduga.

Semoga kita selamat dari sepuluh perkara di atas agar murka Allah tidak menimpa kita dan bangsa kita.

=======================
-Ustadz Samson-

29 July 2015

Nasehat Paska Hari Raya

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, pekerjaan itu dinilai dari akhirnya. Sesungguhnya Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia dan orang-orang yang sebelum Rasulullah binasa karena mabuk dinar dan dirham dan keduanya akan juga menghancurkan kita. Sesungguhnya yang paling Rasulullah takutkan dari umatnya adalah syahwatnya orang-orang kaya yang tak mampu membendung keinginan perutnya dan gejolak gerakan kemaluannya. Sesungguhnya Allah akan memberikan rahmat-Nya pada orang-orang yang kasih pada sesamanya.

Sesungguhnya harta abadi Anda adalah yang Anda berikan pada sesama. Sesungguhnya orang-orang yang rela dengan kehinaan adalah orang-orang yang merindu dunia. Sesungguhnya cinta seseorang itu akan kelihatan saat orang lain sedang berada dalam kesempitan. Sesungguhnya dalam infak terdapat sekian keajaiban.

Sesungguhnya qadha’ bisa ditolak dengan doa dan munajat, umur bisa bertambah karena kebaikan dan kebajikan yang kita lakukan, sabar bisa diperoleh dengan dengan banyak menelan pengalaman. Dan kefakiran yang paling besar adalah kebodohan. Sesungguhnya akal adalah asset kita yang paling mahal. Orang yang ujub akan terasingkan, tak akan pernah ada sesal dalam musyawarah. Karena dia pintu yang menyelesaikan masalah. Kecerdasan itu itu ada dalam perencanaan yang matang. Dalam akhlak ada kebrilianan, dalam perenungan terangkum ibadah kepada Allah.

Sesungguhnya dalam rasa malu dan sabar ada keimanan. Hilangnya amanah adalah lenyapnya keimanan, pengingkaran janji adalah tanda sirnanya agama.
Sesungguhnya dosa besar akan diampuni jika disertai istighfar, dan dosa kecil tidak akan bisa terhapus jika tiada henti dilakukan. Tidaklah layak bagi seorang mukmin untuk merendahkan dirinya sendiri dengan menadahkan tangan tangan pada sesama, dengan mengemis pada ciptaan Allah juga. Dengan merengek pada makhluk yang sesungguhnya juga tidak berdaya.

Sesungguhnya Tidaklah akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dengan keusilannya. Yang terganggu dengan kekejamannya, yang sesak dadanya karena keangkuhannya, yang risau dengan ocehan-ocehannya. Tidaklah pantas Anda mengharapkan keselamatan pada diri Anda sendiri sepanjang orang lain tidak selamat dari keusilan Anda.

Syukurilah sekecil apapun kebaikan yang dilakukan oleh orang lain kepada Anda. Karena sesungguhnya yang tidak mampu menyukuri yang kecil tidak akan mampu menyukuri yang besar. Syukur kita akan bergulir jika kita mampu menyukuri yang ada dan akan menyukuri nikmat apapun yang akan tiba.
Sesungguhnya tidaklah terpuji ketergesaan, dan tidak akan bahagia orang yang berdusta, iri dan dengki, tamak dan angkuh. Karena ini adalah virus yang menggerogoti kejernihan hati nurani.

Sesungguhnya para pembosan itu sulit mendapatkan teman, dan pendengki tidak akan pernah menjadi mulia, pemalas tidak akan pernah menjadi kaya. Dan para pendendam hanya akan menderita penyakit jiwa.

Sesungguhnya kebaikan orang-orang terpilih itu adalah karena perenungan dan pemikiran yang dalam. Sedangkan rusaknya orang-orang yang jahat disebabkan karena sama sekali tak memiliki visi ke depan.

Sesungguhnya tak ada yang lebih lezat di dunia ini lebih dari kemuliaan ilmu, sucinya diri, kesejukan jiwa, rasa puas dengan yang ada, dan manisnya memberi pada sesama, luruh di hadapan Pencipta, menangisi dosa-dosa dan merenungi semesta.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata: Fitnah itu muncul dari tiga jalur. Pertama, perempuan-perempuan. Mereka adalah perangkap iblis yang terus terpancang mencari mangsa. Kedua, minuman-minuman keras yang memabukkan, dan ini adalah pedangnya yang selalu terhunus. Sedangkan yang ketiga adalah dirham dan dinar. Keduanya adalah busur panah beracun yang siap membunuh setiap saat.

Barang siapa yang terjerat perempuan jangan berharap hidupnya akan bersih dan bening. Barang siapa yang jadi peminum tak akan pernah berakal bersih. Siapa saja yang senang dengan dinar-dirham-dolar dia akan menjadi budaknya yang penurut padanya sepanjang hidup.

Sesungguhnya maksiat itu membuat terhalangnya komunikasi antara hamba dan Rabb, melahirkan kemurungan yang berlarut-larut, rasa takut yang mengguncang hati, kesulitan hidup yang terus menghimpit, membuat hati gelap gulita tak bisa ditembus cahaya nasehat, kemuraman akan menyelimuti. Lubang rizki akan menyempit, kemurkaan Allah, keimanan akan anjlok dan musibah datang silih berganti.

Maksiat itu melahirkan kehinaan karena kemuliaan m lahir dari ketaatan kepada Allah, akal menjadi rusak karena maksiat memadamkan cahaya akal. Kelalaian akan menjadi kebiasaannya
Ibnu Abbas pernah mengatakan tentang maksiat ini : Sesungguhnya maksiat itu adalah kegelapan di wajah, dan gulita di dalam hati, kebencian yang menebar di tengah manusia, kelemahan dalam jasad, minimnya rezki. Sebaliknya taat adalah cahaya di wajah, dan cahaya di dalam kalbu, dicinta banyak manusia dan lapangnya rezki.

Maksiat membuntukan pikiran waras kita, menggelapkan kejernihan pikiran kita, menghitamkan putihnya nurani kita. Maksiat akan membelenggu kebebasan kita, akan menelikung kelincahan kita, akan menggembosi energi ketakwaan kita, akan mematikan potensi keimanan kita. Maka tak ada jalan lain selain mengatakan good by pada maksiat. Sebab kedekatan kita dengan maksiat akan menjauhkan kita dari Sang Mahadekat.

Perangilah maksiat dengan niat dan tekad, dan sebaik-baik sarana memeranginya adalah banyak berteman dengan orang-orang yang memiliki aura dan perilaku saleh. Dua resep manjur meninggalkan maksiat adalah : Berteman dengan orang-orang baik dan melakukan amal saleh.

Sesungguhnya kita ini adalah hamba Allah yang dicipta untuk mengabdi pada-Nya, dengan tugas memakmurkan semesta dengan amal bakti kepada sesama. Menebarkan kasih di tengah mereka, menyiramkan sayang di ubun-ubun mereka. Tugas kita adalah menyalehkan diri kita dan menyalehkan orang lain agar semesta menjadi tentram tanpa terlalu banyak huru-hura. Damai dengan nilai-nilai Islam yang ramah, dengan norma-norma Islam yang menentramkan.
Tugas kita adalah mengalirkan kasih sayang Allah pada seluruh ummat manusia, dan mencegah angkara murka dari tangan-tangan yang kejam yang menginginkan darah mengalir tanpa sebab apa-apa. Tugas kekhilafahan kita adalah menjadikan orang lain merasa aman bersama kita, damai bersama kita karena Islam adalah damai dan menentramkan.

Tugas kita adalah menebarkan keadilan lewat aksi dan bukan kata, lewat bukti dan bukan semboyan belaka, lewat makna bukan melalui kata-kata bersayap yang mungkin penuh pesona tapi sebenarnya penuh racun berbisa.
Tugas kita adalah meratakan kesejahteraan lewat tangan-tangan sederhana kita, lewat pikiran-pikiran jernih kita. Melalui tangan kekuasaan kita jika kita telah memilikinya, lewat lisan-lisan kita jika kita mampu mengungkapkannya.
Jangan ada dusta diantara kita. Keadilan hanya semboyan belaka, persatuan hanya di sekeliling kelompok kita, pembangunan hanya untuk segelintir manusia, kesejahteraan mengerucut hanya di rumah-rumah kita.

Jangan ada dendam diantara kita. Ummat ada di atas segalanya, melampaui batas-batas partai, golongan jamaah apalagi suku yang oleh Sang Nabi Agung disebut sebagai benda busuk dan bau. Tak ada wewangian dalam fanatisme sempit kita, tak ada semerbak surga dalam sekat-sekat yang kita bangun yang membuat kita tidak peduli pada sesama.

Sudah terlalu lama kita dibentur-benturkan dengan saudara kita sendiri, diadu domba dengan bangsa sendiri, dilaga dengan saudara seiman kita sendiri. Sehingga kita mengalami keletihan pikiran, jiwa dan raga sebelum kita berhadapan dengan orang-orang yang memusuhi kita atau tidak suka kalau kita bersatu di bawah payung Islam yang lebih besar bukan di payung-payung kecil yang sering kali membuat kita lupa bahwa kita memiliki payung besar : Islam.

Sesungguhnya kesatuan ummat adalah dambaan semua. Cita setiap kita, obsesi setiap muslim yang kini sedang berpuasa. Dan akan menyambut Hati Raya. Persatuan adalah kekuatan dan cerai berai adalah kelemahan. Kita tahu bersatu itu sebuah energi besar tapi kita tidak tahu cara merealisasikannya. Kita tahu bahwa persatuan itu adalah nikmat besar, namun kita tak sanggup untuk menggapainya. Kita tahu bahwa puasa mengajarkan kita makna persatuan dan solidaritas antara sesama, tapi kita menyekatnya dengan kepentingan-kepentingan jangka pendek yang akan segera sirna.

Hari Raya , menjadi mementum besar kita untuk memompa kembali kesadaran masing-masing kita bahwa kita dilahirkan untuk menjadi pemimpin dunia, menjadi imam peradaban dunia. Dan dia dia akan lahir jika kita mampu menyatukan visi, misi dan langkah untuk menggapainya.
Jadikan firman Allah di bawah ini selalu menggerakkan kita mmenjadi imam peradaban dunia :
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله ولو آمن أهل الكتاب لكان خيرا لهم منهم المؤمنون وأكثرهم الفاسقون
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(Ali Imran : 110).

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيد
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (Al-Baqarah : 143).

ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (Ali Imran : 139).

Tiga kata kunci Allah berikan kepada kita bahwa kita adalah :: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya).

Allah tidak memberikan ini kecuali karena Dia telah memberikan kepada kita semua potensi dan energi untuk mencapainya.
Selamat Hari Raya Iedul Fitri , kembali ke fitrah kembali pada posisi kejayaan kita : Ummat terbaik di alam semesta.

=====================
-Ustadz Samson-

29 May 2015

Arti Rezeki Yang Diberi

Masih teringat di pikiran dan hatiku tentang nasihat seorang dai yang dikenal oleh umat muslim di Indonesia. Bahwasanya Allah telah mengatur rezeki hamba-hambanya. Sebegitu besarnya sifat Ar Rahman dan Ar Rahim pada diri-Nya, Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-hamba berada dalam kesusahan.

"Rezeki kita tidak dihitung dengan gaji yang kita dapat ditiap bulannya,’ kata-katanya pelan tapi menyentuh hati sekian karyawan yang sedang duduk mendengarkannya.

Jika rezeki dihitung dengan gaji yang kita dapatkan di setiap bulannya maka tidak akan pernah cukup untuk menampung segala kebutuhan kita hingga saat ini. Rezeki kita sudah ditentukan olehnya, bagaimana mendapatkan, kapan mendapatkan dan dalam bentuk apa dia diberikan. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana terus memperbaiki diri, berusaha dan membersihkan hati sehingga rezeki itu mudah untuk sampai kepada diri kita.

Rezeki Allah itu akan datang dan menghampiri orang-orang yang senantiasa yakin akan kehendak-Nya, baik dengan cara yang dipahami maupun yang tidak pernah diperkirakan hamba-hambanya.

Beliau menceritakan bagaimana seseorang yang terlilit utang berjuta-juta. Meskipun segala usaha dilakukan, semua pendapatan dikumpulkan tetap belum bisa untuk melunasi utang yang telah menumpuk. Namun keimanan seorang mukmin akan sangat terlihat ketika dirinya menghadapi ujian Allah, seorang mukmin akan terus berusaha dan tidak pernah lupa untuk menyerahkan kembali segala urusan kepada Allah. Menghilangkan pasrah dan menggantinya dengan berusaha serta terus berdoa dibarengi keyakinan bahwa Allah sudah mengatur segala kejadian.

Hasilnya, beberapa hari sebelum jatuh masa pembayaran, di mana seseorang yang berutang dihampiri kebingungan untuk mempertanggungjawabkan utangnya, tiba-tiba seseorang sahabat nun jauh di sana datang menghampirinya. Sang sahabat yang memang mengerti cerita mengenai utang tersebut sertamerta membantunya melunasi utang-utang tersebut. Entah dengan alasan apa pun tapi hutan pun sedikit-demi sedikit terlunasi dengan bantuan sang sahabat tanpa pamrih.

Inilah yang disebut rezeki, dia tidak dihitung dengan gaji, dia adalah nikmat yang tak terhingga di sekitar kit a, tinggal bagaimana cara kita memperbaiki diri, terus berusaha gigih, terus memperbaiki diri dan terus memperbaiki diri, agar re­zeki itu datang menghampiri. Hati yang bersih adalah hati yang senantiasa mengingat Allah baik di saat lapang dan sempit, hati yang bersih akan mengubah paradigma kita tentang keyakinan bahwa tidak ada jalan buntu dalam setiap masalah dan dengan itu pulalah rezeki kita dimudahkan oleh-Nya. Mari pahami arti rezeki dan syukuri atas segala nikmat tak terhitung yang telah diberikan.

05 May 2015

Ujub dan Takabur

Berikut ini sebuah cerita dari Bayazid Al-Busthami, yang insya Allah, dapat kita ambil pelajaran daripadanya; Di samping seorang sufi, Bayazid juga adalah pengajar tasawuf. Di antara jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak. Santri itu juga menjadi kyai bagi jamaahnya sendiri. Karena telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan kesalihannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian tertentu.

Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Bayazid, "Tuan Guru, saya sudah beribadat tiga puluh tahun lamanya. Saya shalat setiap malam dan puasa setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang Tuan Guru ceritakan. Saya tak pernah saksikan apa pun yang Tuan gambarkan."

Bayazid menjawab, "Sekiranya kau beribadat selama tiga ratus tahun pun, kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu."

Murid itu heran, "Mengapa, ya Tuan Guru?"
"Karena kau tertutup oleh dirimu," jawab Bayazid.
"Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap?" pinta sang murid.
"Bisa," ucap Bayazid, "tapi kau takkan melakukannya."
"Tentu saja akan aku lakukan," sanggah murid itu.

"Baiklah kalau begitu," kata Bayazid, "sekarang tanggalkan pakaianmu. Sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang-camping. Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang. Pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana. Katakan pada mereka, "Hai anak- anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang." Lalu datangilah tempat di mana jamaah kamu sering mengagumimu. Katakan juga pada mereka, "Siapa yang mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang!"

"Subhanallah, masya Allah, lailahailallah," kata murid itu terkejut.
Bayazid berkata, "Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir."

Murid itu keheranan, "Mengapa bisa begitu?"
Bayazid menjawab, "Karena kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal sebenarnya kau sedang memuji dirimu. Ketika kau katakan: Tuhan mahasuci, seakan- akan kau mensucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu."

"Kalau begitu," murid itu kembali meminta, "berilah saya nasihat lain."
Bayazid menjawab, "Bukankah aku sudah bilang, kau takkan mampu melakukannya!"
Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Bayazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadat mudah terkena penyakit ujub dan takabur.

"Hati-hatilah kalian dengan ujub," pesan Iblis. Dahulu, Iblis beribadat ribuan tahun kepada Allah. Tetapi karena takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang serendah-rendahnya.

Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita. Kita sering merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Bayazid menyuruh kita menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu dan kerendah-hatian. Hanya dengan itu kita bisa mencapai hadirat Allah swt.

Orang-orang yang suka mengaji juga dapat jatuh kepada ujub. Mereka merasa telah memiliki ilmu yang banyak.

Suatu hari, seseorang datang kepada Nabi saw, "Ya Rasulallah, aku rasa aku telah banyak mengetahui syariat Islam. Apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?"

Nabi menjawab, :"Katakanlah: Tuhanku Allah, kemudian ber- istiqamah-lah kamu."
Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadat. Orang sering merasa ibadat yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap ibadat sebagai investasi.

Orang yang gemar beribadat cenderung jatuh pada perasaan tinggi diri. Ibadat dijadikan cara untuk meningkatkan statusnya di tengah masyarakat. Orang itu akan amat tersinggung bila tidak diberikan tempat yang memadai statusnya. Sebagai seorang ahli ibadat, ia ingin disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk yang paling utama.

Tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnad-nya; Suatu hari, di depan Rasulullah saw Abu Bakar menceritakan seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya. Ketekunannya menakjubkan semua orang. Tapi Rasulullah tak memberikan komentar apa-apa. Para sahabat keheranan. Mereka bertanya-tanya, mengapa Nabi tak menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat ahli ibadat itu. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu lewat di hadapan majelis Nabi. Ia kemudian duduk di tempat itu tanpa mengucapkan salam.

Abu Bakar berkata kepada Nabi, "Itulah orang yang tadi kita bicarakan, ya Rasulallah."
Nabi hanya berkata, "Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya."
Nabi lalu mendekati orang itu dan bertanya, "Bukankah kalau kamu datang di satu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling salih di majelis itu?"

Sahabat yang ditanya menjawab, "Allahumma, na’am. Ya Allah, memang begitulah aku." Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis Nabi.

Setelah itu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, "Siapa di antara kalian yang mau membunuh orang itu?"
"Aku," jawab Abu Bakar.
Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi, "Ya Rasulallah, bagaimana mungkin aku membunuhnya? Ia sedang ruku’."

Nabi tetap bertanya, "Siapa yang mau membunuh orang itu?"
Umar bin Khaththab menjawab, "Aku." Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali tanpa membunuh orang itu, "Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang sedang bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?"

Nabi masih bertanya, "Siapa yang akan membunuh orang itu?"
Imam Ali bangkit, "Aku." Ia lalu keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan pedang yang masih bersih, tidak berlumuran darah, "Ia telah pergi, ya Rasulullah."

Nabi kemudian bersabda, "Sekiranya engkau bunuh dia. Umatku takkan pecah sepeninggalku...."

Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah:
Selama di tengah- tengah kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling salih, paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin. Nabi memberikan pelajaran bagi umatnya bahwa perasaan ujub akan amal salih yang dimiliki adalah penyebab perpecahan di tengah orang Islam. Ujub menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu, belajarlah menghinakan diri kita. Seperti yang dinasihatkan Bayazid Al-Busthami kepada santrinya.

***

Sumber Eva Kurniawan

29 April 2015

Di Akhir Zaman Nanti “Madzhab” Artis Paling Banyak Diikuti Masyarakat dan Umat Islam

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa kondisi masyarakat sekarang ini dan khususnya umat islam, yang semakin terpuruk dan rusak keadaannya disamping karena bodoh dan tidak faham tentang masalah dien (agama), hal terebut juga dikarenakan “krisis” keteladanan dalam mengamalkan dien (agama) mereka sebagai cara untuk menghantarkan ke-kehidupan yang abadi yaitu akhirat.

Dengan rusaknya masyarakat dan umat islam tersebut karena kebodohan mereka dalam urusan dien, akhirnya dengan “sekenanya” mereka mencari sesuatu yang bisa ditiru dan dicontoh untuk dijadikan panutan dan solusi untuk mengarahkan diri dan hidup mereka, menuju gaya hidup yang bisa menjadikan mereka “enjoy” dan nyaman serta tujuan setiap manusia yaitu masuk surga.

Dan salah satu trend dan “Madzhab” yang paling laku dan laris di akhir zaman nanti adalah gaya hidup Artis. Gaya hidup artis, baik artis yang beragama islam atau diluar islam (yang beragama Kafir), artis dalam negeri maupun luar negeri akan banyak dijadikan “referensi” umat di akhir zaman nanti untuk dijadikan barometer dan sebuah panutan dalam menjalankan kehidupan mereka.

Maka, saat-saat sekarang ini kita tidak perlu heran dan “geleng-geleng kepala” jika masyarakat dan khususnya umat islam sekalipun baik yang berjilbab (jilbab gaul) dan menjalankan sholat, dengan enteng dan mudahnya suka dan nyaman dalam mendengarkan musik, minum khomer bahkan perilaku yang paling bejat sekalipun yakni free sex (berzina).

Hal ini disampaikan oleh Ustadz Abu Fatiah Al-Adnani pada saat kajian rutin senin malam diMasjid Al Huda, Kerunbaru, Belangwetan, Klaten, Jawa Tengah . Ustadz muda yang sudah banyak sekali menulis buku-buku best seller yang bertemakan akhir zaman ini, menuturkan sambil menyitir sebuah hadits Nabi Muhammad saw bahwa hal tersebut (perbuatan mengikuti tatacara kehidupan artis) akan merebak diakhir zaman nanti dan ironinya hal tersebut akan dianggap sesuatu yang biasa-biasa saja dan halal dimata masyarakat.

“Rosululloh saw bersabda, “(Akan terjadi di akhir zaman) pada umat ini pembenaman (bumi), pengubahan rupa (manusia) dan hujan batu (meteor). Lalu ada sahabat yang bertanya, “Ya Rosululloh, kapan peristiwa tersebut akan terjadi?” Maka Rosululloh saw bersabda, “Apabila biduwanita (selebritis/artis) telah merajalela (bermunculan atau unggul), alat-alat musik dan khomer dianggap biasa (dianggap halal)”. (HR. Tirmidzi 2212 – Al Fitan dari hadits ‘Imran bin Hushain, Ibnu Majah 4060 – Al Fitan dari haadits Sahl bin Sa’d dan Thabrani dalam Mu’jamul Kabir dan Mu’jamul Aushat. Hadits ini Shohih)”, Ujar beliau.

Beliau kemudian melanjutkan penjelasannya bahwa hadits ini mengisyaratkan bahwa di akhir zaman nanti masyarakat akan lebih banyak menjadikan artis sebagai panutan dalam kehidupan mereka. Mulai dari bangun tidur mereka (para selebritis atau artis) hingga mereka tidur lagi, semuanya akan ditiru.

“Hadits ini mengisyaratkan bahwa di akhir zaman, ideologi yang akan muncul (dhohir) ataupun gaya hidup yang akan menjadi panutan, yang dhohir yaitu gaya hidupnya para selebritis atau artis. Dimana A sampai Z-nya, tidur sampai bangunnya, yang dilakukan oleh mereka akan menjadi bahan berita yang tak akan selesai-selasai diceritakan. Kemudian A sampai Z-nya berarti gaya makan gaya minum gaya berpakaian, sampai gaya berumah tangganya-pun yang kadang-kadang seorang artis wanita punya suami rangkap itu juga ditiru atau yang laki-lakinya hobi berselingkuh itu juga ditiru, ini makna Dhoharo. Dan hal ini sudah terjadi pada zaman ini”, Ungkap Ustadz Abu Fatiah sapaan akrab beliau.

Lebih jelasnya beliau mengungkapkan hal ini terjadi karena adanya krisis keteladanan, para artis yang menghiasai layar kaca (TV) malah dijadikan Nabi-nya umat islam, padahal sebagai orang islam yang harusnya dijadikan uswah (contoh/teladan) adalah Rosululloh saw.

“Dan hal ini terjadi karena Nabi-nya kaum muslimin bukan lagi Rosululloh saw, tapi Nabi mereka yaitu artis. Dan contoh kecil dari fenomena ini yaitu nampak ketika Lady Gaga datang ke Indonesia, bagaimana harga tiket yang sebesar 500 ribu sampai 2 juta-an habis dan ludes hanya dalam hitungan hari saja”, tegas Ustadz yang juga pengajar Ponpes Darusy-Syahadah Simo Boyolali itu.

Gaya Hidup Minum Khomer, Musik dan Free Seks, Tanda bahwa Kiamat Sudah Dekat

Melihat berbagai fenomena akhir-akhir ini seperti luapan Lumpur Lapindo di Sidoharjo Jawa Timur yang sampai sekarang ini tidak bisa diprediksi oleh siapapun dan kapan semburan lumpur tersebut akan berhenti, sudah bisa dijadikan suatu pelajaran bagi semuanya.

Bahkan DR. Gamal seorang pakar gempa UNS Solo pernah menyampaikan makalah dalam sebuah diskusi bahwa Sidoharjo itu dilihat dari struktur dan karakter tanahnya, SOP-nya, cara pengeborannya dan lain sebagainya itu sebetulnya sama saja dengan Sumatra, ujung pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan lainnya sebagainya. Tapi kenapa Sidoharjo yang lebih dulu ditakdirkan Allah “ambles” duluan?? Dengan bahasa kiasan yang agak menyindir, beliau menyampaikan bahwa kelihatannya ada kunci yang coba dibuka, yakni Inul dengan goyang ngebornya.

Meski artis selain inul mungkin banyak yang lebih heboh dan porno, tapi inul secara fakta telah menjadi simbol dan ikon atau kunci dari “goyangan-goyangan” berikutnya yang lebih seronok lagi. Bahkan ada salah satu asatidz yang juga konsen dibidang pembahasan Huru-Hara akhir zaman menyatakan dan memprediksi bahwa Lumpur Lapindo Sidoharjo tersebut merupakan penterjemahan dari hadits Nabi saw yang menyatakan bahwa akan terjadi pembenaman bumi di timur, barat dan jazirotul arab (khosfun fil-masyriq, khosfun fil-magrib wa khosfun fil-jaziratul arab). Dan di Sidoharjo merupakan khosfun fil-masryiq (pembenaman bumi di timur).

Kemudian, ada pula kisah manusia (wanita) yang berubah menjadi tikus karena ia mencampakkan Al Qur’an yang dibaca oleh sang ibu, sedangkan wanita itu asyik dengan musik yang didengarnya. Wanita itu kemudian membuang mushaf Al Qur’an yang sedang dibaca ibunya karena dia merasa terganggu dengan bacaan Al Qur’an ibunya pada waktu dia sedang asyik mendengarkan suara musik.

“Dan pembenaman bumi, pengubahan rupa dan hujan meteor itu terjadi ketika khomer dan musik sudah menjadi gaya hidup, artis juga menjadi gaya hidup. Padahal kita tau kehidupan artis, khomer dan musik ini nyatu rata-rata, tambah lagi kalau sudah ada lagi artis dan khomer free seks, kan begitu. Ini sudah padanannya, sehingga kita tau bahwa penyakit AIDS dan berbagai macam jenis penyakit kelamin ini hubungannya erat dengan ketiga hal diatas, musik khomer artis. Lihat, semua artis sampai mantan-mantan artis yang tobat pernah mengatakan; mustahil artis kok tidak kenal free seks, mustahil artis kok artis tidak kenal narkoba, wong tempat kongko-kongkonya isinya semacam itu”, jelas Ustadz Abu Fatiah

Maka beliau menyampaikan kepada para jama’ah untuk tidak heran jika melihat artis apalagi para pejabat dengan sangat gampangnya melakukan segala macam kemaksiatan seperti suka mendengarkan main musik maupun selingkuh atau free seks. Dan hal ini terungkap ketika Fredy Numberi mantan menteri Kelautan ketahuan selingkuh dengan awak berita stasiun TV swasta yang umurnya selisih 40 tahun. Jika Fredy Numberi saja yang wajahnya seperti itu dengan postur tubuh yang tidak mengenakkan dipandang saja masih laku dan bisa melakukan perselingkuhan, lalu bagaiman dengan para artis atau para pejabat yang punya wajah ganteng dan body atletis?? Tentu akan lebih sangat berpotensi untuk melakukan hal tersebut.

“Jadi nampaknya kita tak perlu geleng2 kepala kalau kita mendengar Fredy Numberi ceritanya berakhir seperti itu, itu hanya gunung es saja. saya membaca buku yang berjudul “Parlemen Undercover”, ya mengerikan walaupun menggunakan bahasa-bahasa kiasan. Tetapi disitu menggambarkan bagaimana dunia pejabat yang memang yang dia bisa berbuat sebebas-bebasnya dengan duit yang semau-maunya dengan fasilitas yang anda bisa tau isinya semacam itu, maka berpeluang untuk melakukan perbuatan2 itu hal yang semacam sangat logis sekali, apalagi dunia artis”, Ungkap beliau.

Terakhir beliau mengambil kesimpulan bahwa dhoharo dalam hadits diatas artinya bukan hanya sekedar nampak, tapi sudah unggul diatas. Dan hal ini kalau bisa dikiaskan sudah sama seperti sebuah Madzhab. Jika dikalangan umat islam masyhur dengan 4 madzhab, maka diakhir zaman nanti akan ada satu madzhab lagi yang akan dijadikan pedoman dan panutan oleh kaum muslimin dalam membantu peribadatan mereka dan gaya hidup mereka, yakni Madzhab Artis.

“Jadi dhoharo maknanya bukan sekedar muncul, tetapi dia sudah unggul diatas. Kalau dikatakan dhoharotul qoinat (munculnya para artis), itu digambarkan bahwa madzhab artis ini adalah madzhab terbesar sedunia. Sehingga nanti memilih apapun harus berbasis artis, pemimpin pejabat gubernur sampai ustadz-pun berbasis artis, kan seperti, ustadz yang selebritis, ini yang akan memiliki pengikut yang paling banyak. Maka dhoharotul qoinat, itu menggambarkan tentang betapa ideologi artis, ideologi musik, ideologi minuman keras itu akan menjadi madzhab terbesar bagi seleuruh umat manusia yang dampaknya nanti Allah akan menghukum mereka dengan pembenaman bumi, hujan meteor dan perubahan wajah”, tutup beliau.

25 April 2015

Krisis Ekonomi Itu Biasa

Beberapa pekan yang lalu , di sebuah acara reuni “sekolah dasar” , beberapa teman lama berkumpul di sebuah café di bilangan Jakarta , kami sangat surprise , karena kami masih bisa berkumpul walau lebih dari dua puluh lima tahun tak pernah bertemu sebelumnya, acaranya sangat hangat dan penuh canda, meskipun wajah dan penampilan kami sudah tidak semungil dan selucu dahulu. Di tengah gurauan dan canda, terselip pembicaraan serius seorang rekan mengenai kegelisahannya terhadap dampak krisis ekonomi yang tidak menentu ini, usahanya mengalami penurunan bahkan terancam ditutup dalam waktu yang segera mungkin, dia mengalami kebingungan yang amat sangat, saya berpendapat bahwa masalah krisis itu bukan saja berdampak kepada dirinya saja, tetapi juga menyita perhatian khususnya para praktisi usaha.

Beritanya sangat mudah ditemukan di media cetak, elektronik televisi, radio maupun berbagai situs internet, setiap hari, ya, hampir setiap hari tentunya, memberitakan krisis ekonomi yang kian merosot tajam, hal tersebut bukan saja di negeri yang kita cintai ini, bahkan krisis ini mendunia. Bukan saja perusahaan yang bergerak di perbankan yang terkena dampak langsung, juga perusahaan otomotif, manufaktur, tambang, real estate, dan lainnya yang berskala raksasa bisnis, sebutlah perusahaan besar seperti Citibank, general motor, ford, Volkswagen, lehmann brothers, dan lainnya.

Tak lepas juga , berdampak kepada perusahaan lokal di negeri yang kita cintai ini, dari perusahaan berskala kecil maupun besar, hal ini membuat gusar para direksi dan pemegang saham, dan juga memunculkan kekhawatiran ancaman PHK maupun dirumahkan bagi ribuan pegawai yang bernaung di perusahaan tersebut.

Begitu banyak analisa pakar ekonomi, ditinjau dari angka demi angka, asumsi demi asumsi, bahwa waktu pemulihannya memakan waktu satu hingga tiga tahun, waktu yang relatif lama untuk proses pemulihan, dan inipun menjadi kekawatiran para pekerja yang telah dan akan terancam di PHK, karena dana kompensasi yang mereka peroleh dari hasil PHK hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sekian bulan saja, dan bagaimana selanjutnya hidup mereka, ini menjadi beban kehidupan yang berat. Bila krisis ini tak terselesaikan dalam waktu dekat maka para analis memprediksikan bukan saja krisis ekonomi yang terjadi lebih dasyat, juga akan merambat kepada krisis politik maupun sosial, mengerikan sekali…

Begitulah krisis bila melanda…

Tahukah anda, bahwa kelapangan dan kesempitan akan selalu datang silih berganti dan selalu di jumpai oleh setiap generasi, ingatkah anda resesi yang terjadi di tahun 1998, krisis politik maupun ekonomi terjadi di negeri ini, betapa banyak perusahaan yang mengalami pailit ataupun resesi, berhasilkah mereka melewatinya? Apakah setelah itu dunia usaha mati dan tenggelam? Toh dunia usaha tetap berjalan paska krisis tersebut , pemulihannya ada yang mengalami hanya bilangan bulan saja, bahkan ada yang membutuhkan bilangan tahun dalam pemulihannya, tapi tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing..

Selain era 1998 dinegeri ini, terjadi juga di waktu sebelumnya, yaitu pada tahun 1960-an, tak jarang pemandangan sehari hari, rakyat negeri ini antri beras, antri bahan pokok, bahkan terjadi pemotongan nilai mata uang, pada saat itu drastis terjadi perubahan peta bisnis di Indonesia, banyak perusahaan berskala besar rontok, tetapi tak sedikit beberapa perusahaan baru muncul menggantikan generasi sebelumnya sebagai motor penggerak perekonomian. Toh tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing.

Di amerika pun selain di tahun 2008 ini, pernah mengalami permasalahan krisis ekonomi sekitar tahun 1930-an, begitupun di jepang, eslandia, jerman, dan berbagai negeri lainnya dengan tingkat pengaruh yang berbeda beda, bahkan krisis ini juga menimpa pula zaman para Rasul, lihatlah kisah Nabi Yusuf as dalam menghadapi tujuh tahun masa paceklik, zaman Nabi Musa , begitupun zaman Nabi Muhammad SAW, mereka para Rasul Allah pun tak terlepas menghadapi masa masa sulit di perjalanan hidupnya. Toh tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing.

Begitulah dunia, silih berganti, lapang dan serba keterbatasan datang dan pergi…karena konsep hidup tidak pernah menjelaskan bahwa indikator sukses itu adalah kaya, dan hidup ini bukan untuk meraih dan menikmati kekayaan atau hidup pasrah dengan kemiskinan, hidup ini bukan hanya mencari makan dan minum, hidup ini punya arti yang lebih, berbahagialah anda sebagai muslim, karena konsep hidup dalam Islam sangat jelas, hidup itu adalah perjuangan , hidup itu merupakan sarana aktualisasi aqidahnya, hidup itu adalah berjuang untuk kepentingan aqidahnya dan bukan sebaliknya, hidup itu hanyalah wasilah atas implementasi konsep Ibadah kepadaNYA dalam arti yang total, senang dan susah semuanya ujian, dan sukses dari ujian tersebut adalah penghuni SurgaNYA.

Jadi bagi seorang muslim, yakinlah krisis ekonomi itu adalah hal yang BIASA. Dia akan hadir di tengah tengah kita. Dia akan menjadi bahagian episode kehidupan kita, dia akan menjadi ujian agar kita bisa meloncat dan berlari lebih cepat dari sebelumnya, ujian itu bisa membuat kita terjatuh, gagal, lalu bangkit kembali. Dan kita yakin bahwa sifatnya ujian itu hanyalah sesaat waktu, tidak akan selamanya badai itu berlangsung, dia akan normal kembali, ingatlah malam pun PASTI selalu berganti dengan siang hari.

Individu muslim harus menyadari dalam menghadapi ujian ini bahwa permasalahan bukanlah terletak pada posisi lapang maupun sempit , tetapi dia harus mempersiapkan kesabaran di kala susah, dan banyak bersyukur di kala lapang, dan di setiap waktunya dalam kondisi apapun selalu ada usaha untuk peningkatan keimanan dan amal sebagai aktualisasi keyakinan aqidahnya. Dan dia merasa bahagia karena dia yakin ujian ini terjadi juga karena kehendak Allah SWT, dan dia yakin pula bahwa hanya Allah lah tempat dia berharap agar membebaskan dirinya dari permasalahan ujian ini.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNYA kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS 57:22-23).

Begitulah Al Quran menjelaskan bagaimana seharusnya muslim bersikap, dan benarlah juga apa yang di sampaikan Umar bin Khattab, ‘’Demi allah, selama Aku masih menjadi muslim, aku tidak akan pernah peduli dengan keadaanku.’’

Dan juga teringatlah sebuah kisah sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin Auf, dia adalah saudagar kaya raya di kota Mekah, beliau termasuk golongan awal yang tersentuh dengan dakwah yang di bawa oleh Rasul SAW. Pada saat di perintahkan untuk berhijrah menuju Madinah, beliau dengan bersegera meninggalkan seluruh hartanya di kota Mekah, beliau begitu militan dalam mengikuti intruksi keimanannya, tak ada rasa sayang dan khawatir terhadap perniagaannya yang telah di kelolanya sekian tahun. Akibat dari keyakinannya saat itu , dia pun mengalami jatuh pailit seketika , buat dia, harta yang melimpah tak ada artinya di banding nilai keimanan yang harus dia pertahankan, walau setelah hijrah tersebut dia tidak memiliki apapun walau seorang isteri pun (penulis tidak menemukan literatur kisahnya apakah beliau sudah beristeri atau tidak sewaktu di Mekah).

Setelah beberapa waktu di madinah, suatu hari, seorang sahabat Anshar bernama Said bin Rabi berkata kepadanya, “ Saudaraku, bagianmu setengah dari harta kekayaanku, aku memiliki dua rumah, engkau bebas memilihnya, aku juga memiliki dua isteri, engkau pun bebas memilih salah satu yang engkau suka.

Abdurrahman bin Auf tidak tertarik dengan tawaran itu, dia tidak ingin menjadi beban saudara seimannya, sambil berkata, “ Terima kasih, semoga Allah memberkati keluarga dan harta kekayaanmu. Aku hanya ingin engkau menunjukkan di mana letak pasar. Aku seorang pedagang.”

Benar saja, selang beberapa tahun kemudian, Abdurrahman bin Auf sudah menjadi orang terkaya di kota Madinah. Bahkan nilai kekayaannya lebih banyak dari harta yang ditinggalkan di Mekah, inilah hasil sebuah keyakinan, beginilah Allah mengganti apapun pengorbanan hambaNYA yang yakin. Dalam sejarah , terukir indah bahwa harta kekayaannya itu menjadi pendukung utama dalam perjuangan Islam masa itu, dan tak pernah habis hingga beliau wafat.

Begitulah rekanku , sejarah indah telah terabadikan, masa lapang dan sempit itu akan selalu berulang dengan berbagai sebab dan kadar pengaruhnya, dan kisah kisah tersebut selalu menjadi penguat keimanan dan pelajaran bagi yang berupaya memahaminya.

Saat ini, bila anda mengalami kebangkrutan, kefakiran, tertimpa paceklik, jatuh miskin, jangan terlalu lama bersedih. Segeralah bangkit, teruslah berikhtiar dan perkuat keyakinan, sekali lagi kehidupan ini bukan hanya untuk makan dan minum, ada tugas yang lebih mulia yang harus kita implementasikan. Hilang dan berkurangnya harta itu biasa, tapi janganlah hilang keyakinan dan kurangnya beramal soleh, justru keyakinan dan amal soleh tersebut harus di perkuat walau kondisi serba terbatas. Niscaya dan yakinlah siapa tahu Allah akan memberikan jalan keluar dan mengganti yang jauh lebih baik dari apa yang anda miliki sebelumnya.
 
====================
Adityanugroho - eramuslim.com

16 March 2015

Inilah Tanda-Tanda Anda Sudah Menjadi Budak Kehidupan Dunia

Inilah tanda-tanda Anda sudah menjadi budak kehidupan dunia :

1. Anda tidak bersiap-siap saat waktu shalat akan tiba.
2. Anda melalui hari ini tanpa sedikitpun membuka lembaran Al Qur’an lantaran Anda terlalu sibuk.
3. Anda sangat perhatian dengan omongan orang lain tentang diri Anda.
4. Anda selalu berpikir setiap waktu bagaimana caranya agar harta Anda semakin bertambah.
5. Anda marah ketika ada orang yang memberikan nasihat bahwa perbuatan yang Anda lakukan adalah haram.
6. Anda terus menerus menunda untuk berbuat baik. “Aku akan mengerjakannya besok, nanti, dan seterusnya.”
7. Anda selalu mengikuti perkembangan gadget terbaru dan selalu berusaha memilikinya.
8. Anda sangat tertarik dengan kehidupan para selebriti.
9. Anda sangat kagum dengan gaya hidup orang-orang kaya.
10. Anda ingin selalu menjadi pusat perhatian orang.
11. Anda selalu bersaing dengan orang lain untuk meraih cita-cita duniawi.
12. Anda selalu merasa haus akan kekuasaan dan kedigdayaan dalam hidup, dan perasaan itu tidak dapat dibendung.
13. Anda merasa tertekan manakala Anda gagal meraih sesuatu.
14. Anda tidak merasa bersalah saat melakukan dosa-dosa kecil
15. Anda tidak mampu untuk segera berhenti berbuat yang haram, dan selalu menunda bertaubat kepada Allah.
16. Anda tidak kuasa berbuat sesuatu yang diridhai Allah hanya karena perbuatan itu bisa mengecewakan orang lain
17. Anda sangat perhatian terhadap harta benda yang sangat ingin Anda miliki.
18. Anda merencanakan kehidupan hingga jauh ke depan.
19. Anda menjadikan aktivitas belajar agama sebagai aktivitas pengisi waktu luang saja, setelah sibuk berkarir.
20. Anda memiliki teman-teman yang kebanyakannya tidak bisa mengingatkan Anda kepada Allah.
21. Anda menilai orang lain berdasarkan status sosialnya di dunia.
22. Anda melalui hari ini tanpa sedikitpun terbersit memikirkan kematian.
23. Anda meluangkan banyak waktu sia-sia melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat.
24. Anda merasa sangat malas dan berat untuk mengerjakan suatu ibadah.
25. Anda tidak kuasa mengubah gaya hidup Anda yang suka berfoya-foya, walaupun Anda tahu bahwa Allah tidak menyukai gaya hidup seperti itu.
26. Anda senang berkunjung ke negeri-negeri kafir.
27. Anda diberi nasihat tentang bahaya memakan harta riba, akan tetapi Anda beralasan bahwa beginilah satu-satunya cara agar tetap bertahan di tengah kesulitan ekonomi.
28. Anda ingin menikmati hidup ini sepuasnya.
29. Anda sangat perhatian dengan penampilan fisik Anda.
30. Anda meyakini bahwa hari kiamat masih lama datangnya.
31. Anda melihat orang lain meraih sesuatu dan Anda selalu berpikir agar dapat meraihnya juga.
32. Anda ikut menguburkan orang lain yang meninggal, tapi Anda sama sekali tidak memetik pelajaran dari kematiannya.
33. Anda ingin semua yang Anda harapkan di dunia ini terkabul.
34. Anda mengerjakan shalat dengan tergesa-gesa agar bisa segera melanjutkan pekerjaan.
35. Anda tidak pernah berpikir bahwa hari ini bisa jadi adalah hari terakhir Anda hidup di dunia.
36. Anda merasa mendapatkan ketenangan hidup dari berbagai kemewahan yang Anda miliki, bukan merasa tenang dengan mengingat Allah.
37. Anda berdoa agar bisa masuk surga namun tidak sepenuh hati seperti halnya saat Anda meminta kenikmatan dunia.


=====================
Sumber : FP Karena Wanita Ingin Dimengerti

08 March 2015

Tingkahnya Para Ulama Palsu

Ketenaran adalah fitnah, popularitas adalah bencana, dan ingin terkemuka adalah penyakit yang menahun. Di antara orang yang terkenal sebagai ulama ada yang bisanya cuma memakai jubah yang lebar, menyisir nyisir jenggot, membawa siwak yang panjang, dan menampakkan kekusyhuan yang semu, gemar menggoyang goyangkan kepala, suka mencium dahi orang, serta menyukai kata kata penghormatan dan ungkapan ungkapan pujian. Bila dikatakan bahwa dirinya adalah berkah bagi seluruh manusia, bahwa Allah menjaga bangsa ini karena dirinya, bahwa semua manusia besar atau kecil berdoa untuknya, dia pasti percaya.

Musuh utama ulama palsu itu adalah orang yang tidak mengakui haknya, tidak mencium tangannya, tidak menyebut nyebut jasanya, dan tidak menyinggung nyinggung keutamaan keutamaannya. Lawan nomor satunya adalah orang yang mengkritik atau menkoreksinya atau memberikan catatan kepadanya. Tindakan seperti ini menurutnya tidak santun, tidak sopan, dan tidak beradab.

Jika anda sebut namanya tanpa gelar, dantanpa  kata kata sanjungan, ia akan mengganggap sebuah kesalahan yang tak terlupakan. Jika anda memuji ulama lain dihadapannya , dia pasti mencela anda, mukanya memerah dan murka.

Semua pendapat harus berujung dan berpangkal  padanya, dia pikir dia mengetahui pelbagai hal dan ilmu. Dia tidak boleh disebut tidak tahu dan tidak boleh dianggap tidak mampu. Itulah ujub dan takabur. Dada orang itu sempit, tidak mungkin dilapangkan kecuali oleh Allah.

Tiga pernyataan para Thagut di muka bumi , dan binasa karena pernyataannya ,
- pertama kata “Aku” seperti perkataan Iblis, “Aku lebih baik”
- kedua kata “Kumiliki” yang dikatakan Qarun,” Berkat ilmu yang kumiliki”
- ketiga kata “Milikku” , yang dikatakan Firaun, “Bukankah kerjaan Mesir ini milikku”

Wahai orang yang dibalut ujub, terselimuti kesombongan, dan terbius kelalaian, takkah kau dengar Bilal menyerukan tobat di fajar  umurmu ,”Marilah mengejar kemenangan”. Maka basuhlah hatimu dengan berwudhu dengan linangan air mata, duduklah di barisan pertama orang orang yang tobat untuk mendengar takbiratul ihram menghadap Allah, sampai malaikat penjaga Surga – Ridwan memanggilmu dengan kemenangan,” Masukilah surga dengan sejahtera dan aman sentosa (QS al Hijr : 46) .

=======================
alqarnyOleh : Syeikh Aidh Al Qarni

27 January 2015

Adakah Amalmu Bermakna?

Engkau telah menggapai kemuliaan dunia yang hakiki. Tak ada orang lain. Tak ada orang yang dapat mencapai derajat tertinggi itu. Engkau telah mencapai derajat yang paling puncak yang tidak dapat didaki, kecuali hanya oleh orang-orang yang ikhlas. Orang-orang banyak beribadah, bercita-cita luhur, dan meninggalkan dunia beserta kesenangannya.

Ia adalah orang yang paling dekat dengan sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu. Ia adalah orang yang paling wara’. Ia adalah seorang pria yang hatinya sangat lembut.Suka menumpahkan air mata. Apabila shalat ia lupa akan segala hal. Tak ingat lagi kehidupan dunia. Ia sangat mencintai Rabbnya. Ibadahnya tak pernah henti. Ada seorang pria ‘Aslam, yang memberikan kesaksian, ketika melihat orang itu sedang shalat, yang ia tak pernah melihat dilakukan oleh orang lain. “Apabila ia sujud, ia laksana kain yang dilempar dan dihinggapi oleh burung-burung”, ujar ‘Aslam.

Saat menjelang malam Ia jarang tidur. Ia tak memejamkan matanya. Saat orang lain sedang asyik dibuai mimpi-mimpi. Keluarganya pun kasihan kepadanya.Sampai seorang putrinya menegurnya. “Wahai ayah!. Mengapa selalu terjaga? Padahal orang-orang sedang asyik tidur?”. Orang itu menjawab pertanyaan putrinya. “Sesungguhnya neraka janaham terbayang di mataku!, ucap ayahnya. Suatu ketika. Orang itu berkata kepada putrinya yan ia cintai itu, dan berkata : “Aku sangat takut. Takut aku tergelincir ke dalam neraka”, kata ayahnya.

Para sahabat lainnya, ingin mengetahui, bagaimana lamanya shalat tahajud di malam hari. Salah seorang sahabat, lalu menuturkan : “Mereka menaruh tanda di rambutnya, karena rambut orang itu tebal, untuk mengetahui orang itu tidak atau tidak? Ternyata tanda yang mereka taruh itu tidak berubah. Dari peristiwa itu, diketahui ia tidak membaringkan tubuhnya di malam hari”.

Bila pagi tiba. Ia berkata :”Selamat datang, wahai para malaikat Allah. Tulislah, ‘Bismillaahir-Rahmanaanir-Rahim, subhanallah, wal-hamdulillah, laa Ilahaa illallaah wallaahu Akbar!”. Ia sangat meresapi makna all-Qur’an, bila membacanya. Mengetahui apa yang diperintah dan larangannya. Mengenal betul janji dan ancamanNya. Suatu kali, ia melakukan shalat tahajud, dan membaca ayat : “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, yaiu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu”. (al-Qur’an : 45:21) Ayat itu merasuk ke dalam pikirannya. Sampai tidak dapat melanjutkannya. Ayat itu diulang-ulang sampai pagi hari. Ia merasakan lezatnya, ketika membaca al-Qur’anul Karim.

Siapa orang itu? Ia tak lain adalah Rabi’ bin Khutsaim bin ‘Aidz rahimahullah. Ia adalah murid Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, yang menjadi pewaris ilmunya, peneladan akhlaknya, imam dalam ibadah, zuhud, dan wara’.

Rabi’ tak suka memperlihatkan amal ibadahnya. Ia bahkan berupaya menyembunyikan ibadahnya. Ketika ada orang menemuinya sedang ia sedang memegang mush’af al-Qur’an, ia menutupinya dengan kain agar tak terlihat. Rabi’ tidak melakukan shalat sunnah di masjid jami’. Ia hanya satu kali orang-orang melihatnya mengerjakan shalat sunnah. Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah telah mencapai tingakt rasa takut kepada Allah Azza Wa Jalla yang sangat tinggi. Hatinya selalu dipenuhi oleh khasyatillah (takut kepada Allah). Orang yang keadaan seperti itu, pasti akan ringan bagi dari segala musibah dan ujian dunia.

Suatu kali. Rabi’ pergi bersama dengan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Mereka berdua melihat tukang besi. Mereka berdua melihat besi yang sedang menyala dan ditempa. Lalu, Ibnu Mas’ud melanjutkan ke tempat lain. Sampai ditepian sungai Eufrat. Ditepian sungai yang membelah kota Bagdad itu, mereka bertemu dengan seorang pandai besi yang mengerjakan pembuatan perkakas. Saat melihat api yang menyala-nyala itu, Abdullah bin Mas’ud membacakan ayat al-Qur’an : “Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan, apabila mereka dilemparkan ketempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan”. (al-Furqan :25:12-13). Saat itu, tiba-tiba Rabi’ pingsan, dan digotong ke rumahnya. Abdullah bin Mas’ud menunggui sampai dhuhur. Belum juga siuman. Sampai ashar belum juga siuman. Dilanjutkan sampai magrib. Belum juga siuman. Baru sesudah itu, Rabi’ siuman, kemudian Abdullah bin Mas’ud meninggalkannya. Itulah kondisi orang-orang yang bertaqwa.

Seorang dari Bani Taymillah bercerita, dan pernah mendampingi Rabi’ selama dua tahun. Selama dua tahun itu, orang menceritakan, bahwa Rabi’, hanya berbicara satu kali, yang berkaitan dengan dunia, dan dalam bentuk pertanyaan. “Apakah ibumu masih hidup? Berapa masjid dilingkunganmu?”. Orang yang hatinya sibuk dengan zikrullah, tak memiliki kesempatan menyebut-nyebut dunia.

Pernah Rabi’ terkena penyakit lumpuh dalam waktu yang lama. Suatu ketika ia ingin makan daging ayam. Namun, ia menahan keinginannya itu selama empat puluh hari. Baru, ia berkata kepada istrinya : “Aku ingin makan daging ayam sejak empat puluh hari yang lalu, agar keinginanku dapat diredam”, ucapnya. “Subhanllah.Mengapa itu tidak engkau lakukan?”, sahut istrinya. Maka, istrinya menyuruh seseorang pergi ke pasar membeli ayam. Lalu, disembelihnya ayam itu. Usai menyembelih ayamnya, lalu memasak ayam itu, dan dicampur dengan roti, kemudian istrinya menghidangkan masakan itu kepada suaminya.

Betapa. Saat Rabi’ akan makan hidangan ayam beserta roti, di depan pintu datanglah seorang pengemis dan meminta- “Berikanlah ini kepadanya. Semoga Allah Azza Wa Jalla memberkahi”, kata Rabi’ kepada istrinya. “Subhanallah”, sahut istrinya. “Sudahlah. Berikan kepada dia”, kata Rabi’. Isterinya lalu berkata : “Kalau begitu aku akan melakukan hal-hal yang lebih baik”, tukas istrinya. “Apa?”, tanya Rabi’ kepada istrinya. “Aku akan memberikan uang seharga makanan ini”, jawab isterinya. Setelah isterinya menyerahkan uang itu kepada pengemis itu, lalu Rabi’ berkata :”Berikanlah uang berikut makanan itu seluruhnya”.

Suatu hari datang seoran laki-laki ke rumahnya meminta nasehat. Rabi’ rahimahullah mengambil kertas lalu menulsikan kata-kata : “Katakanlah, marilah kebucakan apa yang diharamkan Tuhanmu,yaitu : Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu (ibu-bapak), dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami akan memberi rezeki kepada kamu dan mereka,dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, melainkan dengan sebab yang benar”.

Rabi’ bin Khutsaim telah memberikan teladan. Memberikan pelajaran. Memberikan arahan. Semua menjadi jalan menuju kehidupan yang diridhai Allah Azza Wa Jalla. Tak ingin mendapatkan murkaNya, kelak di akherat nanti. Wallahu ‘alam.
 
==============
Mashadi-eramuslim.com

02 December 2014

Jangan Tinggalkan Keluargamu!

Ada sebuah kisah nyata yang mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran darinya.
Ini profil seorang suami yang buruk dan tidak patut kita tiru. Ia memang bukan pemabuk dan bukan pula penjudi, dan ia juga tidak pernah serong dengan wanita lain, pokoknya tak ada catatan buruk terhadapnya di masyarakat, akan tetapi ia “hanya” menelantarkan keluarganya, “cuma” itu saja.

Setiap istri tentu mengharapkan suami yang romantis, perhatian kepadanya dan bisa berbagi suka duka bersama, akan tetapi sayangnya si suami ini sangat dingin dan acuh terhadap keadaan istrinya, ia lebih mementingkan karirnya. Selain itu yang lebih memprihatinkan lagi ia juga bukan orang yang taat beragama, ia tidak pernah melaksanakan shalat lima waktu sama sekali. Istrinya stress menghadapi fakta seperti itu dan merasa kesepian, walaupun ia tinggal serumah bersama suaminya, tapi ia seolah-olah tinggal sendirian, apalagi si suami ini sering pula meninggalkannya karena urusan kerja di luar kota.

Hari demi hari ia lalui dengan kesendirian. ketika lahir anak-anaknya, mungkin ada yang mengira akan terjadi perubahan pada diri suami, kenyataannya? Tak ada perubahan sama sekali. Baginya karir nomor 1, sedangkan keluarga nomor ke sekian. Demikian seterusnya sampai puncaknya si istri ini stress berat, sampai tingkatan seperti orang gila. Kadang ia bicara dan tertawa sendiri dan pernah juga ia keluar rumah tanpa memakai pakaian sehelaipun, dan itu terjadi ketika si suami sedang pergi ke luar kota dan si istri lagi di rumah ibunya.

Melihat pemandangan yang mengerikan seperti itu, Ibu si istri kaget bukan kepalang dan segera membawanya ke rumah sakit jiwa. Setelah beberapa hari dirawat, Dokter yang menangani si istri itu berkata kepada ibunya, ” Ibu,setelah kami diagnosa, anak ibu tidak gila ia hanya stress berat, sejak datang ke sini sampai sekarang anak ibu terus menangis, sebaiknya ibu membawanya ke psikiater saja untuk dikonsultasikan.” Akhirnya si ibu ini membawanya ke psikiater. Setelah memperhatikan dan menyimak keterangan si ibu, psikiater menyimpulkan bahwa obat yang efektif untuk si istri ini cuma satu yaitu perhatian suaminya!

Ketika si suami pulang dari luar kota, ia terkejut melihat kondisi istrinya sudah berubah layaknya orang gila. Lantas apa tindakannya setelah itu? Tak ada tindakan apapun, bahkan berobatpun tidak, sepertinya kejadian yang menimpa istrinya itu seperti angin yang berlalu, tak terlalu mengkhawatirkan baginya. Maka Istrinya pun tetap dalam keadaannya semula, seperti orang gila, ia berbicara dan tertawa sendiri, kadang tiba-tiba marah dan melakukan tingkah laku yang aneh.
Itu sikapnya terhadap istrinya, lantas bagaimana sikapnya terhadap anak-anaknya? Apakah berbeda dengan sikapnya terhadap istrinya? Ternyata tidak juga, ia tetap acuh dan bersikap kaku terhadap mereka, karena yang menjadi prioritasnya adalah karirnya. Ketika menghadapi anaknya yang berbuat kesalahan (ketika masih seumuran anak SD),ia tidak menasehatinya baik-baik, tetapi langsung memarahinya dan kadang menyindirnya di depan saudara-saudaranya. Lantas apa akibatnya? Satu persatu anaknya menjauh darinya, karena mereka takut bercampur benci kepadanya. Ketika ia mengetahui kalau anak-anaknya mulai menjauh darinya, akankah ia berusaha mengalah untuk merangkul anak-anaknya kembali? Rupanya tidak, ia tetap dalam keacuhannya.

Sebagaimana peribahasa: “Siapa yang menanam maka ia pula yang menuai”, maka demikian pula si suami ini, akhirnya ia merasakan sendiri hasil sikap kaku dan keacuhannya selama ini, jadilah ia seperti orang asing di rumah sendiri. Sebagaimana kebiasaan umumnya kita ketika masih kecil, kalau orang tua pulang setelah bekerja seharian, biasanya kita menyambutnya “Bapak datang, bapak datang!!” Tapi bagaimana dengan si suami ini? Dia tidak mendapatkan sambutan apa-apa, ketika ia memasuki rumahnya seolah-olah ia memasuki rumah mati, tak ada “kehidupan”, si istri sibuk dengan “kegilaan”nya dan anak-anak sibuk dengan urusan masing-masing.

Si suami terus mengejar karirnya, sampai akhirnya berhasil mencapai targetnya, ia berhasil menduduki pucuk pimpinan di suatu instansi pemerintah, berbagai gelar ia sandang dan berbagai penghargaan ia dapatkan, namanya menjadi terkenal, orang-orangpun menaruh hormat kepadanya, tapi apakah ia bahagia dengan semua itu?

Setelah mendapatkan apa yang ia kejar, ternyata ia tak merasakan kebahagiaan yang berarti, serasa hampa. Ia pun mulai menyadari kesalahannya, kemudian berusaha memperbaiki kehidupannya dan kehidupan rumah tangganya, tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Hubungannya dengan anak-anaknya sudah terlanjur jauh dan istrinya pun sudah permanen dengan “kegilaannya”. Akhirnya ia pun memasuki masa tuanya dalam kesepian dan kesendirian, sebagaimana dulu ia meninggalkan anak dan istrinya dalam kesepian. Dan yang lebih tragis lagi, di saat kesepiannya itu dia terkena stroke, maka bertambahlah dukanya…

Seorang suami adalah pemimpin keluarga, di atas pundaknyalah amanah mengayomi dan membimbing anggota keluarganya menuju keridhoan Allah dan menjauhi kemurkaan-Nya, karena itu tidak boleh baginya untuk menyia-nyiakan dan menelantarkan amanah-Nya itu, karena kelak ia akan ditanya tentang itu di hari kiamat.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang orang yang dipimpin.”(HR.Bukhari dan Muslim)
“Cukuplah seseorang dianggap berdosa karena menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungan hidupnya.”(HR.Abu Daud dan Ahmad)

Selain itu, keluarga juga merupakan orang-orang yang siap menemani dan membantu kita, baik di masa muda maupun masa tua kita, dan mereka pulalah yang akan mendoakan kita tatkala terputus seluruh amalan kita sedangkan ketika itu kita amat membutuhkan apa yang bisa meringankan penderitaan kita di alam kubur dan dahsyatnya alam Mahsyar serta panasnya api neraka, maka akankah kita tetap menelantarkan mereka?

==========================
Jakarta,
umaranung@yahoo.co.id

30 November 2014

Sebab Sebab Turunnya Rezeki

Akhir-akhir ini banyak orang yang mengeluhkan masalah penghasilan atau rizki, entah karena merasa kurang banyak atau karena kurang berkah. Begitu pula berbagai problem kehidupan, mengatur pengeluaran dan kebutuhan serta bermacam-macam tuntutannya. Sehingga masalah penghasilan ini menjadi sesuatu yang menyibukkan, bahkan membuat bingung dan stress sebagian orang. 

Maka tak jarang di antara mereka ada yang mengambil jalan pintas dengan menempuh segala cara yang penting keinginan tercapai. Akibatnya bermunculanlah koruptor, pencuri, pencopet, perampok, pelaku suap dan sogok, penipuan bahkan pembunuhan, pemutusan silaturrahim dan meninggal kan ibadah kepada Allah untuk mendapatkan uang atau alasan kebutuhan hidup.

Mereka lupa bahwa Allah telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab yang dapat mendatangkan rizki dengan penjelasan yang amat gamblang. Dia menjanjikan keluasan rizki kepada siapa saja yang menempuhnya serta menggunakan cara-cara itu, Allah juga memberikan jaminan bahwa mereka pasti akan sukses serta mendapatkan rizki dengan tanpa disangka-sangka.
Diantara sebab-sebab yang melapangkan rizki adalah sebagai berikut:

-        Takwa Kepada Allah
Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan menjadikannya terus bertambah. Allah Subhannahu wa Ta”ala berfirman, artinya,
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)

Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala yang diridhai Allah dalam segala kondisi maka Allah akan memberikan keteguhan di dunia dan di akhirat. Dan salah satu dari sekian banyak pahala yang dia peroleh adalah Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika hidup, dan Allah akan memberikan kepadanya rizki secara tidak terduga.

Imam Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah di atas, “Yaitu barang siapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya.”
Allah swt juga berfirman, artinya,

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. 7:96)

- Istighfar dan Taubat
Termasuk sebab yang mendatang kan rizki adalah istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam ,
“Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. 71:10-12)

Al-Qurthubi mengatakan, “Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52,red) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rizki dan hujan.”

Ada seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri, maka beliau berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”, lalu ada orang lain yang mengadukan kefakirannya, dan beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Ada lagi yang mengatakan, “Mohonlah kepada Allah agar memberikan kepadaku anak!” Maka beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering kerontang, beliau pun juga menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah.”
Maka orang-orang pun bertanya, “Banyak orang berdatangan mengadukan berbagai persoalan, namun anda memerintahkan mereka semua agar beristighfar.” Beliau lalu menjawab, “Aku mengatakan itu bukan dari diriku, sesungguhnya Allah swt telah berfirman di dalam surat Nuh,(seperti tersebut diatas, red)

Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu berhenti dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannnya saja sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang demikian tidak memberikan faidah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan.

- Tawakkal Kepada Allah
Allah swt berfirman, artinya,
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. 65:3)
Nabi saw telah bersabda, artinya,
“Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti Allah akan memberikan rizki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rizki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)

Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri dan sikap bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan. Segala yang ada di alam berupa makhluk, rizki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya adalah dari Allah semata.
Maka hakikat tawakkal adalah sebagaimana yang di sampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya) dalam seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi dan menahan, tidak ada yang mendatangkan madharat dan manfaat selain Dia.

- Silaturrahim
Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah satu sebab terbukanya pintu rizki, di antaranya adalah sebagai berikut:

-Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, artinya,
“Dari Abu Hurairah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim.” (HR Al Bukhari)

-Sabda Nabi saw, artinya,
“Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani)
Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada hubungan nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau tidak, mahram atau bukan mahram.

- Infaq fi Sabilillah
Allah swt berfirman, artinya,
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39)
Ibnu Katsir berkata, “Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak.”

Juga firman Allah yang lain,artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:267-268)
Dalam sebuah hadits qudsi Rasu
lullah saw bersabda, Allah swt berfirman, “Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu.” (HR Muslim)

- Menyambung Haji dengan Umrah
Berdasarkan pada hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu Mas”ud Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
“Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pande besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai, dishahihkan al-Albani)

Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka ikuti haji tersebut dengan umrah, dan jika kita melakukan umrah maka ikuti atau sambung umrah tersebut dengan melakukan ibadah haji.

- Berbuat Baik kepada Orang Lemah
Nabi saw telah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rizki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan (berbuat baik) kepada orang-orang lemah, beliau bersabda, artinya,
“Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rizki melainkan karena orang-orang lemah diantara kalian.” (HR. al-Bukhari)

Dhu”afa” (orang-orang lemah) klasifikasinya bermacam-macam, ada fuqara, yatim, miskin, orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar, hamba sahaya dan lain sebagainya.

- Serius di dalam Beribadah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Allah Subhannahu wa Ta”ala berfirman, artinya,
“Wahai Anak Adam Bersungguh-sungguhlah engkau beribadah kepada Ku, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menanggung kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan itu maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu.”

Tekun beribadah bukan berarti siang malam duduk di dalam masjid serta tidak bekerja, namun yang dimaksudkan adalah menghadirkan hati dan raga dalam beribadah, tunduk dan khusyu” hanya kepada Allah, merasa sedang menghadap Pencipta dan Penguasanya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya sedang bermunajat, mengadu kepada Dzat Yang menguasai Langit dan Bumi.

Dan masih banyak lagi pintu-pintu rizki yang lain, seperti hijrah, jihad, bersyukur, menikah, bersandar kepada Allah, meninggalkan kemaksiatan, istiqamah serta melakukan ketaatan, yang tidak dapat di sampaikan secara lebih rinci dalam lembar yang terbatas ini. Mudah-mudahan Allah memberi kan taufik dan bimbingan kepada kita semua. Amin.

=======================
Al-Sofwah( Sumber: Kutaib “Al Asbab al Jalibah lir Rizqi”, al-qism al-ilmi Darul Wathan. )/Bambang Ant