Showing posts with label anugerah. Show all posts
Showing posts with label anugerah. Show all posts

04 June 2015

Istrimu Teman Seperjuanganmu

Istri shalihah idaman bagi setiap pria sebagaimana suami shalih idaman bagi setiap wanita. Istri shalihah adalah aset terbesar bagi sang suami. Karena melalui rahimnya akan lahir keturunan-keturunan yang shalih dan shalihah. Merekalah yang akan melanjutkan perjuangan kedua orang tuanya, merekalah yang akan menjaga nama baik kedua orang tuanya, merekalah yang akan senantiasa mendoakan kedua orang tuanya dan merekalah peninggalan berharga setelah kedua orang tuanya kembali ke haribaan Sang Ilahi. Selain itu, istri shalihah adalah motivator bagi sang suami saat dia mulai patah semangat, sebagai pegangan saat dia mulai tak tentu arah dan pelipur lara saat dia menelan kekecewaan.

Setiap orang sukses, pasti di belakangnya ada istri shalihah yang selalu mendukung dan mendoakan dalam setiap langkahnya. Kesuksesan Nabi Muhammad saw dalam mengemban amanah suci sebagai penyampai risalah, tak lepas dari dukungan istrinya, yaitu Khadijah. Kesuksesan Umar bin Al Khaththab dalam mengemban amanah sebagai Khalifah, juga tak lepas dari dukungan istrinya yang shalihah. Dan banyak lagi para tokoh yang meraih kesuksesan, tak lepas dari perjuangan istri-istri mereka. Namun tak mudah mempunyai pendamping hidup yang bisa kita jadikan sebagai teman seperjuangan. Banyak orang-orang di sekitar kita gagal dalam membina rumah tangga bahkan sampai berakhir di ujung perceraian.

Setiap orang pasti mendambakan seorang istri yang bisa memahami keadaan suaminya, seorang istri yang bisa menjadi teman, tempat curahan hati bagi sang suami. Tapi, sayangnya tak banyak orang yang memahami bagaimana cara membimbing istri agar mendapatkan predikat shalihah. Kadang kita (para suami) cenderung egois, menuntut istri agar menjadi wanita shalihah, namun kita sendiri tak pernah berpikir bagaimana supaya kita menjadi suami yang shalih.

Ada beberapa tips yang harus dilakukan oleh seorang suami agar istrinya menjadi istri yang shalihah, istri yang membuat bidadari surga cemburu melihatnya, di antaranya:

Mengajarkan Ilmu Agama

Ilmu agama adalah pondasi utama dalam membina rumah tangga agar tercipta keharmonisan di dalamnya yang dihiasi dengan cinta dan kasih sayang. Karena itu, seorang suami setidaknya harus lebih banyak memahami tentang ilmu agama, baik yang berkaitan dengan masalah ubudiyah ataupun yang berkaitan dengan masalah amaliyah dalam kehidupan sehari-hari. Dan seandainya dia belum juga paham tentang agama, maka dia wajib bertanya kepada para pakarnya agar dia bisa memberikan pelajaran agama kepada istrinya. Lalu jika hal ini tidak memungkinkan bagi dirinya, maka dia harus mengizinkan istrinya keluar rumah guna menuntut ilmu agama. Karena melalui agama kita bisa memahami hak-hak suami dan istri. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw, “Agama adalah nasihat.” (HR. Muslim)
Doa

Di samping usaha yang maksimal, kita sebagai orang yang beriman juga dianjurkan untuk berdoa. Semakin tinggi keimanan seorang muslim, semakin sering dia memanjatkan doa. Karena doa adalah pengakuan seorang hamba, bahwa dirinya tidak mempunyai kekuatan apapun untuk mewujudkan keinginannya tanpa adanya pertolongan dari Allah swt. Demikian juga dalam membimbing seorang istri.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, dari Nabi saw, beliau bersabda,


“Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan istri atau pelayan atau hewan tunggangan, hendaklah dia memegang ubun-ubunnya dan berdoa ‘Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan kebaikannya serta kebaikan karakternya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya serta keburukan karakternya’.”

Bersikap lemah lembut

Sesuai dengan fitrah wanita, sikap lemah lembut adalah cara terbaik dalam membimbingnya agar menjadi istri yang shalihah dan bisa dijadikan sebagai teman seperjuangan. Sikap temperamen hanya membuat seorang istri akan merasa terpojok dan tak menemukan solusi dalam dirinya, sehingga hal ini tak jarang akan mengganggu kejiwaannya. Bahkan cara seperti ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang terjadi dalam rumah tangga.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka apabila dia menyaksikan sesuatu, hendaklah dia berkata baik atau diam. Berwasiatlah kepada wanita dengan baik, karena wanita itu tercipta dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Namun jika engkau membiarkannya, maka dia akan tetap bengkok.” (Muttafaq Alaih)

Jika kita mampu melakukan tiga hal di atas insya Allah kita bisa membimbing istri kita menjadi wanita yang lebih baik, wanita yang bisa berkontribusi untuk membangun dan memperkokoh agama kita. Umar bin Al Khaththab ra berkata, “Anugerah terbesar yang Allah berikan kepada kita setelah iman adalah istri shalihah.”

====================
Sumber: dakwatuna.com

29 May 2015

Arti Rezeki Yang Diberi

Masih teringat di pikiran dan hatiku tentang nasihat seorang dai yang dikenal oleh umat muslim di Indonesia. Bahwasanya Allah telah mengatur rezeki hamba-hambanya. Sebegitu besarnya sifat Ar Rahman dan Ar Rahim pada diri-Nya, Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-hamba berada dalam kesusahan.

"Rezeki kita tidak dihitung dengan gaji yang kita dapat ditiap bulannya,’ kata-katanya pelan tapi menyentuh hati sekian karyawan yang sedang duduk mendengarkannya.

Jika rezeki dihitung dengan gaji yang kita dapatkan di setiap bulannya maka tidak akan pernah cukup untuk menampung segala kebutuhan kita hingga saat ini. Rezeki kita sudah ditentukan olehnya, bagaimana mendapatkan, kapan mendapatkan dan dalam bentuk apa dia diberikan. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana terus memperbaiki diri, berusaha dan membersihkan hati sehingga rezeki itu mudah untuk sampai kepada diri kita.

Rezeki Allah itu akan datang dan menghampiri orang-orang yang senantiasa yakin akan kehendak-Nya, baik dengan cara yang dipahami maupun yang tidak pernah diperkirakan hamba-hambanya.

Beliau menceritakan bagaimana seseorang yang terlilit utang berjuta-juta. Meskipun segala usaha dilakukan, semua pendapatan dikumpulkan tetap belum bisa untuk melunasi utang yang telah menumpuk. Namun keimanan seorang mukmin akan sangat terlihat ketika dirinya menghadapi ujian Allah, seorang mukmin akan terus berusaha dan tidak pernah lupa untuk menyerahkan kembali segala urusan kepada Allah. Menghilangkan pasrah dan menggantinya dengan berusaha serta terus berdoa dibarengi keyakinan bahwa Allah sudah mengatur segala kejadian.

Hasilnya, beberapa hari sebelum jatuh masa pembayaran, di mana seseorang yang berutang dihampiri kebingungan untuk mempertanggungjawabkan utangnya, tiba-tiba seseorang sahabat nun jauh di sana datang menghampirinya. Sang sahabat yang memang mengerti cerita mengenai utang tersebut sertamerta membantunya melunasi utang-utang tersebut. Entah dengan alasan apa pun tapi hutan pun sedikit-demi sedikit terlunasi dengan bantuan sang sahabat tanpa pamrih.

Inilah yang disebut rezeki, dia tidak dihitung dengan gaji, dia adalah nikmat yang tak terhingga di sekitar kit a, tinggal bagaimana cara kita memperbaiki diri, terus berusaha gigih, terus memperbaiki diri dan terus memperbaiki diri, agar re­zeki itu datang menghampiri. Hati yang bersih adalah hati yang senantiasa mengingat Allah baik di saat lapang dan sempit, hati yang bersih akan mengubah paradigma kita tentang keyakinan bahwa tidak ada jalan buntu dalam setiap masalah dan dengan itu pulalah rezeki kita dimudahkan oleh-Nya. Mari pahami arti rezeki dan syukuri atas segala nikmat tak terhitung yang telah diberikan.

25 April 2015

Krisis Ekonomi Itu Biasa

Beberapa pekan yang lalu , di sebuah acara reuni “sekolah dasar” , beberapa teman lama berkumpul di sebuah café di bilangan Jakarta , kami sangat surprise , karena kami masih bisa berkumpul walau lebih dari dua puluh lima tahun tak pernah bertemu sebelumnya, acaranya sangat hangat dan penuh canda, meskipun wajah dan penampilan kami sudah tidak semungil dan selucu dahulu. Di tengah gurauan dan canda, terselip pembicaraan serius seorang rekan mengenai kegelisahannya terhadap dampak krisis ekonomi yang tidak menentu ini, usahanya mengalami penurunan bahkan terancam ditutup dalam waktu yang segera mungkin, dia mengalami kebingungan yang amat sangat, saya berpendapat bahwa masalah krisis itu bukan saja berdampak kepada dirinya saja, tetapi juga menyita perhatian khususnya para praktisi usaha.

Beritanya sangat mudah ditemukan di media cetak, elektronik televisi, radio maupun berbagai situs internet, setiap hari, ya, hampir setiap hari tentunya, memberitakan krisis ekonomi yang kian merosot tajam, hal tersebut bukan saja di negeri yang kita cintai ini, bahkan krisis ini mendunia. Bukan saja perusahaan yang bergerak di perbankan yang terkena dampak langsung, juga perusahaan otomotif, manufaktur, tambang, real estate, dan lainnya yang berskala raksasa bisnis, sebutlah perusahaan besar seperti Citibank, general motor, ford, Volkswagen, lehmann brothers, dan lainnya.

Tak lepas juga , berdampak kepada perusahaan lokal di negeri yang kita cintai ini, dari perusahaan berskala kecil maupun besar, hal ini membuat gusar para direksi dan pemegang saham, dan juga memunculkan kekhawatiran ancaman PHK maupun dirumahkan bagi ribuan pegawai yang bernaung di perusahaan tersebut.

Begitu banyak analisa pakar ekonomi, ditinjau dari angka demi angka, asumsi demi asumsi, bahwa waktu pemulihannya memakan waktu satu hingga tiga tahun, waktu yang relatif lama untuk proses pemulihan, dan inipun menjadi kekawatiran para pekerja yang telah dan akan terancam di PHK, karena dana kompensasi yang mereka peroleh dari hasil PHK hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sekian bulan saja, dan bagaimana selanjutnya hidup mereka, ini menjadi beban kehidupan yang berat. Bila krisis ini tak terselesaikan dalam waktu dekat maka para analis memprediksikan bukan saja krisis ekonomi yang terjadi lebih dasyat, juga akan merambat kepada krisis politik maupun sosial, mengerikan sekali…

Begitulah krisis bila melanda…

Tahukah anda, bahwa kelapangan dan kesempitan akan selalu datang silih berganti dan selalu di jumpai oleh setiap generasi, ingatkah anda resesi yang terjadi di tahun 1998, krisis politik maupun ekonomi terjadi di negeri ini, betapa banyak perusahaan yang mengalami pailit ataupun resesi, berhasilkah mereka melewatinya? Apakah setelah itu dunia usaha mati dan tenggelam? Toh dunia usaha tetap berjalan paska krisis tersebut , pemulihannya ada yang mengalami hanya bilangan bulan saja, bahkan ada yang membutuhkan bilangan tahun dalam pemulihannya, tapi tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing..

Selain era 1998 dinegeri ini, terjadi juga di waktu sebelumnya, yaitu pada tahun 1960-an, tak jarang pemandangan sehari hari, rakyat negeri ini antri beras, antri bahan pokok, bahkan terjadi pemotongan nilai mata uang, pada saat itu drastis terjadi perubahan peta bisnis di Indonesia, banyak perusahaan berskala besar rontok, tetapi tak sedikit beberapa perusahaan baru muncul menggantikan generasi sebelumnya sebagai motor penggerak perekonomian. Toh tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing.

Di amerika pun selain di tahun 2008 ini, pernah mengalami permasalahan krisis ekonomi sekitar tahun 1930-an, begitupun di jepang, eslandia, jerman, dan berbagai negeri lainnya dengan tingkat pengaruh yang berbeda beda, bahkan krisis ini juga menimpa pula zaman para Rasul, lihatlah kisah Nabi Yusuf as dalam menghadapi tujuh tahun masa paceklik, zaman Nabi Musa , begitupun zaman Nabi Muhammad SAW, mereka para Rasul Allah pun tak terlepas menghadapi masa masa sulit di perjalanan hidupnya. Toh tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing.

Begitulah dunia, silih berganti, lapang dan serba keterbatasan datang dan pergi…karena konsep hidup tidak pernah menjelaskan bahwa indikator sukses itu adalah kaya, dan hidup ini bukan untuk meraih dan menikmati kekayaan atau hidup pasrah dengan kemiskinan, hidup ini bukan hanya mencari makan dan minum, hidup ini punya arti yang lebih, berbahagialah anda sebagai muslim, karena konsep hidup dalam Islam sangat jelas, hidup itu adalah perjuangan , hidup itu merupakan sarana aktualisasi aqidahnya, hidup itu adalah berjuang untuk kepentingan aqidahnya dan bukan sebaliknya, hidup itu hanyalah wasilah atas implementasi konsep Ibadah kepadaNYA dalam arti yang total, senang dan susah semuanya ujian, dan sukses dari ujian tersebut adalah penghuni SurgaNYA.

Jadi bagi seorang muslim, yakinlah krisis ekonomi itu adalah hal yang BIASA. Dia akan hadir di tengah tengah kita. Dia akan menjadi bahagian episode kehidupan kita, dia akan menjadi ujian agar kita bisa meloncat dan berlari lebih cepat dari sebelumnya, ujian itu bisa membuat kita terjatuh, gagal, lalu bangkit kembali. Dan kita yakin bahwa sifatnya ujian itu hanyalah sesaat waktu, tidak akan selamanya badai itu berlangsung, dia akan normal kembali, ingatlah malam pun PASTI selalu berganti dengan siang hari.

Individu muslim harus menyadari dalam menghadapi ujian ini bahwa permasalahan bukanlah terletak pada posisi lapang maupun sempit , tetapi dia harus mempersiapkan kesabaran di kala susah, dan banyak bersyukur di kala lapang, dan di setiap waktunya dalam kondisi apapun selalu ada usaha untuk peningkatan keimanan dan amal sebagai aktualisasi keyakinan aqidahnya. Dan dia merasa bahagia karena dia yakin ujian ini terjadi juga karena kehendak Allah SWT, dan dia yakin pula bahwa hanya Allah lah tempat dia berharap agar membebaskan dirinya dari permasalahan ujian ini.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNYA kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS 57:22-23).

Begitulah Al Quran menjelaskan bagaimana seharusnya muslim bersikap, dan benarlah juga apa yang di sampaikan Umar bin Khattab, ‘’Demi allah, selama Aku masih menjadi muslim, aku tidak akan pernah peduli dengan keadaanku.’’

Dan juga teringatlah sebuah kisah sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin Auf, dia adalah saudagar kaya raya di kota Mekah, beliau termasuk golongan awal yang tersentuh dengan dakwah yang di bawa oleh Rasul SAW. Pada saat di perintahkan untuk berhijrah menuju Madinah, beliau dengan bersegera meninggalkan seluruh hartanya di kota Mekah, beliau begitu militan dalam mengikuti intruksi keimanannya, tak ada rasa sayang dan khawatir terhadap perniagaannya yang telah di kelolanya sekian tahun. Akibat dari keyakinannya saat itu , dia pun mengalami jatuh pailit seketika , buat dia, harta yang melimpah tak ada artinya di banding nilai keimanan yang harus dia pertahankan, walau setelah hijrah tersebut dia tidak memiliki apapun walau seorang isteri pun (penulis tidak menemukan literatur kisahnya apakah beliau sudah beristeri atau tidak sewaktu di Mekah).

Setelah beberapa waktu di madinah, suatu hari, seorang sahabat Anshar bernama Said bin Rabi berkata kepadanya, “ Saudaraku, bagianmu setengah dari harta kekayaanku, aku memiliki dua rumah, engkau bebas memilihnya, aku juga memiliki dua isteri, engkau pun bebas memilih salah satu yang engkau suka.

Abdurrahman bin Auf tidak tertarik dengan tawaran itu, dia tidak ingin menjadi beban saudara seimannya, sambil berkata, “ Terima kasih, semoga Allah memberkati keluarga dan harta kekayaanmu. Aku hanya ingin engkau menunjukkan di mana letak pasar. Aku seorang pedagang.”

Benar saja, selang beberapa tahun kemudian, Abdurrahman bin Auf sudah menjadi orang terkaya di kota Madinah. Bahkan nilai kekayaannya lebih banyak dari harta yang ditinggalkan di Mekah, inilah hasil sebuah keyakinan, beginilah Allah mengganti apapun pengorbanan hambaNYA yang yakin. Dalam sejarah , terukir indah bahwa harta kekayaannya itu menjadi pendukung utama dalam perjuangan Islam masa itu, dan tak pernah habis hingga beliau wafat.

Begitulah rekanku , sejarah indah telah terabadikan, masa lapang dan sempit itu akan selalu berulang dengan berbagai sebab dan kadar pengaruhnya, dan kisah kisah tersebut selalu menjadi penguat keimanan dan pelajaran bagi yang berupaya memahaminya.

Saat ini, bila anda mengalami kebangkrutan, kefakiran, tertimpa paceklik, jatuh miskin, jangan terlalu lama bersedih. Segeralah bangkit, teruslah berikhtiar dan perkuat keyakinan, sekali lagi kehidupan ini bukan hanya untuk makan dan minum, ada tugas yang lebih mulia yang harus kita implementasikan. Hilang dan berkurangnya harta itu biasa, tapi janganlah hilang keyakinan dan kurangnya beramal soleh, justru keyakinan dan amal soleh tersebut harus di perkuat walau kondisi serba terbatas. Niscaya dan yakinlah siapa tahu Allah akan memberikan jalan keluar dan mengganti yang jauh lebih baik dari apa yang anda miliki sebelumnya.
 
====================
Adityanugroho - eramuslim.com

24 March 2015

Menghadapi Persoalan Hidup

Salah satu kunci agar kita bisa menghadapi persoalan hidup adalah siap menghadapi yang cocok dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keinginan kita. Sedia payung sebelum hujan, artinya siap jikalau turun hujan dan siap jikalau tidak turun hujan. Tentu itu akan membuat orang yang membawa payung lebih tenang daripada orang yang tidak membawa payung. Sedia dongkrak dan ban serep, itu lebih tenang daripada tidak membawa keduanya.

Kenapa harus siap? Karena hidup ini mustahil selalu sesuai dengan keinginan kita. Kalau setiap keinginan kita terkabul, tentulah hidup ini akan kacau balau. Mengapa harus siap menghadapi segala kemungkinan? Karena yang kita inginkan belum tentu yang terbaik menurut Allah Swt. untuk kita.

Allah Swt. berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqoroh [2] : 216)

Oleh karena itu, wilayah kemampuan kita itu ada tiga. Kesatu, pandai-pandailah meluruskan niat. Kedua, sempurnakan ikhtiar sesuai dengan kemampuan pikiran dan hati kita. Ketiga, pasrahkan hasilnya kepada Alloh Swt. Itu saja.

==============================
meraihridoallah.blogspot.com

03 February 2015

Cari Jodoh

Apa ada aktivitas cari jodoh? Atau…apakah jodoh memang harus dicari? Yang pasti, setiap orang normalnya ingin menikah. Meskipun ada yang karena satu dan lain hal menjadi tak ingin atau tidak ditakdirkan berjodoh di dunia.

Aktivitas cari jodoh itu ada dan sudah sejak zaman dahulu banyak budaya melakukannya. Konon budaya valentin didasari budaya semacam itu.

Apakah Islam juga menyediakan aktivitas ini untuk muda-mudi kita? Sejujurnya penulis belum pernah menemukan sebuah ritual resmi atas nama Islam tentang ini, yang ada dan cukup banyak adalah berbagai arahan tentang mencari jodoh, memilih, dan memutuskan yang mana.

Mencari jodoh:
Ada sebuah tuntunan sangat praktis langsung dari Allah SWT.

” Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (An Nur 26).

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT sudah menjodohkan setiap orang bersesuaian jiwanya satu sama lain, mereka yang ”sesuai” akan cenderung betah satu sama lain dan karenanya akan mudah berjodoh. Jika kita masih lajang dan ingin cari jodoh, maka jika kita ingin mendapat jodoh yang baik berarti kitalah yang lebih dahulu harus menjadikan diri kita baik, maka Insya Allah kita akan dijodohkan dengan yang baik oleh Allah. Mudah ’kan? Itu langkah adalah langkah pertama.

Langkah pertama ini jika diyakini dengan sepenuh hati Insya Allah menjadi doa sekaligus usaha yang diajukan kepada Allah SWT tentang calon pendamping seperti apa yang kita inginkan.
Apakah kriteria ”baik” itu? Bagaimanakah kita ingin jodoh yang baik dengan cara kita berusaha menjadi baik terlebih dahulu?

Ketaqwaan adalah ukuran baku dari Allah SWT. Kadar ketaqwaan ini berdampak luas kepada semua sisi kehidupan seorang manusia. Ketika ia sedang diuji dengan kesenangan, ia akan bersyukur dengan pas, tepat, akurat, sehingga Allah menambah nikmat dariNya. Ketika ia diuji dengan musibah dan kesulitan, ia bersabar, sehingga Allah bertambah menyayanginya dan memberikan pahala yang banyak.

Hanya saja angka ketaqwaan tak dapat ditera manusia. Hanya Allah-lah yang Maha Tahu kadar ketaqwaan manusia. Bahkan si manusia itu sendiri tak pernah tahu berapa derajat ketaqwaannya, sebab ia sebagai manusia selain sarat dengan khilaf, lupa dan lalai, juga seringkali tidak mempertajam matahatinya sehingga semakin buta hakikat.

Manusia hanya mampu ”khawatir tak diterima Allah” (khouf) dan berharap ”agar ia diterima oleh Allah” (roja’). Khouf dan Roja’ ini seyogyanya ada dalam diri manusia yang sadar ia manusia yang sangat mungkin salah. Panjang lebar berbagai ulama modern maupun ulama salaf membahas dalam topik-topik tentang taqwa dan manajemen hati. Di situlah taqwa dibina.

Orang yang terbiasa mengelola hatinya Insya Allah juga mampu memprogram dirinya untuk maju menjadi lebih baik setiap harinya tanpa terjebak rasa sombong dan pongah bahwa ia sudah sampai kepada ”maqom” taqwa padahal sesungguhnya belum. Alah bisa karena biasa. Pepatah ini benar adanya.

Hendaknya kaum muda sibuk mengelola hatinya, sibuk meningkatkan taqwanya dengan keyakinan itulah kelak tiketnya ke surga dan ke pelaminan. Janganlah kaum muda muslim harapan ummat malah sibuk ”te-pe te-pe” (tebar pesona) di berbagai mal maupun layar kaca atau media lain dalam rangka membangun masa depan mereka.

Ada yang pernah bertanya kepada penulis: kalau begitu kapan berkesempatan berkenalan dengan orang banyak? Kalau sibuk menata hati kapan berjumpa orang-orang yang potensial menjadi calon? Bukankah harus ”gaul”?

Tergantung apa makna ”gaul”. Jika ”gaul” bermakna harus ikut segala tren dan mode, segala hura-hura dan pesta-pesta, maka itu tak perlu. Berapa banyak remaja dan anak muda justru terjebak mendapat jodoh buruk di tempat pergaulan semacam itu, dan bahkan bertemu dengan narkoba!

Bergaul normal, sebagaimana aktivitas sehari-hari, itu cukup. Bahkan aktivitas zaman ini tidak terbatas di lingkungan fisik belaka, ada dunia maya yang juga dapat menjadi ajang silaturahim. Sejak ketemu di dunia maya, lanjut ke dunia nyata, maka selanjutnya terserah anda.

Itu cukup, asalkan dalam bergaul sehari-hari, patokan bergaul terus dipegang sesuai aturan Islami. Ini sangat penting.

Dalam pergaulan, cara seseorang bergaul akan menentukan siapa selanjutnya kawannya. Seorang gadis yang berhati-hati dalam bergaul maka sikapnya akan menyingkirkan pemuda mata-keranjang sebab gadis ini ogah diperlakukan sembarangan. Sebaliknya jika si gadis selalu memberi ”lampu hijau” bagi teman-teman prianya untuk memperlakukan dirinya dengan sembarangan, maka dirinya hanya akan dipermainkan kemudian dicampakkan.

Jangan khawatir sikap yang ”penuh aturan” ini akan menjauhkan teman, sebaliknya, akan menseleksi dengan baik. Lagipula, buat apa punya teman yang hanya ingin mempermainkan?
Allah SWT tak pernah lupa dan tak pernah tidur. Allah SWT selalu memberikan kita bimbingan dan petunjuk, asal saja kita mau melihatnya.

Allah juga selalu menguji kita, hanya saja kita sering tak sadar. Kadang kita menyangka sedang ditawarkan sesuatu yang baik karena seolah indah dan baik (tampaknya), padahal sesungguhnya itu adalah ujian yang harus kita hindari dan jauhi karena di balik itu ada keburukan tersembunyi dan bahaya kepada agama.

Ada banyak anak muda muslim dan muslimah yang tertipu dengan manusia-manusia penuh misi pemurtadan. Para misionaris ini memang sengaja menjadi ”kawan terbaik” bagi calon sasarannya. Tujuannya adalah menjadi kawan akrab, kemudian, pacar, kemudian menikahi, kemudian memurtad-kan.
Entah ini memang sebuah gerakan terselubung atau hanya aktivitas pribadi, yang pasti fenomena ini sudah sangat banyak dan sudah berlangsung sejak puluhan tahun di bumi pertiwi ini. Ahh, andai saja setiap pemuda-pemudi muslim tetap berpegang pada aturan Islam dalam bergaul, berteman, bersahabat apalagi mencari jodoh, niscaya segala kisah pemurtadan seperti itu tak pernah terjadi. Waspadalah.
Wallahua’lam
 
========
Siti Aisyah Nurmi

20 January 2015

Semua Makhluk Ada Jalan Hidupnya

Ketika kita memperhatikan gerak kehidupan dari beragam makhluq yang ada di alam ini, kita mungkin akan menemukan keunikan pada masing-masing makhluq yang kita amati. Tak terkecuali manusia, yang mana memiliki gerak kehidupan yang sangat beragam dan unik sesuai keadaan dan kecenderungan masing-masing, dari mereka yang cenderung bergerak sebagai pedagang, dokter, insinyur, pengajar atau guru, hingga petani maupun nelayan, dan seterusnya. Setiap peran yang ada di antara manusia adalah seperti bagian-bagian tubuh yang berbeda namun saling melengkapi dan menopang, dari yang kecil hingga yang besar, dari yang sederhana hingga yang rumit. Semua perbedaan tersebut adalah fenomena keseimbangan yang tak dirancang atau direncanakan oleh manusia itu sendiri. Dan demikian pula halnya dengan beragam makhluq lain selain manusia, yang semuanya memiliki gerak kehidupan dan kecenderungan masing-masing yang khas dan saling melengkapi, yang tentunya juga di luar rencana dan kesadaran mereka sendiri.

Ketika kita mengamati kehidupan para nelayan, yang menjadikan hasil laut sebagai penopang keberlangsungan hidup mereka, maka kita akan mendapati bahwa para nelayan tulen biasanya memang lebih cenderung tertarik dengan dunia laut dan ikan daripada dunia kesibukan lainnya, seakan-akan keahlian mereka dalam menangkap ikan di laut pun sudah menjadi akar semangat yang menjadi penggerak kehidupan mereka, sebagaimana misalnya para pedagang tulen yang tentu jiwanya juga akan lebih bersemangat dengan dunia dagangnya daripada dunia selainnya, yang mana jika misalnya antara nelayan dan pedagang tersebut harus bertukar profesi, pastinya masing-masing akan merasakan kejanggalan dan ketidaksesuaian, karena memang masing-masing memiliki kecenderungan jiwa yang berbeda. Di samping itu, para nelayan biasanya juga akan dengan sendirinya mewariskan kemampuannya kepada generasi berikutnya. Dan tentunya memang harus ada generasi penerus bagi para nelayan, karena memang tak bisa dibayangkan jika ternyata di dunia ini tiada yang tertarik untuk meneruskan profesi tersebut. Dan itulah kenyataan bahwa sistem mewariskan keahlian pun sebenarnya merupakan fenomena alami yang di luar kendali manusia. Sekuat apapun manusia berkehendak untuk menciptakan fenomena keseimbangan tersebut sendiri, atau bahkan menghilangkannya, maka di sana telah ada Kekuatan tak terlihat yang telah lebih dahulu merancang dan mengaturnya, bahkan tanpa manusia minta.

Beralih ke makhluq selain manusia, jika memang strategi berburu ikan di laut menggunakan jaring adalah hal yang wajar dan tak perlu dipertanyakan, karena memang adalah tak mungkin jika manusia yang bisa berfikir dengan akalnya akan menangkap ikan hanya menggunakan kedua tangannya, maka yang mengherankan dan  perlu dipertanyakan adalah jika ada makhluq selain manusia yang memiliki kecerdasan setingkat manusia, yang mana bisa mengatur strategi berburu layaknya para nelayan, padahal makhluq tersebut tidak dilengkapi perangkat akal untuk berfikir.

Laba-laba, dialah makhluq kecil yang meskipun hidup berkaki namun bisa menangkap makhluq terbang yang tak terjangkau oleh kakinya. Kita tidak tahu kecerdasan macam apa yang dimiliki oleh makhluq tak berakal itu hingga dia bisa mengerti bahwa cara menangkap serangga yang terbang adalah dengan membuat perangkap halus di udara, agar mangsa bersayap tersebut nantinya dapat terjerat ketika melewati perangkap yang dibuatnya itu, seakan-akan dia memiliki cara berfikir yang sama seperti para nelayan, yang membuat perangkap jaring di dalam laut untuk menangkap ikan yang tak terjangkau oleh tangan mereka. Dan pola anyaman jaring perangkap yang diciptakan laba-laba pun begitu teratur dan rapi, serta sesuai dengan ukuran medan yang digunakannya, seakan-akan dia juga memiliki kemampuan memperhitungkan hingga mengerti cara mengukur tempat dan menyesuaikannya dengan pola serta ukuran jaring yang harus dirancang dan diciptakannya. Tentu kecerdasan semacam itu hanya akan dimiliki oleh para arsitek. Namun sulit dimengerti bahwa makhluq tak berakal sekecil itu ternyata mampu berbuat sedemikian rupa, seakan-akan ia memiliki daya arsitektur tinggi yang mana pastinya juga menggunakan logika.

Selain itu, dia pun bahkan hingga mengerti beragam fungsi lain dari benang jaringnya tersebut; dia juga menggunakan benang jaringnya itu untuk berayun dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, untuk melarikan diri dengan cepat dari kejaran pemangsa, membungkus dan membekap mangsanya yang telah terjerat dalam perangkap, melindungi lubang sarangnya, atau membuat kantung untuk diisi ratusan telurnya, dan seterusnya. Dan konon, ratusan telur yang kemudian menetas akan mengeluarkan laba-laba kecil yang masih lemah, yang selanjutnya menghadapi tantangan hidup berupa dimakan burung, kadal, semut, atau makhluq lainnya, hingga menyisakan sebagian saja dari mereka untuk bisa sampai menjadi laba-laba dewasa. Dan mungkin memang demikianlah cara makhluq-makhluq yang lain memperoleh rizki mereka. Karena seekor laba-laba betina pun juga tidak pernah merencanakan bahwa dia akan bertelur dalam jumlah ratusan. Dia juga tidak pernah mempertanyakan mengapa dia harus bertelur sebanyak itu. Mungkin saja, jika telur laba-laba hanya berjumlah sedikit, bisa jadi semuanya akan dimakan habis oleh para pemangsanya hingga tiada lagi yang tersisa untuk menyambung keberlangsungan hidup generasi laba-laba berikutnya. Ataupun jika jumlah telur yang sedikit tersebut akan harus selalu selamat semuanya hingga dewasa, maka mungkin peluang rizki bagi para pemangsanya pun akan berkurang, dan jalan rizki mereka pun akan berbeda dari yang biasanya. Dan demikianlah sebagian kecerdasan yang kita dapati di alam ini, tanpa kita mampu melihat secara kasat mata Kekuatan macam apa yang menggerakkan semua itu.

Tiada pula yang bisa mengira bahwa ternyata sebuah tumbuhan yang berbatang segar sanggup bertahan hidup di daerah gurun yang kering sekalipun. Kaktus gurun, dialah makhluq yang memiliki keunikan berupa kemampuan pada akarnya untuk menembus jauh ke dalam tanah agar dapat menyerap air di daerah yang bahkan tergolong kurang air. Dan air yang berharga tersebut kemudian disimpannya di dalam ruang batangnya sebagai persediaan kehidupannya. Dia juga memiliki perlengkapan berupa duri yang menyelimuti permukaan batangnya, yang konon di antara fungsinya adalah sebagai pelindung dari hewan pemakan tumbuhan, dan juga untuk memperkecil potensi penguapan, karena memang tingkat penguapan di daerah gurun tentu jauh lebih tinggi dikarenakan suhu panasnya. Mungkin jika kita diposisikan dalam peran sebagai kaktus, tampaknya kita tidak akan memilih tempat yang kering dan panas untuk melanjutkan hidup. Namun justru memang demikianlah kapasitas dan keunikan sebuah tumbuhan gurun bernama kaktus. Dia bahkan mungkin tidak bisa hidup jika harus terendam di daerah rawa yang berlebihan kadar airnya. Begitu juga sebaliknya, tidak mungkin tumbuhan rawa bisa hidup jika harus bertukar habitat dengan kaktus tersebut. Masing-masing memang telah memiliki cara tersendiri untuk bertahan hidup sekaligus memerankan sebuah fungsi bagi ekosistemnya. Dan itu semua adalah kecanggihan alami yang tentunya di luar kesadaran benda alam itu sendiri.

Begitu pula dengan keunikan yang ada pada makhluq bernama ulat sebagai misal lainnya; kita mungkin bisa mempertanyakan bagaimana bisa makhluq sekecil itu sanggup menghabiskan dedaunan yang cukup banyak pada sebatang tumbuhan, seakan-akan dia memiliki sebuah rencana dan tujuan dalam tingkah lakunya itu. Dan memang konon, proses memakan daun yang terus-menerus dilakukannya tersebut tak lain adalah sebagai langkah persiapannya sebelum memasuki tahapan kepompong di mana akan mengharuskannya berhenti makan untuk beberapa lama. Namun tentunya akan mengherankan jika seekor ulat yang ukurannya jauh lebih kecil dari ukuran otak manusia ternyata bisa memperkirakan bahwa untuk menghadapi keadaan yang ‘paceklik’ tanpa makanan, maka dia harus bersiap-siap mengumpulkan energi terlebih dahulu sebelumnya, layaknya kebutuhan akan sahur sebelum berpuasa. Padahal jika kita renungkan, tentu kemampuan merencanakan semacam itu hanya akan dimiliki oleh makhluq yang memiliki akal. Namun nyatanya ulat yang tak dianugerahi akal pun telah terbukti sanggup membuat perencanaan semacam itu.

Dan keunikan ulat itupun tak hanya sampai di situ, bahkan pada kenyataannya, dari hasil kepompong itulah sebuah lingkungan alam akan kemudian dilengkapi dengan seekor serangga terbang bernama kupu-kupu, yang mana salah satu fungsinya adalah untuk membantu proses penyerbukan pada tumbuhan. Dan dari penyerbukan itulah tumbuhan akan dapat berkembang biak. Maka di sinipun semakin tampak jelas betapa canggihnya cara kerja alam ini. Dan bahkan jika kita perhatikan lagi dan kemudian lagi, ternyata melalui ulat dan kupu-kupu jugalah burung-burung dapat memberi makan anak-anaknya yang belum bisa terbang untuk mencari makan sendiri. Jika saja ulat dan kupu-kupu tidak pernah ada, mungkin peluang memperoleh makanan bagi burung-burung tersebut pun akan menjadi berkurang.

Dan sesungguhnya, betapapun manusia sangat berkehendak dan berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan fenomena yang tampak tidak nyaman atau perlu dikasihani, misalnya seperti daun yang dimakan ulat tersebut, atau ulat dan kupu-kupu yang dimakan burung, kaktus dengan duri tajamnya yang hidup di tempat yang kekurangan air, laba-laba yang memangsa dan yang dimangsa, atau perbedaan profesi manusia yang kerap menimbulkan perselisihan di antara mereka, maka niscaya semua fenomena itu pun akan selalu tetap ada, dan justru itulah yang sengaja diperlihatkan kepada manusia, agar direnungkan dan disadari betapa tak berdayanya mereka untuk merancang, mengatur, mengendalikan, atau hingga menghilangkan semua itu.

Demikianlah kurang lebih gambaran tentang kehidupan ini. Tiada manusia yang sanggup menghilangkan keburukan sepenuhnya dari dunia ini, karena memang adanya keburukan adalah justru untuk menjadi pembeda bagi kebaikan. Dan manusia dengan akalnya pun akan kemudian terseleksi dengan sendirinya, antara golongan yang dianugerahi keberuntungan dengan golongan yang sebaliknya, antara mereka yang dianugerahi kemampuan untuk meyakini adanya Tuhan, dengan mereka yang meragukan-Nya atau bahkan mengingkari-Nya sama sekali. Dan di sinilah manusia yang dianugerahi keberuntungan akan kemudian kembali dengan sepenuh hati kepada Tuhan mereka, Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, yaitu Pencipta yang tidak pernah menjadi ciptaan, yang tidak pernah butuh untuk melahirkan apalagi hingga dilahirkan. Maha Suci Tuhan dari kekurangan semacam itu.

Dialah Allah (subhaanahuu wata’aalaa), satu-satunya Dzat yang menciptakan segala sesuatu, yang mana karena kesempurnaan-Nya-lah akal manusia yang terbatas pun hingga tak sanggup menampung segenap kebesaran-Nya. Oleh karena itulah Allah (subhaanahuu wata’aalaa) mengutus para Rasul-Nya dari golongan manusia untuk menjelaskan kepada mereka tentang hakikat diri-Nya, juga tentang hakikat kehidupan dunia yang nyatanya tak pernah abadi. Tiada tawa yang abadi di tempat singgah ini, demikian pula dengan kesulitan. Yang ada hanyalah janji abadi tentang hasil dari amal kebaikan dan amal keburukan di hari yang abadi kelak. Pada hari yang abadi itulah segala bentuk amal yang bahkan berupa gerakan batin sekalipun akan dinilai secara tepat, yang tidak baik akan kita sesali, dan yang baik akan menggembirakan kita.

Dan bagaimanapun juga, segala bentuk peran di dunia ini pada hakikatnya adalah anugerah bagi manusia, selama disertai iman dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tiada yang salah dari menjadi nelayan, petani, pengajar atau guru, insinyur, dokter, pedagang, atau apapun selama tetap dalam ketaatan tersebut. Yang salah adalah keadaan di mana kita sengaja melanggar ketaatan itu, ataupun menganggap bahwa profesi kita adalah satu-satunya yang paling penting di antara profesi yang ada. Maka tetaplah berbahagia dengan berbuat kebaikan dalam keadaan masing-masing, sambil berusaha memperbaiki kesalahan yang telah lalu semampunya, karena Allah akan berbahagia pula dengan kebahagiaan hamba-Nya yang bersabar mentaati-Nya dalam keadaan apapun. Dan berbahagialah ketika sesama manusia juga berbahagia dalam usaha mentaati Allah dan Rasul-Nya, karena mungkin demikianlah jalan hidup orang-orang yang beriman dan berserah diri, yaitu ruku’ bersama-sama di hadapan Allah, insyaa’Allaah.

Sesungguhnya tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah (subhaanahuu wata’aalaa), Yang Maha Tunggal dan tak pernah melahirkan tuhan-tuhan lain yang mendampingi-Nya. Maha suci Allah. Dan sesungguhnya Rasul atau utusan Allah yang membawa kebenaran untuk manusia akhir zaman adalah Muhammad (shallallaahu ‘alaihi wasallam), yang membawa al-Qur’an untuk menyempurnakan ajaran para Rasul pendahulunya di dalam Taurat, Injil dan kitab langit lainnya yang telah dicampuri rekayasa tangan manusia.

Dan sesungguhnya tiada manusia yang tahu persis nasib masa depannya di hari yang kekal nanti, apakah akan selamat ataukah justru sebaliknya. Dan tiada manusia yang berhak mendaftarkan orang lain ke dalam neraka selama mereka masih hidup dan memiliki kesempatan untuk meraih hidayah iman dan Islam. Adapun yang telah dijelaskan kepada kita tentang keselamatan akhirat adalah bahwa Allah akan merahmati hamba-Nya dengan cara menjadikannya beramal kebaikan di dunia ini, disertai iman dan ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya. Dan bagaimanapun, tugas kita hanyalah berusaha menempuh ketaatan yang diperintahkan tersebut dengan segenap kemampuan, sedangkan perkara hasil hanyalah wewenang Allah semata. Dan hanya milik Allah sajalah segala kebenaran, hidayah dan taufiq.

===============
Ibnu Anwar
ibnuanwar7@yahoo.com

24 December 2014

Iman yang Menakjubkan

Suatu hari ketika orang-orang kafir berkumpul di rumah Abu Jahal, tiba-tiba datang Tariq Ash Shaidilani. Ia berkata, "alangkah mudahnya membunuh Muhammad jika kalian setuju denganku."
"Bagaimana caranya, wahai Tariq?"

Tariq menjawab, "sesungguhnya saat ini Muhammad sedang duduk bersandar di dinding Ka’bah. Seandainya salah satu di antara kita pergi ke sana, dan menjatuhinya dengan batu yang besar dari atas Ka’bah, pasti ia akan mati seketika." Maka salah seorang di antara mereka yang bernama Shihab berdiri. "Seandainya kalian mengizinkanku, sungguh aku akan membunuhnya."

Setelah orang-orang yang hadir di tempat itu setuju, Shihab segera menuju Ka’bah.
Sesampainya di Ka’bah, Tariq naik sambil membawa batu besar. Kemudian dijatuhkannya batu itu, tepat ke arah Rasulullah saw. yang sedang duduk bersandar di bawahnya. Namun, tiba-tiba keluar salah satu batu dari dinding Ka’bah untuk menahan batu besar yang seolah jatuh melayang dari udara itu. Rasulullah segera berdiri dari duduknya dan menghindar. Tak lama berselang, batu besar itu jatuh menimpa tanah. Kemudian batu dari dinding Ka’bah yang tadi keluar kembali ke tempatnya seperti sedia kala.

Shihab yang berada di atas Ka’bah terheran-heran melihat kejadian itu. Setelah bergegas turun untuk menemui Rasulullah, ia menyatakan masuk Islam.
Tariq pun akhirnya juga masuk Islam setelah melihat mu’jizat tersebut. Berikut pula orang-orang yang bersamanya, yang juga menyaksikan mu’jizat tersebut.

Muhammad bin abu Bakar bertutur; "Iman kepada Nabi saw. yang sangat menakjubkan ialah, imannya orang akhir zaman. Karena mereka beriman meski tidak menyaksikan sendiri mu’jizat Rasulullah saw.."
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw. bersabda; "Tahukah kalian, orang yang imannya paling menakjubkan?"

Para Sahabat menjawab, "para malaikat, ya Rasulullah!"
Rasulullah saw. berkata, "bagaimana mereka tidak beriman, sedangkan Malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada mereka?"
Para Sahabat menjawab lagi, "iman para Sahabatmu, wahai Rasul."

Rasulullah berkata, "bagaimana para Sahabat tidak beriman, sedangkan mereka melihat mu’jizat dariku dan aku juga memberitahukan kepada mereka apa yang diturunkan padaku?"
Kemudian Rasulullah bersabda; "Orang yang imannya paling menakjubkan adalah iman orang-orang yang datang (ada) sesudah (wafat) aku. Mereka beriman dan membenarkanku meskipun tidak hidup di jamanku dan tidak melihatku. Mereka itulah saudara-saudaraku. "

19 December 2014

Pemabuk Cinta

Seorang teman, setiap hari menerima SMS dan telepon berkali-kali dari pacarnya yang sedang bekerja di Singapura. Menjelang tidur, ponsel mulai berdering sampai malam. Pagi haripun, dia masih sering menerimanya, biarpaun malam hari sudah berkali-kali SMS-an. Yang jelas, dia yang di negri Singa itu tak pernah bosan untuk memulainya terlebih dahulu. Baik dalam bentuk ‘short message’, ataupun telpon

Laki-laki itu juga selalu melayaninya. Tak peduli apakah itu jam kerja ataupun jam tidur. Jika SMS dan telepon itu datang dari yang dikasihinya, ia akan tetap menjawab biarpun ia dalam kondisi yang kadang merepotkan. Demi cinta, halangan akan menjelma menjadi kemudahan.

Saya tak begitu heran dengan perilaku semacam itu. Sebab setiap orang pun pernah mengalami hal yang demikan. Seseorang yang sedang menyenangi sesuatu, cenderung akan menyerahkan segala-galanya kepada yang disenangi. Minimal akan sangat mudah untuk berkorban.

Saat Ramadhan waktu itu, saya sempat memperhatikan dengan seksama waktu-waktu perempuan itu mulai SMS ke Brunei. Dimulai sejak membangunkan sahur, kemudian saat makan sahur, menjelang imsak, dan ia juga masih mengingatkan agar jangan sampai lupa subuh.

Petang hari biasanya mulai lagi. Dari hanya mengucap ‘selamat berbuka puasa’. Mengingatkan agar jangan sampai ketinggalan tarawih, dan sampai menjelang tidur lagi. Mereka tak bosan-bosan untuk terus berkomunikasi.

Saat akan berangkat bekerja, perempuan itu masih terus mengingatkan agar selalu hati-hati di jalan dan selalu ingat Allah. Sang lelaki juga makin cinta, karena perhatian dari kekasihnya luar biasa.

Jika mau dikalkulasi dengan rupiah, entah berapa rupiah pulsa yang ia terbangkan ke Brunei setiap harinya. Seorang teman bahkan pernah berkelakar. “Gaji kekasihmu bekerja di Singapura nanti habis hanya untuk membeli pulsa. ”

Si laki-laki sempat khawatir juga disinggung seperti itu. Ia bahkan berkali-kali mengingatkan agar supaya tak terlalu sering SMS ataupun telepon. Namun himbauan itu tak pernah diindahkan.

Tak ada yang bisa membendung tindakannya. Semua itu berasal dari sesuatu yang bernama; Cinta. Kalau sudah kata itu yang bicara, makanan tidak enakpun rasanya menjadi enak. Tahi kucingpun serasa coklat. Apalagi jika benar-benar coklat, pasti terasa segala-galanya. Pendek kata, cinta sering membawa kita kepada tindakan yang tidak berlogika.

Perempuan itu memang sedang dimabuk cinta. Batas-batas kenegaraan yang berupa laut, dengan jarak yang jutaan kilometer, tak menghalangi dia untuk terus eksis berkomunikasi. Berapapun pulsa yang dia habiskan, itu semua tak menjadi soal. Yang penting: cinta.

Saya menjadi menghayal sendiri. Jika cinta itu kita tujukan kepada sang Pencipta. Seandainya rasa cinta kita, kita praktekan dalam hubungannya dengan sang pembuat kehidupan ini. Tentu, akan mendapat sambutan yang luar biasa.

Seandainya kita terus belajar untuk memupuk cinta kita kepada Allah, seandainya hidup kita, mati kita, ibadah kita, langkah kita hanya karena ingin dicintai Allah, betapa besarnya balasan cinta Dia kepada kita.

Sayang, hamba yang lemah ini, masih amat suka memupuk cinta kepada sesuatu yang sesaat. Kita sering lupa untuk memupuk cinta yang sejati, cinta yang abadi. Sehingga untuk mengorbankan waktu saja, demi cintanya kepada-Nya kita sering berpikir berkali-kali.

Tak ada salahnya jika kita mau belajar tentang aplikasi cintanya orang-orang shaleh kepada sang Pencipta. Korban waktu, tenaga, harta bukanlah sesuatu yang memberatkan bagi pemabuk cinta Illahi. Jangankan harta, nyawapun akan diserahkan padaNya.

Tak berlogika? Sekilas bisa seperti itu, tapi lagi-lagi kita harus sadar, bahwa anugerah cinta memang harus kita kelola dalam diri sebaik mungkin. Agar kata itu bisa menjelma menjadi kekuatan yang berakibat baik bagi diri sendiri dan sesama.

Power cinta bisa melahirkan tindakan positif yang luar biasa bila menejemen keimanan mendampinginya. Ringan tangan, mudah berbagi, tak menghindar dari berjuang, adalah hal-hal positif yang bisa kita awali dari sebuah rasa cinta kita terhadap hidup, kehidupan dan yang membuat kita hidup.

==================
Purwokerto, <woyo_sus@yahoo. Co.id>

15 November 2014

Cemburu pada Ibunda Khadijah

Perlahan Nadya melipat sajadahnya yang telah basah oleh airmata. Saat berdoa ia merasa sebagai manusia yang amat rapuh. Dosa-dosanya menggunung. Betapa pedihnya saat ia menyadari bahwa ia tak layak untuk syurgaNya. Namun ketakutannya pun amat sangat, saat teringat dengan neraka. Sebagai seorang istri, Nadya amat menyadari keterbatasannya. Pengabdian, ketaatan dan cintanya pada sang suami penuh kekurangan. Kadang Nadya merasa tak layak untuk sang suami yang dicintainya sepenuh hati. Nadya sangat menyadari, ia bukan wanita yang cantik, lemah lembut, kaya raya dan berbudi pekerti luhur seperti Bunda Khadijah, sehingga pantas mendapatkan cinta yang luar biasa dan tiada duanya dari rasulullah sang suami tercinta.

Hatinya kecil saat teringat suaminya adalah pria shaleh dan tampan yang banyak dikagumi wanita. Wanita-wanita yang lebih segalanya darinya. Tak heran Nadya, bila sang suami kemudian ingin menikah lagi. Ingin membagi cintanya dengan wanita lain. Toh poligami bukan perbuatan dosa. Sungguh Nadya tak ingin menjadi anggota komunitas sosialita istri-istri galau saat suaminya berkeinginan menikah lagi sehingga pandai melakukan pelanggaran syara, hatinya buta tak lagi mampu melihat kebaikan-kebaikan pada diri sang suami, dan syukurnya sirna, hilang tertutupi oleh rasa cemburu. Apalagi Nadya sadar betul dirinya amat sangat jauh dari istri sempurna nan shalihah seperti Bunda Khadijah.

Siapa tak mengenal Bunda Khadijah? Istri dan kekasih rasulullah Muhammad SAW. Pengabdiannya sebagai seorang istri tiada duanya. Ketaatannya pada sang suami tak ada bandingannya. Cintanya yang tulus pada sang pujaan hati tak diragukan lagi. Pengorbanannya pada idaman jiwa laksana hujan di kemarau panjang. Kasih sayang seorang istri yang penuh keikhlasan telah menjadikan Muhammad sang suami merasakan ketenangan, kebahagiaan dan kenyamanan luar biasa, saat ujian dan badai bergulung-gulung datang menerpa dakwah nabi.

Banyak kaum wanita yang iri dan amat cemburu dengan Bunda Khadijah. Bagaimana tidak, sebuah istana megah telah Allah sediakan di syurga, dan hanya beliau satu-satunya wanita yang mendapat salam dari Allah. Cinta sang suami untuk beliau pun amat besar dan tiada akhir sekalipun Bunda Khadijah telah tiada. Bunda Khadijah pula wanita yang hanya disibukkan oleh perjuangan dakwah dan ketaatan pada Allah, tanpa harus dibebani oleh “perasaan” lain karena sang suami taaruf lagi, ingin menikah lagi dan jatuh hati dengan wanita lain, seperti dialami kebanyakan wanita zaman sekarang. Bunda Khadijah bisa tetap fokus menjadi ibu untuk anak-anaknya tanpa disesaki sebuah pikiran, di hati suami ada lagi wanita selain dirinya..

Itu hanya sebagian tanda kasih sayang Allah pada Bunda Khadijah dengan ditakdirkanNya menjadi satu-satunya istri sepanjang hidup di dunia. Di akhirat Allah pun telah menjamin dengan sebuah istana penuh permata di dalam syurga. Wanita manakah yang tak iri?

Kaum wanita sangat boleh iri dan cemburu dengan Bunda Khadijah tapi bukan hanya sebatas pada “taqdirnya” yang tak pernah dipoligami. Namun harus lebih dari itu. Yaitu tentang pengabdian, pengorbanan, ketaatan dan cinta seorang istri. Di saat manusia lain mengingkari, Bunda Khadijah tetap mempercayai sang suami. Seluruh harta kekayaannya pun dengan ikhlas diserahkan untuk perjuangan dakwah. Cintanya sepenuh hati untuk sang suami, meski Muhammad bukan lelaki pertama dalam hidupnya. Lisannya penuh kelembutan dan kata-kata yang menyejukkan.

Berbeda sekali dengan istri zaman sekarang, yang kebanyakan masih bebas berteman dengan pria selain suaminya, di luar koridor yang diperbolehkan syara. Seharusnya hanya dalam hal pendidikan, pengobatan dan perdagangan interaksi pria wanita ajnaby diperbolehkan. Di luar itu sama sekali terlarang, karena kehidupan wanita pria pada dasarnya adalah terpisah.

Lihatlah di kota-kota besar, atas nama emansipasi seorang istri makan siang berdua dengan suami orang saat jam istirahat kantor. Atas nama anak-anak, seorang wanita menghubungi terus menerus mantan suaminya meski hanya untuk memamerkan perhiasan yang baru dibelinya dan semacamnya. Dikiranya karena pernah menjadi suami istri, boleh untuk mengkomunikasikan apa saja. Bebas untuk berkeluh kesah, curhat layaknya saat masih menjadi suami istri. Atas nama kemajuan teknologi, istri-istri bebas berinteraksi apa saja dengan pria lain di dunia maya.

Pun bukan rahasia lagi, betapa banyak istri-istri yang merendahkan sang suami karena penghasilannya lebih besar, meski jumlah kekayaannya masih amat jauh di bawah Bunda Khadijah. Lisannya tak terjaga sehingga menyakiti dan menyinggung perasaan suami. Jauh dengan Bunda Khadijah yang tetap memuliakan sang suami dalam segala keadaan, meskipun kaya raya dan memiliki kedudukan tinggi di kalangan kaumnya.

Meski teramat berat, setiap istri sudah seharusnya belajar dari Bunda Khadijah, bila menginginkan kemuliaan seperti beliau. Seorang Khadijah adalah istri yang memenuhi hak-hak suami setelah keutamaannya menunaikan ketaatan pada Allah. Mencintai suami dengan tulus, berkorban untuk suami penuh keikhlasan dan hanya mengharap pada ridha Tuhannya, menyenangkan dan menenangkan suami, serta memiliki kata-kata yang terjaga dan menyejukkan. Hanya suami satu-satunya pria yang bertahta di hidupnya.

Andai Nadya bisa menjadi seperti Bunda Khadijah…. namun pada faktanya memang ia tidak bisa. Hanya setitik saja ketaatan yang bisa dilakukannya untuk suami tercinta. Menjadi seperti Khadijah ternyata amat mudah dilakukan saat awal-awal pernikahan, ketika cinta masih begitu menggebu, ketika rasa didominasi oleh ketakjuban atas taqdir jodoh yang tiada terduga, ketika hati bak samudera terpesona dengan anugerahNya yang tak bernilai. Sangat gampang dilakukan saat madu-madu pernikahan masih begitu manis, saat semua hal tentang rumah tangga masih baru, saat bunga-bunga kasih baru mulai tumbuh dan bersemi.

Namun setelah waktu berganti, dari bulan ke bulan, bahkan memasuki bilangan tahun, menjadi seperti Khadijah ternyata tak mudah lagi. Kehadiran anak-anak, rutinitas pekerjaan dan aktifitas ikut mengubah haluan hati. Isi hati mulai terbagi-bagi tidak hanya untuk suami saja. Kalimat-kalimat menyejukkan yang dulu selalu hadir, mulai terlupakan terganti oleh kata-kata amat biasa. Keromantisan yang awalnya setiap waktu, berubah rutinitas yang juga biasa.

Menjadi seperti Khadijah untuk manusia biasa memang berat. Tapi semua bisa dicoba dan diusahakan. Dibalik keterbatasan yang kita punya, ada Allah tempat kita memohon pertolongan. Ada Allah Sang Maha Pengabul Doa. Ada Allah tempat kita meminta kekuatan cinta agar ia bersemi lagi dan menumbuhkan kelapangan hati, kekuatan jiwa untuk bisa tetap menjadi seperti Khadijah tanpa lekang oleh waktu dan usia. Laa Haula Walaa Quwwata illa billah.



===============

Oleh : Anna Nur F

12 November 2014

Penemuan-Penemuan Islam Yang Gemparkan Dunia

Kehidupan modern tak lepas dari penemuan-penemuan ilmuwan muslim. Proyek 1001 kembali mengingatkan sejarah 1000 tahun warisan muslim yang terlupakan.
Ada sebuah lubang dalam ilmu pengetahuan manusia, melompat dari zaman Renaisans langsung kepada Yunani, ujar Chairman Yayasan Sains, Teknologi dan Peradaban Profesor Salim al-Hassani pemimpin 1001 Penemuan.
Saat ini Penemuan 1001 sedang pameran di Museum Sains London. Hassani mengharapkan pameran tersebut akan menegaskan kembali kontribusi peradaban non-barat, seperti kerajaan muslim yang suatu waktu pernah menutupi Spanyol dan Portugis, Italia selatan dan terbentang seluas daratan China. Inilah penemuan muslim yang luar biasa:

1. Operasi Bedah

Sekitar tahun 1000, seorang dokter Al Zahrawi mempublikasikan 1500 halaman ensiklopedia berilustrasi tentang operasi bedah yang digunakan di Eropa sebagai referensi medis selama lebih dari 500 tahun.
Diantara banyak penemu, Zahrawi yang menggunakan larutan usus kucing menjadi benang jahitan, sebelum menangani operasi kedua untuk memindahkan jahitan pada luka. Dia juga yang dilaporkan melakukan operasi caesar dan menciptakan sepasang alat jepit pembedahan.

2. Kopi

Saat ini warga dunia meminum sajian khas tersebut tetapi, kopi pertama kali dibuat di Yaman pada sekitar abad ke-9. Pada awalnya kopi membantu kaum sufi tetap terjaga ibadah larut malam.
Kemudian dibawa ke Kairo oleh sekelompok pelajat yang kemudian kopi disukai oleh seluruh kerajaan. Pada abad ke-13 kopi menyeberang ke Turki, tetapi baru pada abad ke-16 ketika kacang mulai direbus di Eropa, kopi dibawa ke Italia oleh pedagang Venesia.

3. Mesin Terbang

Abbas ibn Firnas adalah orang pertama yang mencoba membuat konstruksi sebuah pesawat terbang dan menerbangkannya. Di abad ke-9 dia mendesain sebuah perangkat sayap dan secara khusus membentuk layaknya kostum burung.
Dalam percobaannya yang terkenal di Cordoba Spanyol, Firnas terbang tinggi untuk beberapa saat sebelum kemudian jatuh ke tanah dan mematahkan tulang belakangnya. Desain yang dibuatnya secara tidak terduga menjadi inspirasi bagi seniman Italia Leonardo da Vinci ratusan tahun kemudian.

4. Universitas

Pada tahun 859 seorang putri muda bernama Fatima al-Firhi mendirikan sebuah universitas tingkat pertama di Fez Maroko. Saudara perempuannya Miriam mendirikan masjid indah secara bersamaan menjadi masjid dan universitas al-Qarawiyyin dan terus beroperasi selama 1.200 tahun kemudian.
Hassani mengatakan dia berharap orang akan ingat bahwa belajar adalah inti utama tradisi Islam dan cerita tentang al-Firhi bersaudara akan menginspirasi wanita muslim di mana pun di dunia.

5. Aljabar

Kata aljabar berasal dari judul kitab matematikawan terkenal Persia abad ke-9 Kitab al-Jabr Wal-Mugabala, yang diterjemahkan ke dalam buku The Book of Reasoning and Balancing.
Membangun akar sistem Yunani dan Hindu, aljabar adalah sistem pemersatu untuk nomor rasional, nomor tidak rasional dan gelombang magnitudo. Matematikawan lainnya Al-Khwarizmi juga yang pertama kali memperkenalkan konsep angka menjadi bilangan yang bisa menjadi kekuatan.

6. Optik


The Nimrud lens or Layard lens is a 3000-year old
Banyak kemajuan penting dalam studi optik datang dari dunia muslm, ujar Hassani. Diantara tahun 1.000 Ibn al-Haitham membuktikan bahwa manusia melihat obyek dari refleksi cahaya dan masuk ke mata, mengacuhkan teori Euclid dan Ptolemy bahwa cahaya dihasilkan dari dalam mata sendiri.
Fisikawan hebat muslim lainnya juga menemukan fenomena pengukuran kamera di mana dijelaskan bagaimana mata gambar dapat terlihat dengan koneksi antara optik dan otak.

7. Musik

http://spicmacaypune.files.wordpress.com/2010/01/jamil-khan.jpg?578&h=432
Musisi muslim memiliki dampak signifikan di Eropa. Di antara banyak instrumen yang hadir ke Eropa melalui timur tengah adalah lute dan rahab, nenek moyang biola. Skala notasi musik modern juga dikatakan berasal dari alfabet Arab.

8. Sikat Gigi

http://completehealthcircle.files.wordpress.com/2013/12/main_teeth_0.jpg%3Fw%3D690?613&h=346
Menurut Hassani, Nabi Muhammad SAW mempopulerkan penggunaan sikat gigi pertama kali pada tahun 600. Menggunakan ranting pohon Miswak, untuk membersihkan gigi dan menyegarkan napas. Substansi kandungan di dalam Miswak juga digunakan dalam pasta gigi modern.

9. Engkol

http://alvitoo.files.wordpress.com/2011/04/1-4.jpg?581&h=387
Banyak dasar sistem otomatis modern pertama kali berasal dari dunia muslim, termasuk pemutar yang menghubungkan sistem. Dengan mengkonversi gerakan memutar dengan gerakan lurus, pemutar memungkinankan obyek berat terangkat relatif lebih mudah.

Teknologi tersebut ditemukan oleh Al-jazari pada abad ke-12, kemudian digunakan dalam penggunaan sepeda hingga kini. (Rr/Nn)

09 November 2014

Allah Yang Maha Memberi

Allah telah mengenalkan diri-Nya kepada seluruh makhluk dengan cara memberitahukan bahwa “Dia adalah zat Yang Maha Memberi “

3:8

“Karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Karunia (Qs. Ali Imran :8)

38:9
“Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan Rahmat Tuhanmu Yang Maha perkasa lagi Maha Pemberi (QS. Shad:9)

AL WAHHAB berarti Zat yang banyak memberi tanpa batas. Dia adalah Zat yang menguasai langit dan bumi berikut seluruh kekayaan yang dikandungnya. Tiada satupun yang dapat mengalahkan pemberianNya dan semua pemberiaNya itu tidak mengurangi simpananNya.

Pemberian Allah kepada Hamba 
Allah adalah Zat Yang memberi hidup dan kehidupan. Dialah zat yang telah memberi kita otak, hati, penglihatan  dan pendengaran, disamping makanan, minuman , pasangan dan keturunan.
Contoh pemberian Allah berupa keturunan yang baik diberikan kepada Nabi dan Rasul. Misalnya Nabi Ibrahim As dianugrahi Ishak dan Ismail dan kemudian Ya’kub. Allah menakdirkan keturunan Nabi Ibrahim ini menjadi Nabi dan memperoleh kitab dariNya.

29:27
“..Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan kemudian Ya’kub. Kami jadikan kenabian dan Kitab pada keturunannya…” (QS AL Ankabut:27)
Termasuk Nabi yang mendapat anugrah yang sama adalah Nabi Daud a.s. yang dianugrahi anak bernama Sulaiman as,

38:30
” Dan kami karuniakan Sulaiman kepada Daud. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhannya ..” (QS Shad;30).

21:90
Allah juga menganugerahkan Yahya kepada Zakaria as. (Qs Al Anbiya 90)
Sebaliknya Allah memberikan berupa cobaan kepada Ayub a.s. penyakit ditubuhnya, harta yang ludes dan anak-anak yang meninggal. Setelah itu Allah menggantikan cobaan itu dengan dua kali lebih baik dari yang Allah ambil itu.
Allah menetapkan agar kita memohon anak yang saleh , seperti yang dimohonkan oleh para nabi dan rasulNya. Demikianlah penjelasan Allah tentang hamba-hambaNYa (ibadurrahman).


25:74
”Orang-orang yang berkata “Wahai Tuhan Kami , anugerahkanlah kepada  kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa (Al Furqan ; 74) 

Pemberian Allah yang paling agung
Jika kepada para Nabi Allah memberikan yang paling agung yaitu kenabian , kitab, hikmah dan ayat-ayat yang jelas.  Maka kepada manusia secara keseluruhan pemberian Allah yang paling agung adalah petunjukNya kepada kebenaran yang telah Allah turunkan kepada hamba dan Nabinya Muhammad salallahu alaihi wassalam. Demikianlah Allah mengajarkan bahwa dalam setiap rakaat shalat kita selalu membaca :…

1:6
Ihdinashshiraathalmustaqiim..” Tunjukanlah kami jalan yang lurus (QS Al Fatihah : 6)

Pemberian Allah yang paling Agung lainnya adalah ilmu yang diperoleh hamba-hambaNya yang saleh, sebagaiamana diberikan ilmu tentang besi kepada  Nabi Daud dan ilmu mengendalikan angin,bercakap dengan makhluk Allah binatang dan jin, mendirikan istana kepada Nabi Sulaiman as.
Allah juga telah memberikan hikmah kepada hambaNYa Lukman :

31:12
” …Dan benar-benar Kami menganugrahkan hikmah kepada Lukman..” (QS Luqman ; 12)

Dibolehkan kepada  seluruh hamba, ketika berdoa untuk memohon kebaikan dunia. Akan tetapi Allah mencela orang yang hanya memohon kebaikan dunia dan memuji orang-orang mukmin yang memohon kebaikan dunia dan akhirat”…Dan di antara mereka ada yang berdoa :

2:201
“Wahai Tuhan Kami berilah kami kebaikan  dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka..” (Qs Al Baqarah; 201)

Pemberian dari Allah dapat berubah menjadi murkaNya ketika Allah telah berikan apa yang baik bagi hambaNya , namun tidak diiringi dengan menjalankan perintah Allah sebagaimana mestinya. Tatkala ia diberi harta, hamba tersebut tidak mengeluarkan zakat dan infaq sebagai tanda kecintaannya kepada Allah. Dan ketika seorang hamba meminta ilmu dan Allah memberikannya, maka ia wajib mengamalkannya  dengan tujuan untuk mencari ridho Allah , Allah berfirman :


9:75
9:76
9:77
9:78

… Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah,”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan berderma dan pastilah kami termasuk orang yang saleh.” Setelah Allah memberikan sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, berpaling dan mereka memanglah orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah ingkar kepada Allah akan apa yang mereka ikrarkan kepada-Nya(juga ) mereka selalu berdusta. Tidaklah mereka tahu bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka. Dan bahwasannya Allah amat mengetahui segala yang gaib (Qs At Taubah: 75-78)

Rasulullah selalu bertasbih dengan nama Al Wahhab. Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari salamah ibn al akwar.a. : Saya tidak pernah mendengar Rasulullah membuka doanya kecuali beliau membukanya dengan,

…Subhanarobbiyal a’lal aliyyil wahhab..
Maha suci Allah zat Yang Mahaluhur dan Maha Memberi

(al Musnad : 16548, Hakim 1/498. Hadis ini dianggap sahih oelh Hakim dan dianggap mauquf oleh Azh Dzahabi)

17 October 2014

Keuntungan Masuk Islam

Betapa beruntungnya seorang manusia yang memeluk agama Allah ta’aala, yaitu Al-Islam. Sebab semenjak ia masuk Islam maka semua perbuatan yang ia lakukan mulai mendapat perhitungan serta ganjaran kebaikan di sisi Allah ta’aala.
Adapun orang yang kafir, maka apapun yang ia kerjakan di dunia tidak akan memperoleh balasan kebaikan dari Allah ta’aala. Mengapa? Sebab mereka telah mengingkari perkara yang paling mendasar dalam kehidupan, yaitu ke-imanan kepada Allah ta’aala. Di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa semua yang mereka kerjakan akan terhapus dari catatan rekening amal mereka. Bahkan ditegaskan bahwa mereka bakal menjadi orang-orang yang merugi kelak di akhirat.

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa yang kafir terhadap keimanan, maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” (QS Al-Maaidah ayat 5) 

Ironisnya lagi, orang-orang kafir tersebut menyangka bahwa mereka telah berbuat kebaikan sewaktu di dunia sehingga mereka sudah berharap akan memperoleh surga di akhirat setelah mereka mati. Padahal justru ketika di akhirat itulah mereka baru sadar betapa celakanya mereka. Dan mereka baru sadar bahwa diri mereka sewaktu di dunia berada dalam kesesatan dan kekeliruan.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِ
رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنً
Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS Al-Kahfi ayat 105)

Semua itu terjadi lantaran orang kafir mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah ta’aala dan mereka tidak pernah secara sungguh-sungguh mempercayai akan datangnya hari perjumpaan dengan Allah ta’aala. Hari di mana manusia bakal mempertanggung-jawabkan segala apa yang telah dikerjakannya sewaktu di dunia. Bilamana ada orang yang mengajak mereka agar beriman kepada Allah ta’aala dan hari Akhir mereka kemudian mentertawakannya serta mendustakannya.
Maka pada hari Berbangkit kelak orang-orang kafir akan menyesali segala salah sikap yang mereka perlihatkan sewaktu di dunia dahulu. Bahkan mereka berkeinginan kuat untuk membayar apapun, seandainya mungkin, agar mereka dapat terlepas dari siksaan Allah ta’aala.


إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ
مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (QS Al-Maaidah ayat 36)

Penyesalan orang kafir sedemikian rupa pada hari itu sehingga mereka menuntut kepada Allah ta’aala agar dapat dikembalikan ke dunia agar mereka dapat meralat salah langkah mereka sewaktu di dunia. Bahkan mereka mengakui bahwa mereka telah keliru karena tidak mau meyakini kebenaran Allah ta’aala dan Rasul-Nya sewaktu di dunia. Suatu keyakinan yang munculnya sangat terlambat. Suatu keyakinan yang sudah tidak membawa manfaat apapun bagi mereka pada hari Berbangkit tersebut, kecuali azab Allah ta’aala.

وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS As-Sajdah ayat 12)

Maka, saudaraku, alangkah beruntungnya manusia yang memperoleh hidayah iman dan Islam di dunia. Sebab apapun kebaikan yang ia kerjakan bakal mendatangkan balasan kebaikan dari Allah ta’aala yang berlipat kali. Sementara kejahatan yang ia kerjakan hanya dibalas Allah ta’aala setimpal dengan kejahatan tersebut.
إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلَامُهُ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَنْهُ كُلَّ سَيِّئَةٍ كَانَ زَلَفَهَا
وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ
ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلَّا أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهَا
“Apabila seseorang masuk Islam kemudian Islamnya menjadi baik, niscaya Allah akan menghapus segala kejahatan yang telah dilakukan. Setelah itu, ia akan diberi balasan yaitu setiap kebaikannya akan dibalas Allah sepuluh sampai tujuh ratus kali. Sedangkan kejahatannya dibalas (hanya) setimpal kejahatannya itu, kecuali jika Allah memaafkannya.” (HR Bukhary 1/72)

Maka sudah sepantasnya –sebagai ungkapan rasa syukur- kita ummat Islam berusaha keras mengajak siapapun ke jalan Allah ta’aala ini. Sampaikan kepada mereka: ”Aslim, taslam… Masuklah Islam-lah engkau, niscaya engkau bakal selamat di dunia dan di akhirat.” Jangan hendaknya kita biarkan teman kerja kita di kantor, atau tetangga kita di rumah atau bahkan saudara kita yang non-muslim hidup tanpa iman dan Islam. Mumpung mereka masih hidup, mumpung kita masih diberi umur oleh Allah ta’aala. Marilah, saudaraku, kita da’wahi mereka ke jalan hidup yang sungguh akan menghantarkan mereka dan kita bersama kepada keselamatan fid-dunya wal aakhirah.

=========
 Ihsan Tandjung- eramuslim

07 September 2014

Apakah Itu Istidraj ?

Secara harfiah istidraj artinya adalah “menarik” atau mengulur”. dalam Kamus Al-Muhit karangan Al-Fairuz Abadi “istidraj” bermakna ia menipu dan ia merendahkannya”. Istilah ini dipakai dalam Al-Qur’an misalnya :

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat kami, maka kami akan menarik mereka (sanastadri-juhum), secara berangsur angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang mereka tidak ketahui” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 182)

Sedangkan secara istilah (terminologis) Ibnu Katsir menjelaskan bahwa istidraj ialah Allah dibukakan pintu rizqi dan berbagai sumber penghidupan lainnya sampai mereka terperdaya olehnya dan beranggapan bahwa diri mereka di atas segala-galanya. Imam AlQurtubi Tafsir Jami’ Al-Ahkam berkata : ‘Add-Dhohhak’ menafsirkan ayat Al-a’raf ayat 182 di atas bahwa “Setiap kali mereka menambah/membuat/membaharui maksiat yg baru maka setiap ituAllah membaharui / menambah / membuat nikmat ke atas mereka”. Istidrajullah al-abda“(Allah menIstidrajkan hambanya) memiliki arti bahwa setiap kali hambaNya berbuat kesalahan maka setiap kali itu juga Allah justru menambah nikmatNya.

Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan mengulur-ulur waktu bagi orang yang zalim. Tetapi ketika Allah akan menyiksanya, maka Dia tidak akan melepaskannya. Kemudian beliau membaca firman Allah: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (H.R. Muslim No.4680)

Apakah Kesuksesan Di Dunia Tanda Kasih Sayang Allah?

Dalam berbagai training motivasi sering dikatakan bahwa jika hubungan kita beres dengan Allah, maka pasti dunianya akan sukses. Artinya jika dunia tidak sukses dan hidup susah itu pertanda hubungan nya dengan Allah tidak baik. Premis ini ada baiknya untuk memotivasi orang agar mau mendekati agama. Motovator perlu menyatakan seperti itu karena kebanyakan orang jaman sekarang tidak mau melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak menguntungkan. Dan semua itu diukur dengan materi.

Maka orang sering mengatakan ngapain belajar agama, emangnya agama bisa bikin kamu kaya? Ngapain belajar agama emangnya mau jadi ustad? Maka ketika motivator berkata bahwa agama bisa membawa kepada kemakmuran dan kesejahteraan di dunia, barulah orang mau mendekati agama.

Sebagian manusia mengira bahwa jika apa yang dicita-citakan tercapai, perdagangannya menguntungkan, karirnya sukses maka itu adalah tanda ia mendapatkan kasih sayang Allah. Sedangkan bila rejekinya sempit , perdagangannya merugi, musibah datang silih berganti itu adalah tanda Allah tidak menyayanginya.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” Sekali-kali tidak (demikian) (Q.S. Al-Fajr [89] : 15-17)

Padahal belum tentu kesenangan dan kesuksesan yang selalu kita peroleh itu adalah sebuah kebaikan. Bisa jadi kesenangan dan kesuksesan itu justru sebuah ujian atau musibah.

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar (Q.S. Al-Mukminuun [23] : 55-56)

Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibandingkan dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (Q.S. Ar-Ra’d [13] :26)

Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya. (H.R. Muslim dan Ibnu Majah)
 
================
 

25 August 2014

Umat Islam, Bersiaplah Songsong Era Baru !

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan Dien (Jalan hidup) yang benar untuk dimenangkanNya atas segala Dien, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”


(Q.S At Taubah : 33)


Islam hadir berawal dari pinggiran kota Mekkah yang gersang, diturunkan kepada seorang penggembala yang tidak dapat membaca dan menulis. Ditengah suatu bangsa yang gemar menghabiskan energinya untuk berseteru antar sesamanya sendiri. Di apit oleh 2 kekuatan raksasa dunia yaitu peradaban Romawi Timur dan Persia. Namun dengan izinNya, petunjuk hidup yang dibawa penggembala tersebut akhirnya mampu menyatukan bangsa Arab yang tadinya terpecah belah, menaklukkan 2 kekuatan raksasa dan memimpin dunia.

Salah satu keistimewaan Islam adalah kemampuannya bertahan menghadapi situasi sesulit apapun, dihajar oleh makar musuh-musuhnya namun mampu bertahan dan tetap bersemi. Adalah Allah yang telah menjamin penjagaan Islam hingga menjelang akhir zaman. Jika kita mengacu hanya kepada nalar semata, maka jika bukanlah petunjuk dari Penguasa alam sudah tentu melihat perjalanannya Islam sudah luluh lantak dihajar bertubi-tubi. Namun Allah menunjukkan kuasaNya, Islam akan tetap ada dan bangkit sebagai cahaya yang menerangi perikehidupan manusia hingga menjelang akhir zaman.

Islam pernah berada dalam ambang kepunahan ketika perang Ahzab, pasukan sekutu berniat meluluh-lantakkan basis kaum muslimin di madinah ditambah kaum yahudi Bani Quraizhah yang mengkhianati perjanjian dan siap menikam dari belakang. Selama sebulan kaum muslimin terkepung oleh pasukan sekutu, digambarkan oleh AlQur’an saking gentingnya situasi hingga rasa sesak mencapai kerongkongan. Namun, berkat keteguhan iman generasi awal Islam, Allah memenuhi janjiNya dan memberikan pertolongan sehingga umat Islam terselamatkan dan justru semakin bersemi. Tak cukup sampai disitu, bahaya kembali datang, kali ini pasukan terkuat didunia yaitu Romawi dengan kaki tangannya dari kalangan kabilah Arab berhasil menghimpun pasukan super raksasa berjumlah 200.000 bersenjata lengkap akan memusnahkan kaum muslimin. Pasukan kaum muslimin hanya berkekuatan 3000 prajurit dengan peralatan seadanya. Bayangkan saja, 200.000 vs 3000. Namun, sekali lagi, Allah menunjukkan kuasaNya dengan menyelamatkan cahaya Islam dari kehancuran lewat kecemerlangan sosok Khalid bin Walid. Bahkan kelak, serangan balik kaum muslimin mampu meruntuhkan kekaisaran Romawi timur.

Setelah Rasululllah wafat, sebagai suatu sunatullah yang telah ditetapkan. Musuh-musuh Islam tak henti-hentinya melakukan makar untuk memadamkan cahayaNya. Di abad pertengahan, kerajaan kristen eropa bersekutu untuk melancarkan perang Salib kepada kaum muslimin memenuhi panggilan Paus Urbanus II, tahun 1099 pasukan salib berhasil merebut Yerusalem dan melakukan pembantaian massal terhadap penduduknya. Yerusalem dikuasai selama 88 tahun oleh pasukan salib. Namun, Allah tak akan membiarkan cahaya Islam padam, muncullah sosok Shalahuddin Al Ayyubi sebagai ksatria Islam dan membebaskan Yerusalem dari cengkraman tentara salib. Dan Islam-pun kembali berjaya.

Umat Islam benar-benar nyaris menjadi kenangan sejarah ketika terjadi musibah yang amat memilukan. Pada tahun 1258, Tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan memporak-porandakan lentera peradaban dunia. Ibukota Kekhilafahan Abbasiyah yaitu Baghdad. Terjadinya salah satu pembantaian tersadis dimana rakyat Baghdad disembelih di jalanan-jalanan kota, bahkan dokumentasi sejarah menyatakan sungai Tigris berwarna hitam airnya akibat banyaknya buku, literature dan manuskrip pengetahuan yang dibakar dari perpustakaan al Hikmah. Tentara Mongol bukan hanya memusnahkan penduduk tetapi memusnahkan peradaban. Umat Islam benar-benar luluh lantak. Meskipun pada akhirnya tentara Mongol berhasil mundur, namun umat muslim sudah terlanjur hancur lebur akibat ekspansi brutal pasukan Mongol.

Namun sekali lagi, Allah akan terus menjaga cahayaNya lewat para manusia pilihan. Tahun 1453, muncul-lah sebaik-baik panglima muda bernama Muhammad Al Fatih yang melakukan penaklukkan spektakuler terhadap kota Konstantinopel (Sekarang Istambul-Turki). Umat Islam pun kembali bangkit dan berjaya. Namun setelah itu, umat Islam terus menerus mengalami kemunduran hingga puncaknya adalah runtuhnya pengawal ajaran Islam Kekhilafahan Utsmani pada tahun 1924. Saat itu umat Islam benar-benar seperti anak-anak ayam kehilangan induk. Musuh Islam mengepung dari segenap penjuru sebagaimana yg telah nabi sabdakan bahwa akan tiba suatu masa bangsa-bangsa kafir mengerumuni kaum muslimin sebagaimana orang-orang mengerumuni makanan. Dewasa ini adalah era keterpurukan kaum muslimin di segala bidang.

Musuh-musuh Islam tahu benar, umat muslim begitu tangguh ketika diserbu secara fisik. Mereka paham, bahwa untuk mengalahkan umat Islam maka perlu menghilangkan sumber energi umat Islam yg paling utama yaitu AlQur’an. Perlu diketahui, sesungguhnya hal yang paling ditakuti musuh Islam bukanlah karena kaum muslimin melaksanakan sholat, dzakat, puasa dll. Tetapi penerapan AlQur’an secara menyeluruh dalam setiap sendi perikehidupan sebagaimana yang dikatakan Snouck Hugronje. Bagi Islam, kekuasaan bukanlah milik siapapun kecuali Allah S.W.T. Manusia hanya sebagai makhluk yang dititipkan “Konsep Hidup” agar dilaksanakan di muka bumi. Oleh karena itu, dalam rangka menjauhkan kaum muslimin dari sumber energi utamanya, mereka merumuskan berbagai racun pemikiran kepada umat Islam. Demokrasi, nasionalisme, komunisme, darwinisme, liberalisme dan berbagai racun merusak lainnya sehingga banyak kaum muslimin termakan dan mengikuti jalan hidup mereka. Dan akhirnya, umat Islam berada dalam ketertindasan dibawah cengkraman kaki tangan kaum kafir.

Namun, Allah akan tetap menjaga cahayaNya. Sehebat apapun musuh-musuh Islam melakukan makar dan tipu daya, tidak akan ada yang bisa mengalahkan rencana Allah S.W.T. Rasulullah bersabda di akhir zaman nanti akan tiba masa tegaknya kembali kepemimpinan Islam yang mengikuti jalan kenabian (Khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah) setelah sebelumnya umat Islam dirundung nestapa pada fase kekuasaan diktator kaki tangan penjajah. Akhir-akhir ini, tanda-tanda itu kian tampak terasa. Kepemimpinan Islam akan datang yang akan merontokkan sistem dajjal yg mencengkram dunia saat ini. Sabda Rasulullah tersebut seolah dibenarkan oleh National Intellegence Council (NIC) yaitu sebuah lembaga riset yg dibiayai Amerika Serikat untuk meneliti kemungkinan peta kekuatan politik dan ekonomi di masa mendatang. Menurut NIC, ada 4 kemungkinan yang terjadi di tahun 2020 yaitu :

1. Davod World : India dan China akan menjadi pemegang tampuk kepemimpinan dunia.

2. Pax Americana : Amerika akan tetap memimpin dunia dengan pedoman hidup demokrasi dan kapitalismenya

3. The New Islamic Caliphate : Akan tegaknya sebuah kepemimpinan Islam mendunia yang meruntuhkan nilai-nilai dan dominasi barat

4. Cycle of Fear : Dunia berada didalam kekacauan dan ketakutan.

Jadi sebagai muslim, Kemenangan Islam di akhir zaman adalah suatu keniscayaan yang telah dijanjikan dan tak perlu diragukan, yg akan diminta laporan pertanggungjawaban adalah sejauh mana kontribusi kita sbg orang yang mengaku muslim utk memperjuangkannya, atau malah ikut menghambat dan memusuhinya ? So, are you the real Muslim ? Tak akan ada yang sia-sia dalam membela Islam, hanya ada dua kemungkinan, jika gugur ditengah jalan maka sejatinya kita akan tetap hidup di syurga dengan segala kenikmatannya atau kita berhasil memperoleh kemenangan dan mulia hidup di dunia dengan Islam.

Untuk itu saya berpesan untuk diri saya pribadi dan kaum muslimin lainnya, Berbanggalah wahai kaum muslimin dengan Islam yang ada di dada kita, jagalah aset mahal tersebut ditengah deru fitnah akhir zaman. Kenapa kita patut berbangga dengan jalan hidup Islam ? Karena Islam tidak seperti pedoman hidup lain (Demokrasi, nasionalime, komunisme, darwinisme dll) yang berasal dari buah pikiran manusia yang terbatas dan penuh kekurangan. Melainkan petunjuk hidup yang digariskan sang Pencipta manusia yang Maha Tahu. Layaknya pabrik elektronik yang menerbitkan buku pedoman pemakaian bagi produknya karena sudah barang tentu sang produsen lebih tahu keadaan produk ciptaannya. Genggamlah kuat-kuat meskipun dengan itu kita harus menjadi generasi terasing, karena kata Rasulullah Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana keadaan awalnya, maka beruntunglah orang terasing itu. Kita lahir dengan fitrah sebagai Islam, hidup dengan Islam, dan menghadapNya tetap dalam keadaan Islam. Itulah satu-satunya jalan keselamatan. Semoga kita selamat sampai tujuan dan Allah berkenan memberi kita kekuatan. Jika orang-orang berpaling dan memilih jalan hidup lain, maka katakanlah kepada mereka. ‘Isyhaduu bi anna Muslimuun” (Saksikanlah bahwa saya seorang yang berserah diri sebagai muslim).

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS.Ali ‘Imran:139)

Wallahua’lam 
 
===========
Oleh : M Yusron Mufid

17 August 2014

Perempuan dan Seekor Ayam

Diriwayatkan pada musim haji, Abdullah bin Mubarak memasuki kota Kuffah. Ketika ia hendak menunaikan ibadah haji, di tengah kota ia melihat seorang perempuan sedang membersihkan seekor ayam yang mati dari tumpukan sampah.

Kemudian Abdullah bertanya, “Apakah ayam yang kau bersihkan itu seekor bangkai ataukah ayam yang disembelih?”

“Ini bangkai dan akan kujadikan makan malam untuk keluargaku,” kata perempuan itu.

Abdullah kemudian mendekat dan berkata, “Sungguh Allah telah mengharamkan bangkai, Dan kalian hidup di Kuffah yang dikelilingi ulama. Apakah kalian akan memakannya?”

"Menyingkirlah dariku,” ucap perempuan itu sambil berlalu.

Abdullah mencoba mengejarnya dan mengingatkan akan keharaman bangkai.

Perempuan itu kemudian bercerita, “Aku memiliki beberapa anak, dan mereka sudah tiga hari tidak makan. Aku pun telah mencarinya, namun sia-sia.”

Kemudian, Abdullah bergegas menuju kudanya yang menjadi kendaraan sekaligus pengangkut bekalnya selama haji, la menuntun kuda tersebut yang di punggungnya penuh dengan makanan, pakaian, dan bekal lainnya.

Sesampainya di rumah tersebut, Abdullah mengetuk pintu dan keluarlah perempuan itu. Lalu Abdullah memukul kudanya hingga masuk ke dalam rumah perempuan tersebut.

Ia kemudian berkata kepada wanita tersebut, “Buanglah bangkai tadi, di atas kuda itu ada bahan- bahan makanan dan beberapa pakaian. Ambillah kuda itu serta semua yang ada di punggungnya. Semua itu untuk kalian.”

Setelah itu, Abdullah sadar bahwa musim haji hampir selesai dan ia tak mungkin mencapai Makkah dalam waktu yang tersisa itu. Ia kemudian memutuskan untuk bermukim di Kuffah dalam beberapa pekan menunggu rombongan haji kembali dari Makkah dan bermaksud menumpang mereka dalam perjalanan karena bekalnya habis diberikan kepada wanita tadi.

Ketika rombongan haji melewati Kuffah, Abdullah pun kembali ke kampung halamannya bersama mereka. Setibanya di rumah, Abdullah berkumpul dengan kawan-kawannya yang usai menunaikan ibadah haji, sedangkan para tetangga berdatangan meminta berkah dan tentu saja untuk berbagi pengalaman.

Kemudian Abdullah berkata kepada mereka, “Sungguh tahun ini aku menyesal karena tidak jadi pergi berhaji.”

Dengan penasaran salah satu dari kawannya yang menunaikan ibadah haji berkata, “Subhanallah, apa yang kau katakan? Bukankah engkau berhaji bersama kami? Apakah kau tidak ingat bahwa aku menitipkan bekalku kepadamu dan aku mengambilnya di Arafah?”

Kawan lainnya juga berkata, ‘Tidakkah engkau memberiku minum ketika di Makkah?”

Dan kawan yang satunya lagi juga berkata, “Tidakkah kau ingat ketika kita bersama-sama membeli oleh-oleh di pasar itu?”

Abdullah pun sejenak kebingungan dan berkata, “Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Yang kuingat tahun ini aku tidak pergi berhaji.”

Kemudian pada malam harinya, Abdullah tertidur dan bermimpi bertemu seorang yang berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, sesungguh¬nya Allah telah menerima sedekahmu dan Allah mengirimkan malaikat yang menjelma sebagai dirimu dan berhaji atas kamu.”

Hikmah: Tidak ada yang sia-sia dari kebaikan yang kita lakukan di dunia ini. Cerita Abdullah hanyalah sebuah pelajaran bagi pelaku kebajikan yang lain, bahwa semua kebaikan dibalas oleh Allah berlipat ganda. Hanya saja kebaikan itu tidak semuanya diperlihatkan kepada kita. Abdullah- lah orang yang beruntung telah menikmati hasil kebaikan di dunia ini.

===================================
 
Sumber: Buku Kutukan Seorang ibu, 30 Kisah Islami Sumber Kebijaksanaan Hidup, Penulis: Syarif Yahya

26 July 2014

Janganlah Hidup hanya Berdasarkan Angka Angka dan Hitungan

Gambaran dari masyarakat mukmin adalah masyarakat yang tenang dengan akidah tauhid, dan mereka ridha dengan ketentuan Allah dalam soal rezeki dan ajal, sehingga mereka tidak bisa digoyahkan oleh apapun dan tidak dapat digoncangkan dengan kekuatan apapun. Sebaliknya dengan gambaran masyarakat jahiliyah, syaraf mereka selalu tegang, hati mereka selalu cemas, pikiran mereka selalu bingung. Manusia manusia yang selalu khawatir dengan penghidupan mereka, tak seorangpun diantara mereka yang mampu membebaskan diri dari belenggu kematian yang selalu membayanginya ke manapun ia berjalan, kecemasan tak memperoleh rezeki senantiasa mengusik tidur mereka dan membuat kedua kelopak mata mereka tak bisa terpejam.

Pengangguran di dunia barat hari demi hari kian meningkat. Dan kamu dapati seseorang di antara mereka dari saat ke saat mendapat surat pemberitahuan PHK, oleh karena perusahaan bangkrut atau hampir bangkrut, tak ia dapati solusi kedepannya kecuali bunuh diri dan mati, karena seluruh hidupnya hanya bertalian dengan gajinya, maka jika gajinya terputus, ia berfikir kehidupannya telah putus pula. Ia tidak mendapatkan cara untuk memutus rasa sakitnya, mengakhiri duka citanya, dan mengendurkan ketegangan syarafnya selain akhiri kehidupannya.

Beda jauh dengan kehidupan seorang muslim, apabila ditimpa bencana dan himpit kesulitan, maka ia langsung berhubungan dengan Allah, merendahkan diri dan menghiba di hadapanNya, dan memohon agar disingkirkan kesusahannya, dihilangkan kesedihannya, dan di hapuskan penderitaannya.

Berhati hatilah terhadap rencana Yahudi dalam protokol ke empat :

“ Akan kita cabut kepercayaan kepada Allah dari benak orang orang kristiani, kemudian kita letakkan sebagai gantinya berupa angka angka hitung dan aktivitas aktivitas duniawi…”

Dan Yahudi berhasil menjadikan kristiani seperti itu, dan sekarang mereka mulai merusak umat Islam…

- Abdullah azzam -

13 July 2014

Keajaiban Seorang Rasul

Anas bin Malik ra bercerita: Pada suatu hari, Nabi Muhammad Saw mendatangi rumah Fathimah ra. Fathimah pun mengadukan rasa lapar yang dialaminya, "Ayahku! Sudah tiga hari aku tidak merasakan makanan."

Lalu Nabi membuka penutup perut beliau, ternyata di perut beliau ada batu yang diikatkan untuk menahan lapar. Beliaupun bersabda, "Wahai Fathimah! Kalau kamu belum makan selama tiga hari, ayahmu ini sudah empat hari belum makan!"

Lalu Nabi Saw keluar dari rumah Fathimah sambil berkata, "Kasihan Hasan dan Husain kelaparan." Nabi pun terus berjalan sampai akhirnya beliau sampai di sebuah gang kecil di kota Madinah. Lalu beliau bertemu dengan orang Arab pedalaman, sedang orang itu tidak tahu bahwa itu adalah Nabi. Nabi Saw berkata, "Wahai, orang Arab pedalaman! Apakah kamu perlu tenaga untuk membantumu?"

"Ya," jawab orang itu.

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Nabi Saw lagi.

"Mengambilkan air dari sumur," jawab orang itu sembari memberikan timbanya kepada Nabi Saw.

Maka Nabi Saw pun menimba air untuk orang itu. Setelah selesai, orang Arab pedalaman itu memberi Nabi Saw tiga butir kurma sebagai upah. Nabi Saw pun memakan kurma tersebut. Sudah delapan kali Nabi Saw menimba air. Ketika beliau hendak menimba yang kesembilan kalinya, tiba-tiba timbanya terlepas, maka beliau pun berdiri diam terpaku. Lalu orang itu marah-marah menghampiri Nabi Saw sambil menampar muka Nabi. Lalu ia memberi delapan belas butir kurma kepada Nabi Saw. Nabi Saw pun menerimanya. Lalu dengan hanya menggunakan tangan, Nabi Saw mengambil timba dari dalam sumur dan melemparkanya ke arah orang peradalam itu, lalu beliau pergi meninggalkannya.

Untuk beberapa saat, orang Arab pedalaman itu berpikir dan membatin, "Ini adalah benar-benar keajaiban seorang Nabi. Ya, Nabi Muhammad."

Kemudian ia mengambil golok dan segera memotong tangan kanannya yang tadi telah digunakan menampar Nabi Saw, lalu ia terjatuh dan tak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian, lewatlah serombongan orang, lalu mereka menyiramkan air ke tubuh orang itu, maka ia pun siuman. Lalu ia ditanya, "Apa yang terjadi padamu?"

Ia menjawab, "Aku telah menampar wajah seseorang. Aku tidak menyangka bahwa orang tersebut adalah Muhammad Saw. Aku takut terkena siksa, maka aku memotong tangan yang aku gunakan menamparnya."

Kemudian dengan tangan kirinya, orang Arab pedalaman itu mengambil potongan tangannya, dan ia pun menunju Masjid Nabawi dan berkata, ``Wahai para Sahabat Muhammad, di mana Muhammad?"

Di dalam Masjid itu ada Abu Bakar, Umar dan Usman. Mereka balik bertanya, "Ada apa engkau menanyakanya?"


"Aku ada kepentingan dengan beliau," jawabnya.

Lalu Salman Al-Farisy mendatangi orang itu dan mengajaknya ke rumah Fathimah. Sementara Nabi sendiri setelah menerima kurma darinya, beliau langsung menuju rumah Fathimah. Beliau kemudian memangku Hasan di sebelah kanan dan Husain di sebelah kiri. Nabi menyuapi Hasan dan Husain dengan kurma yang beliau dapat dari orang pedalaman tersebut. Setelah sampai di rumah Fathimah, orang Arab pedalam itu memanggil Nabi Saw, ``Hai Muhammad!"

Nabi Saw berkata kepada Fathimah, "Lihatlah siapa yang datang?"

Fathimah lalu melihat dari pintu, dan didapatinya ada seorang Arab pedalaman di luar. Dia masih memegangi potongan tangannya yang masih meneteskan darah segar. Fathimah kembali lagi pada Nabi dan menceritakan apa yang dia lihat.

Nabi Saw pun keluar. Ketika beliau telah keluar, maka berkatalah orang itu, "Hai, Muhammad! Maafkanlah aku, karena sesungguhnya aku tidak mengenalimu."

Lalu Nabi Saw bertanya, "Mengapa kamu memotong tanganmu?"

Orang itu menjawab, "Tidak pantas bagiku membiarkan tangan yang telah menampar wajahmu."

Nabi berkata lagi, "Masuklah Islam, maka kamu akan selamat!"

Orang itu berkata, "Wahai, Muhammad! Kalau kamu memang seorang Nabi, maka kembalikanlah tanganku seperti semula!"

Lalu Nabi mengambil tangan tersebut dan meletakkan pada tempatnya semula, melekatkanya, mengusapnya, meludahinya dengan menyebut asma Allah, maka tersambunglah kembali tangan orang Arab pedalaman itu atas izin Allah. Kemudian orang itu pun masuk Islam.
 
=================

Sumber: Jangan Bersedih! 150 cerita Hikmah Penyejuk Hati, Penulis: Mohammad A. Syuropati