Showing posts with label alloh. Show all posts
Showing posts with label alloh. Show all posts

28 September 2015

Cara Berkomunikasi Rasulullah SAW

Berkomunikasi adalah hal yang penting dalam hubungan antara manusia, bahkan di masa kini, komunikasi sangat menentukan sukses tidaknya seseorang dalam segala sisi kehidupan. Rasulullah SAW adalah seorang komunikator yang handal. Seorang teladan luar biasa yang sepantasnya kita tiru. Berikut ini adalah beberapa tips yang diangkat dari teladan beliau dalam berkomunikasi:
  1. Rasullullah SAW adalah sosok yang fasih berbicara. Sedikit bicara namun penuh makna, mudah dimengerti, dan tidak menyinggung perasaan orang yang diajak berbicara.
  2. Ketika ada yang salah dan harus dihukum, maka hukumlah dengan adil tanpa harus menghinakannya.
  3. Berikan motivasi perbaikan diri kepada orang yang dihukum dan sudah menyesali kesalahannya, bukan malah menghina atau mencemoohnya.
  4. Berkatalah yang baik ketika mendapat musibah. Lakukan introspeksi, tidak menyalahkan siapapun, apalagi menghujat Allah SWT.
  5. Berkatalah yang baik atas orang yang sudah meninggal, kecuali untuk penulisan sejarah, boleh ditulis sewajarnya berdasarkan fakta yang ada.
  6. Berbicara yang baik kepada yang bukan ahli waris (tidak mendapat waris)
  7. Rasulullah SAW berpesan kepada perempuan untuk berbicara dengan cara yang baik dengan tidak mempermainkan suaranya.
  8. Ketika ditanya, “Siapa Anda?”, maka sebutkan nama kita, jangan hanya “Aku!”, atau “Saya!”.
  9. Berdakwah dengan cara yang terbaik yaitu dengan lemah lembut. Kalaupun harus berdebat, lakukan dengan cara yang paling baik.
  10. Berkata yang baik pada saat khitbah (meminang) seorang wanita.
  11. Berkata yang baik saat memegang amanah, misalnya ketika mendapat kepercayaan menjadi pimpinan atau memegang suatu tanggung jawab penting.
  12. Sabar dan tiada batasan untuk sabar. Sabar tidak berbatas, kita sendirilah yang membatasinya.
  13. Ketika mendapati diri mendapat fitnah maka ketika diklarifikasi maka lakukanlah dengan sabar. Jika memungkinkan, nasehatkan kebenaran kepada orang yang menyebarkan fitnah tersebut agar tersadar dari kesalahannya. Bagaimanapun, jika kebaikan kita dibalas dengan keburukan lalu kita seolah tidak peduli, maka ibaratnya kita sedang memberikan bara api kepada orang tersebut. Adalah kewajiban kita untuk menasehatinya, minimal mendoakannya agar suatu saat diberikan hidayah oleh Allah.
Sungguh perbuatan yang mencerminkan akhlak mulia memberikan efek yang jauh lebih dahysat dibandingkan dengan sekedar lisan. Siapkah diri kita untuk mengamalkan akhlak seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW baik dalam bertutur kata maupun berbuat? Insya Allah.


Referensi:
  1. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, dibawa ke hadapan Rasulullah SAW seorang yang tertangkap telah mabuk (minum khamar). Rasulullah SAW berkata : “hukumlah dia (pukullah)”. Maka di antara kami ada yang memukul dengan tangannya, dengan sandalnya, juga ada yang dengan kain. Ketika telah selesai pergilah orang itu, namun ada seorang sahabat yang berkata padanya, “Semoga Allah menghinakan kamu!!!”. Mendengar itu rasulullah berkata, “Janganlah kau berkata seperti itu padanya. Jangan kamu membantu syaitan (dalam menyesatkan orang itu)”. (HR. Imam Bukhari)
  2. Dari Ummi Salamah berkata, aku mendengar rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “barangsiapa yang mendapatkan musibah kemudian mengucapkan “Sesungguhnya semua datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala atas musibah ini dan berikanlah ganti yang lebih baik”. Ummu Salamah berkata lagi, “Saat suamiku meninggal, aku mengucapkan seperti yang Rasul ullah ajarkan padaku, dan kemudian Allah menggantikan aku yang lebih baik, yaitu (aku menikah dengan) Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim)
  3. Aisyah radhiyallahu anha berkata Rasullullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah menghina orang yang sudah meninggal dunia, karena mereka telah melakukan apa yang dapat mereka perbuat (HR. Imam Bukhari)
  4. Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat , anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (An-Nisa QS. 4:8)
  5. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya , dan ucapkanlah perkataan yang baik. (Al-Ahzab, QS. 33:32)
  6. Jabir radhiyallahu anhu berkata, Aku berkunjung ke rumah Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku ketuk pintunya dan Beliau bertanya, “Siapa ini (di luar)?” Maka kujawab, “Aku”. Kemudian Rasulullah berkata, “Aku..Aku..”, seolah Beliau sangat tidak suka (dengan jawaban aku..aku..). (Mutaqqah Alaih)
  7. Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf . Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (Al-Baqarah, QS. 2:235)
  8. Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya , harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (An-Nisa, QS. 4:5).
  9. Pernah suatu ketika rasulullah dan aisyah seang berjalan dan di tengah berjalan bertemu dengan orang kafir yang mengucap salam ‘asam alaika’. Kemudian aisyah menjawab dengan jawaban panjang  yang disertai doa keburukan atas orang kafir itu, kemudian rasul menasehatinya bahwanya hendaknya cukup dijawab dengan “wa alaika”.

29 August 2015

10 Perkara yang Allah Benci

Kebanyakan orang melakukan sesuatu tanpa menyadari bahwa apa yang dilakukan itu sangat dibenci Allah. Kosongnya ilmu dari diri mereka menyeretnya hanyut dalam perkara-perkara yang seharusnya senantiasa dihindari, dijauhi dan bahkan harus dibenci karena Allah juga sangat membencinya.

Ada sepuluh hal yang Allah sangat benci yang tidak seharusnya kita terjerat di dalam perangkapnya :
  1. Kikirnya orang-orang kaya
  2. Takabburnya orang-orang miskin
  3. Rakusnya para ulama
  4. Minimnya rasa malu para wanita
  5. Suka dunia orang-orang yang sudah tua renta
  6. Malasnya para pemuda
  7. Kejinya para penguasa
  8. Pengecutnya para tentara perang
  9. Ujubnya para zahid
  10. Riya’nya para ahli ibadah
Orang-orang kaya itu dihadirkan untuk membei bantuan dan meringankan orang lain, meringankan beban orang-orang tak berdaya sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Kekayaan yang mereka miliki jangan sampai terkonsentrasi pada dirinya dan tidak bisa dinikmati oleh orang lain. Bahkan menurut Rasulullah, cukuplah sebuah dosa bagi seseorang yang tidur kekenyangan sementara tetangganya mengerang kelaparan. Kepedulian sosial adalah bagian sangat penting dalam ajaran Islam yang harus senantiasa dikibarkan panji-panjinya. Orang yang tidak pernah terlibat merasakan denyut nadi perasaan orang lain sesungguhnya dia bukan bagian dari mereka. Barang siapa yang tidak pernah peduli pada masalah-masalah kaum muslimin maka sesungguhnya dia bukan bagian bagian dari mereka.
منن أصبح لا يهتم بالمسلمين فليس منهم
Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka dia bukan bagian dari mereka (HR. Hakim).

Kikirnya orang-orang kaya akan menyumbat kesejahteraan sosial yang menjadi pilar besar ajaran Islam.
وأى داء أدوى من البخل
Lalu penyakit apa lagi yang lebih berbahaya daripada sifat kikir (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Adapun takabburnya orang-orang miskin adalah penyakit yang sulit dimengerti. Apa yang mendorong dirinya menjadi takabbur. Padahal harta tidak punya, kekayaan tidak melimpah. Rumah morat marit, kendaraan sudah berumur. Lalu apa yang membuat mereka sombong? Padahal orang kaya berharta saja yang memiliki kekayaan dan harta berlimpah tidak boleh menyombongkan diri kepada siapa saja. Sebab Allah sangat tidak menyukai perilaku sombong itu karena dia termasuk sifat yang melekat pada Iblis, yang karenanya dia dilaknat Allah dan diusir dari surga serta akan dikekalkan dalam neraka. Simaklah firman Allah berikut ini :
واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وبالوالدين إحسانا وبذي القربى واليتامى والمساكين والجار ذي القربى والجار الجنب والصاحب بالجنب وابن السبيل وما ملكت أيمانكم إن الله لا يحب من كان مختالا فخورا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (An-Nisaa’ : 36).
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (Lukman : 18).

Kesombongan hanya akan menyesakkan dada pelakunya dan memuakkan orang yang dihadapinya. Kesombongan hanya akan merenggangkan keakraban yang selama ini sudah terbina. Kesombongan hanya akan membuat jiwa tidak terkontrol sehingga meremehkan setiap orang yang dihadapinya. Sungguh lebih gila jika kesombongan itu dilakukan oleh orang-orang miskin papa yang tidak memiliki apa-apa. Beda antara harga diri dengan kesombongan. Harga diri adalah mempertahakan kehormatan diri jika dihina sedangkan sombong adalah meremehkan sesama.

Sedangkan para ulama dihadirkan untuk menghadirkan contoh sifat qana’ah dan tidak rakus pada dunia. Ulama sebagai penyeru akhlak dan moralitas hendaknya menyadari bahwa dirinya ditatap, disorot dan diamati oleh sekian ribu mata yang senantiasa menanti perilaku lurusnya. Ulama tidak dilahirkan untuk rakus pada dunia. Sebagai pewaris para Nabi sudah sepantasnya mereka tidak terlalu berpikir mewariskan dunia pada anak-anaknya namun yang dia pikirkan bagimana mewariskan ilmu pada generasinya.

Manusia-manusia yang bukan ulama saja tidak boleh tamak pada dunia apalagi ulama yang seharusnya menjadi contoh bagi mereka. Rakus pada dunia mematikan perburuan pada akhirat dan melemahkan ummat ini. Para pecinta dunia akan terkena penyakit ganas yang disebut dengan”wahn” cinta cinta dunia over-dosis dan takut mati over-dosis.

Para ulama pecinta dunia hampir bisa dipastikan mereka akan kehilangan karisma dan martabat keulamaannya dan akan mendapat gelar “ulama dunia” atau sering pula disebut dengan ulama suu’, ulama buruk.
ويل لأمتى من علماء السوء يتخذون هذا العلم تجارة يبيعونها من أمراء زمانهم ربحا لأنفسهم لا أربح الله تجارتهم
Celakalah bagi ummatku dari ulama buruk yang menjadikan agama ini sebagai komoditas, yang mereka jual pada para penguasa mereka di zamannya demi meraup keuntungan untuk diri mereka sendiri. Allah pasti tidak akan menjadikan bisnis mereka memperoleh keuntungan (HR. Hakim).

Wanita, fitrahnya dihadirkan dengan rasa malu yang luar biasa. Dari cara mereka bicara, cara mereka memandang, cara mereka berjalan ada sentuhan-sentuhan kelembutan yang luar biasa yang menggambarkan bahwa mereka adalah seorang wanita. Wanita dicipta untuk melahirkan kelembutan-kelembutan yang terefleksi dari perilaku mereka yang senantiasa berhiaskan rasa malu. Maka jika seorang wanit sedikit rasa malunya, dunia akan menjadi tidak seimbang lagi. Karena sisi positif wanita telah kehilangan ikatannya. Wanita masa kini tidak lagi merasa memamerkan auratnya di depan laki-laki asing.

Maka jangan heran jika Allah murka karena maksiat mereka. Padahal kita bisa belajar dari apa yang dilakukan oleh dua anak gadis Nabi Syu’aib tatkala mereka mau mengambil air di sebuah sumur lalu keduanya bertemu Musa, sosok wanita ideal yang saat ini tidak pernah lagi jadi perbincangan. Allah berfirman : Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang dzalim itu”. (Al-Qashahs : 25). Malu adalah mahkota seorang wanita, dan kehilangan rasa malu sama dengan kehilangan mahkotanya. Dan secara otomatis hilang pula harga dirinya.

Orang tua renta sudah seharusnya mempersiapkan segala hal untuk kematiannya. Kerentaannya hendaknya memberikan peringatan keras bahwa dia telah dekat untuk menuju ambang kematian. Dia telah jauh berjalan menemupuh liku-liku dunia dan semua uji cobanya. Rambut yang menguban, gigi yang bertanggalan, tulang-belulang yang mulai keroposan adalah sebagai pengingat bahwa kematian akan segera menjelang, menjemputnya bersama ketuaan yang sudah disandang.
Orang tua yang masih senang dunia, mabuk di dalamnya, berebut kenikmatannya yang hanya sementara tentu saja sangat Allah benci. Apakah mereka tidak sadar bahwa dunia akan segera ditinggalkannya, lalu untuk apa dia masih berburu dunia dengan penuh tamak dan cinta yang melampui batas.

Adapun masa muda adalah masa paling produktif dalam kehidupan manusia. Masa muda adalah masa gelora kehidupan mereka. Masa muda adalah masa penentuan masa depan yang sesungghnya. Maka malasnya pemuda adalah alamat awal dari suram dan buramnya masa depan mereka. Gelap dan gulitanya hari-hari ke depan mereka. Manusia yang tidak memiliki awal yang cemerlang biasanya sulit menuai cahaya di ujung kehidupan. Pemuda tiang sebuah bangsa.
Maju dan tidaknya sebuah bangsa berada pada produktivitas mereka, sedangkan bangkrut dan hancurnya sebuah negara ada pada kemalasan mereka. Islam di awal-awal bangkit karena dukungan para pemuda enerjik yang anti kemalasan. Siang mereka adalah kerja keras dan malam mereka adalah ibadah malam.
Rasulullah menghimpun orang-orang mulia dalam tujuh golongan diantaranya adalah pemuda yang enerjik. Rasulullah bersabda :
سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله إمام عادل وشاب نشأ في عبادة الله ورجل قلبه معلق بالمسجد إذا خرج منه حتى يعود إليه ورجلان تحابا في الله فاجتمعا على ذلك وافترقا عليه ورجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه ورجل دعته امرأة ذات منصب وجمال فقال إني أخاف الله رب العالمين ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه
Tujuh golongan orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Peminpin yang adil, pemuda yang tumbuh berkembang dalam beribadah kepada Allah, lelaki yang hatinya senantiasa terpaut ke mesjid tatkala dia keluar darinya hingga dia balik kembali, dua lelaki yang saling mencinta karena Allah. Dia berkumpul karenanya dan berpisah karenanya pula. Lelaki yang mengingat Allah sendirian kemudian kedua matanya mengalirkan air mata, lelaki yang dipanggil oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan cantik lalu dia berkata : Sesunggguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam, seseorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya (HR. Malik, Tirmidzi, Bukhari Muslim).
Peminpin sebagaimana diisyaratkan hadits di atas juga seharusnya berbuat adil bukan berlaku kejam agar mereka mendapat naungan Allah di hari kiamat. Keadilan mereka sangat ditunggu dan dirindu oleh rakyat. Karena harapan keadilan memang bertumpu pada para penguasa itu. Keadilan adalam dambaan setiap orang, cita setiap insan. Tatkala seorang penguasa yang seharus adil berubah menjadi keji maka kemurkaan Allah yang demikianpedih telah menunggu mereka. Karena Allah sangat tidak suka pada mereka yang berbuat zhalim. Allah berfirman : Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang dzalim (Ali Imran : 151).

Para prajurit yang berlaga di medan perang adalah manusia-manusia pilihan untuk melakukan pembelaan terhadap agama mereka. Maka harus tidak ada dalam jiwa mereka rasa pengecut dan gentar saat menghadapi musuh sebesar apapun jumlah musuh yang ada di depan mereka. Selengkap apapun peralatan musuh yang mereka miliki. Jiwa prajurit adalah jiwa ksatria yang pantang menyerah pada musuh.

Jiwa prajurit tidak pernah menyimpan sikap pengecut dalam kamus hidup mereka. Sikap pengecut hanya akan menjadi virus yang menularkan kegentaran pada prajurit lain dan akan merusak semangat juang mereka. Oleh sebab itulah sungguhh sangat hina manusia-manusia yang melarikan diri pada saat perang sedang berkecamuk. Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur) (Al-Anfaal : 15).

Ujub adalah penyakit hati yang bisa menyerang siapa saja. Tidak terkecuali pada zahid yang banyak menghindari dunia dan lebih dekat pada akhirat. Namun kezahidan mereka akan menuai murka Allah jika dalam kezahidan itu bergemuruh ujub yang membuncah dalam ucapan dan perilaku mereka.
Rasulullah bersabda :
ثلاث مهلكات : شح مطاع ، وهوى متبع ، وإعجاب المرء بنفسه
Tiga perkara yang menghancurkan : kekikiran yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti dan ujub dengan pendapat sendiri (HR. Bazzar dan Ath-Thabrani).

Yang tak kalah sengitnya akan mendapatkan murka Allah adalah mereka yang menyatakan diri sebagai ahli ibadah namun riya’ menyelimuti seluruh ritual ibadahnya, mengiringi setiap langkah ibadahnya. Pujian selalu dia harapkan dari mulut manusia, pujaan selalu mereka dambakan dari lisan mereka. Sungguh celakalah mereka karena sesungguhnya riya’ itulah syirik kecil yang sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah agar kita meninggalkannya.

Maka, jika kita menjadi orang kaya dermawanlah pada sesama. Jika kita ditakdirkan menjadi seorang miskin lebih rendah hatilah pada manusia. Jka kita menjadi ulama janganlah rakus pada dunia. Jika Anda seorang wanita maka ingat bahwa mahkota Anda ada pada rasa malu Anda. Jika kita telah tua renta maka segeralah rakus pada akhirat. Jika jika masih muda maka semangatlah bekerja untuk mengisi amanah khilafah di dunia yang Allah bebankan kepada Allah.

Dan jika Anda penguasa berbuat adillah pada orang yang kita pimpin. Jika Anda ada di medan tempur bersikaplah berani. Kalaupun Anda adalah seorang zahid tapi tak layak bagi Anda untuk berkata dan berbuat ujub dan jangan pula ibadah Anda terkotori oleh riya’ yang sering menjangkit jiwa tanpa diduga.

Semoga kita selamat dari sepuluh perkara di atas agar murka Allah tidak menimpa kita dan bangsa kita.

=======================
-Ustadz Samson-

29 July 2015

Nasehat Paska Hari Raya

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, pekerjaan itu dinilai dari akhirnya. Sesungguhnya Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia dan orang-orang yang sebelum Rasulullah binasa karena mabuk dinar dan dirham dan keduanya akan juga menghancurkan kita. Sesungguhnya yang paling Rasulullah takutkan dari umatnya adalah syahwatnya orang-orang kaya yang tak mampu membendung keinginan perutnya dan gejolak gerakan kemaluannya. Sesungguhnya Allah akan memberikan rahmat-Nya pada orang-orang yang kasih pada sesamanya.

Sesungguhnya harta abadi Anda adalah yang Anda berikan pada sesama. Sesungguhnya orang-orang yang rela dengan kehinaan adalah orang-orang yang merindu dunia. Sesungguhnya cinta seseorang itu akan kelihatan saat orang lain sedang berada dalam kesempitan. Sesungguhnya dalam infak terdapat sekian keajaiban.

Sesungguhnya qadha’ bisa ditolak dengan doa dan munajat, umur bisa bertambah karena kebaikan dan kebajikan yang kita lakukan, sabar bisa diperoleh dengan dengan banyak menelan pengalaman. Dan kefakiran yang paling besar adalah kebodohan. Sesungguhnya akal adalah asset kita yang paling mahal. Orang yang ujub akan terasingkan, tak akan pernah ada sesal dalam musyawarah. Karena dia pintu yang menyelesaikan masalah. Kecerdasan itu itu ada dalam perencanaan yang matang. Dalam akhlak ada kebrilianan, dalam perenungan terangkum ibadah kepada Allah.

Sesungguhnya dalam rasa malu dan sabar ada keimanan. Hilangnya amanah adalah lenyapnya keimanan, pengingkaran janji adalah tanda sirnanya agama.
Sesungguhnya dosa besar akan diampuni jika disertai istighfar, dan dosa kecil tidak akan bisa terhapus jika tiada henti dilakukan. Tidaklah layak bagi seorang mukmin untuk merendahkan dirinya sendiri dengan menadahkan tangan tangan pada sesama, dengan mengemis pada ciptaan Allah juga. Dengan merengek pada makhluk yang sesungguhnya juga tidak berdaya.

Sesungguhnya Tidaklah akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dengan keusilannya. Yang terganggu dengan kekejamannya, yang sesak dadanya karena keangkuhannya, yang risau dengan ocehan-ocehannya. Tidaklah pantas Anda mengharapkan keselamatan pada diri Anda sendiri sepanjang orang lain tidak selamat dari keusilan Anda.

Syukurilah sekecil apapun kebaikan yang dilakukan oleh orang lain kepada Anda. Karena sesungguhnya yang tidak mampu menyukuri yang kecil tidak akan mampu menyukuri yang besar. Syukur kita akan bergulir jika kita mampu menyukuri yang ada dan akan menyukuri nikmat apapun yang akan tiba.
Sesungguhnya tidaklah terpuji ketergesaan, dan tidak akan bahagia orang yang berdusta, iri dan dengki, tamak dan angkuh. Karena ini adalah virus yang menggerogoti kejernihan hati nurani.

Sesungguhnya para pembosan itu sulit mendapatkan teman, dan pendengki tidak akan pernah menjadi mulia, pemalas tidak akan pernah menjadi kaya. Dan para pendendam hanya akan menderita penyakit jiwa.

Sesungguhnya kebaikan orang-orang terpilih itu adalah karena perenungan dan pemikiran yang dalam. Sedangkan rusaknya orang-orang yang jahat disebabkan karena sama sekali tak memiliki visi ke depan.

Sesungguhnya tak ada yang lebih lezat di dunia ini lebih dari kemuliaan ilmu, sucinya diri, kesejukan jiwa, rasa puas dengan yang ada, dan manisnya memberi pada sesama, luruh di hadapan Pencipta, menangisi dosa-dosa dan merenungi semesta.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata: Fitnah itu muncul dari tiga jalur. Pertama, perempuan-perempuan. Mereka adalah perangkap iblis yang terus terpancang mencari mangsa. Kedua, minuman-minuman keras yang memabukkan, dan ini adalah pedangnya yang selalu terhunus. Sedangkan yang ketiga adalah dirham dan dinar. Keduanya adalah busur panah beracun yang siap membunuh setiap saat.

Barang siapa yang terjerat perempuan jangan berharap hidupnya akan bersih dan bening. Barang siapa yang jadi peminum tak akan pernah berakal bersih. Siapa saja yang senang dengan dinar-dirham-dolar dia akan menjadi budaknya yang penurut padanya sepanjang hidup.

Sesungguhnya maksiat itu membuat terhalangnya komunikasi antara hamba dan Rabb, melahirkan kemurungan yang berlarut-larut, rasa takut yang mengguncang hati, kesulitan hidup yang terus menghimpit, membuat hati gelap gulita tak bisa ditembus cahaya nasehat, kemuraman akan menyelimuti. Lubang rizki akan menyempit, kemurkaan Allah, keimanan akan anjlok dan musibah datang silih berganti.

Maksiat itu melahirkan kehinaan karena kemuliaan m lahir dari ketaatan kepada Allah, akal menjadi rusak karena maksiat memadamkan cahaya akal. Kelalaian akan menjadi kebiasaannya
Ibnu Abbas pernah mengatakan tentang maksiat ini : Sesungguhnya maksiat itu adalah kegelapan di wajah, dan gulita di dalam hati, kebencian yang menebar di tengah manusia, kelemahan dalam jasad, minimnya rezki. Sebaliknya taat adalah cahaya di wajah, dan cahaya di dalam kalbu, dicinta banyak manusia dan lapangnya rezki.

Maksiat membuntukan pikiran waras kita, menggelapkan kejernihan pikiran kita, menghitamkan putihnya nurani kita. Maksiat akan membelenggu kebebasan kita, akan menelikung kelincahan kita, akan menggembosi energi ketakwaan kita, akan mematikan potensi keimanan kita. Maka tak ada jalan lain selain mengatakan good by pada maksiat. Sebab kedekatan kita dengan maksiat akan menjauhkan kita dari Sang Mahadekat.

Perangilah maksiat dengan niat dan tekad, dan sebaik-baik sarana memeranginya adalah banyak berteman dengan orang-orang yang memiliki aura dan perilaku saleh. Dua resep manjur meninggalkan maksiat adalah : Berteman dengan orang-orang baik dan melakukan amal saleh.

Sesungguhnya kita ini adalah hamba Allah yang dicipta untuk mengabdi pada-Nya, dengan tugas memakmurkan semesta dengan amal bakti kepada sesama. Menebarkan kasih di tengah mereka, menyiramkan sayang di ubun-ubun mereka. Tugas kita adalah menyalehkan diri kita dan menyalehkan orang lain agar semesta menjadi tentram tanpa terlalu banyak huru-hura. Damai dengan nilai-nilai Islam yang ramah, dengan norma-norma Islam yang menentramkan.
Tugas kita adalah mengalirkan kasih sayang Allah pada seluruh ummat manusia, dan mencegah angkara murka dari tangan-tangan yang kejam yang menginginkan darah mengalir tanpa sebab apa-apa. Tugas kekhilafahan kita adalah menjadikan orang lain merasa aman bersama kita, damai bersama kita karena Islam adalah damai dan menentramkan.

Tugas kita adalah menebarkan keadilan lewat aksi dan bukan kata, lewat bukti dan bukan semboyan belaka, lewat makna bukan melalui kata-kata bersayap yang mungkin penuh pesona tapi sebenarnya penuh racun berbisa.
Tugas kita adalah meratakan kesejahteraan lewat tangan-tangan sederhana kita, lewat pikiran-pikiran jernih kita. Melalui tangan kekuasaan kita jika kita telah memilikinya, lewat lisan-lisan kita jika kita mampu mengungkapkannya.
Jangan ada dusta diantara kita. Keadilan hanya semboyan belaka, persatuan hanya di sekeliling kelompok kita, pembangunan hanya untuk segelintir manusia, kesejahteraan mengerucut hanya di rumah-rumah kita.

Jangan ada dendam diantara kita. Ummat ada di atas segalanya, melampaui batas-batas partai, golongan jamaah apalagi suku yang oleh Sang Nabi Agung disebut sebagai benda busuk dan bau. Tak ada wewangian dalam fanatisme sempit kita, tak ada semerbak surga dalam sekat-sekat yang kita bangun yang membuat kita tidak peduli pada sesama.

Sudah terlalu lama kita dibentur-benturkan dengan saudara kita sendiri, diadu domba dengan bangsa sendiri, dilaga dengan saudara seiman kita sendiri. Sehingga kita mengalami keletihan pikiran, jiwa dan raga sebelum kita berhadapan dengan orang-orang yang memusuhi kita atau tidak suka kalau kita bersatu di bawah payung Islam yang lebih besar bukan di payung-payung kecil yang sering kali membuat kita lupa bahwa kita memiliki payung besar : Islam.

Sesungguhnya kesatuan ummat adalah dambaan semua. Cita setiap kita, obsesi setiap muslim yang kini sedang berpuasa. Dan akan menyambut Hati Raya. Persatuan adalah kekuatan dan cerai berai adalah kelemahan. Kita tahu bersatu itu sebuah energi besar tapi kita tidak tahu cara merealisasikannya. Kita tahu bahwa persatuan itu adalah nikmat besar, namun kita tak sanggup untuk menggapainya. Kita tahu bahwa puasa mengajarkan kita makna persatuan dan solidaritas antara sesama, tapi kita menyekatnya dengan kepentingan-kepentingan jangka pendek yang akan segera sirna.

Hari Raya , menjadi mementum besar kita untuk memompa kembali kesadaran masing-masing kita bahwa kita dilahirkan untuk menjadi pemimpin dunia, menjadi imam peradaban dunia. Dan dia dia akan lahir jika kita mampu menyatukan visi, misi dan langkah untuk menggapainya.
Jadikan firman Allah di bawah ini selalu menggerakkan kita mmenjadi imam peradaban dunia :
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله ولو آمن أهل الكتاب لكان خيرا لهم منهم المؤمنون وأكثرهم الفاسقون
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(Ali Imran : 110).

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيد
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (Al-Baqarah : 143).

ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (Ali Imran : 139).

Tiga kata kunci Allah berikan kepada kita bahwa kita adalah :: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya).

Allah tidak memberikan ini kecuali karena Dia telah memberikan kepada kita semua potensi dan energi untuk mencapainya.
Selamat Hari Raya Iedul Fitri , kembali ke fitrah kembali pada posisi kejayaan kita : Ummat terbaik di alam semesta.

=====================
-Ustadz Samson-

14 July 2015

Tanda dari Malam Lailatul Qadar

Ciri-ciri Lailatul Qodr

Dinamakan lailatul qodr karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah swt :
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾
أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾

Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5)

Al Qurthubi mengatakan bahwa pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, sebagaimana firman-Nya :
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾

Artinya : ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodr : 4 – 5)

Diantara hadits-hadits yang menceritakan tentang tanda-tanda lailatul qodr adalah :
1. Sabda Rasulullah saw,”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.
2. Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)
3. Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)
4. Rasulullah saw berabda,”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)

Terkait dengan berbagai tanda-tanda Lailatul Qodr yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan,”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qodr tidak terjadi malam itu, karena lailatul qodr terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)

Perbedaan Waktu Antar Negara

Lailatul qodr merupakan rahasia Allah swt. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).

Dari Abu Said bahwa Nabi saw menemui mereka pada pagi kedua puluh, lalu beliau berkhotbah. Dalam khutbahnya beliau saw bersabda,”Sungguh aku diperlihatkan Lailatul qodr, kemudian aku dilupakan—atau lupa—maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” (Muttafaq Alaihi)

Pencarian lebih ditekankan pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Ibnu Umar bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah saw bermimpi tentang Lailatul Qodr di tujuh malam terakhir. Menanggapi mimpi itu, Rasulullah saw bersabda,”Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh malam terakhir. Karena itu barangsiapa hendak mencarinya maka hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir.”

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)

Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits diatas adalah malam ke- 21, 23, 25, 27 dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara—sebagaimana sering kita saksikan—maka malam-malam ganjil di beberapa negara menjadi melam-malam genap di sebagian negara lainnya sehingga untuk lebih berhati-hati maka carilah Lailatul Qodr di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Begitu pula dengan daerah-daerah yang hanya berbeda jamnya saja maka ia pun tidak akan terlewatkan dari lailatul qodr karena lailatul qodr ini bersifat umum mengenai semua negeri dan terjadi sepanjang malam hingga terbit fajar di setiap negeri-negeri itu.

Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya lailatul qodr itu kecuali Allah swt maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beritikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Ciri-ciri Orang Yang Mendapatkan Lailatul Qodr

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dai Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”

Juga doa yang diajarkan Rasulullah saw saat menjumpai lailatul qodr adalah ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Ibnu Majah)

Dari kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan bagi setiap yang menginginkan lailatul qodr agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah swt.

Wallahu A’lam

-Ustadz Sigit Pranowo Lc-

13 June 2015

Sibuk Bekerja ataukah Ibadah?

Seringkali urusan dunia menjadikan sibuk manusia. Banyak aktivitas yg dilakukan hingga bekerja seharian menjadikan manusia sering mengeluh dan merasa lelah...

Kadangkala mereka merasa iri dengan mereka yang selalu taat beribadah didalam Mesjid. Mereka merasa sulit untuk berlama-lama di rumah Allah itu, bahkan untuk sekedar melakukan shalat wajib berjamaah pun sering tidak sempat.

Bahkan mereka sempat berangan2, "Andai aku bisa seperti mereka, menggunakan waktunya hanya untuk beribadah kepadaNYA. Betapa beruntungnya aku..Bukan hanya sekedar direpoti oleh urusan kerja dan mencari nafkah belaka.."

Ada hadits yang cukup menghibur mereka:
"Suatu ketika Nabi SAW dan para sahabat melihat ada seorang laki-laki yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja, seorang sahabat berkomentar:"Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya itu dipergunakannya dijalan Allah.” Rasulullah saw menjawab: “Apabila dia keluar mencari rezeki karena anaknya yang masih kecil, maka dia dijalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia dijalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, maka dia dijalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena riya’ dan kesombongan, maka dia di jalan setan.”
(Al-Mundziri, At-Targhîb wa At-Tarhîb).

Sungguh penghargaan yang luar biasa kepada siapa pun yang lelah bekerja mencari nafkah. Islam memandang bahwa usaha mencukupi kebutuhan hidup di dunia juga memiliki dimensi akhirat.Bahkan secara khusus Rasulullah saw memberikan kabar gembira kepada siapa pun yang kelelahan dalam mencari rejeki."Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan mencari rejeki pada siang harinya, maka pada malam itu ia diampuni dosanya oleh Allah SWT."

Apakah ada iri yang diperbolehkan? Silahkan membaca yang berikut ini:
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal; seseorang yang Allah beri Al Qur'an, kemudian ia membacanya sepanjang siang dan malam. Lalu orang yang iri itu berkata 'Kalaulah aku diberi kepandaian seperti orang itu, niscaya kulakukan sepertinya.' Dan seseorang yang diberi harta, lantas dia membelanjakannya dalam haknya (dijalan Allah). Lalu orang yang iri itu berkata, 'Kalaulah aku diberi harta si fulan, niscaya kulakukan seperti yang dilakukannya'."
(No. Hadist: 6974 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Muhammad bin Ismail menceritakan kepada kami. Abu Nu'aim menceritakan kepada kami, Ubadah bin Muslim menceritakan kepada kami, Yunus bin Khabbab menceritakan kepada kami, dari Sa'id AthTha'i Abu Al Bakhtari, ia berkata: Abu Kabsyah Al Annamari menceritakan kepadaku, ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,"Ada tiga macam yang aku bersumpah atasnya. Aku akan memberitahukan sebuah hadits kepada kalian, maka hafalkanlah!". Beliau melanjutkan, "Tidak akan berkurang harta seseorang karena sedekah. Tidaklah seseorang dizhalimi dengan suatu perbuatan zhalim, lalu ia bersabar atas kezhaliman tersebut, malainkan Allah akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Tidaklah seseorang membukakan pintu meminta-minta, melainkan Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran — atau dengan redaksi kalimat yang serupa dengan ini —. Aku akan memberitahukan sebuah hadits kepada kalian, maka hafalkanlah!". Beliau melanjutkan, "Sesungguhnya dunia itu untuk empat macam orang, yaitu:
    Seorang hamba yang diberi rezeki oleh Allah berupa harta dan ilmu, lalu ia bertakwa dengannya kepada Rabbnya dan terus menjalin hubungan silaturahim, serta menyadari bahwa ada hak Allah pada rezekinya itu. Ini adalah derajat (kedudukan) yang paling utama.

    Kemudian seorang hamba yang dikaruniai ilmu pengetahuan namun tidak dikaruniai harta. Lalu dengan niat yang benar (tulus) dia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta, maka aku akan melakukan amal (kebaikan) seperti amal yang dilakukan oleh si Fulan. Ia akan mendapat ganjaran (pahala) dengan niatnya itu. dan ganjaran keduanya (dirinya dengan si Fulan) sama.
    Kemudian, seorang hamba yang diberikan rezeki berupa harta oleh Allah namun tidak dikaruniai ilmu. Lalu dia membelanjakan hartanya itu tanpa menggunakan ilmu, tidak bertakwa kepada Rabbnya, dan tidak menyambung hubungan silaturahim, serta tidak menyadari bahwa ada hak Allah pada hartanya itu. Maka. orang seperti ini mendapatkan kedudukan (derajat) yang paling buruk.
    Kemudian, seorang hamba yang tidak diberikan rezeki berupa harta dan tidak dikaruniai ilmu oleh Allah. Lalu dia berkata, 'Seandainya aku memiliki harta maka aku akan melakukan amal perbuatan (dosa) seperti si Fulan.' Maka, dengan niatnya ini dia akan mendapatkan dosa, dan dosa keduanya (dirinya dan si Fulan) sama "
Shahih: Ibnu Majah (4228).

Namun, pertanyaannya, sesibuk apakah mereka, sehingga meninggalkan sholat fardlu berjamaah di Masjid? Mencari nafkah untuk bekal supaya bisa "hidup" didunia ataukah untuk mencari kekayaan dan kemewahan dunia? Lebih mengutamakan mencari kemewahan dunia ataukah mencari keridloan Allah? Setidaknya, apakah mereka sempat sholat fardlu berjamaah di Masjid sebagai ibadah minimalnya? Sebab hukum sholat fardlu berjamaah di Masjid menurut sebagian ulama dalah wajib, walau ada yg mengatakan Sunnah Muakkad (yg sangat2 dianjurkan).

Dalam KITAB SHAHIH BUKHARI telah dijelaskan mengenai Wajibnya shalat fardlu dengan berjama'ah:
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan dan aku perintahkan seseorang untuk memimpin orang-orang shalat. Sedangkan aku akan mendatangi orang-orang (yang tidak ikut shalat berjama'ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian mengetahui bahwa ia akan memperoleh daging yang gemuk, atau dua potongan daging yang bagus, pasti mereka akan mengikuti shalat 'Isya berjama'ah." (No.Hadist: 608 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Keterangan:
Dari hadits diatas terlihat ekstrim/radikal, namun sebenarnya hal itu menunjukkan betapa pentingnya mendirikan sholat fardlu berjamaah. Rasulullah sendiri tidak pernah sekalipun melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah bagi yg laki-lakinya tidak sholat fardlu berjamaah di Masjid. Rasulullah SAW selalu sholat fardlu berjamaah di Masjid, demikian pula istri2 beliau. Juga para sahabat yg nyata2 keimanannya kepada Allah SWT.
Ada juga yang berpendapat tidaklah sah sholat fardlu seorang laki-laki yang tidak berjamaah, apabila ia:
1. Bermukim
2. Sehat atau tidak terkena uzhur
3. Tidak bepergian
Berarti hukum sholat fardlu berjamaah oleh sebagian ulama adalah lebih dari sekedar wajib, seperti keterangan diatas.
Hukum Sholat berjamaah oleh Ibn Hajar Al Atsqalani dalam Fathul Bari, adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat2 dianjurkan), namun ada sebagian ulama (mis: ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim) yg mengatakan, tidak sah sholat seorang laki2 jika ia tidak sholat fardlu berjamaah.

Bahkan pernah terjadi, khalifah Umar ra. menyedekahkan kebunnya yg subur dan menyejukkan mata, hanya gara2 kebun yg subur itu, menjadikan beliau ketinggalan sholat Asar berjamaah. Beliau terlalu sibuk mengurusi kebunnya, hingga terlambat sholat Asar berjamaah. Tidak pernah sekalipun para sahabat yg ketinggalan sholat fardlu berjamaah di Masjid. Bahkan hingga beberapa jaman sesudah mereka.
Umar bin Abdul Aziz juga tidak pernah ketinggalan sholat fardlu berjamaah di Masjid.

Berikut sedikit uraian ttg khalifah Umar bin Abdul Aziz:
Khalifah Umar bin Abdul Aziz wafat sekitar umur 40 thn. Dengan waktu sependek itu, beliau sudah bisa menjadikan rakyatnya makmur. Hingga janda2 dan para yatim sudah tdk mau diberi sedekah lagi, karena sudah tercukupinya mereka. Beliau sangat merasa berat unt menjadi kholifah, hingga beliau hampir pingsan ketika diangkat menjadi khalifah, seraya mengucap, "Innalillahi ...". Beliau meninggalkan gemerlap dunia unt diri dan keluarganya. Dijauhinya kemewahan dunia, dan didekatinya Masjid Allah, sehingga tidak pernah sekalipun beliau ketinggalan Sholat fardlu berjammah di Masjid. Beliau juga sangat memperhatikan rakyatnya. Banyak yg membencinya, yakni dari golongan pejabat yg korup dan zhalim. Hingga akhirnya, pembantu beliau disuap unt meracuninya. Umar bin Abdul Aziz berkata pada pembantunya,"Mengapa kau meracuniku?", dijawab oleh pembantunya, "karena mereka memberiku 1000 dinar unt ini". Umar bin Abdul Aziz berkata lagi," segeralah pergi wahai pembantuku, karena kalau mereka melihatmu yg meracuniku, niscaya mereka akan menghukummu". Lalu pembantu itupun pergi. Betapa mulyanya sifat  Umar bin Abdul Aziz, yg masih punya garis keturunan dng Khalifah Umar bin Khattab ra ...

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan salat jamaah didalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya.
(Shahih Muslim No.1712)

Nah, sekarang bagaimana pilihan kita? Mengejar kemewahan dunia ataukah bekerja hanya sekedar untuk hidup didunia, yang intinya menuju negeri Akhirat? Meremehkan/meninggalkan sholat fardlu berjamaah dengan alasan masih bekerja demi profesionalisme? Ataukah hanya ke Masjid saja dengan meninggalkan bekerja mencari Nafkah? Ataukah bekerja mencari nafkah namun minimal tetap menjaga sholat fardlu berjamaah di Masjid? Semua pilihan adalah tergantung Anda, karena hanya Anda yg bertanggung-jawab kelak dihadapan Allah ...
Wa Allahu 'alam ...

Sebagai renungan:

Seringkali orang mengatakan:"Kerjakan hari ini, jangan tunda hingga esok hari, karena belum tentu esok hari kita sempat/hidup".
Seringkali orang memakainya supaya semangat unt bekerja, bekerja lembur tanpa lelah. Namun benarkah demikian?
Perkara dunia itu tidak kekal, dan tidak akan dibawa sbg bekal mati. Sedangkan perkara akhirat, pasti akan dibawa sampai mati. Sehingga, seharusnya mengatakan, "Janganlah menunda2 unt mendirikan sholat, zakat, puasa dan Haji!, karena belum tentu esok hari kita sempat/hidup".

>> Ada yg mengerjakan amal dunia sangat banyak, hingga kepayahan. Mulai pagi, hingga malam hari, bekerja tanpa memperdulikan ibadah. Sholat dilupakan bahkan ditinggalkan, merasa dirinya sudah berbuat baik. Berbuat baik kepada sesama, kepada keluarga, namun meninggalkan ibadah. Kasihan sekali, padahal merasa amal baiknya sangat banyak, hingga menuai kepayahan. Namun akhirnya dicampakkan ke dalam Neraka yg menyala-nyala.
Amal baik yg dikerjakan ketika di dunia namun sia2, hingga akhirnya dicampakkan ke dalam Neraka.

Atau bisa juga bekerja keras didunia namun dicampur dng kemaksiatan dalam memperolehnya. Sogok-menyogok, tipu-menipu, main cewek, zina dsb., hingga merasakan kepayahan di dalam Neraka dng adzab dan kebinasaan. (diringkas dari tafsir ibnu katsir surat al Ghasyiyah).

QS.88. Al Ghaasyiyah ayat 3-4:

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ

3. bekerja keras lagi kepayahan,


تَصْلَىٰ نَاراً حَامِيَةً

4. memasuki api yang sangat panas (neraka),


>> Bagaimana kalau sudah parah dalam mencintai dunia?

Surat Al Quran berikut ini mengemukakan celaan dan ancaman terhadap orang-orang yang bermegah-megahan dengan apa yang diperolehnya dan tidak membelanjakannya di jalan Allah. Mereka lupa dan melupakan segala perintah Allah, dengan bermegah2an mencari kemewahan dunia, mereka meninggalkan sholat, zakat dll, dan terjebak dengan kesombongan karena harta yg melimpah dan keturunan yg baik. Karena itu, mereka pasti diazab dan pasti akan ditanya tentang apa yang dimegah-megahkannya itu.

QS.102. At Takaatsur:
 
1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 
4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. 
5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, 
6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, 
7. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin[mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat]. 
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

=======================
http://tausyiahaditya.blogspot.com

Musibah

Kadangkala kita mendapati suatu perkara yg sulit ...
Mendapatkan suatu cobaan yang sangat berat ...
Dan ketika berdo'apun terasa lambat datangnya pertolonganNya ...

Bahkan terkadang putus-asa menghinggapi perasaan ...
Suatu yg diharapkan ternyata tak kunjung tiba ...
Meskipun kita telah berdo'a dan berharap dengan sungguh² ...

Tidak ada satu musibah pun yang datang tanpa seijinNya ...
Tidak ada satupun yang lepas dari pengawasanNya ...
Tidak ada satupun musibah yg menimpa, melainkan Allah akan menggantinya dng yg lebih baik, jika kita bersabar ...

Sabar itu adalah pada pukulan pertama ...
Maksudnya, bersabar itu dapat terlihat pada sikapnya, saat pertama kali mendapatkan musibah ...
Saat pertama kali mendapatkan musibah itu, apakah ia bersabar ataukah tidak ...
Jika saat pertama kali ia mendapatkan musibah ia bersabar, maka ia termasuk orang yg sabar ...
Namun jika ia bersabar agak belakangan/terlambat, berarti ia bukan termasuk orang yg sabar ...
__________________
Dan yg patut diingat dan diketahui bahwa keridhaan Allah mendahului kemurkaan-Nya ...
Karena itu mintalah keridloan Allah dng merendahkan diri dan bersungguh-sungguh ...

Dan ingatlah bahwa ampunan Allah mendahului siksa-Nya ...
Karena itu mintalah ampunan-Nya dengan penuh harap dari siksaan-Nya ...

Dan ingatlah pula bahwa rahmat Allah mendahului musibah—Nya ...
Karena itu memintalah dengan rahmat Allah dari musibah—Nya ...
__________________
Dan tidak ada do'a yg dipanjatkan kepada Allah, dng tanpa menyekutukanNya dan dng memurnikan ibadah hanya kepadaNya, melainkan do'a itu pasti akan dikabulkanNya ...

QS. 2. Al Baqarah:

يَـٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسْتَعِينُواْ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ

153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat], sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوۤاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّـآ إِلَيْهِ رَٰجِعونَ

156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.].

QS. 64. At Taghaabun:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

11. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Qutaibah menceritakan kepada kami, AlLaits memberitahukan kepada kami dari Yazid bin Abu Habib, dari Sa'ad bin Sinan, dari Anas, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sabar adalah pada benturan yang pertama (ketika awal musibah)."
Shahih: Ahkamul Janaiz (hal. 22) dan Muttafaq 'alaih

Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Yahya bin Said memberitahukan kepada kami dari Sufyan, ia berkata, "Zubaid bin Al Ayami menceritakan kepada kami dari Ibrahim, dari Masruq, dari Abdullah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, 'Tidak termasuk golonganku orang yang menyobek-nyobek pakaian, memukul-mukul pipi, dan memanggil seperti panggilan orang Jahiliyah'."
Shahih: Ibnu Majah (1584) dan Muttafaq 'alaih

Ali bin Khasram menceritakan kepada kami, Isa bin Yunus memberitahukan kepada kami dari Abu Laila, dari Atha', dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, "Nabi SAW memegang tangan Abdurrahman bin Auf, ia datang bersama Nabi kepada putranya (yaitu Ibrahim). Nabi mendapatkan putranya menghembuskan nafas (yang terakhir/wafat), maka Nabi mengambilnya dan meletakkan di pangkuannya dan Nabi menangis. Abdurrahman berkata kepadanya, 'Kamu menangis? Bukankah kamu melarang untuk menangis?' Nabi menjawab, 'Tidak(tidak melarang untuk menangis) , Tetapi aku melarang dari suara yang pandir dan lacur, yaitu suara ketika musibah datang, manampar-nampar muka, menyobek-nyobek baju, dan suara nyaring syetan (seruling dan lainnya)'. "
Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan shahih" - pada kitab Shahih Sunan Tirmidzi

Rasulullah bersabda, "... Allah menciptakan setiap jiwa lalu Dia telah mencatat (menentukan) kehidupannya (umurnya), rezekinya, dan bencana-bencana (musibah) yang akan menimpanya'."
Shahih: AshShahihah (1152) - pada kitab Shahih Sunan Tirmidzi

Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Amr bin Ashim menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Zaid, dari Al Hasan, dari Jundab, dari Hudzaifah, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Seorang mukmin tidak sepatutnya merendahkan dirinya sendiri". Para sahabat bertanya, "Bagaimana seorang mukmin merendahkan dirinya sendiri?" Rasulullah menjawab, "Dia menghadapi bencana (musibah) yang dia tidak mampu".
Shahih: Ibnu Majah (4016).

Qutaibah menceritakan kepada kami, AlLaits menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Abu Habib, dari Sa'ad bin Sinan, dari Anas, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Jika Allah menghendaki kebaikan pada hambaNya, maka Dia akan menyegerakan siksa kepadanya di dunia. Dan, jika Allah menghendaki keburukan bagi hambaNya, maka Dia akan menahan (menangguhkan) siksaan itu hingga Allah melakukannya pada hari kiamat kelak".
Hasan shahih: Ash-Shahihah (1220) Al Misykah (1565).

Dengan sanad seperti ini, dari Rasulullah, beliau bersabda, "Sesungguhnya besarnya pahala —itu sesuai— dengan besarnya cobaan. Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan cobaan kepada mereka. Siapa yang ridha (terhadap cobaan itu), maka baginya keridhaan dariNya. Siapa yang murka (terhadap cobaan itu), maka baginya kemurkaan dariNya".
Hasan: Ibnu Majah (4031).

Qutaibah menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Ashim bin Bahdalah, dari Mush'ab bin Sa'ad, dari bapaknya, ia berkata, Aku berkata, "Wahai Rasulullah, siapa manusia yang cobaannya paling besar?" Beliau menjawab, "Para nabi. kemudian orang yang setara dan yang setara dengan mereka. Seseorang itu diuji sesuai dengan tingkat keagamaannya (keimanannya). Jika agamanya (keimanannya) kuat, maka cobaan pun makin berat. Jika agamanya (keimanannya) tipis, maka ia akan diuji berdasarkan tingkat agamanya (keimanannya) itu. Bencana (musibah) itu tidak akan terlepas dari seorang hamba, hingga ia meninggalkan hamba itu berjalan di muka bumi ini tanpa ada kesalahan (dosa) ".
Hasan shahih: Ibnu Majah (4023).

Muhammad bin Humaid ArRazi dan Yusuf bin Musa Al Qaththan Al Baghdadi menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Abdurrahman bin Maghra' Abu Zuhair menceritakan kepada kami, dari Al A'masy, dari Abu AzZubair. dari Jabir. ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda, "Pada kari kiamat nanti orang-orang yang sehat —ketika orang yang terkena musibah diberikan ganjaran pahala— berandai-andai kalau seandainya kulit mereka dulu digunting (diiris) ketika masih di dunia(yakni meminta cobaan ketika masih didunia, seperti di zhalimi dng kulit diiris) ".
Hasan: AshShahihah (2206), AtTa'liq ArRaghib (4/146), dan Al Misykah (1570).

Keterangan:
Pada kari kiamat nanti orang-orang yang sehat, melihat orang2 yang dulunya ketika masih di dunia terkena musibah, sekarang di akhirat diberikan ganjaran pahala yg besar (karena musibah yg mereka terima dulu). Hingga mereka (orang2 yg sehat) berandai-andai, kalau seandainya kulit mereka dulu pernah digunting (diiris) ketika masih di dunia (yakni meminta cobaan ketika masih didunia, seperti di zhalimi dng kulit diiris).


Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Ibnu Al Mubarak mengabarkan kepada kami, Yahya bin Ayyub mengabarkan kepada kami dari Ubaidillah bin Zahr, dari Khalid bin Abu Imran, bahwa Ibnu Umar berkata: Jarang sekali Rasulullah SAW berdiri dari suatu majlis. hingga beliau mendo'akan para sahabatnya dengan do'a (berikut) ini.
"Ya Allah,
1. Jadikanlah rasa takut kami kepada-Mu sebagai penghalang antara kami dan maksiat terhadap-Mu.
2. ketaatan kami kepada-Mu sebagai sesuatu yang dapat menyampaikan kami ke surga-Mu.
3. Keyakinan (kami kepada-Mu) sebagai sesuatu yang dapat
meringankan bencana-bencana dunia (yang menimpa kami), dan
4. Senangkanlah kami dengan pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami —untuk taat kepada-Mu—, selama kami hidup.
5. Jadikanlah —semua— itu senantiasa ada pada diri kami, sampai kami meninggal dunia.
6. Jadikanlah dendam kami hanya untuk orang-orang yang
menganiaya kami.
7. dan tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami.
8. Janganlah Engkau menimpakan musibah kepada agama kami.
9. Janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai —tujuan—
kami yang paling besar, atau puncak pemikiran kami.
10. Janganlah Engkau menguasakan atas diri kami orang-orang yang tidak menyayangi kami."
Hasan: Al Katun Ath-Thayib (225/169), Al Misykah (2492-tabqiq kedua).

Ketika mendekati kematiannya, Abu Salamah berkata, "Ya Allah, berilah pengganti untuk keluargaku dengan orang yang lebih baik daripada aku." Ketika Abu Salamah wafat, Ummu Salamah berkata, "Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali. Kepada Allah-lah aku memohon pahala dalam menghadapi musibahku, maka berilah pahala (kepadaku)."
Shahih sanad-nya: Ummu Salamah, seperti hadits sebelumnya.

Keterangan:
Setelah berdoa seperti itu, dan Abu Salamah r.a wafat (yakni suami Ummu Salamah r.a), maka Ummu Salamah r.a mendapat pengganti (suami) yg jauh lebih baik, yakni menjadi istri Nabi Muhammad SAW.


Ahmad bin Mani' menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Hamad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Amru Al Fazari, dari Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, dari Ali bin Abu Thalib, bahwa Nabi SAW pernah berdo'a dalam (shalat) witirnya, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu. Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksaan-Mu. Aku berlindung dengan —rahmat—Mu dari —musibah—Mu. Aku tidak dapat menghitung sanjungan kepada-Mu, sebagaimana engkau telah menyanjung atas Dzat-Mu."
Shahih: Ibnu Majah (1179).

Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Janganlah seorang di antara kamu mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya dan apabila dia memang harus mengharapkan, sebaiknya dia berkata: Ya Allah! Hidupkanlah aku selama kehidupan itu yang terbaik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian itu yang terbaik bagiku. (Shahih Muslim No.4840)

Hadis riwayat Khabbab Radhiyallahu’anhu: Dari Qais bin Abu Hazim ia berkata: Saya datang menemui Khabbab yang sedang menderita tujuh luka bakar di perutnya, lalu dia berkata: Seandainya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tidak melarang kita untuk memohon kematian niscaya aku telah memohonnya. (Shahih Muslim No.4842)

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Janganlah seorang di antara kamu mengharapkan kematian dan jangan pula memohonnya sebelum kematian itu datang menjemputnya. Sesungguhnya apabila seorang di antara kamu meninggal dunia maka terputuslah amal perbuatannya dan sesungguhnya usia seorang mukmin itu akan menambah kebajikan (bagi dirinya). (Shahih Muslim No.4843) 

======================
http://tausyiahaditya.blogspot.com

29 May 2015

Arti Rezeki Yang Diberi

Masih teringat di pikiran dan hatiku tentang nasihat seorang dai yang dikenal oleh umat muslim di Indonesia. Bahwasanya Allah telah mengatur rezeki hamba-hambanya. Sebegitu besarnya sifat Ar Rahman dan Ar Rahim pada diri-Nya, Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-hamba berada dalam kesusahan.

"Rezeki kita tidak dihitung dengan gaji yang kita dapat ditiap bulannya,’ kata-katanya pelan tapi menyentuh hati sekian karyawan yang sedang duduk mendengarkannya.

Jika rezeki dihitung dengan gaji yang kita dapatkan di setiap bulannya maka tidak akan pernah cukup untuk menampung segala kebutuhan kita hingga saat ini. Rezeki kita sudah ditentukan olehnya, bagaimana mendapatkan, kapan mendapatkan dan dalam bentuk apa dia diberikan. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana terus memperbaiki diri, berusaha dan membersihkan hati sehingga rezeki itu mudah untuk sampai kepada diri kita.

Rezeki Allah itu akan datang dan menghampiri orang-orang yang senantiasa yakin akan kehendak-Nya, baik dengan cara yang dipahami maupun yang tidak pernah diperkirakan hamba-hambanya.

Beliau menceritakan bagaimana seseorang yang terlilit utang berjuta-juta. Meskipun segala usaha dilakukan, semua pendapatan dikumpulkan tetap belum bisa untuk melunasi utang yang telah menumpuk. Namun keimanan seorang mukmin akan sangat terlihat ketika dirinya menghadapi ujian Allah, seorang mukmin akan terus berusaha dan tidak pernah lupa untuk menyerahkan kembali segala urusan kepada Allah. Menghilangkan pasrah dan menggantinya dengan berusaha serta terus berdoa dibarengi keyakinan bahwa Allah sudah mengatur segala kejadian.

Hasilnya, beberapa hari sebelum jatuh masa pembayaran, di mana seseorang yang berutang dihampiri kebingungan untuk mempertanggungjawabkan utangnya, tiba-tiba seseorang sahabat nun jauh di sana datang menghampirinya. Sang sahabat yang memang mengerti cerita mengenai utang tersebut sertamerta membantunya melunasi utang-utang tersebut. Entah dengan alasan apa pun tapi hutan pun sedikit-demi sedikit terlunasi dengan bantuan sang sahabat tanpa pamrih.

Inilah yang disebut rezeki, dia tidak dihitung dengan gaji, dia adalah nikmat yang tak terhingga di sekitar kit a, tinggal bagaimana cara kita memperbaiki diri, terus berusaha gigih, terus memperbaiki diri dan terus memperbaiki diri, agar re­zeki itu datang menghampiri. Hati yang bersih adalah hati yang senantiasa mengingat Allah baik di saat lapang dan sempit, hati yang bersih akan mengubah paradigma kita tentang keyakinan bahwa tidak ada jalan buntu dalam setiap masalah dan dengan itu pulalah rezeki kita dimudahkan oleh-Nya. Mari pahami arti rezeki dan syukuri atas segala nikmat tak terhitung yang telah diberikan.

21 May 2015

Orang-orang yang Melaksanakan Shalat

Orang-orang yang melaksanakan shalat itu terbagi menjadi tiga kelompok. Mereka adalah:

1. Orang jahil (tidak berilmu), yaitu mereka yang menjalankan shalat tetapi dia tidak mengetahui ilmu shalat. Artinya, mereka tidak mengetahui syarat sahnya shalat serta tidak faham rukunnya. Mereka menjalankan shalat hanya ikut-ikutan saja.

2. Orang-orang ghofil, yaitu mereka yang lalai dalam shalatnya. Golongan ini pada umumya megetahui rukun serta syarat sahnya shalat, tetapi hati dan pikiran mereka tidak hadir saat shalat. Hati dan pikirannya berkonsentrasi pada urusan lain, bukan pada shalat yang sedang mereka laksanakan. Kelompok ini adalah termasuk mereka yang celaka yang telah disebutkan dalam firman Allah SWT,

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. Orang-orang yang berbuat riya
7. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Q.S. Al-Maauun:1-7)

Saudaraku, mungkin engkau bertanya, mengapa mereka celaka padahal mereka melakukan shalat? Jawabannya adalah karena mereka lalai ketika menjalankan shalat. Sewaktu shalat mereka tidak ingat shalat dan tidak mengingat Allah SWT. Sebaliknya, saat shalat mereka memikirkan urusan duniawi yang seharusnya mereka lupakan; mereka memikirkan sepatu baru, pakaian untuk ke undangan, tabungan di bank, barang dagangan di pasar, dsb. Saudaraku, tinggalkanlah urusan duniawi saat engkau shalat. Jika tidak, Allah SWT tidak akan ridha. Saudaraku, semoga Allah SWT menerima taubat kita dan kembali menuntun kita agar kita keluar dari golongan ini dan masuk ke kelompok orang-orang yang khusu dalam shalatnya. Amiin.

3. Orang-orang khusyu, yaitu mereka yang ketika shalat benar-benar taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT tidak ada urusan yang menjadi hijab (penghalang) antara hati dan pikirannya dari Allah SWT. Ia benar-benar berkonsentrasi pada shalatnya. 
 
============

Teh Ninih (Ninih Mutmainah)


17 May 2015

Menjemput atau Dijemput Maut

Seringkali saya melihat sebuah peristiwa di jalan raya yang sangat memilukan. Sebuah peristiwa kecelakaan lalu-lintas. Biasanya antara sebuah sepeda motor dan sebuah mobil. Baik mobil angkutan umum maupun kendaraan berat lainnya.
Peristiwa yang sering terjadi ini, karena si pengendara motor yang mengejar waktu, agar tidak terlambat ke tempat tujuannya. Atau juga sopir angkot yang tergesa-gesa langsung meminggirkan kendaraan di sebabkan adanya penumpang yang tiba-tiba minta di turunkan secara mendadak. Hingga kendaraan yang dari arah belakang mobil, harus berhenti atau mendadak mencari celah agar tidak menabrak angkot di depannya.

Jika kecelakaan itu mengakibatkan manusia kehilangan nyawanya, maka bisa dikatakan ada dua kesimpulan yang bisa diberikan pada si mayat. Bila dia mengendarai kendaraannya karena sifat ketergesaan dan tidak mematuhi peraturan lalu-lintas, maka tentu saya bisa memberikan kesimpulan bahwa dialah yang menjemput maut. Karena dia lalai untuk berjalan sesuai prosedur berlalu-lintas.

Lain lagi bila si korban adalah orang yang bersikap sebaliknya. Dia berusaha untuk patuh berlalu-lintas di jalan raya dan bersikap hati-hati dalam mengendarai kendaraannya. Maka kesimpulan yang bisa di berikan : dia di jemput oleh maut.
Menjemput dan di jemput maut, memang sama-sama berakhir pada hilangnya nyawa seseorang. Tapi perlu di waspadai, bila kitalah yang mendatangi maut, maka bisa saja itu berkonotasi bunuh diri.( terkecuali bila kita datang menjemput maut untuk meraih syahid di jalan Allah, ).
Seperti seseorang yang suka memakan sesuatu yang tidak boleh dimakannya, karena alasan penyakitnya. Penyakit seperti tekanan darah tinggi, yang harus memerhatikan kadar garam yang di konsumsinya, misalnya Ataupun seorang perokok yang tahu bahwa asap rokok membahayakan jiwanya sendiri dan orang di lingkungannya.

Hal-hal kecil yang nampak sepele untuk kita abaikan, mungkin akan berakibat fatal akan kesehatan kita. Memang sih urusan maut, Allah Swt. yang mempunyai wewenang. Tapi, kita sebagai manusia yang diciptakan dengan akal yang baik, tentu saja harus tahu apa yang boleh dilakukan untuk menjaga kesehatan.

Ada sebuah kisah yang menyedihkan. Seorang karyawan sebuah perusahaan yang bertugas sebagai sopir kendaraan mengangkut karyawan pagi dan sore hari. Pada suatu pagi ( mungkin masih jam enam ), dia memarkir mobilnya di sebuah pinggir jalan raya. Penempatan mobilnya sesuai aturan. Hingga ada seorang anak muda dari arah yang berlawan arah dengan arah mobil yang di parkir. Anak muda ini mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Apa yang terjadi? Dia menabrak mobil yang sedang diam tersebut, yang akhirnya membuat pengendara motor tersebut meninggal dunia, dan orang yang diboncengnya luka parah.

Bagaimana komentar orang? Mereka menyesalkan sikap anak muda tersebut. Terlihat baru pulang dari begadang. Ternyata motor yang dikendarainya pun adalah pinjaman. Tapi naas bagi sopir mobil tersebut. Dia tetap harus masuk penjara untuk beberapa bulan. Saya juga tidak tahu persis bagaimana proses hukumnya. Tapi yang jelas anak muda yang telah lalai menaati peraturan lalu lintas itu, selain menjemput mautnya sendiri ternyata membuat orang lain juga menderita.

Oleh karena menjemput dan di jemput maut adalah sama pada akhirnya, ternyata berbeda pada prosesnya. Yah sebuah proses yang terjadi tergantung pada manusianya. Apakah memang dia selalu berhati-hati, ataukah memang dia sendiri lalai..

Semoga tulisan ini dapat membuat kita dapat lebih berhati-hati dalam bersikap, terutama dalam hal mengendarai kendaraan. Karena yang kita inginkan adalah maut sendiri yang menjemput kita tentunya.

=======================
Ambe.mardiah@gmail.com

09 May 2015

Musuh Terberat Di Duniamu adalah Diri-Mu Sendiri

Dalam berkehidupan, beberapa orang coba mencari tahu kenapa dan bagaimana semua hal yang tidak di inginkannya selalu saja terjadi. Katakanlah tidak sesuai dengan apa-apa yang di harapkannya. Tak jarang banyak yang menyalahkan keadaan, menyalahkan pihak lain, menyalahkan waktu, bahkan hingga menyalahkan Tuhan.

Sementara ia sendiri mengetahui bahwa pelaku kehidupannya dan pengambil keputusan tentang langkahnya adalah dirinya sendiri. Langsung saja kita bahas fakta di lapangan.

Ketika seseorang telah meniatkan ia mencari nafkah karna memang sebuah kewajiban agar ia berusaha di dunia ini, namun di perjalanan ia malah menukar niatnya untuk memperkaya diri. Walhasil ketika kekayaan tidak juga terkumpul, ia menjadi mudah stress, marah dan bosan dengan pekerjaannya. Di sini terlihat bahwa yang mengacaukan kenyamanan hatinya adalah dirinya sendiri, tanpa kontaminasi pihak luar.

Ada kalanya pula, seseorang telah berencana untuk istiqomah dalam menabung, namun di kemudian hari ia mengikuti hawa nasfunya untuk membeli barang-barang agar sekedar mengikuti trend, yang kadang barang tersebut tidak begitu penting dalam kebutuhan hidupnya. Hingga tabungannya terkuras dan ia mulai kewalahan menutupi setiap lubang kebutuhan yang wajib. Di sini tampak bahwa yang mengacaukan rencananya adalah dirinya sendiri.

Di sisi lain, seseorang telah berniat untuk menjalani hidup yang baik, menjadi orang baik, dan memelihara hati yang baik, namun hanya karna gangguan kecil dari dinamika hari-harinya, akhirnya ia berubah menjerumuskan diri melakukan hal-hal negative yang merusak niatnya. Kemudian menerima akibat dari perbuatan negative yang di pilihnya, dan terjauhlah ia dari cita-cita yang telah di rencanakannya. Di sini tampak bahwa yang menghancurkan dirinya adalah sikapnya sendiri.

Banyak orang tidak sadar, ketika ia telah memutuskan sebuah rencana atau niat yang baik, tentu ia akan menemui berbagai macam keadaan yang menguji komitmennya dalam menjalani yang baik-baik tersebut.

Padahal dalam ajaran agama juga telah di jelaskan, sesuatu yang baik dan benar pasti akan selalu menemui cobaan dan rintangan untuk memperkokoh dan menambah ilmu si peniat agar lebih kuat untuk menemui kejadian demi kejadian yang akan datang.

Begitu pula dalam hubungan sosial, hubungan kemasyarakatan, banyak orang menjerumuskan dirinya dengan cara mengikuti hal-hal yang di luar tujuan yang bermanfaat. Sebut saja beberapa contoh: bicara kemana-mana tapi bicara yang tidak mendatangkan manfaat, berjalan dan berkunjung kesana-kemari tapi tidak ada manfaat, berlama-lama duduk di posko-posko, duduk di kafe-kafe tapi tidak ada yang di kerjakan bermanfaat. Acara-acara, rapat-rapat, lomba-lomba, tapi tidak mendatangkan hasil yang bermanfaat. Meski sekedar bermanfaat untuk dirinya sendiri.

Keinginan-keinginan dirinya yang beragam terus di ikutinya tanpa tahu tujuan dari keinginannya tersebut. Waktu yang tersia-sia habis namun keinginannya tidak juga habis. Akibat dari melaksanakan hal-hal di luar tujuan yang baik akhirnya ia merasa lelah dengan hidupnya, merasa jemu dengan kondisinya, dan berkepanjangan mengeluhkan keadaannya.

Jika saat seperti itu melanda, segeralah tarik kembali diri. Ingat lagi apa yang menjadi tujuan dan yang di cita-citakan. Hendaknya kegiatan yang di lakukan tidak jauh dari tujuan yang baik dan bermanfaat dan tidak melenceng dari niat baik yang telah direncanakan.

Tidak melayani jika keinginan lain dari tujuan datang mengganggu, karena tabiat keinginan jika sekali di layani maka ia akan minta terus di layani. Dan pada akhirnya akan sulit di hentikan dengan cepat.

Jika seseorang dapat terus menjaga komitmennya tetap berada dalam tujuan yang telah ia niatkan, maka ia tidak akan terjerumus oleh keinginan-keinginan yang di luar niatnya. Karena pihak luar tidak dapat menghancurkan dirinya selain dari pada ia izinkan pihak tersebut mempengaruhinya. Maka di sinilah dikatakan yang menghancurkan pondasi dirimu, adalah sikapmu sendiri.

Mestinya dalam segala keadaan dan dalam setiap masalah, seseorang telah teguh niatnya agar tidak mudah terkontaminasi oleh perasaannya dan tidak mudah terhasut oleh gaya lingkungan. Dengan demikian ia lah yang menguasai dunianya sendiri.
 
===================
Oleh : Echiey Hisaan, Pekanbaru

01 May 2015

Orang-orang Yang Di doakan Oleh Para Malaikat

Allah Swt menciptakan 3 jenis makhluk, yaitu manusia, jin dan malaikat. Manusia diciptakan dari tanah, jin dari api dan malaikat dari cahaya. Manusia memiliki peluang yang sama besar untuk taat atau bermaksiat kepada-Nya. Jin, seperti manusia, ada yang muslim dan ada yang kafir. Setan adalah dari golongan jin yang kafir dan telah bersumpah untuk menyesatkan manusia sampai hari kiamat. Sedangkan malaikat diciptakan Allah Swt khusus beribadah kepadanya sehingga tidak tersentuh oleh maksiat dan dosa. Saking sucinya, jika berdoa pasti dikabulkan oleh Allah. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang didoakan oleh para malaikat.

Ada berbagai tugas yang diberikan Allah Swt kepada para malaikat. Salah satunya adalah menjaga manusia dari gangguan jin, manusia dan musibah. Kecuali sesuatu diijinkan-Nya terjadi, maka itu akan terjadi. Sebagaimana firman Allah:

“Bagi manusia, ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki suatu keburukan pada suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali kali tidak pelindung bagi mereka, selain Dia.” (QS. Ar-Rad/13: 11).

Insya Allah berikut inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga Malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”. (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan
mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'” (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

3. Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan”
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa
ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”. (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia
melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang
ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'” (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang – orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya
berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'” (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang – orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah” (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat
kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar,”Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

13. Beriman, Bertaubat, dan Mengikuti Jalan Allah Swt

Allah Swt berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat-malaikat yang berada disekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta mimintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunankepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan periharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah engkau janjikan kepada mereka dan orang yang saleh diantara bapak-bapak mereka, dan keturunan mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalh mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalsan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Mukminun/40: 7-9).

—–
Sumber : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang -orang yang Didoakan Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005), Silaturahim.com, Dudung.net

25 April 2015

Krisis Ekonomi Itu Biasa

Beberapa pekan yang lalu , di sebuah acara reuni “sekolah dasar” , beberapa teman lama berkumpul di sebuah café di bilangan Jakarta , kami sangat surprise , karena kami masih bisa berkumpul walau lebih dari dua puluh lima tahun tak pernah bertemu sebelumnya, acaranya sangat hangat dan penuh canda, meskipun wajah dan penampilan kami sudah tidak semungil dan selucu dahulu. Di tengah gurauan dan canda, terselip pembicaraan serius seorang rekan mengenai kegelisahannya terhadap dampak krisis ekonomi yang tidak menentu ini, usahanya mengalami penurunan bahkan terancam ditutup dalam waktu yang segera mungkin, dia mengalami kebingungan yang amat sangat, saya berpendapat bahwa masalah krisis itu bukan saja berdampak kepada dirinya saja, tetapi juga menyita perhatian khususnya para praktisi usaha.

Beritanya sangat mudah ditemukan di media cetak, elektronik televisi, radio maupun berbagai situs internet, setiap hari, ya, hampir setiap hari tentunya, memberitakan krisis ekonomi yang kian merosot tajam, hal tersebut bukan saja di negeri yang kita cintai ini, bahkan krisis ini mendunia. Bukan saja perusahaan yang bergerak di perbankan yang terkena dampak langsung, juga perusahaan otomotif, manufaktur, tambang, real estate, dan lainnya yang berskala raksasa bisnis, sebutlah perusahaan besar seperti Citibank, general motor, ford, Volkswagen, lehmann brothers, dan lainnya.

Tak lepas juga , berdampak kepada perusahaan lokal di negeri yang kita cintai ini, dari perusahaan berskala kecil maupun besar, hal ini membuat gusar para direksi dan pemegang saham, dan juga memunculkan kekhawatiran ancaman PHK maupun dirumahkan bagi ribuan pegawai yang bernaung di perusahaan tersebut.

Begitu banyak analisa pakar ekonomi, ditinjau dari angka demi angka, asumsi demi asumsi, bahwa waktu pemulihannya memakan waktu satu hingga tiga tahun, waktu yang relatif lama untuk proses pemulihan, dan inipun menjadi kekawatiran para pekerja yang telah dan akan terancam di PHK, karena dana kompensasi yang mereka peroleh dari hasil PHK hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sekian bulan saja, dan bagaimana selanjutnya hidup mereka, ini menjadi beban kehidupan yang berat. Bila krisis ini tak terselesaikan dalam waktu dekat maka para analis memprediksikan bukan saja krisis ekonomi yang terjadi lebih dasyat, juga akan merambat kepada krisis politik maupun sosial, mengerikan sekali…

Begitulah krisis bila melanda…

Tahukah anda, bahwa kelapangan dan kesempitan akan selalu datang silih berganti dan selalu di jumpai oleh setiap generasi, ingatkah anda resesi yang terjadi di tahun 1998, krisis politik maupun ekonomi terjadi di negeri ini, betapa banyak perusahaan yang mengalami pailit ataupun resesi, berhasilkah mereka melewatinya? Apakah setelah itu dunia usaha mati dan tenggelam? Toh dunia usaha tetap berjalan paska krisis tersebut , pemulihannya ada yang mengalami hanya bilangan bulan saja, bahkan ada yang membutuhkan bilangan tahun dalam pemulihannya, tapi tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing..

Selain era 1998 dinegeri ini, terjadi juga di waktu sebelumnya, yaitu pada tahun 1960-an, tak jarang pemandangan sehari hari, rakyat negeri ini antri beras, antri bahan pokok, bahkan terjadi pemotongan nilai mata uang, pada saat itu drastis terjadi perubahan peta bisnis di Indonesia, banyak perusahaan berskala besar rontok, tetapi tak sedikit beberapa perusahaan baru muncul menggantikan generasi sebelumnya sebagai motor penggerak perekonomian. Toh tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing.

Di amerika pun selain di tahun 2008 ini, pernah mengalami permasalahan krisis ekonomi sekitar tahun 1930-an, begitupun di jepang, eslandia, jerman, dan berbagai negeri lainnya dengan tingkat pengaruh yang berbeda beda, bahkan krisis ini juga menimpa pula zaman para Rasul, lihatlah kisah Nabi Yusuf as dalam menghadapi tujuh tahun masa paceklik, zaman Nabi Musa , begitupun zaman Nabi Muhammad SAW, mereka para Rasul Allah pun tak terlepas menghadapi masa masa sulit di perjalanan hidupnya. Toh tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing.

Begitulah dunia, silih berganti, lapang dan serba keterbatasan datang dan pergi…karena konsep hidup tidak pernah menjelaskan bahwa indikator sukses itu adalah kaya, dan hidup ini bukan untuk meraih dan menikmati kekayaan atau hidup pasrah dengan kemiskinan, hidup ini bukan hanya mencari makan dan minum, hidup ini punya arti yang lebih, berbahagialah anda sebagai muslim, karena konsep hidup dalam Islam sangat jelas, hidup itu adalah perjuangan , hidup itu merupakan sarana aktualisasi aqidahnya, hidup itu adalah berjuang untuk kepentingan aqidahnya dan bukan sebaliknya, hidup itu hanyalah wasilah atas implementasi konsep Ibadah kepadaNYA dalam arti yang total, senang dan susah semuanya ujian, dan sukses dari ujian tersebut adalah penghuni SurgaNYA.

Jadi bagi seorang muslim, yakinlah krisis ekonomi itu adalah hal yang BIASA. Dia akan hadir di tengah tengah kita. Dia akan menjadi bahagian episode kehidupan kita, dia akan menjadi ujian agar kita bisa meloncat dan berlari lebih cepat dari sebelumnya, ujian itu bisa membuat kita terjatuh, gagal, lalu bangkit kembali. Dan kita yakin bahwa sifatnya ujian itu hanyalah sesaat waktu, tidak akan selamanya badai itu berlangsung, dia akan normal kembali, ingatlah malam pun PASTI selalu berganti dengan siang hari.

Individu muslim harus menyadari dalam menghadapi ujian ini bahwa permasalahan bukanlah terletak pada posisi lapang maupun sempit , tetapi dia harus mempersiapkan kesabaran di kala susah, dan banyak bersyukur di kala lapang, dan di setiap waktunya dalam kondisi apapun selalu ada usaha untuk peningkatan keimanan dan amal sebagai aktualisasi keyakinan aqidahnya. Dan dia merasa bahagia karena dia yakin ujian ini terjadi juga karena kehendak Allah SWT, dan dia yakin pula bahwa hanya Allah lah tempat dia berharap agar membebaskan dirinya dari permasalahan ujian ini.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNYA kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS 57:22-23).

Begitulah Al Quran menjelaskan bagaimana seharusnya muslim bersikap, dan benarlah juga apa yang di sampaikan Umar bin Khattab, ‘’Demi allah, selama Aku masih menjadi muslim, aku tidak akan pernah peduli dengan keadaanku.’’

Dan juga teringatlah sebuah kisah sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin Auf, dia adalah saudagar kaya raya di kota Mekah, beliau termasuk golongan awal yang tersentuh dengan dakwah yang di bawa oleh Rasul SAW. Pada saat di perintahkan untuk berhijrah menuju Madinah, beliau dengan bersegera meninggalkan seluruh hartanya di kota Mekah, beliau begitu militan dalam mengikuti intruksi keimanannya, tak ada rasa sayang dan khawatir terhadap perniagaannya yang telah di kelolanya sekian tahun. Akibat dari keyakinannya saat itu , dia pun mengalami jatuh pailit seketika , buat dia, harta yang melimpah tak ada artinya di banding nilai keimanan yang harus dia pertahankan, walau setelah hijrah tersebut dia tidak memiliki apapun walau seorang isteri pun (penulis tidak menemukan literatur kisahnya apakah beliau sudah beristeri atau tidak sewaktu di Mekah).

Setelah beberapa waktu di madinah, suatu hari, seorang sahabat Anshar bernama Said bin Rabi berkata kepadanya, “ Saudaraku, bagianmu setengah dari harta kekayaanku, aku memiliki dua rumah, engkau bebas memilihnya, aku juga memiliki dua isteri, engkau pun bebas memilih salah satu yang engkau suka.

Abdurrahman bin Auf tidak tertarik dengan tawaran itu, dia tidak ingin menjadi beban saudara seimannya, sambil berkata, “ Terima kasih, semoga Allah memberkati keluarga dan harta kekayaanmu. Aku hanya ingin engkau menunjukkan di mana letak pasar. Aku seorang pedagang.”

Benar saja, selang beberapa tahun kemudian, Abdurrahman bin Auf sudah menjadi orang terkaya di kota Madinah. Bahkan nilai kekayaannya lebih banyak dari harta yang ditinggalkan di Mekah, inilah hasil sebuah keyakinan, beginilah Allah mengganti apapun pengorbanan hambaNYA yang yakin. Dalam sejarah , terukir indah bahwa harta kekayaannya itu menjadi pendukung utama dalam perjuangan Islam masa itu, dan tak pernah habis hingga beliau wafat.

Begitulah rekanku , sejarah indah telah terabadikan, masa lapang dan sempit itu akan selalu berulang dengan berbagai sebab dan kadar pengaruhnya, dan kisah kisah tersebut selalu menjadi penguat keimanan dan pelajaran bagi yang berupaya memahaminya.

Saat ini, bila anda mengalami kebangkrutan, kefakiran, tertimpa paceklik, jatuh miskin, jangan terlalu lama bersedih. Segeralah bangkit, teruslah berikhtiar dan perkuat keyakinan, sekali lagi kehidupan ini bukan hanya untuk makan dan minum, ada tugas yang lebih mulia yang harus kita implementasikan. Hilang dan berkurangnya harta itu biasa, tapi janganlah hilang keyakinan dan kurangnya beramal soleh, justru keyakinan dan amal soleh tersebut harus di perkuat walau kondisi serba terbatas. Niscaya dan yakinlah siapa tahu Allah akan memberikan jalan keluar dan mengganti yang jauh lebih baik dari apa yang anda miliki sebelumnya.
 
====================
Adityanugroho - eramuslim.com