29 July 2015

Nasehat Paska Hari Raya

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, pekerjaan itu dinilai dari akhirnya. Sesungguhnya Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia dan orang-orang yang sebelum Rasulullah binasa karena mabuk dinar dan dirham dan keduanya akan juga menghancurkan kita. Sesungguhnya yang paling Rasulullah takutkan dari umatnya adalah syahwatnya orang-orang kaya yang tak mampu membendung keinginan perutnya dan gejolak gerakan kemaluannya. Sesungguhnya Allah akan memberikan rahmat-Nya pada orang-orang yang kasih pada sesamanya.

Sesungguhnya harta abadi Anda adalah yang Anda berikan pada sesama. Sesungguhnya orang-orang yang rela dengan kehinaan adalah orang-orang yang merindu dunia. Sesungguhnya cinta seseorang itu akan kelihatan saat orang lain sedang berada dalam kesempitan. Sesungguhnya dalam infak terdapat sekian keajaiban.

Sesungguhnya qadha’ bisa ditolak dengan doa dan munajat, umur bisa bertambah karena kebaikan dan kebajikan yang kita lakukan, sabar bisa diperoleh dengan dengan banyak menelan pengalaman. Dan kefakiran yang paling besar adalah kebodohan. Sesungguhnya akal adalah asset kita yang paling mahal. Orang yang ujub akan terasingkan, tak akan pernah ada sesal dalam musyawarah. Karena dia pintu yang menyelesaikan masalah. Kecerdasan itu itu ada dalam perencanaan yang matang. Dalam akhlak ada kebrilianan, dalam perenungan terangkum ibadah kepada Allah.

Sesungguhnya dalam rasa malu dan sabar ada keimanan. Hilangnya amanah adalah lenyapnya keimanan, pengingkaran janji adalah tanda sirnanya agama.
Sesungguhnya dosa besar akan diampuni jika disertai istighfar, dan dosa kecil tidak akan bisa terhapus jika tiada henti dilakukan. Tidaklah layak bagi seorang mukmin untuk merendahkan dirinya sendiri dengan menadahkan tangan tangan pada sesama, dengan mengemis pada ciptaan Allah juga. Dengan merengek pada makhluk yang sesungguhnya juga tidak berdaya.

Sesungguhnya Tidaklah akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dengan keusilannya. Yang terganggu dengan kekejamannya, yang sesak dadanya karena keangkuhannya, yang risau dengan ocehan-ocehannya. Tidaklah pantas Anda mengharapkan keselamatan pada diri Anda sendiri sepanjang orang lain tidak selamat dari keusilan Anda.

Syukurilah sekecil apapun kebaikan yang dilakukan oleh orang lain kepada Anda. Karena sesungguhnya yang tidak mampu menyukuri yang kecil tidak akan mampu menyukuri yang besar. Syukur kita akan bergulir jika kita mampu menyukuri yang ada dan akan menyukuri nikmat apapun yang akan tiba.
Sesungguhnya tidaklah terpuji ketergesaan, dan tidak akan bahagia orang yang berdusta, iri dan dengki, tamak dan angkuh. Karena ini adalah virus yang menggerogoti kejernihan hati nurani.

Sesungguhnya para pembosan itu sulit mendapatkan teman, dan pendengki tidak akan pernah menjadi mulia, pemalas tidak akan pernah menjadi kaya. Dan para pendendam hanya akan menderita penyakit jiwa.

Sesungguhnya kebaikan orang-orang terpilih itu adalah karena perenungan dan pemikiran yang dalam. Sedangkan rusaknya orang-orang yang jahat disebabkan karena sama sekali tak memiliki visi ke depan.

Sesungguhnya tak ada yang lebih lezat di dunia ini lebih dari kemuliaan ilmu, sucinya diri, kesejukan jiwa, rasa puas dengan yang ada, dan manisnya memberi pada sesama, luruh di hadapan Pencipta, menangisi dosa-dosa dan merenungi semesta.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata: Fitnah itu muncul dari tiga jalur. Pertama, perempuan-perempuan. Mereka adalah perangkap iblis yang terus terpancang mencari mangsa. Kedua, minuman-minuman keras yang memabukkan, dan ini adalah pedangnya yang selalu terhunus. Sedangkan yang ketiga adalah dirham dan dinar. Keduanya adalah busur panah beracun yang siap membunuh setiap saat.

Barang siapa yang terjerat perempuan jangan berharap hidupnya akan bersih dan bening. Barang siapa yang jadi peminum tak akan pernah berakal bersih. Siapa saja yang senang dengan dinar-dirham-dolar dia akan menjadi budaknya yang penurut padanya sepanjang hidup.

Sesungguhnya maksiat itu membuat terhalangnya komunikasi antara hamba dan Rabb, melahirkan kemurungan yang berlarut-larut, rasa takut yang mengguncang hati, kesulitan hidup yang terus menghimpit, membuat hati gelap gulita tak bisa ditembus cahaya nasehat, kemuraman akan menyelimuti. Lubang rizki akan menyempit, kemurkaan Allah, keimanan akan anjlok dan musibah datang silih berganti.

Maksiat itu melahirkan kehinaan karena kemuliaan m lahir dari ketaatan kepada Allah, akal menjadi rusak karena maksiat memadamkan cahaya akal. Kelalaian akan menjadi kebiasaannya
Ibnu Abbas pernah mengatakan tentang maksiat ini : Sesungguhnya maksiat itu adalah kegelapan di wajah, dan gulita di dalam hati, kebencian yang menebar di tengah manusia, kelemahan dalam jasad, minimnya rezki. Sebaliknya taat adalah cahaya di wajah, dan cahaya di dalam kalbu, dicinta banyak manusia dan lapangnya rezki.

Maksiat membuntukan pikiran waras kita, menggelapkan kejernihan pikiran kita, menghitamkan putihnya nurani kita. Maksiat akan membelenggu kebebasan kita, akan menelikung kelincahan kita, akan menggembosi energi ketakwaan kita, akan mematikan potensi keimanan kita. Maka tak ada jalan lain selain mengatakan good by pada maksiat. Sebab kedekatan kita dengan maksiat akan menjauhkan kita dari Sang Mahadekat.

Perangilah maksiat dengan niat dan tekad, dan sebaik-baik sarana memeranginya adalah banyak berteman dengan orang-orang yang memiliki aura dan perilaku saleh. Dua resep manjur meninggalkan maksiat adalah : Berteman dengan orang-orang baik dan melakukan amal saleh.

Sesungguhnya kita ini adalah hamba Allah yang dicipta untuk mengabdi pada-Nya, dengan tugas memakmurkan semesta dengan amal bakti kepada sesama. Menebarkan kasih di tengah mereka, menyiramkan sayang di ubun-ubun mereka. Tugas kita adalah menyalehkan diri kita dan menyalehkan orang lain agar semesta menjadi tentram tanpa terlalu banyak huru-hura. Damai dengan nilai-nilai Islam yang ramah, dengan norma-norma Islam yang menentramkan.
Tugas kita adalah mengalirkan kasih sayang Allah pada seluruh ummat manusia, dan mencegah angkara murka dari tangan-tangan yang kejam yang menginginkan darah mengalir tanpa sebab apa-apa. Tugas kekhilafahan kita adalah menjadikan orang lain merasa aman bersama kita, damai bersama kita karena Islam adalah damai dan menentramkan.

Tugas kita adalah menebarkan keadilan lewat aksi dan bukan kata, lewat bukti dan bukan semboyan belaka, lewat makna bukan melalui kata-kata bersayap yang mungkin penuh pesona tapi sebenarnya penuh racun berbisa.
Tugas kita adalah meratakan kesejahteraan lewat tangan-tangan sederhana kita, lewat pikiran-pikiran jernih kita. Melalui tangan kekuasaan kita jika kita telah memilikinya, lewat lisan-lisan kita jika kita mampu mengungkapkannya.
Jangan ada dusta diantara kita. Keadilan hanya semboyan belaka, persatuan hanya di sekeliling kelompok kita, pembangunan hanya untuk segelintir manusia, kesejahteraan mengerucut hanya di rumah-rumah kita.

Jangan ada dendam diantara kita. Ummat ada di atas segalanya, melampaui batas-batas partai, golongan jamaah apalagi suku yang oleh Sang Nabi Agung disebut sebagai benda busuk dan bau. Tak ada wewangian dalam fanatisme sempit kita, tak ada semerbak surga dalam sekat-sekat yang kita bangun yang membuat kita tidak peduli pada sesama.

Sudah terlalu lama kita dibentur-benturkan dengan saudara kita sendiri, diadu domba dengan bangsa sendiri, dilaga dengan saudara seiman kita sendiri. Sehingga kita mengalami keletihan pikiran, jiwa dan raga sebelum kita berhadapan dengan orang-orang yang memusuhi kita atau tidak suka kalau kita bersatu di bawah payung Islam yang lebih besar bukan di payung-payung kecil yang sering kali membuat kita lupa bahwa kita memiliki payung besar : Islam.

Sesungguhnya kesatuan ummat adalah dambaan semua. Cita setiap kita, obsesi setiap muslim yang kini sedang berpuasa. Dan akan menyambut Hati Raya. Persatuan adalah kekuatan dan cerai berai adalah kelemahan. Kita tahu bersatu itu sebuah energi besar tapi kita tidak tahu cara merealisasikannya. Kita tahu bahwa persatuan itu adalah nikmat besar, namun kita tak sanggup untuk menggapainya. Kita tahu bahwa puasa mengajarkan kita makna persatuan dan solidaritas antara sesama, tapi kita menyekatnya dengan kepentingan-kepentingan jangka pendek yang akan segera sirna.

Hari Raya , menjadi mementum besar kita untuk memompa kembali kesadaran masing-masing kita bahwa kita dilahirkan untuk menjadi pemimpin dunia, menjadi imam peradaban dunia. Dan dia dia akan lahir jika kita mampu menyatukan visi, misi dan langkah untuk menggapainya.
Jadikan firman Allah di bawah ini selalu menggerakkan kita mmenjadi imam peradaban dunia :
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله ولو آمن أهل الكتاب لكان خيرا لهم منهم المؤمنون وأكثرهم الفاسقون
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(Ali Imran : 110).

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيد
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (Al-Baqarah : 143).

ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (Ali Imran : 139).

Tiga kata kunci Allah berikan kepada kita bahwa kita adalah :: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya).

Allah tidak memberikan ini kecuali karena Dia telah memberikan kepada kita semua potensi dan energi untuk mencapainya.
Selamat Hari Raya Iedul Fitri , kembali ke fitrah kembali pada posisi kejayaan kita : Ummat terbaik di alam semesta.

=====================
-Ustadz Samson-

No comments:

Post a Comment