10 March 2015

Pejuang Islam di Era Digital

Manusia di era digital seperti semakin kebingungan atau dibuat bingun dengan berbagai macam sarana yang tersedia, komunikasi jarak jauh bukan lagi persoalan. Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lalu orang tak pernah terpikir, bahwa mengucapkan” Selamat Hari Raya Idul Fitri “ atau mengucapkan “ Selamat Tahun Baru” hanya dalam hitungan detik dan melintas ke berbagai Negara di dunia, bukan hanya melintas di dalam negeri atau pulau.

Keajaiban dunia informasi dan komunikasi di era digital sekarang ini seperti pisau bersisi atau bermata dua, bisa postif bisa negative, bisa baik bisa juga buruk, bisa bermanfaat bisa juga mudhorot begitu seterusnya. Dan itu kembali kepada manusia, tergantung pada manusia, mau diapakan alat yang serba digital itu. Sisi baik dan buruk memang akan selalu ada pada setiap apapun, baik benda maupun keadaan, namun sekali lagi, semuanya kembali ke manusianya, benda atau kedaan itu sendiri adalah netral, jadi seperti orang bilang” The Man Behind The Gun”.

Nah di era digital sekarang menimbulkan gejala yang aneh, salah satunya membuat manusia itu kesepian di tengah-tengah keramaian. Lebih senang menyendiri dan berhadapan dengan computer, laptop, BB atau HP yang berbagai jenis dan merknya, tablet dan lain sebagainya. Baik dalam kesendiriannya dan menimbulkan keterasingan di tengah-tengah keramaian. Dan akibatnya manusia sebagai makhluk social menjadi lebih cenderung kepada manusia yang individual, egois, dan tak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Kebanyakan manusia menyatakan kesepian
Bila sendirian, bahkan tetap kesepian di tengah-tengah keramaian
Apa lagi di jaman yang individualitasnya sangat tinggi
Sehingga menusia membuat tempat-tempat hiburan
Yang di dalamnya terdapat musik yang hingar bingar
Tapi anehnya di tengah-tengah gelegar suara musik tersebut mereka tetap kesepian
Jadi, apa itu sepi?

Ternyata sepi tidak sama dengan kesepian, mengapa?
Karena di tengah-tengah keramaianpun seseorang bisa merasa kesepian
Kesepian timbul karena rasa yang merasa sendirian
Tanpa orang-orang yang dicintai
Disinilah awal munculnya kesepian tersebut.

Sesungguhnya manusia yang sadar akan keberadaan Allah SWT
Tidak akan pernah kesepian
Apa lagi kalau sadar bahwa manusia sebenarnya tidak pernah sendiri
Walapun sendirian, tidak pernah kesepian
Walaupun dalam keadaan sepi.

Karena manusia walaupun sendirian secara fisik
Tapi sebenarnya banyak pendamping-pendampingnya yang setia
Yaitu Anggota tubuhnya masih berfungsi
Masih menemukan cahaya
Masih mendengarkan suara
Masih bersama waktu dan tahu waktu
Orang lain masih ada disekitarnya
Bisa berkomunikasi dua arah dengan orang lain
Bisa berbuat apa saja yang bisa dilakukan

Jadi, sebenarnya bila seseorang kesepian atau merasa sepi
Orang tersebut hanya terpaku pada kesendiriannya, tanpa orang lain
Atau bersama orang lain, tapi tidak bersama orang-orang yang dicintainya
Atau orang tersebut berpikiran sangat sempit
Yaitu dia hanya berputar-putar pada dirinya sendiri
Hanya pada jasmaninya saja.

Padahal secara rohani seseorang dimanapun dan kapanpun
Dia tidak pernah sendirian
Karena Allah SWT selalu bersamanya
Dua Malaikat Rokib dan Atid selalu bersamanya
Hanya dia tidak sadar atau tidak mempercayai keberadaan Allah dan Malaikat tersebut.

Manusia benar-benar sepi sendirian dan kesepian
Apabila Allah SWT tidak ada ( dan ini mustahil )
Bagi yang tidak beriman kepada Allah SWT
Manusia benar-benar sepi, sendiri dan kesepian.

Apabila Tidak ada cahaya atau hidup dalam kegelapan
Tidak tahu waktu, baik melalui matahari atau jam
Tidak mendengar suara apapun
Tidak melihat apapun
Tidak bisa merasakan apapun
Tidak bisa berkomunikasi kepada siapapun
Tidak bisa berbuat apapun

Jadi, selama semua hal tersebut masih ada
Dan dia sadari itu semua
Maka sesungguhnya dia tidak akan pernah merasa kesepian sedikitpun
Dimanapun dan kapanpun dia berada

Bagi yang beriman kepada Allah SWT
Tak ada alasan sedikitpun untuk kesepian
Omong kosong kalau beriman tapi tetap kesepian
Kalau kesepian walau beriman
Berarti imannya belum sempurna
Hanya iman aku-akuan

Bagi seorang sufi, walau mungkin ada yang tak suka dengan istilah ini
Dia lebih menyukai sepi dan sendiriana
Karena dengan menyepi dan menyendiri
Lebih banyak waktu yang ia pergunakan
Untuk berdzikir dan bermunajat kepada Allah SWT.

Itu sufi di jaman lampau, kesufian di jaman kiwari atau sufi di jaman modern sekarang ini bukan pergi ke tempat-tempat sunyi dan sepi. Namun dia adalah pejuang-pejuang Islam yang terjun ke medan juang yang penuh dengan onak dan duri, yang bermandi keringat dan jika perlu air mata, darah bahkan nyawa, semangat juang yang membara di tengah-tengah kobaran api yang terus membakar dan menyalakan semangat juang yang tak kenal henti dan berhenti, kecuali mati.

Bukan lagi pergi jauh menghindari keramaian publik yang mungkin penuh caci maki dan mungkin penuh dengan kotoran yang hampir menenggelamkan semua actor moralitas yang membina ummat di manapun dan kapan pun berada, tak kenal waktu dan tempat. Berjuang dan terus membina ummat sebisa atau semampunya, sesuai dengan potensi dan kekuatan yang dimilikinya. Tak pernah kenal takut dan tak pernah mundur dalam mengorbankan panji-panji Illahi robbi.

Menerjang dan terus menerjang dengan kekuatan yang sepertinya tanpa batas, karena ada sandarannya yang Maha Kuat, Dialah Allah SWT, sandaran yang tak pernah meninggalkannnya dalam berjuang membela kebanaran yang hakiki, bukan kebenaran yang nisbi. Kebenaran yang dibawanya adalah kebenaran Illahiyah, kebenaran mutlak. Dan landasannya adalah Al Qur’an dan Hadist, ayat yang dibawanya terkadang tak banyak, yang di sampaikannya juga tak melulu ayat-ayat Qur’an, kalimat yang dibawanya pun sederhana, mdah dicerna dan tak berbelit-belit. “Baliighu anni walau ayah” Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat( HR Bukhori, Imam Ahmad dan At Tirmidzi) begitu bunyi hadist yang dipegangnya kuat-kuat.

Menghindarkan perbedaan pendapat yang tak perlu, dan berusaha tidak berdebat yang tak berujung pangkal, apa lagi debat kusir yang tak habis-habisnya, yang terkadang bahkan bukan kebenaran yang muncul, tapi merasa paling benar sendiri dan mengakfirkan pihak lain yang seiman, ini yang bahaya dari kebanggaan pada klaim mazhab, padahal Islam itu satu, akidahnya pun satu, rosul terakhirnya pun satu, kalimat tauhidnya pun satu, Qur’annya pun satu, Tuhannya pun Esa” Kul huwwallah hu ahad” ( Al Ikhas: 1) jadi mengapa harus ribut-ribut dan teriak-teriak pada sesama muslim lainnya” kafir lu… kafir lu!”

Apa-apaan ini? Rosulullah saja yang menjadi kekasih Allah SWT tak mudah mengkafir-kafirkan, para sahabat nabi yang setia kepada beliaupun tak mudah mengkafir-kafirkan sahabat lain yang berbeda pendapat. Begitu juga para ulama, sang pewaris para nabi, tak mudah mengkafir-kafirkan sesama muslim yang mungkin saja tak mengikuti apa yang disampaikannnya. Mereka semuanya bahkan mendoakan orang lain agar mendapat hidayah, bukan mengkafir-kafirkan dengan begitu mudahnya.

Kembali ke masalah kesepian, jadi bagi para pejuang-pejuang Islam, jangan alergi dengan istilah pejuang ini, pejuangan Islam itu tak mesti berada di medan perang yang penuh dengan senjata, mortir, bom, tank, pesawat tempur dan sebagainya. Jangan lupa hadist nabi, bahwa “perang besar yang sesungguhnya adalah melawan hawa nafsu sendiri!” Jadi pejuang Islam tak pernah sepi atau kesepian, karena dia atau mereka, selalu berada di medan juang dan di front terdepan membela kebenaran dan memberantas kemungkaran. Namun tidak dengan anarkis dan sebentar-bentar membuat kerusuhan dan kekacauan atau membuat onar, karena dengan cara ini, citra Islam malah rusak, yang diajak bukan ikut, malah semakin membenci Islam.

Bagi pejuang Islam yang hakiki yang ditonjolkannya adalah salam damai, salam sejahtera, salam penuh keikhlasan, kearifan, kebijakan, penuh dengan kesabaran dan ridhoNya, tidak mudah mengkafirkan pihak lain yang jalan pemikiran berbeda, karena menyadari sepenuhnya bahwa muslim itu bersaudara, walau berbeda mazhab, paham, pemikiran, hizb, bangsa, negara, warna kulit dan lain sebagainya. Lagi pula kalau mudah mengkafirkan pihak lain, memangnya yang mengkafirkan pihak lain yang seiman sudah yakin masuk surga? Surga itu milik Allah SWT, bukan milik orang yang mudah mengkafirkan sesama saudaranya yang seiman.
 
========================
Oleh: Syaripudin Zuhri 

No comments:

Post a Comment