23 January 2014

Bergerak dari Wajib ke Wajib

Menuntut ilmu wajib, mengajar yang bagi sudah punya ilmu juga wajib, mencari nafkah wajib baik perorangan atau masyarakat, baik yang masih bujangan, apa lagi yang sudah berumah tangga, jelas mencari nafkah adalah kewajiban, terutama buat suami, sedangkan istri tak ada kewajiban untuk menacari nafkah, karena mencari nafkah itu memang kewajiban suami. Lalu bagaiman kalau ada istri yang ikut mencari kerja, bahkan menjadi “tulang punggung” rumah tangga?

Ya sah-sah saja, asal ada kesepakatan dalam rumah tangga itu sendiri, yang jelas kewajiban mencari nafkah adalah kewajiban suami, bukan istri. Tapi karena di jaman sekarang begitu susah mencari pekerjaan bagi seorang laki-laki, bisa saja sang istri “membantu” suami, menggantikannya di dalam mencari nafkah.

Dan kewajiban suami mencari nafkah bernilai ibadah yang tinggi, ingat, kata wajib tadi, dalam kontek fiqih, adalah sebuah pekerjaan yang bila dikerjakan mendapat pahala, bila ditinggal akan berdosa. Jadi seorang suami bila memang mampu bekerja, tapi tidak mau bekerja atau tak mau mencari nafkah, jelas berdosa. Lain soal bila sudah mencari pekerjaan, dan belum menemukannya, karena memang begitu sulit mencari pekerjaan, maka tak ada alasan untuk menuduhnya berdosa.

Membiayai rumah tangga wajib, memberikan nafkah lahir batin pada istri wajib dan seterusnya. Itu semua kewajiban, jadi kalau sementara ini tidak dapat semua kewajiban kau penuhi, karena situasi dan kondisi, ya biasa saja. Karena keterbatasan tenaga dan waktu. Namun bersyukurlah bahwa kita masih bergerak dari wajib ke wajib. Pergi dari satu kewajiban menuju ke kewajiban yang lainnya, nah kenapa ragu-ragu? Kenapa takut dan pesimis ? Ayo terus bergerak dan bergerak.

Bahkan seringkali orang yang sudah memenuhi kewajiban dengan bekerja, pada waktu tertentu pekerjaan begitu banyak, seakan-seakan tak habis-habisnya, baru satu pekerjaan diselesaikan, muncul lagi pekerjaan yang lain, benar-benar pekerjaan seakan-akan bertumpuk-tumpuk menjadi satu. Sehingga timbul keluhan” waduh banyak sekali pekerjaanku hari ini”.

Kalau itu yang terjadi, maka segera lihat pada orang-orang yang sedang mencari pekerjaan, yang mungkin saja sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah menamatkan sekolah atau kuliahnya, tak juga bertemu dengan pekerjaan yang dicarinya. Atau lihatlah orang yang belum bekerja dan sedang melamar pekerjaan ke berbagai instasi pemerintah atau ke perusahaan-perusahaan swasta, sudah puluhan bahkan ratusan surat lamaran kerja dikirimkan, tapi belum juga ada jawaban, belum juga ada panggilan,dan nyaris putus asa.

Atau lihat juga ada yang tak cukup dengan melamar pekerjaan melalui surat lamaran yang dikirim melalui kantor pos, atau dikirim melalui email, tapi langsung membawa lamaran ke tempat-tampat atau kantor-kantor pemerintah juga ke perusahaan-perusaan swasta, berpuluha atau mungkin beratus kantor sudah didatangi, tapi yang ditemukan di muka kantor atau perusahaan adalah tulisan besar-besar” TAK ADA LOWONGAN”.

Dan lebih eronis lagi, sekarang ini melamar pekerjaan menggunakan “pihak ketiga” atau yayasan, entah dari mana peraturan itu dibuat, melamar pekerjaan kok pakai “pihak ketiga”, dan itupun bukan grstis, tapi ada fee yang harus dibayar! Aneh, orang bisa langsung melamar pekerjaan ke kantor atau perusahaan, tapi justru pakai “pihak ketiga”, mengapa harus demikian? Dan itu terjadi di era reformasi sekarang ini, padahal dulu-dulunya tak demikian, mengapa harus ada “pihak ketiga”, atau perantara? Apakah yang mencari kerja tak bisa jalan sendiri, tak bisa mengirim surat sendiri, atau tak bisa mengemailkan sendiri?

Oke kita kembali kepada kewajiban, yang harus dilaksanakan oleh siapapun, ya tentu saja yang sudah dewasa, walau terkadang kita melihat betapa banyak anak-anak yang seharusnya belum berkewajiban mencari nafkah, tapi karena situasi dan kondisi perekonomian keluarganya yang tak mendukung, mereka terpaksa bekerja, membanting tulang untuk keperluan dirinya dan bahkan bisa juga untuk keluarganya, ironis sekali, anak-anak yang harusnya menuntut ilmu, tapi terpaksa ada di lapangan pekerjaan.

Dengan melihat sepintas keaadaan ini, maka orang sedang “galau” karena begitu banyak pekerjaannya atau pekerjaannya bertumpuk, bahkan seperti tak punya waktu lagi untuk hal-hal yang lain atau seperti dikejar-kejar pekerjaan yang datang berubi-tubi, maka bersykurlah: “Alhamdulillah masih punya pekerjaan

Alhamdulillah masih ada yang dikerjakan

Alhamdulillah masih punya waktu untuk bekerja

Alhamdulillah masih diberikan pekerjaan

Alhamdulillah masih banyak pekerjaan

Alhamdulillah masih dapat pekerjaan”.


Mangapa harus Alhamdulilah, sedangkan pekerjaan itu begitu banyak, seperti air bah yang datang melimpah ruah, tak kurang-kurang, tak ada habis-habisnya? Ya itu tadi, bandingkannya dengan dengan orang-orang yang tak punya pekerjaan, bandingkan dengan orang-orang yang masih mencari pekerjaan, bandingkan dengan orang-orang yang sudah tak punya pekerjaan, bandingkan dengan orang-orang yang sudah ke sana ke mari menacri pekerjaan, tapi belum juga menemukan pekerjaan yang dicarinya, begitu seterusnya.

Jadi kalau banyak pekerjaan, bukan keluhan yang datang, tapi rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan rezeki berupa pekerjaan. Nah bukankah waktu sebelum bekerjaan, yang dicari pekerjaan, lalu mengapa harus mengeluh ketika pekerjaan sudah didapat? Mengapa harus mengeluh ketika begitu banyak pekerjaan datang?

Jangan lupa, ada yang sedang mencari pekerjaan, satupun belum dapat, nah ini sudah punya pekerjaan dan dapat pekerjaan banyak sekali, bukankah patut disyukuri? Bukan malah keluhan yang datang. Kalau keluhan yang datang, ingat sabda nabi yang bunyi bebasnya seperti ini” Jika urusan dunia lihat ke bawah, kalau urusan akherat lihat ke atas” Dengan demikian tak akan mudah mengeluh, mengapa?

Coba lihat di sana itu, orang-orang yang berada di kolong-kolong jembatan, yang berumah di tempat pembungan akhir sampah, yang tidak punya rumah, yang “beratap langit dan beralas bumi”, dan itu bukan hanya di Indonesia, di Jakarta! Tapi juga ada di Rusia, di Moskow! Jangan dikira di negara maju seperti Rusia tak ada orang miskin, jangan dikira orang di Moskow kaya semua, tida!. Yang miskin dan yang kaya ada di mana-mana, sama saja.

Mungkin tak terbayang oleh anda, ketika ada orang yang mengumpulkan minuman ringan kalengan yang dikumpulkan pada satu kaleng minuman lainnya untuk di minumnya! Dan itu bukan terjadi di Jakarta, tapi di Moskow, Rusia, di negara super power, di negara yang sudah punya stasiun ruang angkasa Mir! Tapi kemiskinan seperti itu ada, ini bukan cerita omong kosong, tapi saya lihat sendiri! Makanya tak pernah terlupa, begitu membekas di otak ini.

Kembali pekerjaan, kembali kepada kewajiban. Jadi sesibuk apapun saat bekerja, syukurilah, almdulillah! Karena dengan rasa syukur tadi, akan ditambah lagi karunia Allah pada kita! Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Ibrohim ayat:7: 
“ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat kepadamu, tatapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) , maka pasti azab-Ku sangat pedih”.

Itu janji Allah SWT, dan Allah tak pernah mengkari janjiNya, coba itu, apa tidak enak? Kalau bersyukur di tambah nikmat itu, tapi kalau kupur nikmat, baru diancaman saja, tak langsung dilaksanakan, Kalau bersyukur langsung ditambah nikmat itu, apa buktinya? Ya syukur itu sendiri, karena batapa banyak orang yang diberi nikmat, tapi tak bersyukur kepadaNya! Sedangkan orang yang bersyukur selain ditambah nikmat Allah kepadanya, juga mendapat pahala, jadi dapat doble sekaligus, asyik kan!

Syaripudin Zuhri/Moskow

No comments:

Post a Comment